Petra masih menatap Kara yang kini tengah menyeka air matanya. Gadis itu tersenyum pada ibunya yang menatapnya dengan pandangan kosong. Tak lama, seorang perawat mendekati mereka, memberitahu bahwa sudah waktunya ibunya minum obat. Kara mengangguk lalu berpamitan kepada ibunya, berjanji bahwa akan lebih sering mengunjunginya. Setelah memeluk dan mencium ibunya, ia membiarkan perawat berseragam itu membawa ibunya kembali ke kamar.
Kara duduk di samping Petra. Gadis itu menarik napas panjang, membiarkan udara segar memenuhi rongga paru- parunya. Petra tak mengatakan apapun, ia hanya melirik Kara melalui ekor matanya.
“Aku hanya punya ibuku di dunia ini.” Kata Kara dengan nada lirih. “beliau satu- satunya keluarga yang aku punya.” Lanjutnya. “kita berdua melalui banyak hal sulit, mama adalah satu- satunya alasan aku masih hidup sampai sekarang.”
Petra menoleh, menatap Kara yang tersenyum sumir. Pandangannya terlempar jauh ke depan. Gadis itu menautkan jari- jarinya.
“Aku bertahan sampai saat ini karena aku sadar aku masih punya ibu.” Petra mendengar tarikan napas Kara yang patah- patah. Petra mendekat lalu mengusap pundak gadis itu pelan, sementara Kara mulai menangis lagi.
“Semua akan baik- baik saja. Tenanglah.” Kata Petra, mencoba menangkan gadis itu dengan kata- katanya.
Petra mengingat saat ia membuka profil i********: gadis itu, di mana hampir semua komentar menyudutkannya, tak cukup, banyak juga komentar -komentar yang melecehkannya. Diantara desakan untuk tetap kuat, gadis itu akhirnya meluruh, kepala gadis itu jatuh ke bahunya. Kara terisak. Petra kembali mengusap pudak gadis itu dan membiarkan gadis melepaskan bebannya. Ia tahu, semua orang tak bisa terus menerus berusaha kuat. Seseorang yang tampak terlihat kuat pun pasti memiliki titik lemah yang mungkin tak ingin diperlihatkan.
***
“Mereka ingin menunda kontrak sampai masalah itu clear. Mereka harus memastikan bahwa kamu bukan orang yang ada dalam video itu.” Kata Karin saat Kara bertanya padanya mengenai meetingnya dengan pihak perusahaan.
Kara mengangguk tanda mengerti. “Tidak akan ada orang yang mau mempekerjakan artis yang terlibat skandal video porno.” Kata Kara dengan nada sinis. Petra dan Karin saling menatap bergantian. Tapi tak ada kata yang terucap dari bibir keduanya.
Kara kembali, pikir Petra. Gadis itu sudah kembali membangun benteng sejak meninggalkan rumah pemulihan jiwa. Kara kembali menjadi sosok yang terlihat tangguh. Gadis itu berpura- pura menganggap masalahnya hanya lelucon, padahal jauh dalam hatinya, mungkin yang ingin ia lakukan hanyalah mengunci diri di kamar dan menangis seharian.
“Aku akan ke supermaket sebentar.” Kata Karin, ia mengambil tasnya di atas meja lalu memasukkan ponsel ke dalamnya. Ia mengecek dompetnya dan setelah memastikan tak ada yang tertinggal, ia berdiri, berpamitan pada Kara dan Petra hingga akhirnya tubuhnya hilang di balik pintu.
“Bukankah Karin sudah cukup umur untuk menikah?” Kara menatap Petra yang mengangguk pelan. “temanmu? Bagaimana orangnya? Apa dia baik? Apa dia pantas untuk Karin?” tanya Kara pada Petra dengan semangat.
“Ah, dia pria yang baik.” Jawab Petra tanpa ragu- tagu. Ia mengenal Gerald dengan sangat baik sehingga tak perlu berpikir panjang untuk menjawab pertanyaan Kata.
“Ayo kita jodohkan mereka.” Kara menatap Petra sambil tersenyum karena merasa baru saja mendapat ide cemerlang.
“Mereka sudah besar. Mereka akan berkencan kalau mereka cocok.” Jawab Petra dengan nada tak acuh. Kara mendesis lalu melirik Petra dengan sebal.
“Kalau kamu?” Kara menatap Petra dengan tatapan penasaran.
“Apa?”
“Kenapa belum menikah?” tanya Kara.
Petra terkejut mendapati pertanyaan Kara yang tiba- tiba. Ia berdehem lalu berkata, “aku sudah menikah.”
“Ha?” mata Kara membulat tak percaya. “kamu sudah menikah?” tanyanya seraya meyakinkan. Karin menelan ludah saat melihat Petra mengangguk mantap.
Kara berdecak. Ia berdiri dari duduknya, menunduk lalu masuk ke dalam kamarnya. Kara menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Ia menutup kepalanya dengan bantal kala ingatan saat kemarin Petra memeluknya memenuhi otaknya. Bagimana mungkin ia menangis di pelukan pria beristri. Pikirnya dengan kesal.
Kara bangun dan melempar bantanya ke lantai, “Bagimana mungkin dia menerima pekerjaan ini kalau sudah mempunya istri.” Kara menggeleng- gelengkan kepalanya tidak percaya. “istri macam apa yang menginjinkan suaminya bekerja selama tujuh hari dan dua puluh emapat jam penuh?” pikirnya “apa istrinya tahu kalau suaminya baru saja mendapatkan luka akibat resiko pekerjaanya?” Kara tak habis pikir.
***
“Kamu tidak pernah bertanya.” Jawab Karin setelah Kara memberondongnya pertanyaan kenapa tidak memberitahunya bahwa Petra sudah menikah.
“Bukankah kita sepakat mencari seseorang yang lajang.” Kara mengingatkan kriteria dalam mencari pengawal. Jam kerja yang tidak normal membuat Kara dan Karin awalnya menetapkan kriteria lajang untuk pengawalnya.
“Kita tidak punya pilihan lain. Tidak ada yang mendaftar selain dia.” Jawab Karin tanpa rasa bersalah. Ia tadinya menetapkan status sebagai kriteria utama, tapi setelah melihat tidak ada yang mendaftar selain Petra, ia akhirnya mengesampingkan kriteria yang satu itu dan memberikan pekerjaan itu pada Petra.
Kara melipat tangannya di depan d**a. “Lalu, di mana istrinya? Apa dia tahu Petra baru saja mengalami luka tusuk?”
Karin mengangkat bahu. “Aku bertanya mengenai istrinya saat wawancara, Petra menolak menjawab. Dia tak suka kehidupan pribadinya diketahui orang.” Jelas Karin.
“Tidak peduli dia punya istri atau tidak, yang penting dia bekerja dengan baik.” Kata Karin lagi. Kara menatap Karin lalu berdecak. Kalau tahu dia punya istri, aku akan menjaga jarak sejak awal. Pikir Kara.
Pembicaraan mereka terhenti karena suara dering ponsel Karin yang menggema. Karin mengambil ponselnya di atas meja dan menerima panggilan yang masuk.
“Siapa?” tanya Kara saat Karin mematikan panggilan.
“Samuel. Polisi sudah menemukan orang yang pertama kali menyebar video itu. Dia menyuruh kita ke kantor polisi sekarang.”
“Benarkah?” tanya Kara menyakinkan. Karin mengangguk, lalu menyuruh Kara bersiap-siap.
“Mati kau, brengseek.” Sentak Kara lalu masuk ke dalam kamar. Ia menganganti bajunya dan keluar tak lama kemudian. Karin sudah menunggu di beranda rumah sedangkan Petra sudah duduk manis di belakang kemudi. Petra menyalakan mesin setelah Kara dan Karin masuk ke dalam mobil. Ia menekan pedal gas lalu keluar dari rumah Kara dan pergi menuju kantor polisi.
***
“Aku tidak bohong. Seseorang memberikan amplop berisi flashdisk itu. Dia menyuruhku mengunggah video dalam flashdisk itu dengan imbalan uang.” Tutur pria itu, mencoba meyakinkan polisi bahwa ia sudah menjawab dengan jujur.
Kara menatap pria tanggung di depannya. Pria yang baru saja ditangkap oleh polisi karena diduga orang pertama yang menyebarkan video itu.
“Aku butuh uang, makanya aku menuruti perintahnya.” Katanya lalu menunduk lesu.
“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Kara. Ia melipat kedua tangannya di depan d**a lalu menatap tajam orang di depannya.
“Aku tidak tahu!” jawabnya dengan nada friustrasi. “amplop itu datang ke rumahku. Hanya berisi flashdisk dan surat. Aku tidak tahu kalau video itu editan. Aku juga tidak tahu siapa yang memberi amplop itu.”
Kara mendesis, ia menggebrak meja dan membuat pria di depannya melonjak kaget. Saat tahu bahwa tak ada informasi yang bisa dikorek dari pria itu, ia memutuskan untuk keluar dari ruangan. Ia memijit- mijit kepalanya yang terasa pusing.
“Aku sudah menyuruh temanku untuk mengecek CCTV sekitar perumahannya. Tapi sepertinya akan sulit. CCTV hanya ada di minimarket di jalan besar sebelum masuk ke gang perumahnnya.” Kata Samuel.
Kara menghela napas lalu mengangguk. Ia mengerti. Ia tak seharusnya berharap bahwa tertangkapnya orang itu akan memudahkannya menangkap orang dibalik semua kejadian yang akhir- akhir ini terjadi padanya.
“Kamu yakin dia jujur?” Kara menatap Samuel yang mengangguk.
“Polisi menyita surat dalam amplop, flashdisk, dan sejumlah uang dari rumah itu.” Jawab Samuel.
“Mereka orang yang sama, kan?” tanya Kara. “orang di balik ini sama dengan orang di balik kotak teror dan percobaan pembunuhan kemarin, kan?”
“Sepertinya.” Samuel mengangguk ragu.
“Seharusnya aku sadar kalau menemukan orang itu pasti tidak mudah.” Rutuk Kara.
“Kamu pulang duluan saja. Aku masih perlu mengurus beberapa berkas. Dia akan tetap di proses secara hukum.” Ucap Samuel.
Kara menatap Karin dan Petra yang baru saja keluar dari ruangan. Kara mengangguk lalu berterima kasih pada Samuel yang punggungnya mulai menjauh.
Ketiganya kembali ke parkiran dan masuk ke dalam mobil yang sama. “Aku pikir kita bisa menemukan titik terang setelah menemukan orang itu.” Kata Karin saat roda mobil mulai berputar. “ternyata dia cuma orang bodoh yang butuh uang.”
Kara mengutak- atik ponselnya. Menahan diri untuk tak membuka media sosialnya. Ia tak bisa membayangkan komentar apa saja yang ada di sana. Pada kenyataannya, klarifikasinya kemarin tak mungkin bisa merubah semua pikiran orang- orang. Pasti masih ada segelintir orang yang berpikir bahwa itu dirinya.
Sudah banyak pakar telematika yang berkomentar mengenai kasusnya. Mereka semua menyakini bahwa video itu memang editan. Kara harusnya mulai merasa lega, tapi menyadari bahwa orang itu masih berkeliaran jelas membuatnya takut. Ia sadar, ia bisa mati kapan saja.
***
Kara terdorong ke pinggir hingga akhirnya tubuhnya masuk ke danau, seseorang berteriak lalu menceburkan diri untuk menolong Kara. Pria itu membawa Kara hingga menepi.
“Cut, Ok!” suara sutradara menggema. Kara berdiri dengan tubuh basah kuyup. Petra yang sejak tadi memperhatikan mencoba mencari keberadaan Karin. Saat tak menemukan gadis itu, ia mengambil handuk yang tersampir di kursi Kara dan berjalan menghampiri gadis itu.
Kara terkejut saat melihat Petra mendekat dan menyampirkan handuk untuknya.
“Di mana Karin?” tanya Kara. Gadis itu melihat Petra mengangkat bahu. Petra mengambil paper bag yang berisi baju ganti dan memberikannya pada Kara. Kara menerimannya lalu pergi ke kamar ganti.
***
Petra mengetuk pintu ruang ganti Kara dengan segelas cup cokelat di tangannya. Setelah mendengar suara di dalam mempersilakan, ia menekan handle pintu dan masuk. Kara duduk di depan kaca dengan bundelan skenario di tangannya. Ia tengah menghapal bagiannya untuk scene selanjutnya. Kara tak mengangkat wajahnya. Matanya masih menatap fokus tiap kalimat yang di ketik di atas kertas itu.
“Karin sedang membicarakan harga gedung dengan pemilik melalui telepon.” Petra memberitahu sambil mengulurkan cup yang dibawanya pada Kara. Kara mengangguk lalu cup itu berpindah tangan.
Petra melirik ke bahu Kara yang sedikit terbuka. Ada lebam di sana. Ia teringat kata- kata Karin tempo hari, Jangankan luka, kelelahan atau terbentur saja bisa membuat tubuhnya membiru. Petra menarik kerah kemeja Kara hingga bagian bahunya tertutup sempurna lalu mengancingkan kancing teratas yang memang sengaja Kara biarkan terbuka.
Kara terdiam, ia menatap Petra yang terlihat salah tingkah. “Ada lebam di bahu kirimu.” kata Petra akhirnya.
“Oh.” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Kara. Kecanggungan mereka terpecah karena seorang make up artist masuk untuk memberi riasan pada wajahnya. Petra mundur lalu duduk di sudut ruangan.
Dia melakukannya karena profesional, kata Kara dalam hati.
Kara menatap Petra melalui kaca di depannya. Pria itu tengah menatapnya secara terang-terangan. Tatapan keduanya bersirobok. Kara yang pertama kali memutuskan kontak mereka. Ia mengambil ponselnya di atas meja.
Penyebar video vulgar Kara Karenina tertangkap. Uang jadi motifnya.
Video asusila artis Kara Karenina dipastikan editan.
Polisi menangkap penyebar video vulgar mirip artis Kara Karenina.
Polisi pastikan model dalam video itu bukan Kara Karenina.
Kara membaca berita-berita itu. Dirinya masih menjadi headline di beberapa portal berita.
Ia menarik napas lega saat membaca berita- berita itu. Dengan pernyataan polisi dan beberapa pakar telematika, seharusnya sudah cukp membuat orang- orang percaya bahwa model dalam video itu buka dirinya. Harusnya orang- orang sudah cukup pintar untuk tak lagi menyangkut pautkan video itu dengan dirinya. Harusnya kini ia bisa sedikit lebih tenang karena orang- orang akhirnya tahu kebenarannya.
TBC
LalunaKia