CHAPTER 42

1149 Kata
Sampai jam istirahat pertama hampir selesai, semuanya diluar perkiraan Gladis dan Arvin. Awalnya mereka pikir, di kantin akan sangat kacau saat itu. Maksudnya, untuk suasana hati Qila karena kedatangan si anak baru itu. Namun pada kenyataannya, si anak baru itu ternyata tak juga menampilkan batang hidungnya sama sekali sampai saat ini. Ya, tapi Gladis dan Arvin juga sudah cukup bersyukur karena hal itu. Setidaknya, tak ada drama yang mereka pikirkan sekarang. Tapi mereka juga yakin, bahwa kedepannya drama itu pasti juga akan terjadi. Cepat atau lambat. Jadi, mereka juga harus tetap siaga di dekat Qila. Sementara itu, di meja yang ditempati Qila, Arvin, Gladis, Doni dan Putra justru sekarang nampak sangat ramai dan seru dengan candaan Putra dan Doni yamg sebenarnya lumayan garing, tapi cukup menghibur karena baik Doni ataupun Putra, keduanya secara bergantian ternistakan. Dan itu cukup lucu untuk dilihat. Sedangkan Arvin cowok kaku itu nampak hanya diam saja. Membiarkan teman-temannya menggila sendiri. Dia tak ikut-ikutan. Takut ketularan gila sepertinya. Lagipula, bisa hancur harga dirinya di depan Qila kalau sampai dia ikut-ikutan dengan dua temannya yang tak ada akhlak serta urat malunya yang sudah putus itu. Dan Gladis, gadis itulah yang nampak paling menikmati candaan Putra dan Doni. Entahlah, tapi memang sedari awal gadis itulah yang nampak sangat nyambung dengan kedua orang itu. Bahkan di hari pertama Gladis mengenal Putra dan Doni yang notabenya adalah sahabat kakaknya. Gadis itu sudah sangat klop dengan mereka. Arvin saja sampai heran dibuatnya. Tapi, mengingat adiknya yang memang juga sangat menyebalkan sama seperti dua temannya itu, Arvin memakluminya. Mereka nampaknya memang sudah sangat satu frekuensi sedari awal. Dan Qila, gadis itu juga hanya tersenyum kecil saja menanggapi guyonan dari Putra dan Doni. Sesekali juga Qila terkekeh kecil untuk menghargai usaha Putra dan Doni yang berusaha membuatnya tertawa. Ya, sifat ini juga yang banyak disukai oleh orang-orang yang mengenal Qila. Qila yang sering kali membuat orang tertawa, tersenyum, terbantu dan Qila yang selalu menghargai usaha seseorang. Sifat Qila yang satu ini jelas saja sangat bertolak belakang dengan sifat Arvin. "Eh, bentar lagi udah bel masuk nih Dis, kita gak mau balik ke kelas aja?" tanya Qila setelah melihat jam yang tertera di ponselnya. Memang benar, jam istirahat sekolah hanya tinggal 5 menit lagi. Gladis ikut melihat jam yang tertera di ponselnya, gadis itu setelah itu mengangguk mengiyakan. "Iya deh, kita balik ke kelas sekarang aja," ujar Gladis setelah itu menyeruput es tehnya sekali lagi sebelum beranjak berdiri diikuti dengan Qila. "Yaelah Dis, Qil. Duduk dulu aja lagi, masih 5 menit juga kan jam istirahatnya. Masih lama itu," celetuk Putra sesat. Arvin sontak saja menempeleng kepala Putra dengan kesal. "Gak usah sesat lo jadi orang," cecar Doni mewakili Arvin. Doni tahu betul bahwa Arvin tak rela kalau sampai Qila tercemar dengan Putra lebih jauh lagi. Sudah cukup adiknya saja yang memang sudah bandel dari awal. Ya, Gladis memang sudah cukup tercemar. Gadis itu beberapa kali sudah telat masuk jam pelajaran hanya karena menuruti perkataan Putra yang memintanya untuk tetap tinggal sebentar lagi, padahal jam istirahat sudah hampir selesai. Dan bodohnya Gladis menurut Arvin adalah adiknya itu yang mau-mau saja, bahkan menerimanya dengan senang hati. Adiknya itu benar-benar senang bahkan, katanya, dia senang karena setidaknya jam pelajarannya itu sedikit berkurang jika dia masuk terlambat. Walaupun tak jarang juga Gladis nyaris terkena hukuman karena terlambat masuk kelas. Untung saja tak sampai benar-benar dihukum. Dan sudah lama sekali Gladis tak lagi melakukan hal bodoh itu karena Qila yang selalu menemani Gladis. Qila yang membawa pengaruh positif untuk Gladis. Karena sebelumnya, kalau saat bersama Ghea pun Gladis juga sering kali bolos. Sepertinya dua orang itu juga sama-sama bandel. Beruntungnya lagi adalah, Gladis yang juga sadar diri tak mau membuat Qila ikut tercemar dengan kelakuan buruknya. Gladis yang dulu berubah ke arah yang positif karena tak mau membawa pengaruh negatif untuk Qila. Ah, lagipula kalaupun benar Gladis membawa pengaruh negatif pun Qila cukup pandai untuk tidak menerimanya. Qila cukup pandai menyaring pengaruh-pengaruh yang diberikan temannya kepadanya. Oleh karena itu, meskipun banyak memiliki teman, tapi sampai saat ini Qila pun tak pernah terpengaruh ke hal-hal yang bermacam-macam. "Udah cukup adek gue yang lo buat sesat karena anak itu emang bandel. Tapi jangan coba-coba ajak Qila," tegas Arvin menatap Putra dengan tatapan tajam. Seketika, atmosfer di sekitarnya berubah. Putra mendadak merasa merinding dibuatnya. Aura Arvin yang sangat kejam itu memang begitu dominan. Putra tak lagi bisa berkutik. Sementara Gladis, gadis itu mendelik kecil mendengar perkataan Arvin. Enak saja dia dikatai bandel. Tapi, kenyataan yang sebenarnya memang seperti itu sih, jadi dia tam berani untuk menyangkalnya. Karena dia juga memang sadar diri untuk hal itu. "Bener tuh, udah cukup lah gue dulu yang sempet tersesat gara-gara lo. Jangan coba-coba ajak sahabat gue ini ya!" tegas Gladis marah. "Mati-matian gue berubah biar dia gak kena pengaruh negatif dari diri gue. Sekarang seenak jidat lo mau bawa pengaruh negatif ke sahabat gue? Gak bisa ya!" lanjutnya lagi kemudian menarik tangan Qila keluar dari kantin. "Ayo Qil," ajak Gladis membawa Qila benar-benar pergi. Doni cukup takjub dengan perkataan Gladis. Gadis itu benar-benar sangat menyayangi Qila sepertinya. Ya, siapa juga sih yang tak senang menjadi sahabat dekat Qila. Gadis manis nan baik hati itu. "Jangan coba-coba ajak Qila ke jalan sesat kaya tadi Put. Atau lo gue bogem di detik itu juga," kata Arvin dengan tajam. Cowok itu setelahnya beranjak pergi dari kantin. Ya, sepertinya cowok itu akan kembali ke kelasnya sekarang. Doni ikut berdiri kemudian menepuk pelan bahu Putra. "Makanya jangan suka ngada-ngada lo. Udah tahu temennya yang satu itu lagi bucin mampus. Mana si ceweknya anak baik-baik lagi. Lo malah sok ngide ngajak ceweknya stay di kantin padahal udah mau jam masuk pelajaran. Kena kan lo jadinya," celoteh Doni kemudian ikut beranjak keluar kantin. Mengikuti jejak Arvin. Kini tinggallah Putra sendiri di meja itu. Putra terdiam sejenak kemudian mengacak rambutnya kasar. "Emang mulut gue suka banget asal ceplos nih. Mentang-mentang Qila cantik aja langsung bawaannya nih hati pengen gebet aja," gumamnya sendiri. "Mana si Arvin bisaan banget lagi cari ceweknya. Bening banget, gue kan ngiri," tambahnya lagi. "Eh, tapi lucu juga lihat Arvin kaya tadi. Galak-galak gemes, cemburu soalnya. Mantap juga nih kalo makin gue panasin," idenya lagi kemudian. Dan apakah ide Putra akan berhasil? Who knows? Tapi, siapa yang peduli tentang hal itu. Ini adalah keseruan sendiri di mata Putra. Melihat Arvin sahabatnya yang selalu kaku dan tak pernah nampak memiliki seorang pacar atau bahkan hanya sekedar dekat dengan gadis lain selain Gladis kini nampak cemburu saat Putra sedang bersama dengan Qila. Jelas Putra dapat mengetahui kobaran api cemburu itu lewat tatapan mata Arvin. Tatapan Arvin saat cemburu tadi sangat mudah diketahui. Apalagi oleh Putra yang sudah lama menjadi sahabat Arvin. Putra tahu bahwa selama ini Arvin memang cemburu dengan laki-laki yang bisa dekat dengan Qila. Sebelum pada akhirnya cowok itu sendiri juga berhasil menjadi dekat dengan Qila. Bahkan cowok itu sudah beberapa langkah jauh di depan laki-laki lain yang berusaha mendekati Qila.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN