Kara menyelesaikan syutingnya lewat tengah malam. Dengan rasa lelah dan kantuk yang luas biasa, ia menjatuhkan diri di kursi belakang dan langsung terlelap. Karin merenggang kan tubuhnya sambil menghela napas.
“Hari ini sangat panjang.” kata Karin sambil melirik Petra yang fokus pada kemudi. “pastikan kamu istirahat full besok karena setelah itu jadwal Kara akan lebih padat lagi.” Karin melihat Petra mengangguk.
Petra masih terfokus pada jalanan sepi yang dilaluinya hingga tiba- tiba mobil yang dikendarainya berhenti. Ia mencoba kembali menyalakan mesin namun gagal. Mesin mobil itu tak mau menyala. Ia menatap jalan yang tampak sepi dan hutan yang mengapit jalan itu.
Petra keluar dari mobil dan membuka kap mobil. Ia menggunakan senter dari ponselnya untuk membantunya melihat mesin mobil. Ia meneliti bagian- bagian mesin itu dan tak menemukan kejanggalan.
Kara menggeliat lalu perlahan matanya terbuka. Ia terkesiap karena mendapati mobilnya berhenti. Karin masih terlelap di kursi depan sedangkan Petra bersandar pada pintu mobil dengan selinting nikotin.
“Ada apa?” tanyanya setelah membuka jendela. Angin dingin langsung menerpa wajahnya yang menyembul sedikit keluar jendela.
“Mobilnya mogok.” Jawab Petra.
“Ha? Bagaimana bisa?” Kara menegakkan punggungnya. Ia menatap sekeliling. Mereka masih ada di jalan setapak dengan kanan dan kiri hutan belantara. Kondisi jalan sangat sepi.
“Tidak tahu, aku sudah menelepon mobil derek, mereka akan sampai dalam tiga puluh menit.” jelas Petra. Kara menatap Petra yang sibuk dengan rokoknya. Asap mengepul tiap ia mengembuskannya ke udara. Kara menoleh pada Karin yang matanya masih terpejam, ia tahu, bukannya dirinya yang lelah. Tapi melihat Petra yang masih begitu segar membuatnya bertanya- tanya kenapa pria itu bisa sebegitu tangguhnya. Ia pikir ia mempekerjakan Petra terlalu keras, namun pria itu tak pernah terlihat lelah. Pria itu masih bisa fokus pada kemudi dan jalanan meski mereka mulai beraktifitas sejak pagi.
“Tidurlah sebentar.” kata Kara, ia kembali menyembulkan wajahnya keluar jendela. Petra menoleh lalu menggeleng. Ia membuang putung rokoknya yang tinggal sedikit lalu menginjaknya.
Kara keluar dari mobil dan berdiri di samping pria itu. Udara diluar sangat dingin sehingga ia refleks mengusapkan telapak tangan ke lengannya.
“Masuklah. Kamu harus tidur saat punya waktu.” kata Kara.
“Diluar dingin.” Mengindahkan kata- kata Kara, Petra mengisyaratkan Kara agar kembali masuk ke mobilnya. Tak menuruti kata- kata Petra, Kara mengulurkan sebelah tangannya.
“Apa?” tanya Petra kebingungan.
“Rokok. Aku minta rokok.” kata Kara. Petra merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebungkus rokok dan memberikan satu batang pada gadis di sebelahnya.
Petra menyalakan korek dan membakar ujung rokok di selipan jari telunjuk dan jari tengah Kara. Kara menghisap rokoknya dan mengepulkan asapnya di depan wajahnya.
“Bukankah pekerjaan ini terlalu berat?” tanya Kara.
“Tidak. Aku pernah bekerja lebih berat dari ini.” jawab Petra.
“Aku bisa menyuruh Karin mencari satu orang lagi untuk bergantian denganmu kalau kamu mau.”
“Tidak perlu.” kata Petra.
Kara menatap Petra lalu tersenyum, “Aku tidak akan memotong gajimu.” katanya.
Kara terus menyesap rokoknya dan membuangnya ketika tinggal setengah lalu mengambil ponsel dalam sakunya. Ia membuka media sosialnya dan tersenyum melihat foto Rayyan di beranda media sosialnya.
“Dia menikmati hidupnya.” lirih Kara. Petra menoleh dan terpaku melihat foto yang terlihat di ponsel Kara.
“Mantan pacarmu?” tanya Petra. Kara mengangguk sambil tersenyum.
“Dia sedang liburan di Eropa selepas konsernya.” Kara menscroll berandanya dan foto Rayyan yang lain muncul. “aku tahu bahwa ia akan baik- baik saja selepas penolakanku.” lanjutnya.
Petra tak sadar mendekatkan tubuhnya pada Kara demi melihat isi ponsel gadis itu lebih jelas. Ujung bahu mereka bersentuhan, Kara menoleh dan tatapan mereka bersirobok. Petra buru- buru menjauh semantara Kara terkekeh. Ia memberikan ponselnya pada Petra, membiarkan Petra melihat foto-foto Rayyan lebih leluasa. Sepeda motor beberapa kali lewat dengan kecepatan tinggi.
“Kenapa kamu menolaknya?” tanya Petra. Setelah puas, ia mengembalikan ponsel itu pada Kara.
“Aku tidak pernah ingin menikah.” jawab Kara cepat.
“Kenapa?”
“Ada tiga alasan. Aku tidak bisa mencintai seseorang melebihi cintaku pada uang. Aku tidak mau mengantungkan kebahagiaanku pada orang lain, Aku tahu bahwa semua orang selalu pergi untuk sesuatu yang lebih baik.”
Petra menoleh dan melihat Kara tersenyum sumir. “Menikah bukan satu- satunya sumber kebahagiaan.” katanya lagi.
Kara menyandarkan sebelah lengannya di badan mobil sehingga menghadap ke arah Petra. “Bagaimana mungkin aku punya keinginan untuk menikah kalau aku selalu ingin dunia ini cepat berakhir.”
Kara tersenyum lebar pada Petra hingga tiba- tiba tubuhnya di peluk erat oleh pria itu. Tubuh Kara menegang hingga akhirnya tekesiap saat sebuah pisau menancap di bahu pria itu, bersamaan dengan sepeda motor yang baru saja melewati mereka.
“Petra...” Kara berteriak dan mengagetkan Karin yang langsung terbangun.
Kara memegang bahu Petra dan menatap tangannya yang penuh darah. Petra melepas pelukannya dan menengok bahunya yang sudah mengeluarkan darah. Tubuh Kara bergetar hebat, wajahnya memucat saat melihat raut wajah Petra yang meringis kesakitan.
***
Ruang unit gawat darurat itu tampak lowong, di salah satu bilik, seorang dokter tengah memeriksa luka yang di dapat Petra akibat menyelamatkan Kara. Kara ada di sana, menatap dokter yang sedang melakukan perawatan pada pada luka di bahu pria itu. Bibir Kara masih juga bergetar setiap kali mengingat detik- detik pisau itu menacap di bahu Petra. Menyadari bahwa mungkin, untuk membunuhnya tak akan memerlukan usaha keras. Jika Petra hanya mendapatkan delapan jahitan akibat insiden ini, Kara mungkin akan langsung masuk ruang operasi dan berada dimbang kematian jika mengalaminya.
Kara masih terpaku saat dokter selesai melakukan jahitan pada luka itu. Petra sudah mulai memakai kemejanya dan dokter pergi. Petra berdiri di depan Kara yang wajahnya tampak pucat.
“Aku baik- baik saja.” kata Petra akhirnya. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu, ia tahu bahwa gadis itu masih begitu shock.
“Kamu mendapat delapan jahitan. Bagimana mungkin baik- baik saja.” bibir Kara bergetar dan matanya berkaca- kaca.
“Ini bagian dari pekerjaanku.” Petra mengambil sebelah tangan Kara dan mengusapnya pelan. Memberitahu gadis itu bahwa hal- hal seperti ini sudah ia pikirkan sebelum menerima pekerjaan ini.
Petra melepas genggamannya saat Karin masuk dan hadir di antara mereka. Gadis itu baru saja menyelesaikan urusan administrasi di kasir.
“Taksi sudah ada di depan. Kamu yakin tak mau di rawat?” tanya Karin pada Petra yang langsung menggeleng.
“Ini bukan luka serius.” Petra jalan mendahului keduanya yang mengekor di belakang.
“Bahunya baru saja di tusuk tapi ia menyikapinya seperti habis kejepit pintu.” lirih Kara. Ia menggeleng tak percaya melihat respon Petra yang tampak santai.
***
Kara kini tahu bahwa dirinya benar- benar dalam bahaya. Sinyal yang dikirim oleh orang itu tidak main- main. Ia yakin orang itu berniat membunuhnya. Kemarin Petra mendapat luka tusukan karena menyelamatkannya, esok? Entah apa yang akan dialami pria itu.
Perhatian Kara teralihkan saat pintu di ketuk. Ia bangkit dari ranjang dan membuka pintu. Wajah Karin muncul di depannya.
“Sudah waktunya makan siang.” Karin mengingatkan karena Kara bahkan tak sarapan karena tak keluar kamar sejak pagi.
Kara menatap ke belakang punggung Karin, mencoba mnecari keberadaan Petra.
“Dia sudah kembali ke kamar setelah makan siang.” jawab Karin saat tahu apa yang di cari Kara.
“Aku tidak percaya aku mempekerjaan seseorang untuk terluka.” Kara keluar dari kamar dan pergi menuju dapur. Karin mengekor di belakangnya. Karin mengerti apa yang dirasakan Kara. Shock, takut, dan segala perasaan yang tak bisa dianggap sepele.
“Samuel akan mengurusnya.” kata Karin akhirnya, meski ia tahu bahwa kata- katanya tak juga bisa membuat Kara tenang.
“Aku akan membatalkan acara meet and great minggu ini.” kata Karin. Kara menatap Karin dengan tatapan tidak terbaca.
“Orang itu tak mungkin beraksi di kerumunan orang kan?” kata Kara dengan nada datar. “tidak usah dibatalkan. Banyak yang sudah menunggu acara itu.” lanjut Kara.
Karin mengangguk.
“Ketatkan pengamanan saja.” kata Kara.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Kara mengetuk pintu kamar Petra yang terbuka setengah. Ia masuk dan melihat pria itu sedang duduk di kursi.
“Aku belum mengucapkan maaf dan terima kasih untuk kejadian semalam.” Kara duduk di tepi ranjang tanpa diperintah. Petra hanya mengangguk. Menerima permintaan maaf Kara dengan tulus.
“Aku tidak pernah menyangka akan ada di posisi ini.” lirih Kara. Ia menunduk, menautkan jari-jarinya. Ingatan mengenai kejadian yang beberapa hari terakhir bekelebat di pikirannya. Kotak teror, percobaan penculikan, sampai pada percobaan pembunuhan kemarin malam.
“Aku tidak tahu apa yang sudah aku lakukan sehingga aku pantas mendapatkan itu semua.” lanjutnya.
“Aku akan memastikan kamu aman. Itu sudah menjadi tugasku.” Kata Petra. Ia meyakinkan gadis di depannya bahwa semuanya akan baik- baik saja.
“Aku tidak pernah takut mati. Tapi aku tidak mau membahayakan orang- orang di sekitarku.” Kara menatap Petra, “aku tidak tahu apa yang sanggup orang itu lakukan besok.” Kara memejamkan matanya sambil menggeleng. Tak sanggup membayangkan apa akan terjadi dengannya selanjutnya.
***
Oktober 2004
Kara meringkuk di pojok kamarnya. Ia menutup telinga dengan kedua tangannya. Ia menggeleng- gelengkan kepalanya, menolak mempercayai percakapan orangtuanya meski ia sudah terlanjur mendengarnya. Pipinya basah, air matanya mengalir. Bagaimana mungkin, ayah yang sangat ia percaya ternyata adalah pria beristri.
Kara sudah cukup besar untuk mengerti semuanya. Semua tetangga kini membicarakannya. Entah darimana asalnya, kabar itu sampai ke telinga ibunya dan para tetangga memperluas kenyataan itu. Dan barusan, ia mendengar sendiri bahwa ayahnya mengakui bahwa gosip itu benar. Bahwa dirinya masih berstatus suami orang.
Kara tak akan bisa melupakan wajah hancur ibunya. Bagaimana bisa pria yang ia percaya ternyata membohonginya. Bagaimana bisa pria yang memberikan kebahagiaan pada ia dan ibunya ternyata tak lebih dari seorang pembohong.
Kini, semua tetangga menganggap ibunya tak lebih dari perebut suami orang, penghancur rumah tangga orang. Semua orang memalingkan wajah, semua orang berkata sinis, semua orang memandang rendah ibunya.
Hidup Kara tak pernah lagi sama. Di usianya yang masih begitu muda, Kara harus mulai terbiasa dengan kata- kata pedas yang dilontarkan orang padanya ataupuan pada ibunya. Ia berjuang mati- matian untuk tak membiarkan omongan orang- orang mengganggu pikiran. Tapi terkadang Kara tak bisa membongi diri bahwa ia kecewa dengan hidupnya, semua omongan buruk tentang keluarganya membuat dadanya terkadang merasa sesak. Kara sudah menangis diam- diam. Kara tak lagi pernah menunggu kedatangan ayahnya. Gadis itu biasanya mengurung diri di kamarnya saat ayahnya pulang. Keduanya tak lagi menghabiskan banyak waktu bersama.
Kara merasakan kekecewaan yang sangat dalam sehingga mungkin tak akan bisa memaafkan ayahnya. Sikap ibunya pada ayahnya tak berubah. Kara sadar mungkin ibunya tahu bahwa ia tak punya pilihan lain karena ia mencintai suaminya. Hubungan keduanya membaik tak lama setelah pertengkaran itu terjadi. Keduanya kembali bersikap seolah- olah tak terjadi apa- apa. Tapi Kara tahu, kekecewaan ibunya pasti jauh lebih besar daripada kekecewaannya. Namun, ibunya menutupinya dengan sangat pintar.
Ibunya hanya harus menutup telinga rapat- rapat saat pergi keluar rumah dan mendapat sindiran pedas dari pada tetangga. Kara melihat sendiri bagaimana ibunya kerap menahan malu saat pergi ke warung dan bertemu dengan orang lain. Para tetangga bermulut pedas itu tak pernah berpikir dua kali untuk mengatakan sesuatu yang bisa menyinggung perasaan ibunya. Mereka tampak menikmati semuanya. Mereka menikmati mengejek ibunya, bertanya dengan nada sinis ataupun blak- blakan membicarakan mengenai status suaminya. Mereka melakukannya seakan- akan mereka sedang membicarakan sinetron di televisi.
TBC
LalunaKia