"Mungkin memang begitu cara dokter menyemangati pasiennya." Arsyila akhirnya berkomentar setelah beberapa detik. Karena lokasi apotek tidak jauh, kini mereka sudah sampai di sana. Arsyila bersyukur karena tidak ramai pengunjung klinik saat itu, dia ingin cepat-cepat tiba di kosnya. "Hm, dokter penuh modus. Ibu tunggu di sini, biar saya yang tebus obatnya–" "Arash, ini uangnya!" Arsyila mengeluarkan dompet dari saku hoodienya, dia setengah berteriak saat Arash langsung pergi tanpa persetujuannya. Meski dia sudah mengencangkan volume suaranya, Arash tetap tidak menghentikan langkah, lelaki itu kini sudah berdiri di depan kasir apotek. Mata Arsyila masih tertuju pada lelaki itu. Menurutnya, secara fisik, Arash begitu sempurna tanpa cela. Dia adalah jenis laki-laki yang tentu banyak diidam

