CHAPTER SEMBILAN

2548 Kata
            “Kamu harus makan.” Kata Karin di sela- sela break syuting film terbaru Kara. Kara menggeleng pelan. Bayangan katak dengan mata tercongkel dan perut terbuka itu masih terngiang jelas di pikirannya dan membuatnya tak napsu makan. Ia hanya minum kopi seharian.             “Kara, ayolah. Kamu masih harus syuting sampai malam nanti.” Mohon Karin dengan nada memelas. Ia masih membujuk Kara untuk makan karena gadis itu tak memasukkan makanan apapun ke perutnya dari siang sedangkan ia masih harus beraktivitas sampai malam             “Aku tak lapar.” Kara berdiri dari duduknya dan pergi menjauhi Karin. Karin menghela napas lalu menatap punggung Kara hingga menghilang dari pandangannya.             Kara pergi ke parkiran, menghampiri mobilnya dan masuk ke dalamnya. Petra yang sedang duduk di belakang kemudi menatap Kara sekilas melalui kaca spion tengah. Gadis itu membuka jendela lalu memejamkan matanya.             “Kamu perlu makan untuk berpura- pura kuat.” ujar Petra. Mata Kara perlahan terbuka. Ia menatap Petra yang sedang memakan sandwich. Kara menatap sandwich yang masih terbungkus yang diulurkan Petra.             “Aku tidak lapar.” tolak Kara.             “Kamu tahu, mungkin orang yang menerormu adalah salah satu dari orang yang ada di sini. Dia akan sangat puas karena bisa mempengaruhimu.” Kata Petra lagi.             “Mana bisa aku makan saat kotak berisi katak dengan mata tercongkel dan isi perutnya terburai itu memenuhi isi otakku.” Kara bergidik ngeri membayangkan isi kotak yang tadi pagi diterimanya.             “Jangan biarkan isi kotak itu memenuhi isi kepalamu.” Kata Petra.             “Tidak bisa. Isi kotaknya selalu terbayang sekuat apapun aku mencoba melupakannya.”             “Bisa. Kamu pasti bisa.” Petra menggerakan sandwich di tangannya dan menyuruh gadis itu menerimanya. “jangan sampai sakit hanya karena itu dan terlihat lemah di depannya.”             Kara menatap Petra lalu menarik napas. Ia mengambil sandwich itu dengan sentakan kasar lalu membuka bungkusnya dan memakannya perlahan.             “Aku akan mematahkan tulang orang itu kalau dia tertangkap nanti.”   ***               “Bukankah kamu sudah terlalu tua untuk berkelahi seperti ini.” Kata Kinan sambil melihat Sandra yang sibuk mengompres memar di pelipis matanya.             “Mana mungkin aku diam saja melihat seorang wanita hampir di copet.” Jawabnya.             “Kamu harusnya berteriak atau lapor polisi, bukan malah mengejarnya sendiri dan memukulinya.”             “Untuk apa aku berteriak kalau mereka yang melihat saja hanya diam.” Kata Sandra dengan nada menyentak, “mereka semua diam saja seperti sampah.”             Kinan hanya menggeleng mendengar Sandra masih saja menyerukkan sumpah serapah pada pria yang baru saja ia gebuki, juga pada orang- orang disekitar yang tampak tak acuh padahal tahu bahwa ada seseorang yang membutuhkan pertolongan.             “Pencopet di dalam bus itu biasanya berkelompok. Mungkin yang lain juga takut.” Kinan memberi pendapat.             Bukan hal aneh melihat Sandra seperti ini. Dari luar, ia memang tampak anggun, namun wanita itu punya kemampuan bela diri yang cukup mumpuni. Tak sekali dua kali ini ia berhasil mengejar copet, atau menangkap penjahat lainnya. Ia memang tak menolerir kehajatan yang terjadi di dekatnya. Ia akan melawan tak peduli bahwa itu membahayakan dirinya. Tidak ada yang menyangka bahwa ia yang begitu kuat pernah menjadi korban KDRT dulu.             “Kamu harusnya melakukannya lebih cepat pada mantan suamimu dulu.” Kata Kinan sambil tertawa.             “Kalau ayahku meninggal lebih cepat, aku juga akan melawan lebih cepat.”   ***               Kara baru saja menyelesaikan bagiannya saat jam menunjukkan pukul sebelas malam. Ia keluar dari sebuah rumah yang menjadi tempat syutingnya dan melihat hujan turun. Ia menghela napas panjang lalu mengambil ponselnya di tas.             Karin : Aku baru selesai. Aku akan kembali ke lokasi.             Kara menekan tombol panggil dan berbicara pada orang di seberang, “Tidak usah kembali. Langsung pulang saja. Aku juga akan pulang sekarang.” Katanya lalu menutup panggilan.             Kara membalik badannya dan melihat kondisi rumah itu masih ramai. Mereka masih harus mengambil beberapa adegan sebelum pulang. Ia memindai sekeliling dan berniat meminjam payung saat ia melihat siluet seseorang dari kejauhan. Orang dengan payunng hitam itu mendekat. Ia tersenyum tanpa sadar.             “Kamu butuh payung?” Kara menoleh saat melihat salah satu kru sudah berdiri di sebelahnya dan menawarkan sebuah payung.             “Tidak. Terima kasih.” Jawabnya saat melihat Petra semakin mendekat ke arahnya.             “Kamu sudah selesai?” tanya Petra saat sudah sampai di depannya.             Kara mengangguk lalu melangkah hingga berada di payung yang sama dengan pria itu. Keduanya berjalan beriringan tanpa sepatah katapun. Hanya suara hujan yang terdengar. Kara menoleh pada pria di sebelahnya dan melihat sebagian punggungnya basah karena memfokuskan payung itu padanya.             “Kamu sudah makan?” tanya Kara saat keduanya sampai di mobil.             “Sudah.” Petra menjawab tanpa menoleh pada Kara yang duduk di kursi belakang.             Petra menyelakan mesin mobil, menekan pedal gas dan ban mobil melaju meninggalkan kawasan itu.             “Aku benci hujan.” Kata Kara di tengah perjalanannya. Ia menatap keluar jendela dan melihat hujan semakin deras. “aku bingung bagaimana ada orang yang bisa begitu suka pada hujan.” Lanjutnya.             Petra tak menanggapi, ia terus fokus pada jalanan yang tampak lenggang hingga akhirnya mobilnya melesak masuk ke garasi rumah. Seperti biasa, Kara sudah tertidur pulas di kursi belakang. Butuh beberapa menit untuk membuatnya membuka mata.             Mata Kara perlahan terbuka dan langsung menangkap sepasang bola mata legam milik Petra. Keduanya terpaku untuk beberapa saat hingga akhirnya Kara berdehem. Petra tersadar lalu memundurkan tubuhnya. Tangannya yang tadi mengusap pelan lengan Kara langsung ditariknya jauh-jauh.             “Kamu suka pekerjaanmu?” tanya Kara saat keluar dari mobil. Petra menatap Kara, namun tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan gadis itu.             “Aku tak suka pekerjaanku.” Kata Kara sambil berlalu dan masuk ke dalam rumah.   ***               Pria itu menatap puluhan cicak mati di depannya. Ia mengambil salah satu dengan tangan telanjang tanpa rasa jijik sedikitpun. “Aku akan memisahkan kepala dan tubuhnya.” Katanya sambil tersenyum. Pria itu mengambil pisau di sebelahnya dan tanpa ragu memotong leher binatang itu hingga bagian kepala dan badannya terpisah.             “Yang mana yang harus aku berikan? Kepalanya? Atau badannya?” katanya seraya berpikir.   ***               “Mau olahraga?” tanya Karin saat melihat Kara keluar dari kamar dengan setelan olahraganya. Kara mengangguk lalu menghampiri Karin yang sedang sibuk di dapur.             “Petra juga baru saja pergi untuk berkeliling. Menyusul-lah. Dia pasti belum jauh.” Kata Karin saat Kara tengah menyesap air dalam gelasnya. Gadis itu mengangguk lalu keluar dari rumah. Ia berlari dan melihat punggung Petra tak jauh darinya. Ia berlari lebih cepat untuk mensejajarkan langkah mereka.             “Tidurmu nyenyak?” tanya Kara. Petra menoleh dan kaget melihat senyuman Kara di sebelahnya. Ia memelankan langkahnya lalu mengangguk.             Keduanya berlari santai. Kara tak sadar bahwa sebelah tali sepatunya longgar dan hampir terlepas. Kara hampir terjatuh kalau saja lengan Petra tak meraih pinggangnya dengan cepat.             Kara terpaku dalam setengah pelukan pria itu.             Aku ingin menghentikan waktu.             Petra yang pertama kali tersadar. Ia membenarkan posisi Kara dan melepas setengah pelukannya. “Maaf.” Katanya lirih. Matanya melirik ke sepatu Kara yang salah satu talinya terlepas. Ia berjongkok, lalu membenarkan simpul sepatu gadis itu.             Kara menunduk, menatap rambut hitam Petra, lalu ke jemarinya yang tampak lincah membuat simpul di sepatunya.             “Terima kasih.” Ucap Kara. Petra tak menjawab, hanya memberikan seulas senyum tipis.             Keduanya kembali berlari santai mengelilingi komplek hingga menepi di sebuah taman komplek. Kara yang saat itu tak memakai masker dan topi cukup membuatnya menjadi pusat perhatian di sana. Beberapa pasang mata secara terang- terangan menatapnya, Kara hanya tersenyum tipis. Beberapa yang lainnya berkerumun meminta Kara untuk berfoto bersama.             “Kenapa kamu memilih pekerjaan ini kalau kamu tidak suka?” Petra memberanikan diri bertanya pada Kara saat kerumunan orang sudah menghilang. Semua orang yang tadi berkumpul kembali sibuk ke kegiatannya masing- masing.             “Bukan aku yang memilih pekerjaan ini. Pekerjaan ini yang memilihku.” Jawab Kara lalu meneguk air mineral yang dibelikan Petra. Kara menatap ke depan. Ke anak laki- laki yang tengah memperebutkan bola karet dengan kakinya.             “Kamu punya karir yang bagus dan banyak penggemar. Tak ada yang kurang dari hidupmu.” Kata Petra. Ia melirik Kara yang tersenyum tipis. Secara garis besar, hidup gadis itu terlihat sempurna. Karir bagus, banyak penggemar, film dan iklan yang selalu menghasilkan pundi- pundi uang yang jumlahnya tak sedikit.             “Itu yang orang-orang lihat di depan kamera.” Kata Kara. “apa yang kamu lihat selama bekerja denganku.”             “Kesepian.” Jawab Petra tanpa ragu. “Kamu kesepian.”   ***               Kinan menatap anak semata wayangnya yang tengah memakan es krim di depannya. Di sebelah Raihan, mantan suaminya mengelap sudut bibir Raihan yang penuh es krim.             “Pekerjaanmu lancar?” tanya pria itu. Kinan mengangguk sambil tersenyum. Kinan menatap pria di depannya baik- baik. Ia selalu berharap pria itu bahagia. Sebagaimana ia berbahagia atas hidupnya selepas ia bercerai dari pria itu. Gani, senyum pria itu tak pernah berubah. Ia tak menyanga bahwa hidupnya dengan pria itu akan ada di tahap saat ini. Keduanya menjalin kasih selama lebih dari lima tahun, menikah dan harus bercerai saat pernikahan mereka belum genap tiga tahun. Keputusaan yang berat bagi keduanya. Tapi keduanya sadar bahwa itu adalah yang terbaik saat itu.             Seperti Kara, Gani juga berharap wanita itu bahagia selepas perceraiannya. Ia tahu ia yang paling bertanggung jawab atas kandasnya rumah tangga mereka. Ia harusnya bisa lebih tegas saat itu. Jika ia bisa mengulang saat itu, mungkin ia akan mempertahankan wanita itu sekali lagi.             Tapi, melihat bagaimana wanita itu bahagia. Ia tersadar, mungkin keputusannya untuk melepas wanita itu tepat. Wanita itu bahagia, sukses dan menjadi ibu yang baik bagi anak semata wayang mereka.   ***               Kara sedang menghapal dialog dengan salah satu lawan mainnya saat seorang make up artist menghampirinya.             “Ada paket untukmu.” Katanya sambil memberikan kotak berwarna cokelat padanya. Kara terdiam tapi akhirnya mengambil kotak yang di ulurkan wanita itu padanya. Kara tak mengucapkan terima kasih, wanita itu berlalu dari pandangannya.             “Ada yang salah?” tanya pria di sampingnya saat melihat raut wajah Kara yang tampak kebingungan.             “Tidak.” Kata Kara lalu menatap kotak dalam genggamannya. Gadis itu menelan ludah, ia tak berani membayangkan apa isi kotak itu. Ia masih menatap kotak itu saat tiba-vtiba kotak itu diambil paksa dari tangannya.             “Aku akan mengambilnya.” Kara mendongak dan melihat Petra berdiri di depannya. Ia mengangguk dan melihat Petra menjauh tanpa mengucapkan sepatah katapun.             Kara melanjutkan kegiatan syutingnya. Berusaha tak penasaran dan menerka- nerka isi kotaknya.             “Kara bilang ia mendapat paket lagi?” Karin mendekati Petra yang sedang berada di warung tak jauh dari tempatanya memarkirkan mobil.             “Iya.”             “Apa isinya?” tanya karin pada Petra. Petra merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel dan membuka menu galeri. Ia memperlihatkan gambar yang tadi diambilnya.             Karin menutup mulutnya tak percaya. Bulu kuduknya berdiri. Dalam potret itu, ia melihat puluhan cicak dengan kepala dan badan yang terpisah.             “Aku berusaha mengejarnya tadi, tapi tidak tertangkap.” Katanya lagi.             Karin mengusap- usap lengannya yang bergidik. Ia meneguk air dari botol yang ia bawa dan menarik napas panjang- panjang. Bersyukur karena Kara tak melihat isinya. Setelah kejadian kotak berisi katak itu, seperti Kara mulai kapok dan tak lagi bersikukuh melihat isi kotak yang dikirimkan padanya.   ***             Kara memerhatikan Karin dari ruang tamu. Gadis itu sedang berbicara dengan seseorang di telepon dengan begitu asyik. Gadis itu sesekali tertawa, sebelah tangannya menuang fresh milk ke dalam mangkok yang sudah di isi oleh sereal lalu menaruh di meja, tepat di depan Kara. Setelahnya, gadis itu kembali ke dapur dan duduk di meja bar. Masih begitu fokus berbicara dengan orang di seberang sambungan.             “Karin tak mungkin punya pacar. Dia tak punya waktu.” Kata Kara saat Petra duduk di depannya. Pandangan Petra ikut terarah pada Karin.             “Kamu iri?” tanya Petra.             “Tidak. Aku senang. Karin berhak bahagia atas hidupnya.” Kara mengaduk serealnya dan menyuapkan satu sendok penuh ke dalam mulutnya.             Karin berdiri dari duduknya, mendekati keduanya lalu mengulurkan ponselnya pada Petra.             “Temanmu.” Kata Karin saat Petra menatapnya dengan bingung. Petra mengambilnya lalu berbicara dengan temannya di luar ruangan.             “Temannya Petra? Bagaimana kamu kenal?” tanya Kara sambil menyantap serealnya.             “Kamu menyuruhku mengganti rugi mobil yang digunakan Petra malam itu. Mobil itu miliknya.” Jawab Karin.             “Kalian pacaran?” tanya Kara tanpa basa-vbasi. Karin tertawa lalu menggeleng cepat. “kamu sudah waktunya punya pacar.” Kata Kara lagi.             “Kamu dan pacar. Aku tak bisa memiliki keduanya.” Jawabnya. Sudah bertahun tahun ia mengabdikan diri dengan Kara. Ia tak menginginkan hal lain selain bisa terus ada di samping gadis itu. Membalas kebaikan gadis itu dengan hidupnya.             “Kamu bisa bergantian libur dengan Petra untuk berkencan.” Kata Kara. Sekali lagi, Karin menggeleng.             “Hubungan kita tak sejauh itu.”   ***               Petra melihat syuting yang sedang di lakukan di depannya. Kara sedang beradu akting dengan pemeran utama laki- laki. Laki- laki itu memeluk Kara dan hujan buatan mengguyur tubuh keduanya hingga basah. Sebelumnya, gadis itu melakoni adegan lari- larian yang harus diulang beberapa kali. Setelah sutradara berteriak, “Cut.” Karin berlari mendekati Kara dan langsung mengalungkan handuk tebal ke tubuh gadis itu.             Karin mengambil paper bag berisi pakaian ganti yang ia taruh di atas kursi dan memberikannya pada Kara. Bungkusan itu berpindah tangan dan Kara pergi menuju kamar mandi yang ada di sana.             Kara keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat Petra berdiri tak jauh dari pintu kamar mandi. Kara mendekat hingga sejajar dengan pria itu.             “Sepertinya isi kotak kemarin juga bukan sesuatu yang bagus, ya?” Tanya Kara. Ia sadar, mungkin tak ada tempat yang aman baginya selain rumahnya hingga Petra memutuskan untuk membututinya bahkan untuk ke kamar mandi.             “Kamu mau tahu isinya?” tanya Petra. Kara menggeleng.             “Nafsu makanku mulai membaik, aku tak mau merusaknya lagi.”   ***               Petra menunggu di pelataran rumah sakit, sebelah tangannya memegang kaleng soda. Ia mengantar Kara ke rumah sakit itu seminggu sekali. Entah apa yang dilakukan gadis itu, Petra hanya diminta menungu di parkiran. Kurang dari satu jam, ia melihat Kara dan Karin keluar dari pintu rumah sakit tepat saat menghabiskan isi kaleng sodanya.             Ketiganya melanjutkan perjalanan ke lokasi syuting. Lokasi kali ini berada di pinggir kota. Dengan kawasan yang masih begitu asri dengan pohon pinus yang menjulang tinggi. Mereka melewati jalan yang diapit oleh hutan.             “Udaranya segar.” Kara membuka kaca jendelanya lalu mengirup udara segar yang tak bisa ia dapatkan di tempatnya. Ia menarik napas panjang- panjang danmengembuskannya perlahan. Membiarkan udara segar itu menysup ke paru- parunya.             “Kamu butuh liburan.” Kata Karin.             “Aku tak punya waktu. Aku mencintai uang lebih dari apapun. Tak akan aku biarkan pundi- pundi itu menghilang sementara aku menghabiskan uang untuk liburan.”             Petra tak sadar tersenyum tipis mendengar penyataan gadis itu yang blak- blakan. Roda  mobil membawa mereka ke lokasi yang sudah cukup ramai. Kara menyapa rekan- rekan dan kru yang sudah sibuk terlebih dahulu lalu bersiap di sebuah tenda yang didirikan di sana.             Petra memerhatikan Kara di antara kerumunan kru. Entah sejak kapan, Petra mulai menyukai saat-saat ia menatap Kara seperti ini. Gadis itu kadang tertawa, kadang menangis, marah dan kecewa, sesuai naskah yang diberikan padanya. Semuanya terlihat mudah bagi gadis itu.             Satu cup berisi kopi di ulurkan kepadanya. Petra menoleh dan menatap Karin yang sudah ada di sebelahnya. Ia mengambil cup yang diulurkan Karin lalu meneguknya pelan setelah mengucapkan terima kasih.             “Besok Kara tidak ada syuting. Kamu bisa mengambil jatah liburmu.” Kata Karin. Petra tak menjawab, hanya mengangguk pelan.  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN