Samuel menatap wanita yang sedang menangis di depannya. Sejak datang, ia bahkan belum sempat mengucapkan satu kalimatpun, tapi wanita itu sepertinya sudah menghabiskan berliter- liter air matanya. “Sudah... sudah.” kata Samuel. Ia mengambil sapu tangan dari saku celananya dan memberikannya pada wanita itu. “Aku mohon Samuel... keluarkan aku dari sini.” wanita itu menggenggam tangan Samuel di atas meja dengan erat. Mengharap belas kasih mantan suaminya. Tapi, Samuel tidak mungkin berubah pikiran. Sebelum benar- benar menjebloskan Priska ke penjara, ia sudah mendapat banyak makian dari ayahnya yang melarang ia melakukan itu. Ayahnya bingung harus menghadapi ayah Priska karena mereka bersahabat baik. Samuel tak akan melupakan sumpah serapah yang dilonta

