CHAPTER SEBELAS

1660 Kata
            Kara terpaku saat keluar dari kamarnya, Kinan dan Sandra terduduk di sofa. Petra ada di sana, sementara Samuel dan Karin berbicara melalui sambungan telepon di bar dapur.             “Ada apa?” tanyanya dengan nada bingung, ia duduk di depan Kinan dan Sandra yang menunjukkan raut wajah tak terbaca. Ia lalu menatap Petra yang duduk di sebelahnya yang tak juga menjawab pertanyaanya.             “Ada apa?” tanyanya sekali lagi. Ia tahu, ada yang tidak beres pagi ini.             “Video vulgar yang mirip denganmu tersebar luas di internet.” Karin yang menjawab pertanyaan Kara seraya mendekat. Gadis itu menaruh ponselnya di atas meja dan ikut berkumpul dengan yang lainnya.             “Ha?” Kara menatap Karin tak percaya. ia menatap orang di depannya satu persatu. Meminta penjelasan atas kata- kata Karin.             Sandra memperlihatkan berita yang ada di ponselnya. Dengan tangan bergetar, ia menekan layar dan membiarkan video berputar. Gadis itu tercekat. Napasnya tertahan saat melihat orang serupa dirinya berada dalam video tak senonoh itu. Kara tak sanggup menontonnya lebih lama.             “Ini gila.” Kara menggeleng- gelengkan kepalanya. “kalian percaya kalau itu bukan aku kan?” tanyanya meyakinkan pada  orang di sekelilingnya.             “Tentu saja.” Kinan menjawab. “kami ke sini karena mengkhawatirkanmu.”             Kara berdecak, ia mengacak- acak rambutnya dengan frustasi.             “Cepat mandi. Kita akan ke kantor polisi. Samuel akan membantu dan mengawal prosesnya.” Kata Karin. “aku akan memastikan kita menangkap siapa pembuat dan penyebar video itu.” Karin selalu cepat tanggap. Ia sepertinya tak kaget hal ini terjadi. Seperti dirinya, gadis itu tangguh dan tidak pernah lelah.             Bagai robot, Kara mengikuti perintah Karin. Ia berdiri, masuk ke kamar menuju kamar mandi, meninggalkan sahabat- sahabatnya yang menatap punggungnya dengan cemas. Tubuhnya bersandar pada pintu kamar mandi. Air matanya jatuh dan tubuhnya merosot ke lantai. Ia menangis memeluk lututnya tanpa suara.   ***               Kara berdiri di depan puluhan wartawan. Kilatan blitz menerpa wajahnya, deretan microphone ada di depannya. Setelah menarik napas panjang, ia memberikan konferensi pers untuk meyakinkan bahwa model wanita dalam video itu bukan dirinya. Ia bilang bahwa pihaknya sudah melaporkan ke pihak kepolisian dan pengacaranya akan mengawal ketat kasus ini.             “Aku tidak tahu.” Jawab Kara saat seorang wartawan bertanya padanya apakah ia kemungkinan mengetahui siapa yang mengedit wajahnya dan menyebarkan video itu.             Berita mengenai Kara kembali mendominasi berita gosip. Menjadi trending di platform online. Namanya paling banyak dicari diportal online. Semua stasiun TV memberitakannya. Karin masih sibuk menerima telepon dari stasiun televisi yang ingin mewawancarainya secara eksklusif. Tapi seperti biasa, Kara tak pernah mau tampil di televisi karena sebuah sensasi.             “Aku sepertinya memang tidak ditakdirkan untuk hidup tenang.” Kata Kara saat masuk ke dalam mobil. Petra dan Karin tak menanggapi.             “Kalian berpikir mereka orang yang sama?” tanya Kara saat roda mobil mulai berputar.             “Kalau memang mereka orang yang sama, ini akan lebih mudah. Kita akan tahu saat polisi berhasil menangkap pelaku penyebaran video itu.”             Kara mengangguk. Ia berharap polisi secepatnya menangani kasus ini dan mengangkap orang dibaliknya.             “Syuting hari ini dibatalkan. Kamu bisa beristirahat di rumah. Aku akan meeting untuk kontrak iklan shampo yang kemarin aku bilang.” Kata Karin, “turunkan aku di halte terdekat. Aku akan naik taksi.” Lanjutnya. Ia berbicara pada Petra yang langsung mengangguk.             “Aku akan mengunjungi ibuku.” Kata Kara.         “Oke, hati- hati.” Ban mobil berhenti di sebuah halte dan Karin keluar. Meninggalkan Petra dan Kara di dalam mobil.             Mobil kembali melaju sepeninggal Karin. Kara memberikan sebuah alamat pada Petra dan Petra melajukan mobil ke tempat yang dimaksud.   ***               Oktober 2005             Kara tak percaya apa yang dilihatnya. Tubuhnya adiknya yang baru berumur satu tahun lebih terbujur kaku dengan luka tusuk di bagian perutnya. Ia menangis, ibunya histeris, tak lama ayahnya datang dan langsung memeluknya dan menangkan ibunya.             Kara berharap ini mimpi. Siapa yang tega melakukan ini pada adik kecilnya yang tak berdosa. Kenapa ada yang begitu kejam melakukan ini pada adiknya. Kara menggeleng tak percaya, adiknya tak mungkin pergi dengan cara seperti ini. Tuhan tak akan begitu kejam menggambil adiknya dengan cara yang begitu menyakitkan.             Kara mencubit lenganya sendiri dan meringis saat merasa kesakitan. Ini bukan mimpi. Yang tergeletak di depannya benar- benar adiknya. Adiknya yang memberi warna baru di keluarganya. Adik yang begitu disayanginya.   ***               Petra tertegun saat menghentikan mobilnya di depan gerbang sebuah  gedung bertuliskan “Rumah Pemulihan Jiwa.”.             “Ini tempatnya?” tanya Petra seraya meyakinkan.             “Iya, masuk saja.” Jawab Kara. Petra menuruti perintah hingga mobil berhenti di parkiran gedung yang luas itu.             Kara menarik napas lalu keluar dari mobil, Petra mengikuti dari belakang. Gedung sederhana bercat putih itu tampak sepi dari luar. Ia bergegas masuk dan menemui resepsionis yang sudah sangat dikenalnya. Perempuan muda berseragam itu menyuruh Kara mengisi daftar kunjungan. Setelah itu, Kara menelusuri lorong dan berhenti di depan ruangan dokter. Ia mengetuk pintunya dua kali dan masuk setelah terdengar suara mempersilakan, sementara Petra menunggu diluar.             “Kondisinya mulai stabil akhir- akhir ini. Dia beberapa kali merespon kata- kata perawat. Ibumu tidak lagi membanting barang. Ia juga juga makan dan minum obat lebih teratur.” Dokter itu memberikan laporan kesehatan itu pada Kara. Kara mambacanya dan tersenyum. Senang mengetahui bahwa ibunya lebih baik setiap harinya.             “Aku akan menemuinya di kamar. Terima kasih, dok.” Katanya. Dokter itu tersenyum dan mengangguk, mempersilakan gadis itu menemui ibunya. Gadis itu berdiri dari duduknya dan keluar dari ruangan. Ia kembali menyusuri lorong hingga akhirnya sampai di sebuah kamar.             Tangan Kara menekan handle pintu dan membukanya pelan. Ia terdiam, menatap ibunya yang tengah terdiam dengan posisi membelakanginya. Wanita itu tengah menatap keluar melalui jendela yang terbuka.             “Mah...” Kara mendekat. Ibunya tak menoleh hingga akhirnya Kara berdiri di sebelahnya. Kara berjongkok di depan ibunya yang terduduk di sebuah kursi. Kara menatap wajah ibunya yang mulai dipenuhi kerutan halus. Wajah ibunya sayu, dengan tatapan kosong yang begitu memilukan.             “Kara ajak jalan- jalan ke taman ya.” Kara mengambil kursi roda dipojok ruangan. Petra yang masih memerhatikan diambang pintu mendekat dan membantu Kara memindahkan ibunya ke kursi roda.             Petra masih mengekor di belakang saat Kara mendorong kursi roda ibunya menuju taman yang ada di gedung itu.             “Dokter bilang, mama makan dan minum obat dengan teratur belakang ini.” Kata Kara saat ia mendudukkan diri di sebuah bangku di taman itu. Matanya menoleh ke sebelah, ke ibunya yang sama sekali tak merespon ucapannya. Udara taman sore itu tampak menenangkan. Menyapu wajah Kara yang dadanya mulai menghangat tiap kali bertemu dengan ibunya.             “Nina senang dengarnya. Nina pengin mama cepat sembuh.” Katanya, “mama sabar ya, setelah Nina punya cukup uang, Nina akan bawa mama pulang. Nina yang akan ngurus mama. Nina yang akan suapin dan bawa mama jalan ke taman setiap hari.” Mata Kara berkaca- kaca, “Nina lagi kerja keras biar Nina bisa nemenin masa tua mama.” Sebulir air mata Kara jatuh. “sementara itu, mama baik- baik di sini dulu, ya.” Lanjut Kara sambil mencoba menahan tangis.             “Kara janji nggak akan lama lagi.” Gadis itu mengusap tangan kurus ibunya yang pucat. Ia percaya ibunya mendengarnya meski tak merespon ucapannya.             Petra menatap Kara yang sedang menyeka air matanya. Tangis gadis itu akhirnya pecah. Kara yang begitu tangguh akhirnya meluruh. Kara yang begitu kuat tak ubahnya anak kecil di depan ibunya. Gadis itu memeluk ibunya. Meluruhkan beban yang ada di pundaknya.             Petra mengingat pembicaraannya dengan Karin kemarin pagi.             “Aku tahu ini keterlaluan, tapi aku berterima kasih karena kamu menyelamatkan Kara.” Kata Karin saat Petra pergi dapur untuk mengambil segelas air. Petra menatap wajah Karin yang penuh penyesalan.             “Itu sudah menjadi tugasku. Tidak perlu berterima kasih.” Jawab Petra. Ia tidak ingin Kara dan Karin membesarkan masalah kemarin. Ia sudah tahu tahu konsekuensi seperti apa yang harus ia hadapi saat menerima pekerjaan ini.             “Aku tidak bisa membayangkan kalau kamu tidak menyelematkan Kara kemarin.”             “Kara akan mendapat delapan jahitan, sepertiku.” Jawab Petra.             “Tidak. Kalau Kara yang mendapat tusukan itu, keadaannya tidak akan sama.” Karin menatap Petra lekat-lekat. “aku harusnya memberitahukan ini padamu lebih awal.” lanjut Karin.             Karin berdehem sebelum mulai bercerita. “Kara punya kondisi khusus di mana darahnya sulit membeku. Jika orang lain terluka, pendarahan akan cepat berhenti. Tapi tidak untuk Kara. Luka sedikit saja, pendarahannya akan sulit dihentikan. Dia bisa meninggal kapan saja jika kehabisan darah jika lukanya tak cepat ditangani.”             Petra terdiam, masih menatap Karin dengan rasa penasaran. “Jangankan luka, kelelahan atau terbentur saja bisa membuat tubuhnya membiru. Itu adalah alasan dia harus ke rumah sakit seminggu sekali untuk mendapat suntikan.”             “Dia sudah cukup menderita selama ini. Aku tak menyangka ia akan mengalami hal seperti ini.” Karin meneguk teh dalam gelasnya. Kilasan kejadian akhir- akhir ini terpatri diotaknya. Berputar seperti roll film.             “Aku tidak punya pilihan selain memohon padamu agar menjaganya dengan baik. Aku tidak ingin kehilangannya.” Karin menatap Petra dengan raut wajah memohon.             “Kara lahir tanpa ayah sehingga ia dikucilkan dari kecil, ibunya menikah dengan pria beristri sehingga para tetangga membencinya, adiknya meninggal pada usia satu tahun karena di tusuk oleh orang tak waras, ayahnya tirinya meninggal karena kecelakaan mobil. Ibunya kini ada di rumah sakit jiwa karena mentalnya terganggu setelah kehilangan anak dan suaminya.” Karin tak bisa membayangkan berapa rasa sakit yang sudah di terima Kara selama hidupnya.             Mata karin berkaca- kaca. Ia tersenyum sumbang, “Aku tak pernah melihat Kara menangis. Masa lalu membuatnya jauh lebih kuat dari perempuan lainnya. Dia tidak mau terlihat lemah di depan siapapun.”             Petra menatap Karin yang menyesap teh di depannya. Cerita yang baru saja gadis itu ceritakan memenuhi isi kepalanya. Ia melirik ke pintu kamar Kara yang masih tertutup ramat. Gadis yang tampak tak pernah lelah ternyata punya segudang rasa sakit yang sudah di tanggungnya sejak kecil.             Melihat bagaimana Kara saat ini. Pria itu merasa bahwa Kara tumbuh dengan baik. Gadis itu tak terpaku pada masa lalu dan memilih mengejar impian dan kebahagiaannya.  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN