Setelah panggilan berakhir, Arsyila langsung memberi tatapan permusuhan pada Arash. Dia tidak tahu bagaimana harus menggambarkan rasa kesalnya. Ingin marah-marahpun, percuma. Hanya akan membuat tenaganya terkuras sia-sia. Apalagi saat ini, lengan dan pundak kanan Arsyila terasa cukup nyeri. Namun, balasan yang Arsyila dapatkan setelah dia menatap kesal pada Arash, adalah senyuman ramah dari lelaki itu. "Nggak sopan tau, nutup telpon sepihak gitu," gumam Arash. "Gara-gara kamu nih. Kacau semuanya. Ibu jadi harus repot berangkat ke sini." Arsyila menyandarkan tubuh lemahnya pada sandaran kursi. "Aduh…" dia meringis saat lengannya agak berbenturan dengan kursi. "Kamu nggak apa-apa? Mana yang sakit?" Tanya Arash sedikit panik. "Lengannya sakit banget, nyeri. Awalnya nyeri biasa, tapi ini

