CHAPTER TIGA BELAS

2703 Kata
            Sandra membuka pintu ruangan kerja suaminya. Di balik meja besar berwarna cokelat itu, suaminya masih terjaga di depan laptopnya. Mata pria itu terarah sepenuh pada layar yang ada di depannya. Ia mendekat lalu berdiri di samping suaminya. Sandra melihat  foto- foto yang ada di layar laptop suaminya.             “Apa ini?” tanya Sandra dengan nada jijik saat melihat foto- foto binatang itu.             “Ini isi dari kotak- kotak yang dikirimkan kepada Kara.” jawab Samuel. Samuel melihat kedua mata Sandra membulat sempurna. Ia memalingkah wajahnya saat menyadari dirinya mulai mual melihat foto- foto itu.             “Dia gila.” sentak Sandra. “Kara melihat ini?” tanyanya.             “Kara hanya melihat katak ini. Petra tidak membiarkan Kara melihat yang ini.” Samuel menunjuk foto cicak dengan krusornya. Ia lalu menutup foto- foto menjijikkan itu sehingga Sandra bisa kembali menatap ke arahnya.             Sandra melipat tangannya di depan d**a sambil menggeleng, “Dia psikopat.” kata Sandra, “bukankah Kara benar- benar dalam bahaya?”             Samuel mengangguk. “Kamu yakin Kara tak punya musuh yang bisa dicurigai selain Isvari?” tanya Samuel. Sandra tampak berpikir sejenak.             “Dia artis, sukses, banyak uang, kalau iri, pasti banyak yang iri padanya.” jawab Sandra, “tapi bukankah berlebihan kalau dia melakukan ini hanya karena iri.”   ***               Kata menatap sekeliling, mencari keberadaan Petra di antara keramaian. Hari ini, syuting selesai lebih cepat sehingga para kru dan pemain memutuskan untuk makan malam bersama. Setelah memastikan Petra tak ada di dalam restoran, ia berdiri lalu keluar dari restoran. Tak jauh dari pintu, ia melihat Petra terduduk di sebuah kursi dengan ponsel di tangannya.             “Kamu sudah makan?” tanya Kara sambil mendekat. Petra menoleh lalu mengangguk. Ia memasukkan ponselnya dalam  saku saat Kara duduk di sebelahnya. “masuklah, makanan penutup akan dihidangkan.” lanjutnya. Ia melihat pria di sebelahnya menggeleng. Ia bilang bahwa ia sudah kenyang.             “Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Kara dengan nada pelan. Kara bingung mau memulai pertanyaannya bagaimana.             “Hhmm... istrimu, baik- baik saja?” tanya Kara akhirnya. Petra diam, ia hanya menatap Kara dengan tatapan bingung.             “Aku hanya bingung bagaimana bisa seorang istri membiarkan suaminya menerima pekerjaan seperti ini. Setelah yang terjadi kemarin, aku semakin yakin bahwa pekerjaan ini beresiko. Istrimu tidak apa- apa?” cerocos Kara yang justru membuat Petra tertawa.             “Kamu hanya perlu membayarku sesuai dengan perjanjian. Kamu tidak perlu tahu bagaimana rumah tanggaku.” jawab Petra sambil tersenyum. Kara mengernyitkan dahi lalu menatap Petra dengan wajah kesal.             “Aku mengkhawatirkan rumah tanggamu. Di mana lagi kamu bisa mendapat bos sebaik aku.” gerutu Kara sambil bersidekap. Petra terkekeh.             “Ayo masuk, mungkin makanan penutup sudah disajikan.” kata Kara sambil berdiri, belum sempat melangkah, tangannya tertahan oleh genggaman Petra yang tiba- tiba.             “Kaki-mu.” kata Petra saat Kara menoleh ke arahnya. Gadis itu mengikuti arah pandang Petra, bagian pinggir kakinya yang tidak tertutup flat shoes terlihat membiru.             “Pasti karena adegan lari- larian dengan heels tadi. Tidak apa- apa.” kata Kara. Tapi genggaman itu tak juga terlepas, Petra berdiri lalu mengandeng tangan Kara menuju mobil. Ia membuka pintu mobil lalu menyuruh gadis itu duduk dipinggir. Kara diam saat melihat Petra mengambil kotak p3k di belakang mobil.             “Maaf.” kata Petra saat tangannya membuka sepatu Kara. Ia lalu mengoleskan salep dari kotak obat ke luka lebam di kaki gadis itu.             “Kamu sudah tahu keadaanku?” tanya Kara. Ia melihat Petra mengangguk.             “Menyedihkan, bukan? Waktu kecil aku bahkan tidak bisa bermain dengan anak sebayaku karena akan berbahaya jika aku terluka. Ibuku tak pernah punya cukup uang untuk membawaku ke rumah sakit sehingga melarangku bermain dengan anak- anak lain. Aku sudah beda dari yang lain sejak kecil.” Kara bercerita.             “Yang penting, kamu bisa bertahan sampai sekarang.” kata Petra sambil mengembalikan salep itu pada tempatnya. Kara menatap Petra yang berdiri di depannya.             “Bisa aku bertemu istrimu?” tanya Karin.             “Tidak.”             Kara berdecak sementara Petra tersenyum sumir.   ***               “Ck... dia masih bisa tersenyum di saat- saat seperti ini.” laki- laki itu menatap foto- foto Kara yang diambil oleh orang suruhannya. “ini baru permulaan, aku akan membuatmu tak bisa berhenti menangis nanti.” katanya dengan nada penuh dendam. Ia mengambil satu foto lalu meremasnya hingga menjadi bulatan. Matanya menatap cermin yang ada di depannya. Ia mengangkat sebelah garis bibirnya membentuk senyum sinis.             “Sialaan.” Pria itu meninju cermin itu dengan kepalan tangannya. Kaca itu pecah seketika, pecahannya terjatuh membentur lantai marmer rumah itu. Ia menggoyang- goyangkan tangannya yang buku- buku jarinya mulai mengeluarkan darah. Ia menempelkan buku jarinya pada tembok dan meninggalkan bercak darah pada dinding bercat putih itu.             Ia menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya kuat- kuat. Dorongan untuk membalaskan dendamnya pada gadis itu mengakar begitu kuat dan ia tak sabar untuk merealisasikan semua rencana- rencana yang sudah memenuhi otaknya.             Ia tersenyum lebar, membayangkan bagaimana reaksi Kara atas teror yang ia kirimkan terbayang diotaknya dan membuat darahnya berdersir hebat.   ***               Polisi membongkar kasus prostitusi artis, inisial KK diduga Kara Karenina.             Tiga pasang mata itu menatap layar besar di depan mereka. Mata ketiganya membulat sempurna. Kata tertawa sumbang.             “Lelucon apalagi ini?” Kara melempar sendok yang sedang dipegangnya ke atas meja dan menimbulkan bunyi nyaring. Karin dan Petra hampir terlonjak karena kaget. Karin memijit pelipisnya. Petra mematikan televisi. Ponsel Karin mulai berdering, Kara kehilangan selera makannya, ia berdiri lalu masuk ke ruang gym.             Kara menekan tombol di treadmill lalu mulai berlari di atasnya. Ia menghela napas kasar lalu tertawa. Ia tertawa keras, menertawakan hidupnya, ia tertawa sambil terus berlari di atas treadmill hingga matanya berair. Ia menekan tombol hingga alat itu berhenti. Ia jatuh terduduk, lalu menangis memeluk lututnya. Semenjak video yang mirip dirinya tersebar di internet, ia bahkan belum berani membuka media sosialnya. Ia tidak akan membayangkan apa yang orang- orang tulis di kolom komentarnya. Ia tidak akan sanggup membacanya. Meski masalah itu telah selesai, jejak komentar itu tetap ada dan menghantuinya. Dan sekarang, kabar prosistusi menyeret namanya dan pasti membuat sebagian orang percaya bahwa orang dalam video itu adalah dirinya.             Tak lama, terdengar pintu gym dibuka, ia menoleh dan melihat Petra masuk. Ia buru- buru mengapus air matanya dan kembali berdiri lalu menjalankan treadmill kembali.             “Menangis saja.” Petra menggunakan mesin yang sama di sebelahnya. Kara tak menjawab, ia terus berlari hingga tubuhnya banjir keringat. Petra menatap Kara yang berlari dengan semangat di sebelahnya. Gadis itu tak mengucapkan sepatah katapun. Menganggap Petra tak ada di sebelahnya. Kaki gadis itu terus berlari di atas papan. Padangannya matanya terlempar jauh ke depan. Petra bisa mendengar napas gadis itu yang mulai tersengal.             Petra turun dari treadmill lalu mengambil tisu di meja di pojok ruangan. Ia mendekati Kara dan mematikan alat yang digunakan gadis itu hingga langkah kaki gadis itu berhenti. Ia mengulurkan kotak tisu pada Kara yang mengambilnya dengan gerakan kasar. Kara melangkah lebar- lebar dan duduk di bangku di pojok ruangan sambil menyeka keringat di wajahnya. Ia mengatur napasnya yang terengah-engah. Petra menatap dari kejauhan.             Karin masuk ke ruangan dan duduk di sebelah Kara. “Samuel sudah berbicara dengan polisi yang menangani kasus itu. Tapi mereka tidak pernah menyebutkan namamu. Mereka hanya menyebutkan inisial artis- artis yang terlibat. Nama itu sepertinya muncul dari kalangan wartawan.” Jelas Karin.  “Samuel akan meminta polisi menjelaskan bahwa inisial itu bukan kamu.”             Kara menghela napas kasar. Dadanya terlihat naik- turun. Ia hanya mengangguk pelan untuk merespon kata- kata Karin.             “Aku akan ke tempat acara duluan untuk memastikan semuanya siap.” Kata Karin, ia melirik Petra yang mengangguk. “jangan telat, oke.” Lanjutnya.             Karin menepuk pundak Kara lalu keluar dari ruangan.             Kara masih menunduk saat pintu kembali tertutup. Petra yang masih berdiri di dekat treadmill berjalan mendekat lalu duduk di sebelahnya. Sebelah tangan pria itu terulur untuk membuka laci di samping kursi dan mengambil satu buah air mineral kemasan gelas dan mengulurkannya pada Kara.             Kara menerimanya. Ia menusukkan sedotan kecil ke kemasan dan menyeruput isinya. Petra duduk di samping Kara dan tak mengucapakan sepatah katapun. Ia hanya duduk di sana, menemani Kara yang tengah mengatur emosinya hingga gadis itu benar- benar tenang.   ***               Karin terkejut saat melihat banyaknya wartawan yang ada di tempat meet and greet yang akan Kara hadiri. Semua wartawan langsung mendekatinya saat ia keluar dari mobil. Seperti lebah yang mengerubungi madu.             Apa benar Kara terlibat prostitusi artis?             Apa benar inisial KK adalah Kara Karenina?             Bagaimana Kara menghadapi berita ini?             Karin bisa mendegar pertanyaan- pertanyaan itu ditujukan untuknya. Ia tak menjawab, hanya mengulas senyum tipis dan mengisyaratkan tangannya bahwa ia tidak bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.             Karin : Banyak wartawan di depan resto.             Karin mengirim pesan pada Kara saat ia berhasil masuk ke dalam restoran setelah membelah kerumunan wartawan. Setelahnya semastikan pesannya terkirim, ia memasukkan benda pipih itu kembali ke dalam tas.             Karin mendiskusikan beberapa hal pada panitia acara. Ia mengingatkan panitia untuk tak mengijinkan pemberian berupa makanan. Ia juga mengontrol pengamanan yang ia tambah untuk acara ini. Ia memberikan instruksi untuk mengawasi orang- orang yang sekiranya mencurigakan yang ada di luar resto. Ia berusaha keras untuk tak kecolongan kali ini. Ia bahkan memastikan ke pihak resto bahwa CCTV berfungsi dengan baik.             Setengah jam sebelum acara dimulai, Karin melihat mobil Kara parkir di halaman resto. Ia melihat dari jendela kaca lantai atas. Kara keluar dari mobil, seperti magnet, para wartawan langsung berkerumun di dekatnya. Ia berhenti sebentar lalu membuka kacamata hitamnya. Gadis itu berbicara sebentar pada wartawan lalu kembali berjalan.   ***               “Inisial itu bukan saya.” Kara membuka kacamata hitamnya di depan wartawan yang menghadangnya, “polisi akan memastikan bahwa inisial itu bukan saya.” lanjutnya sambil berjalan pelan. Penjaga yang berada di depan resto menghampiri keduanya dan membantu keduanya membelah gerombolan wartawan dan masuk ke dalam resto melewati pintu belakang.             “Wah... wartawan itu sepertinya tidak pernah merasa lelah.” Kata Kara sambil masuk ke ruangan yang sudah disiapkan khusus untuknya.             “Mereka pekerja keras, sepertimu.” kata Karin sambil menaruh segelas lemon tea di depannya. Kara mengangguk sambil tersenyum sumir. “ini susunan acara yang sudah diperbarui.” Karin memberikan selembar kertas pada Kara.             Karin membaca susunan acara sementara di luar ruangan, hiruk pikuk mulai terjadi. Panitia sibuk menge-set panggung dan tempat acara, para koki sibuk menyiapkan snack, penjaga berkeliling di depan resto, mengamati keadaan sekitar.             Petra berada di luar resto, ikut memerhatikan sekeliling. Mengamati beberapa orang yang mulai memadati luar restoran. Para remaja dan orang dewasa terlihat mengantri untuk masuk ke dalam restoran. Mereka berbaris rapi  dan mengisi buku yang harus mereka isi dengan data diri secara bergantian.             Petra masih ada di luar saat acara di dalam dimulai. Ia hanya melihat Kara berdiri di atas panggung dari jendela restoran yang transparan. Beberapa wartawan masih ada di sana, mengambil potret Kara dari jendela, karena pihak panitia tak mengijinkan wartawan meliput acara itu. Entah berita apalagi yang akan mereka tulis.   ***               Kara tertawa, pandangannya terlempar ke jendela dan terpaku saat tatapannya bersirobok dengan Petra. Pria itu tengah menatapnya melalui jendela kaca besar restoran. Kara yang pertama kali memutus kontak. Ia kembali menatap para penggemarnya dan menjawab pertanyaan mereka. Kara tak henti-hentinya tersenyum, menyadari bahwa mungkin banyak orang membencinya, tapi orang- orang di depannya mencintainya. Mendukung semua yang ia lakukan, dan akan selalu memberi dukungan untuknya.             Fans- fans itu secara terang- terangan memberi semangat padanya. Mereka bilang kalau mereka mempercayainya. Mereka percaya bahwa berita yang beredar mengenai Kara sama sekali tidak benar. Mereka semua tersenyum dan tertawa bersamannya. Menyadarkannya bahwa ia tak seorang diri. Bahwa masih banyak yang begitu memercayainya.             “Apakah Anda masih berhubungan baik dengan Rayyan.” Seorang gadis berbaju merah dengan rok panjang itu bertanya.             Kara tersenyum lalu mengangguk, “Ya, kami masih sering bertukar kabar. Dia juga selalu menyemangatiku karena masalahku akhir- akhir ini.”             Acara terus berlanjut, setelah acara bincang dan tanya jawab berakhir, mereka break sejenak untuk makan siang. Kara duduk di antara para penggemarnya, melebur batas artis dengan fansnya. Ia tak canggung untuk tertawa ataupun melempar lelucon. Kara masih sama seperti pertama kali terjun ke dunia entertain. Begitu polos dan baik hati.             Kara tak pernah punya banyak teman saat kecil, dan saat dihadapkan oleh banyak orang yang bersedia mendengarkannya merupakan hal menyenangkan. Kenangan masa kecilnya yang begitu kesepian terbayarkan.             Kara menghabiskan isi piringnya saat seseorang remaja bercerita bahwa ia menempuh perjalanan cukup jauh untuk sampai ke tempat itu. Remaja itu bilang bahwa ia menjadi penggemar Kara saat gadis itu pertama kali bermain film. Kara terharu saat melihat mata remaja itu berkaca- kaca saat bercerita. Kara berdiri membuka kedua tangannya dan menyambut remaja itu dalam pelukannya. Remaja itu terisak dalam pelukannya. Kara mengusap pundak pundak remaja itu dengan sebelah tangannya.             Selepas pelukan itu, remaja itu tak henti- hentinya berterima kasih pada Kara yang mau memeluknya. Gadis itu bilang bahwa ia tak menyesal menempuh jarak yang jauh saat mendapati sikap Kara yang begitu ramah dan terbuka.   ***               Petra mendekati Kara sesaat sebelum acara tanda tangan dan berfoto dimulai. “Kamu sudah makan?” tanya Kara. Petra menjawab dengan sebuah anggukan, matanya menatap sekeliling, mencari keberadaan seseorang.             “Kenapa?” tanya Kara.             “Tidak apa- apa.” mata Petra masih terus bergerilya ke seisi ruangan. Ke orang- orang yang sudah mulai membuat barisan. Setiap orang membawa kado untuk diberikan pada Kara.             Kara duduk di tempatnya dan memulai sesi tanda tangan dan foto. Ia menadatangani note yang dibawa, lalu berfoto dan menerima hadiah yang dibawa para penggemarnya. Semua antri dengan tertib hingga akhirnya Petra melihat seorang remaja yang sudah berdiri di depan Kara dan membawa dua buah hadiah di tangannya.             Petra mengacungkan tanganya, menyuruh remaja itu berhenti. Remaja itu terpaku dan kebingungan, begitu juga Kara dan yang lainnya.             “Hanya satu hadiah.” kata Petra.             Remaja itu menatap Petra dan Kara kebingungan.             “Ck... tidak apa- apa.” Kara mengisyaratkan remaja itu untuk kembali maju.             Petra berjalan ke depan meja dan menghentikan remaja itu dengan sebelah tangannya.             “Yang mana milikmu?” tanya Petra. Suasana mendadak hening. Semua orang terpaku pada Petra dan remaja perempuan di depan.             “Oh,” remaja berkaus merah itu mengangkat satu kotak berwarna biru di tangan kanannya. Tanpa pikir panjang, Petra mengambil paksa kotak berwarna cokelat dari tangan kiri gadis itu. Ia menjauh dari sana dan membuangnya ke tong sampah.             Semua orang tercekat. Kara membelalakan matanya.             “Kenapa?” Kara menatap Petra saat pria itu kembali ke sampingnya.             “Itu bukan untukmu.” jawab Petra singkat, ia mengisyaratkan panitia untuk melanjutkan acara.             Acara dilanjutkan dan selesai pukul lima sore. Para penggemarnya keluar dari restoran dengan tertib. Restoran mulai sepi, meninggalkan para staff resto yang sedang membereskan tempat.             “Bukan dia yang membawa hadiah itu, makanya dia tidak marah saat aku membuangnya.” jelas Petra saat Kara menceramahinya bahwa tindakannya tadi tidak sopan. Kara bilang bahwa ia tidak seharusnya membuang hadiah dari penggemarnya seperti itu.             “Ck... tapi tetap saja, kamu keterlaluan.” Dengus Kara sambil berkacak pinggang, ia menatap Petra dengan kesal.             Petra tertawa sumbang, “Kamu mau buka kotaknya? Silahkan.” Petra menatap Kara tepat ke manik matanya. Gadis itu terdiam, keduanya saling menatap tepat ke manik mata masing- masing.             “Tidak... jangan.” Karin tiba- tiba masuk ke dalam ruangan dan membuat keduanya memutus kontak.             “Bukankah tadi Petra keterlaluan?” Kara mengadu pada Karin yang baru saja duduk di depannya.             “Tidak, Petra melakukan tugasnya dengan baik.” Cetus Karin yang langsung membuat Kara kebingungan.             “Kenapa?”             “Kotak itu penuh dengan belatung.” Jawabnya singkat. Ia menatap kedua mata Kara yang terbelalak kaget.             Selepas acara, Karin yang penasaran mendekati tong sampah dan melihat kotak itu masih berada di posisi paling atas. Ia menelan ludah sebelum akhirnya mengulurkan tangannya untuk mengambil kotak kecil itu. Sebelah tangannya membuka pita yang membungkus kotak itu hingga akhirnya ia membukanya.              Sesaat setelah terbuka, Karin langsung melempar kotak itu kembali ke dalam tempat sampah. Puluhan hewan tak bertulang belakang itu menggeliat dan membuat bulu kuduknya merinding seketika. Ia pergi dari sana, menyuruh pelayan langsung membuang isi kotak sampah itu.             Karin pergi ke kamar mandi dan mencuci tangannya di wastafel. Ia menuangkan sabun dan menggosok- gosok tengannya lalu membilasnya. Ia menatap cermin yang ada di depannya. Ia menarik napas panjang, berusaha mengusir bayang- bayang cacing yang baru saja di lihatnya. Ia beruntung Petra tak membiarkan kotak itu sampai di tangan Kara karena gadis itu sangat takut pada hewan itu.  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN