CHAPTER 41

1065 Kata
Sejak omongan Ghea yang menjelekkan nama Qila serta sejak pertengkaran Gladis dengan Ghea di kantin waktu itu, Gladis mendadak menjadi sangat membenci Ghea. Meskipun Gladis lebih lama berteman dengan Ghea daripada Qila, namun Qila justru lebih banyak berperan kepadanya. Contohnya saat Gladis lupa mengerjakan tugas rumah. Qila pasti akan selalu membantunya, kalau tidak membantunya mengerjakan, setidaknya Qila pasti mencontekinya kalau memang waktunya sudah cukup mepet. Qila seperti tak membiarkan Gladis di hukum hanya karena tidak mengerjakan tugas. Sementara dulu saat SMP, Ghea tak seperti Qila. Gadis itu sangat egois. Bagaimana tidak, saat dulu Gladis dan Ghea masih satu kelas, Ghea tak pernah mau menconteki Gladis mengenai tugasnya. Alasan yang diberikan Ghea dulu saat menolak menconteki Gladis adalah katanya dia sendiri juga mencontek temannya yang lain dan temannya itu tak memperbolehkan Ghea untuk memberikan jawabannya ke anak lain. Padahal, saat Ghea belum mengerjakan tugas, Gladis dengan senang hati mencontekinya. Dan akibatnya karena tak mendapatkan contekan dari Ghea, Gladis menjadi di hukum sendirian. Itu adalah hal yang memalukan, tapi sialnya itu terjadi karena sahabatnya sendiri. Dulu, saat kejadian itu, jujur Gladis sempat sangat kesal dengan Ghea. Tapi, itu tak berlangsung lama karena menurut Gladis saat itu, perkara yang dia terima tidak terlalu besar. Dia hanya tidak mendapatkan contekan, maka dari itu, dia tidak mau masalah sepele seperti itu bisa membuat persahabatannya hancur. Tapi, saat kemarin masalah soal Qila, itu sudah tidak bisa di toleransi lagi menurut Gladis. Jelas saja karena dia tahu betul sifat Qila meskipun baru mengenal gadis itu daripada Ghea. Justru karena dia juga sudah lama mengenal Ghea, dia jadi tahu bagaimana seluk beluk kelakuan dan sifat gadis itu. Apalagi ketika sepupunya kembali. Akan sangat lebih baik kalau Gladis memang menjauhkan dirinya sendiri dan Qila dari Ghea ketika si sepupu gadis itu sedang berada di dekat Ghea. Setelah perkataan Gladis yang terdengar sangat tegas itu, Andi dan Tina seketika terdiam, sedikit merasa takut dengan Gladis, namun disisi lain mereka juga cukup merasa aneh sendiri melihat Gladis nampak semarah itu hanya karena perkataan kecil yang dikatakan mereka soal Ghea. Sementara Qila, gadis itu malah lebih berusaha menenangkan Gladis yang nampak sangat kesal sekarang dengan cara mengelus pelan lengan sahabatnya itu. "Gue dan Gladis udah bukan sahabat Ghea lagi Di, Tin," ujar Qila menjelaskan dengan pelan. Gadis itu menatap kearah Andi dan Tina bergantian. "Lo berdua pasti tahu insiden di kantin tempo hari. Dan karena itulah kita gak lagi sahabatan," jelas Qila lagi dengan tenang. Lalu, mata Qila kembali beralih menatap Gladis. "Udah Dis gak apa-apa, mereka kan gak tau, jadi wajar aja kalo mereka nanya gitu. Lagipula kan, mereka biasanya emang lihat kita barengan sama Ghea. Jadi gak salah kalo mereka ngiranya kita masih baik-baik aja sama Ghea," kata Qila berusaha menenangkan Gladis yang nampak masih sangat kesal. "Gue yakin kok, anak-anak lain juga pasti masih ngira kita masih sahabatan sama Ghea terlepas dari kejadian tempo hari lalu. Tapi, gue juga yakin, kalo lambat laun pasti nanti anak-anak bakalan tahu kalo kita gak lagi deket sama Ghea kaya yang dulu-dulu," jelasnya membuat Gladis pada akhirnya mengangguk mengerti. Ya, setidaknya Gladis sudah lebih tenang daripada tadi. Setelah penjelasan singkat Qila itu, Andi san Tina nampak saling melirik satu sama lain. "Mmm, Qil. Kalo gitu gue sama Andi pamit duluan ya, mau sekalian pesen makanan di kantin soalnya," ujar Tina berpamitan. "Atau lo juga mau nitip pesanin makanan atau minuman sekalian sama gue?" tawarnya kemudian yang langsung mendapatkan gelengan dari Qila tanpa pikir panjang. "Makasih tawarannya, tapi gak perlu kok Tin," tolaknya dengan halus. Tina mengangguk paham, kemudian gadis itu berlalu pergi meninggalkan meja Qila dengan Andi yang mengikutinya dari belakang. Setelah peninggalan Andi dan Tina, tak perlu menunggu waktu lebih lama lagi, Arvin, Doni dan Putra yang sedari tadi sangat ditunggu-tunggu oleh Gladis akhirnya datang. Ketiga laki-laki itu langsung mengambil duduk di meja Gladis dan Qila tanpa permisi begitu mereka datang. "Halo nona-nona cantik," sapa Putra dengan gaya tengilnya seperi biasa. Qila yang mendengar sapaan itu sontak saja terkekeh kecil, lucu sekali Putra ini. Sepertinya, kalau dia memiliki sahabat seperti Putra yang sangat tengil akan sangat menyenangkan. Sementara Gladis, gadis itu nampak kembali dibuat kesal mendengar sapaan tengil dari sahabat kakaknya itu. Dia bosan sendiri dibuatnya. Matanya juga melotot horor menatap Putra. "Heh! Bisa gak sih Kak gak usah tengil kaya gitu, bosen gue astagaaaa," keluh Gladis mendadak frustasi. "Wah, emang adek kelas gak ada akhlak nih adeknya Arvin," cibir Putra yang juga ikut kesal dengan Gladis. Selalu saja seperti itu, disaat dirinya mencoba menyapa hanya protesan dari Gladis saja yang dia dengar. Dia nampak tak pernah menerima sapaan balik. "Adek gue emang akhlaknya ketinggalan dari bayi," sahut Arvin dengan nada datarnya. Nampak tak minat dengan perkataan Putra. "Ih, gak boleh gitu tahu Dis. Itu Kak Putra lagi nyapa loh, hargai dong, kakak kelas lagi nih. Lebih tua dari kita," tegur Qila merasa tak enak dengan Putra. Kembali lagi, Putra dibuat senang dan tersanjung ketika Qila terdengar membelanya. Memang, gadis ini sangat baik. Memiliki sopan santun yang tinggi dan selalu merasa tak enakan. Orang tua mana yang berhasil mendidik Qila dengan sebegitu baiknya? "Wah wah, bidadari penolong gue kembali menolong gue sekarang, senangnyaaa," celetuk Putra sok asik yang langsung mendapatkan geplakan ringan di kepalanya. Perbuatan dari Arvin yang kesal dengan Putra karena temannya itu yang selalu saja menggoda Qila tanpa tahu situasi. "Mampus lo Put. Makanya jangan sok-sok godain doi temen, kena kan pala lo," ejek Doni memanasi dengan tertawa puas. Melihat Putra ternistakan adalah hal yang menyenangkan untuk Doni. Entahlah, lucu saja melihatnya. Gladis juga ikut tertawa puas melihat Putra yang mendapatkan geplakan dari kakaknya. Dia jelas tahu kalau kakaknya sedang merasa kesal karena Qila yang terus saja digodai Putra. "Lo nya juga sih Qil, anak kaya gini aja lo belain terus. Gak perlu tahu, dia asli gak ada akhlak soalnya," cetus Gladis membela Kakaknya. Dia mengatakan itu agar Qila tak lagi terus-menerus membela Putra dan membuat Kakaknya kesal sendiri karenanya. Gladis adalah adik yang baik. "Lah kok jadi gue?" tanya Qila bingung sendiri. "Lagian kan, gue bener ya, gak boleh gitu sama yang lebih tua. Gak baik tau Dis," ujarnya kemudian, membela diri. "Noh, dengerin Qila. Bener tuh dia, emang yang paling baik dan yang paling waras dari mereka-mereka deh bidadari penolongku," sahut Putra kembali mendapatkan geplakan manja dari Arvin. "Nah kan, udah dibilangin juga, ngeyel aja lo," Doni menggelengkan kepalanya dramatis. Gladis kembali tertawa. Sementara Putra menggeram kesal. "Salah lagi gue perasaan," gumamnya nelangsa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN