Ketika jam menunjukkan pukul yang mulai memasuki larut malam, Arvin barulah membawa Qila kembali memasuki rumahnya. Lagi dan lagi, mereka cukup banyak mengobrol. Kali ini yang mereka bicarakan cukup luas jangkauannya. Tak lagi hanya tentang Qila dan ceritanya sendiri. Tapi juga tentang hal lain seperti sekolah, keluarga, teman dan beberapa pembicaraan mengenai pelajaran.
Saat Arvin dan Qila berjalan beriringan kembali memasuki rumah, dapat mereka lihat ternyata ada Mama Fira, Papa Vito dan Gladis yang sedang duduk santai di sofa ruang keluarga rumah itu. Mereka nampak sedang menonton tv dengan serius. Tapi saat mendengar suara langkah kaki, entah kenapa perhatian mereka langsung teralih menatap kearah Arvin dan Qila. Qila bahkan sempat terdiam kaku ketika ditatap mereka secara bersamaan tadi. Namun beruntungnya ada Arvin yang paham dengan kondisinya.
"Gak usah lihatin kita kaya gitu, kita gak lagi maling kok," ujar Arvin dengan datar. Menatap Papa Vito, Mama Fira dan Gladis jengah. Sebegitunya kah mereka melihat Arvin dengan Qila? Sangat tidak wajar.
Setelah mendengar Arvin mengatakan itu, mereka sontak kembali mengalihkan pandangannya dari Arvin dan Qila ke arah sembarangan.
Hening. Satu kata yang menggambarkan keadaan sekarang. Tapi itu tak berlangsung lama karena Mama Fira yang terdengar berdehem ditengah keheningan.
"Ehem," dehem Mama Fira. "Kamu gak mau ajak Qila duduk Vin? Kalian mau berdiri aja terus gitu?" lanjut wanita paruh baya itu lagi yang membuat Arvin langsung menggandeng tangan Qila dan dibawanya untuk duduk di sofa kosong yang ada di ruang keluarga itu Arvin dan Qila kembali duduk bersebelahan.
Setelah melihat anak sulung serta calon menantunya... uhuk. Sudah duduk dengan nyaman di tempatnya, barulah Mama Fira kembali membuka suaranya.
"Habis darimana kalian? Mama gak denger ada suara motor keluar rumah tadi. Tapi kalian keluarnya lama banget gak balik-balik dari tadi waktu jam masih masuk sore," ujar Mama Fira bertanya. Memang Mama Fira, Papa Vito dan Gladis tak mengetahui kemana Arvin membawa Qila pergi tadi. Sependengaran telinga mereka, tadi sama sekali tak ada suara motor keluar dari rumah. Tapi herannya kenapa Arvin dan Qila sangat lama tak kunjung kembali.
"Taman rumah," jawab Arvin seadanya. Memang benar kan mereka baru saja selesai dari sana.
Mama Fira mengangguk paham, begitupun dengan Gladis dan Papa Vito. Pertanyaan mereka sudah terjawabkan.
"Oalah, Mama, Papa sama Gladis kira kalian kemana. Habisnya kalian lama banget," ujar Mama Fira kemudian.
"Lagian kalian juga aneh, udah tahu penasaran kita kemana tapi gak dicariin dulu di sekitar rumah sendiri. Padahal udah tahu gak denger suara motor keluar rumah, ya berarti kita kalo gak ada di sekitaran rumah ya pasti ada di sekitaran komplek lah," ujar Arvin menyuarakan pemikirannya dengan nada datar.
"Ya meskipun Mama, Papa sama Gladis penasaran, tapi kita juga malas cari tahu Arvin. Lagian kita bisa tanya sama kamu kalo udah balik, ngapain repot-repot dicariin dulu," ujar Mama Fira mencoba membela dirinya, suaminya serta anak bungsunya.
Arvin menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan jawaban Mamanya. Bisa ya seperti itu. "Ya kalo kaya gitu Mama, Papa sama Gladis juga gak akan tahu kalo aku bohongin kalian," jawab Arvin santai.
Mama Fira terdiam, wanita paruh baya itu sudah terpojok. Anak sulungnya ini memang sangat pandai berdebat meskipun dia adalah seorang laki-laki. Pribadinya yang sangat dingin dan pendiam justru tak bisa disepelekan. Justru, karena dia sangat dingin dan pendiam itulah mulutnya menjadi sangat pedas ketika mengatakan sepatah dua patah kata. Bahaya, mulut Arvin cukup beracun. Meskipun apa yang Arvin katakan memang selalu benar.
"Udah-udah, kenapa Mama sama Kak Arvin malah debat sendiri sih," ujar Gladis mencoba membantu Mamanya yang sudah terpojok dengan menyelesaikan perdebatan mereka. "Kak Arvin gak malu apa debat kaya gitu di depan doi, dilihatin itu loh," lanjut Gladis kemudian membuat Arvin secara refleks menoleh kearah Qila. Dan benar saja, Qila sedang menatap kearahnya. Tatapan mereka sontak saja bertemu. Jantung Arvin berdetak dua kali lebih cepat daripada normalnya, memang benar, dekat dengan Qila tak baik untuk kesehatan jantungnya.
"Ciee, uhuk uhuk. Udahan kali tatapannya," ujar Gladis iseng menggoda sahabatnya dan kakaknya itu. Karena mendengar godaan Gladis pada dirinya dan Qila, Arvin merasa geram sendiri dengan adiknya itu. Mengganggu saja.
Biasanya saja adiknya itu selalu bersemangat membuat dirinya dan Qila menjadi sangat dekat, tapi disaat ada momen seperti ini, selalu saja adiknya itu berbuat jahil. Seperti menggoda contohnya.
Mulut Gladis langsung ditutup oleh Mama Fira saat gadis itu menggoda Arvin dan Qila. Mama Fira berbisik pelan ditelinga anak bungsunya itu.
"Jangan digoda Gladis, itu mereka mumpung deket-deket. Katanya mau Qila jadi Kakak ipar kamu," ujar Mama Fira berbisik. Dan itu membuat Gladis menjadi mengangguk saja menurut.
Mama Fira beralih menatap Arvin dan Qila bergantian. Dua muda-mudi itu sudah saling mengalihkan tatapan mereka masing-masing. "Maafin Gladis ya, emang anaknya gak bisa ngerem banget. Heran Mama juga," ujar Mama Fira meminta dengan meringis kecil, tak enak. "Qila kalo mau sama anak sulung Mama Fira gak apa-apa kok, Mama Fira restuin seratus persen buat Qila. Qila soalnya udah menantu idaman Mama Fira banget. Mama Fira pokoknya Arvin Qila menuju pelaminan garis keras," lanjut wanita paruh baya itu membuat pipi Qila merona.
Malu rasanya mendengar perkataan Mama Fira yang sama saja intinya seperti menggoda dirinya. Sementara Arvin yang mendengar perkataan Mamanya juga merasa sedikit kesal, tapi setelah melihat pipi Qila yang memerah, entah kenapa Arvin merasa gemas sendiri melihat Qila. Tapi Arvin juga merasa kasihan dengan Qila yang merasa malu sendiri.
"Mama sama aja kaya Gladis," ujar Arvin memutuskan untuk membela Qila. Kasihan anak gadis orang dibuat malu-malu seperti itu. "Jangan goda Qila Ma, anak gadis orang itu. Nanti kalo gak betah disini Mama ya yang tangguh jawab," lanjut cowok itu menatap Mamanya dengan serius.
"Lah? Mama salah apa Vin? Kan Mama cuma mengatakan isi hatinya Mama doang," jawab Mama Fira dengan wajah tanpa berdosanya.
"Dan isi hati Mama itu yang buat Qila malu," sahut Arvin lugas. "Udahlah Ma, terserah Mama aja. Gak ada habisnya lama-lama debat sama Mama," lanjut Arvin lagi.
Arvin beralih untuk menatap Qila yang duduk di sebelahnya. "Qil, ayo kita belajar," ajak cowok itu random. Tapi tak urung Qila langsung saja menyetujuinya. Kemudian dua muda-mudi itu langsung berjalan meninggalkan ruang keluarga.
Papa Vito hanya diam saja melihat anak sulungnya membawa anak gadis orang pergi dengan kedok belajar. Sementara Mama Fira nampak mencibir anak sulungnya itu, kenapa anaknya itu sangat tidak kreatif sekali mendekati seorang gadis. Kenapa malah diajak belajar coba.
Lalu Gladis, gadis itu merasa kesal dengan Kakaknya yang hanya mengajak Qila tanpa mengajak dirinya.
"Ma, Kak Arvin tuh kok gak ngajak Gladis sih, ngajaknya Qila doang. Gak adil," adunya kepada Mama Fira yang langsung ditanggapi wanita paruh baya itu dengan baik.
"Vin! Ini adiknya juga diajak belajar dong," pekik Mama Fira membuat langkah Arvin dan Qila berhenti.
"Gak mau. Anak Mama itu beban doang kalo diajak belajar. Arvin gak mau ya dia ganggu Arvin sama Qila waktu kita belajar nanti," jawab Arvin dengan santai kemudian kembali melangkahkan kakinya menjauhi area ruang keluarga.
Sepeninggalan Arvin, Mama Fira menatap kearah Gladis duduk. "Iya, bener juga kata Kakak kamu Dis. Kamu kan paling gak betah kalo diajak belajar, yang ada kamu gangguin mereka lagi," ujar Mama Fira yang membuat Gladis menyengir lucu.
"Hehe. Iya juga ya Ma. Gladis juga gak mau sih kalo diajak belajar," ujar Gladis yang membuat Mamanya menoyor kepala anak bungsunya pelan.
"Anak nemu dimana sih Ma kaya gitu," celetuk Papa Vito membuat Gladis memekik kesal.
"Papa! Gladis anak kandung Papa sama Mama tahu!"
Papa Vito dan Mama Fira dibuat tergelak mendengarnya. Sementara Gladis, gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal.