CHAPTER 36

1306 Kata
Saat Arvin membawa Qila pergi dari hadapan Gladis, Mama Fira dan Papa Vito, ternyata cowok itu memutuskan untuk mengantarkan Qila ke kamar yang gadis itu tempati selama tinggal di rumahnya. Karena sudah mulai larut malam, itulah alasannya. Andai saja jam belum menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, pasti saat ini Arvin tak akan mengantarkan Qila ke kamar gadis itu dan akan lebih memilih untuk mengajak Qila melakukan beberapa hal. Seperti bermain ps contohnya. Tipe gadis seperti Qila itu sangat easy going. Diajak apapun mau, dia juga tipe gadis yang sangat penurut. Lagipula, Qila bisa melakukan banyak hal. Urusan seperti bermain game atau ps itu hal yang kecil untuk gadis seperti Qila. Tapi, kalau untuk gadis yang seperti Gladis, itu akan sedikit sulit. Gladis itu termasuk anak manja menurut Arvin, Gladis juga cukup feminim menurut Qila. Jadi untuk melakukan beberapa hal, Gladis sedikit merasa takut-takut. Dan itu akan sangat ribet jika Arvin mengajak Gladis. "Lo masuk kamar gih. Jangan lupa pesen Papa gue kemarin. Sebelum tidur cuci muka dulu, cuci kaki, gosok gigi. Baru habis itu baru boleh tidur," ujar Arvin berpesan. Saat ini mereka sudah berada tepat di depan pintu kamar Qila. Qila tersenyum kecil mendengarnya. "Iya Kak Ar, thanks udah diingetin," ujar gadis itu dengan tulus. Baru saja tangan Qila mencapai pegangan pintu kamarnya, suara menggelegar dari Gladis yang baru saja datang berhasil menghentikan pergerakannya dan membuat perhatian Arvin serta Qila teralihkan pada gadis yang sangat heboh itu. "Good malam kakak laknat serta sahabat tercintakuuuu," pekik gadis itu saat masih berada sejauh beberapa langkah di depan Arvin dan Qila. "Jangan teriak Gladis! Ini rumah, udah malem lagi," ujar Arvin memperingatkan adiknya itu dengan ekspresi datar. Gladis yang mendengar perkataan kakaknya itu berdecih dalam hati. Gladis juga tahu kali kalau ini rumah, dia juga tahu kalau ini sudah malam. Arvin tak perlu seperti itu mengingatkannya. Lagipula, kenapa kakaknya itu selalu saja bersikap ketus kepadanya, sedangkan saat bersama Qila saja kakaknya itu pasti akan berubah menjadi kalem. Benar-benar tidak adil. "Kak Arvin bisa gak sih gak usah ketus gitu kalo lagi ngomong sama gue, gak usah datar juga mukanya sekali-kali berekspresi kek," ujar Gladis akhirnya, memprotes. "Lo punya dendam apa sih sama gue Kak, perasaan kalo lagi sama Qila aja lo alus bener orangnya, ngomong juga selalu adem ayem, gak kaya kalo lagi sama gue, selalu aja ngegas tanpa batas. Gue adik kandung lo bukan sih sebenernya?" lanjut Gladis lagi dengan napasnya yang mulai tersengal. Emosi. "Bukan," jawab Arvin singkat. "Papa sama Mama dulu mungut lo di rumah sakit. Puas lo?!" lanjut cowok itu masih dengan tatapan dan suara datarnya. "KAKAK LAKNATTTT!!" pekik Gladis semakin dibuat kesal oleh Kakaknya itu. "Itu namanya bukan mungut anjir," katanya lagi. Arvin hanya menghendikkan bahunya acuh. Cowok itu kemudian beralih untuk menatap Qila kembali. "Inget pesen gue tadi Qila," pesan Arvin yang langsung diangguki Qila dengan semangat. Arvin yang melihatnya sontak saja langsung tersenyum manis. "Ya udah kalo gitu, gue pamit balik ke kamar dulu ya. Kalo ada apa-apa lo bisa langsung datang ke kamar gue atau kamar Gladis. Tapi gue lebih saranin buat ke kamar gue aja sih, temen lo itu soalnya kalo udah tidur susah banget dibanguninnya. Takutnya kalo udah urgent, malah makin lama kalo minta bantuan dia," tambah Arvin lagi membuat Gladis melongo kecil. "Tuh kan! Kak Arvin aja senyum-senyum kalo ngomong sama Qila, mana panjang banget lagi ngomongnya. Giliran sama gue aja mana pernah kaya gitu," protes Gladis lagi. "Dasar bucin!" timpalnya. Arvin menatap Gladis tanpa eskpresi. "Sejak ada kata bucin, kata setia dan tulus diabaikan," ujarnya lalu setelah itu cowok itu akan beranjak pergi. Tak menghiraukan perkataan Arvin, Gladis lebih memilih menghadap kearah Qila. Dengan tatapannya yang nampak sangat bersemangat. "Qila! Ayo sekarang kita bahas gimana persiapan untuk besok. Pokoknya gue mau ajarin lo buat berhenti bersikap terlalu baik sama orang. Apalagi besok si sepupu bangsatnya Ghea itu bakalan masuk di SMA kita. Gue gak mau ya Qil kalo nanti sampe lo iya-iya aja waktu si sepupu bangsatnya Ghea itu minta tolong lo buat beberapa hal yang sebenarnya itu buat lo ngerasa gak nyaman, tapi lo gak enak buat nolaknya," celoteh Gladis dengan menggebu-gebu. Ya, memang seperti itulah Qila. Selalu saja merasa tidak enak hati kepada seseorang padahal Qila tak melakukan kesalahan apapun. Qila juga tipe orang yang tidak tegaan dan tidak enak menolak untuk membantu seseorang yang meminta bantuannya. Kalo kata Qila mah, selagi bisa membantu ya dibantu. Kalo orang minta bantuan sama dia juga Qila bakalan tetep berusaha ngebantu sekalipun gadis itu sebenarnya sedikit merasa keberatan karena dia tidak yakin bisa membantu. Sementara Arvin yang memang masih berada di sana tentu saja dengan jelas mendengar perkataan Gladis itu. Tidak, Arvin tidak bisa membiarkan Qila diracuni oleh perkataan Gladis. Akhirnya Arvin memilih untuk berjalan kembali mendekati Gladis dan Qila. "Lo jangan coba-coba racuni otak Qila ya Dis," ujar Arvin yang datang tiba-tiba. "Ada baiknya lo balik ke kamar aja sana, tidur udah larut. Biarin Qila juga buat istirahat, dia cape Dis," lanjut cowok itu kemudian. Gladis menatap Kakaknya dengan tatapan tak biasa. "Gak bisa Kak Vin. Gue jelas gak bisa biarin Qila untuk sekolah besok sebelum gue kasih dia wejangan dulu. Lo gak tahu gimana sifat seorang Qila," bantahnya. "Kak Vin, Qila anaknya terlalu baik, dia terlalu gak tegaan dan gak enakan buat nolak bantuan orang lain sekalipun orang itu udah jahat sama dia. Dia udah sering dimanfaatin sama orang-orang gara-gara sifatnya yang satu itu. Dan gue gak mau kejadian itu kembali terulang lagi besok. Gue gak mau dia bantuin sepupunya Gladis disaat bantuan yang Qila kasih itu sebenarnya menyakiti hati Qila sendiri!" tegas Gladis tak mau mundur kali ini. Gladis dengan serius mengatakan itu, Qila pun juga dengan baik mendengarnya, meskipun gadis itu hanya memilih diam saja. "Kak Vin, gue tahu lo orangnya berpemikiran dewasa banget. Tapi jelas gue juga tahu lo orangnya sangat egois. Gue tahu pemikiran dewasa lo bakalan hilang kalo udah ada satu hal yamg memaksa lo untuk berpikir logis dan egois. Apalagi kalo itu menyangkut orang yang lo sayangi," ujar Gladis melanjutkan. "Gue tahu lo gak suka Qila terluka kan Kak Vin? Gue tahu lo pasti juga akan berpemikiran egois kalo itu udah menyangkut orang yang Kakak sayangi, dan itu adalah Qila," lanjutnya. "Yang perlu Kakak tahu sekarang adalah, dari semua yang Ghea ceritain kemarin soal sepupunya, gue bisa simpulin kalo sepupunya itu terlalu toxic dan itu juga yang ngebuat Ghea sahabat gue berubah. Dan gue gak mau kalo sampe Qila jadi korban cewek itu selanjutnya," muka Gladis memerah menahan semua rasa kesalnya. Entah kepada siapa rasa kesal itu tertuju. Yang jelas, saat ini Arvin terdiam mendengar semua perkataan adiknya itu. Benar. Memang benar Arvin selalu bersikap dan berpikir egois saat sudah menyangkut orang yang dia sayangi, dan benar bahwa itu adalah Qila. Dia menyayangi serta mencintai gadis yang merupakan sahabat dari adiknya itu. Salah satu buktinya adalah saat Arvin meminta Qila untuk tak lagi menerima Ghea jika gadis itu ingin kembali menjadi sahabatnya. Logikanya adalah, jika Arvin berpikir dewasa, bukankah seharusnya cowok itu mengatakan kepada Qila untuk memaafkan Ghea dan memberi kesempatan kepada gadis itu untuk bisa kembali berteman baik dengan Qila? Tapi nyatanya tidak dengan pemikiran Arvin saat itu. Karena yang jelas saat itu Arvin pikirkan adalah bagaimana caranya agar Qila tak dikelilingi oleh bahaya dan orang-orang toxic. Dia ingin Qila terlindungi. Dan itulah yang membuat Arvin berpikir untuk menjauhkan Qila dengan Ghea. Dia tak apa jika Qila memaafkan Ghea, tapi untuk menerima kembali sebagai sahabat dekat, Arvin jelas akan menolaknya dengan lugas. Arvin akan melarang Qila untuk itu. Demi keamanan gadis itu. "Gue ikut omongin soal itu. Kita akan bahas sekarang, tapi jangan sampe lewat dari tengah malam, sisanya kita bisa bahas besok pagi di mobil. Qila butuh istirahat, hari ini cukup berat buat dia," ujar Arvin akhirnya memutuskan. "Dan hari esoknya akan jauh lebih berat lagi buat dia," tambah Gladis menyebabkan tatapan Arvin berubah menjadi tak terbaca.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN