CHAPTER 37

1184 Kata
Mobil yang dikendarai Arvin sudah melaju membelah jalanan ibu kota yang memang sudah cukup ramai di jam yang menunjukkan pukul 06.15 WIB. Mobil yang membawa Arvin, Qila dan Gladis di dalamnya. Kemarin malam, Gladis benar-benar memberikan banyak pelajaran penting kepada Qila untuk melakukan sesuatu yang memang gadis itu inginkan dan menolak melakukan sesuatu yang memang gadis itu tidak inginkan. Sedikit banyak Gladis mengajari Qila hal-hal lain. Contohnya cara membalaskan sesuatu kepada seseorang yang sudah membuatnya hancur. Tapi, apa yang diajarkan oleh Gladis menurut Arvin saat itu adalah sesuatu yang tidak berkelas. Membalas dengan tamparan atau membalas melalui luka fisik sangat tidak efisien menurut cowok itu. Yang ada, nanti Qila malah mendapatkan masalah gara-gara itu. Tapi tenang, meski begitu, sudah banyak hal-hal lain yang Gladis ajarkan dan itu memang sangat berguna. Kalau dalam pembicaraan kemarin, Arvin sih hanya berperan sebagai seseorang yang mengawasi saja dan sesekali juga membetulkan perkataan Gladis yang menurutnya sedikit melenceng atau menyebabkan resiko yang cukup besar untuk Qila. "Ingat ya Qil yang kemarin udah gue ajarin ke lo. Gak perlu semuanya juga kok yang lo praktekin. Cuma satu, dua atau beberapa hal aja yang memang itu dalam kondisi mendesak," ujar Gladis mengingatkan Qila sekali lagi. Perkataan Gladis itu membuat Qila menganggukkan kepalanya yakin. "Iya Dis, lo tenang aja, gue paham kok," jawab gadis itu dengan santai. Sementara Arvin, cowok itu hanya diam saja menyimak. Arvin rasa, memang tak ada hal yang penting untuk Arvin komentari. Gladis sudah mengingatkan Qila dan Qila yang memang sudah paham dengan apa yang Gladis sampaikan. Peran Arvin disini memang hanya sebagai pengamat. Atau sesekali Arvin juga berperan sebagai pelindung Qila. Nanti, kalau ada hal yang Arvin rasa cukup membahayakan Qila, disitulah peran Arvin akan kembali di butuhkan. Mobil Arvin saat ini sudah mulai memasuki area SMA Rajawali cowok itu kemudian langsung memarkirkan mobilnya di tempat dimana biasanya dia memarkirkan mobilnya itu. Setelah terparkir dengan sempurna, Arvin, Qila serta Gladis membuka pintu mobil yang ada damping mereka secara bersamaan. Dan lagi, karena Qila yang memang juga tadi duduk di kursi penumpang samping kemudi mobil Arvin, membuat banyak tatapan anak-anak yang baru saja datang itu terus mengarah kearahnya. Lagi dan lagi, setahu mereka, Arvin adalah pacar dari Gladis yang merupakan sahabat dari Qila sendiri. Namun, anehnya adalah kenapa Gladis malah duduk di kursi penumpang belakang sedangkan Qila malah duduk di kursi penumpang samping kemudi yang berarti Qila duduk di sebelah Arvin. Tak mau mempedulikan itu lebih lanjut karena mereka lebih mempercayai sifat Qila, anak-anak yang tadinya memperhatikan Qila dengan seksama itu langsung mengalihkan pandangan mereka dan fokus dengan kegiatan mereka masing-masing. Tapi sebelum itu, mereka menyempatkan dirinya untuk menyapa Qila dan dibalas Qila dengan sangat baik. Di SMA Rajawali, Qila ini bisa diibaratkan sebagai seorang selebnya. Ya, Qila memang merupakan seleb SMA Rajawali. Gadis itu benar-benar sangat terkenal dengan keramahan hatinya dan juga wajahnya yang cantik. Sementara Arvin, cowok itu juga cukup dikenal di SMA Rajawali, selain karena kepintarannya, Arvin juga merupakan ketua ekstra pencak silat, ditambah wajahnya yang memang memiliki kadar ketampanan di atas rata-rata membuat banyak siswi-siswi yang mengenalnya. Jika para murid laki-laki mengenal Arvin karena Arvin adalah ketua ekstra pencak silat. Maka lain halnya murid perempuan yang mengenal Arvin karena ketampanannya. Itu adalah sedikit perbedaan. "Dis, kayanya setelah ini bakalan banyak yang salah paham deh," ujar Qila berbisik dengan pelan. Posisinya saat ini adalah Qila yang berdiri di tengah-tengah Arvin dan Gladis. "Kenapa gitu Qil?" tanya Gladis penasaran. Setahunya, tak ada yang salah sama sekali. Jadi, apa yang membuat salah paham? "Kita berangkat bareng, tapi gue yang kelihatan lebih deket sama Kak Arvin," jawab Qila langsung pada inti. Gladis mengerutkan dahinya bingung. Nampaknya memang otaknya saat ini masih saja loading. "Ha? Ya terus emang apanya yang salah kalo lo lebih dekat sama Arvin daripada gue?" tanyanya. Nah, sekarang mulai lagi. Gladis kembali memanggil Arvin tanpa embel-embel Kak karena ini adalah area sekolah. Entahlah, Gladis sepertinya tak pernah lupa untuk melakukan hal yang satu itu. Seakan otaknya memang sudah terancang secara otomatis. "Ya kalo menurut lo emang gak ada yang salah sama ini Dis, tapi menurut mereka?" jawab Qila masih dengan sabar. "Mereka gak ada yang tahu kalo Kak Arvin itu kakak lo Dis, Kakak kandung lo. Jadinya, wajar aja sih kalo mereka salah paham saat tahu kaya gini, soalnya mereka pikir, Kak Arvin itu pacar lo, dan kenapa pacar lo malah lebih dekat sama gue daripada sama lo sendiri," jelas gadis itu kemudian. Kali ini Qila yakin Gladis sudah paham dengan perkataannya. "Ya gue sih jujur aja lumayan gak nyaman kalo ada yang salah paham soal ini. Gue gak suka dikatain pelakor lah, nikung temen lah, ya siapa juga sih yang suka dikatain kaya gitu," lanjut Qila mengeluarkan unek-unek nya. "Ya meskipun mereka belum ada yang bilang kaya gitu ke gue, tapi gue yakin lama kelamaan mereka pasti bakalan ngomong kaya gitu kalo lo terus-terusan sembunyiin status lo sama Kak Arvin yang sebenarnya," tambahnya. "Dis, gue bukan mau mendesak lo buat bongkar status lo sebenarnya sama Kak Arvin, hanya aja gue cuma mengutarakan pendapat gue. Lagipula, tujuan lo berpura-pura pacaran sama Kak Arvin juga udah terwujud kan? Lo katanya cuma mau bohongin gue aja waktu itu. Dan sekarang, gue juga udah tahu aslinya kaya gimana, tapi kenapa masih dilanjutin sampe sekarang?" kata Qila lagi menutup dengan pertanyaan. Baik Gladis maupun Arvin yang tadi hanya terdiam menyimak perkataan Qila kini mereka saling lirik satu sama lain. Hembusan pelan keluar dari arah Arvin. "Gue gak ada niatan bohong sama lo. Semuanya Gladis yang atur, gue gak tahu apa-apa, gue cuma ngikut alurnya," ujar Arvin menjelaskan. Hal itu membuat Qila mengangguk paham. "Iya Kak, gue tahu. Gue tahu kalo lo gak ada sangkut-pautnya. Lo cuma ngikut alur yang udah Gladis buat aja," jawab Qila berhasil menciptakan senyuman dan anggukan Arvin secara bersamaan. Kini giliran Gladis yang membuka suara. "Iya Qil, gue juga udah ada rencana buat bongkar semuanya kok. Ya, lebih tepatnya sih mengakui aja, gue kan dari awal gak ada bilang kalo Arvin itu pacar gue, cuma lo sama mereka aja yang nganggepnya kaya gitu," ujar Gladis membela diri. "Ya gimana gak nganggap kaya gitu kalo lo aja gak ada klarifikasi apa-apa padahal udah tahu apa yang mereka bilang salah," sahut Qila tak terima Gladis membela diri tentang hal itu. Jujur saja Qila masih sedikit kesal dengan Galdis yang membohonginya perihal hubungan Gladis dan Arvin yang sebenarnya. "Aturan lo klarifikasi biar gak ada yang salah paham," tambahnya. Tak mau berdebat lebih lanjut ditambah karena mata Arvin sudah melotot kearahnya sembari berkata 'akui aja lo salah, jangan bantah omongan Qila' tanpa suara membuat mau tidak mau Gladis akhirnya mengangguk pasrah. "Iya-iya, gue salah karena gak berusaha buat klarifikasi," kata Gladis menutup perdebatan mereka yang dimenangkan oleh Qila atas bantuan Arvin. Kemudian, mereka melanjutkan langkahnya untuk pergi ke kelas mereka masing-masing. Lebih tepatnya Arvin ke kelasnya sendiri dan Qila serta Gladis, ke kelas mereka bersama. Dengan Arvin, yang mengantarkan mereka ke kelas mereka sebelum akhirnya pergi ke kelasnya sendiri. Untuk masalah si murid baru, biarkan nanti saja itu dipikirkan. Yang jelas pagi ini, mereka masih tenang tanpa gangguan. Tidak tahu bagaimana nanti saat jam istirahat tiba. Mari ditunggu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN