Kara masuk ke ruangan serba putih itu dan menatap seorang lelaki muda di atas ranjang. Kepala laki- laki itu dibebat perban, begitu juga kakinya yang dipasangi penyanggah, lelaki itu baru saja menyelesaikan operasi karena tulang yang patah menembus keluar dan merobek kulit. Ia duduk di kursi tepat di samping ranjang. Ia menatap wajah yang dihiasi beberapa bekas luka akibat terbentur kaca mobil itu. Ia menelan ludah dan kembali menangis. Ia membayangkan bagaimana jika laki- laki itu sadar dan tahu adiknya sudah tidak ada di sampingnya. Kara menarik napas panjang, mencoba menahan tangisnya yang mulai tidak terkendali. Bagaimana bisa Kara bilang bahwa adik perempuannya sudah meninggal. Bagaimana bisa Kara menyampaikan kabar buruk itu. Ia tahu bagaimana

