Qila baru saja selesai memakai seragam sekolah miliknya. Setelah memastikan semuanya benar-benar rapi, Qila kemudian keluar dari kamar mandi kamar milik Gladis. Ya, tadi gadis itu pada akhirnya memutuskan untuk sekalian berganti pakaian di kamar milik temannya itu. Lagipula, Gladis sendiri yang meminta Qila untuk berganti pakaian di kamar mandi gadis itu.
Setelah selesai, Qila membuka pintu kamar mandi Gladis. Setelah benar-benar keluar dari dalam kamar mandi, Qila dapat melihat sosok Gladis yang sedang duduk di tepi kasur king size milik gadis itu sendiri sembari memainkan ponselnya. Mendengar suara pintu kamar mandinya terbuka, Gladis mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya menjadi menoleh ke sumber suara. Gladis langsung mendapati Qila yang tengah berjalan kearahnya. Gadis itu kemudian berdiri di depan Gladis.
"Udah selesai Qil? Gak ada yang kurang?" tanya Gladis pada Qila. Sekedar memastikan saja. Siapa tahu kan ada yang masih Qila butuhkan lagi. Qila sendiri yang mendengar pertanyaan itu nampak menggeleng.
"Gak ada Dis. Udah semua kok," ujar Qila menjawab pertanyaan dari Gladis. "Tapi gue mau balik ke kamar tamu dulu. Ini mau naruh baju gue, sekalian ambil tas," ujar Qila lagi seraya mengangkat baju yang saat ini ada di genggaman gadis itu. Itu adalah baju yang digunakan Qila kemarin malam.
Gladis nampak mengangguk singkat menanggapinya. "Iya udah, lo balikin itu dulu," jawabannya. "Ah iya. Gue tunggu lo disini," tambahnya lagi.
Qila menanggapi perkataan Gladis dengan acungan jempolnya. Setelahnya, Qila memutuskan untuk kembali ke dalam kamar tamu. Gadis itu berjalan sedikit lebih cepat. Takut keluarga Gladis sudah menunggu terlalu lama.
Sedampainya di kamar tamu yang semalam Qila tempati itu, Qila segera menaruh bakunya di kasur dengan asal. Tak ada waktu lagi, jadi gadis itu memutuskan untuk meninggalkan bajunya di sana. Sebelum pada akhirnya gadis itu meraih tas yang juga ada di kasur itu. Setelahnya, gadis itu mengeluarkan semua buku yang ada di tas itu. Setelah semuanya benar-benar tak ada buku yang tersisa, Qila langsung membawa tas itu di punggungnya. Ingat, ini adalah tas kosong sekarang.
Qila lalu keluar dari dalam kamar tamu yang dia tempati untuk sementara ini di rumah Gladis lalu menutup pintunya setelah Qila keluar dari sana. Qila menutupnya biasa, tak menguncinya karena gadis itu tahu. Ini bukan rumahnya yang bisa dia lakukan sesuka dia.
Qila berhenti tepat di depan pintu kamar Gladis yang terbuka. Kali ini Qila tak perlu repot-repot berteriak memanggil atau mengetuk pintu karena sedari awal gadis itu berdiri di depan kamar Desta, dia sudah tahu keberadaannya.
Gladis yang melihat keberadaan Qila di di depan pintu kamarnya itu pun langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku seragamnya.
"Ayo Qil," ajak Gladis pada Qila. Gadis itu lalu mengamit tangan Qila untuk dibawanya turun ke bawah. Sembari berjalan, ada sedikit pembicaraan ringan yang terjadi di antara Qila dan Gladis.
"Oh iya Qil. Buku-buku lo gimana jadinya?" tanya Gladis pada Qila. Gadis itu baru teringat kalau Qila juga tak membawa buku sama sekali. Semuanya benar-benar sangat dadakan. Tak ada persiapan sama sekali.
"Lo tenang aja kali Dis. Gue kan ada buku di loker sekolah. Ntar anterin gue ke loker ya, buat ambil buku," ujar Qila dengan santainya. Gladis kemudian mengangguk menyanggupi ajakan Qila. Disisi lain dia juga mengangguk paham untuk penjelasan dari Qila.
"By the way Qil. Soal Ghea gimana? Kemarin kan rencananya dia mau cerita sama kita soal Fikri. Tapi gak jadi," ujar Gladis tiba-tiba mengubah topik ketika mengingat Ghea yang kemarin sempat berjanji kepada Qila bahwa gadis itu akan menceritakan semuanya mulai dari awal yang dia tahu. Gadis itu juga berjanji akan mengatakan yang sejujur-jujurnya.
"Ah iya," Qila bahkan baru mengingat perihal Ghea saat Gladis mengingatkannya. "Soal Ghe bahas nanti aja di sekolah Dis. Itu mah gampang doang kok. Sepele juga," jawab Qila dengan raut wajah yang tak dapat dibaca.
Baru saja Gladis hendak menyahut, suara Mamanya seketika membuat Gladis mengurungkan niatnya. Mungkin nanti saja dia akan membicarakan lagi kepada Qila. Di mobil mungkin cocok.
"Gladis ini temen kamu yang namanya Qila ya? Anak gadis yang disukai sama Kakak kamu itu ya?" pekik wanita paruh baya yang ada di meja makan begitu melihat Gladis dan Qila baru saja turun dari anak tangga terakhir.
Arvin yang tadinya sedang fokus pada makanan yang ada di depannya itu mendadak menoleh setelah me dengar pekikan dari Mamanya itu. Arvin nampak sangat terkejut setelahnya.
Bukan, Arvin bukan terkejut dengan apa yang dia dengar dari pekikan Mamanya. Cowok itu hanya terkejut dengan kata-kata yang diucapkan Mamanya. Bisa-bisanya Mamanya ini memfitnah dirinya. Yang membuat Arvin merasa sangat malu adalah ketika Mamanya yang memfitnah dirinya soal Qila di depan Qila nya langsung.
Ini sih Arvin tak punya muka lagi di depan Qila.
Bisa habis dia di ceng-cengin sepanjang waktu oleh Mamanya kalau begini ceritanya.
"Mama apaan sih. Qila itu adik kelasnya Arvin di sekolah, dia juga sahabatnya Gladis. Udah itu aja," ujar Arvin pada Mamanya, protes. Arvin sebenarnya hanya sedikit melakukan klarifikasi saja. Bukannya itu memang diperlukan?
Qila sendiri yang mendengar pekikan itu dari Mama Arvin dan Gladis sedikit meringis tak enak. Di pertemuan pertama ini, kenapa Mama Arvin dan Gladis mengenali Qil sebagai orang yang disukai Arvin?
"Ah ayo Nak Qila duduk. Gak usah malu gak usah sungkan," ujar Mama Arvin dan Gladis itu dengan antusias. "Kamu duduk di sebelah Arvin aja sana ya. Sebelahnya Mama biasanya tempat Gladis soalnya," tambahnya lagi.
Soal itu tak semata-mata berbohong karena pada kenyataannya memang kursi yang ada disebelah Mamanya itu adalah kursi yang memang sering dipakai Gladis.
Qila menunduk sopan dengan senyum kecilnya, gadis itu kemudian berjalan dengan langkah yang pelan. Menunju kursi yang ada di sebelah Arvin kemudian mau tak mau dia mendudukkan badannya di sana.
Mama dan Papa Arvin serta Gladis tersenyum melihat itu semua. Bagus! Ide mereka berjalan dengan lancar.
Sementara disisi Qila, gadis itu benar-benar merasa tak enak sekarang. Entah itu tak enak pada Kedua orang tua Arvin dan Gladis, atau bahkan pada Arvin dan Gladisnya sendiri.
"Mmm Kak Ar," panggil Qila pada Arvin pada akhirnya. Gadis itu saat ini nampak berbisik, badannya sedikit di condongkan kearah Arvin agar Arvin bisa mendengar dengan baik apa yang dia ucapkan. Apa yang dia peringatkan.
Arvin yang merasa dirinya sedang dipanggil itu menoleh menatap kearah sumber suara. Itu suara Qila. "Ya?" tanya Arvin seraya menaikkan alisnya sebelah.
"Maaf ya kalo gue udah bikin lo gak nyaman Kak Ar. Gue gak maksud, beneran deh suer Gak bohong," ujar Qila pada Arvin dengan serius. Gadis itu mengangkat jari tangannya membentuk peace.
Arvin terkekeh kecil dibuatnya. Kekehan itulah yang membuat suasana di meja makan kali ini nampak lebih berwarna. Meskipun Arvin terkekeh pelan dan itu kepada Qila dia melakukannya namun tetap saja, itu bisa membuat kedua orang tua Arvin dan Gladis tersenyum senang. Setelah sekian lama menunggu kekehan itu terbit.
"Lo gak perlu minta amaf karena lo gak salah Qila. Apa yang perlu gue maafin?" ujar Arvin pada Qila dengan santai.
"Ta-tapi kan--," ucapan Qila terpotong ketika Arvin mendadak menutup mulut Qila dengan telapak tangannya sendiri.
"Gak ada tapi. Lo harus nurut Qila!" ujar Arvin mantap. Tak bisa diganggu gugat.
Yang bisa Qila lakukan saat ini adalah pasrah.
Kedua orang tua Arvin dan juga Gladis nampak terkekeh pelan melihat interaksi antara Arvin dan Qila. Mereka lihat, Arvin dan Qila benar-benar cocok. Mereka serasi dan interaksi dari keduanya itu sangat menggemaskan di mata mereka.
Padahal mah, Arvin dan Qilanya merasa biasa saja. Namun yang melihat saja yang gigit jari sendiri. Entahlah, padahal Arvin dan Qila hanya mengobrol biasa. Tak ada sesuatu yang penting yang mereka bicarakan. Mereka juga tak ada bersikap romantis atau sedang membicarakan hal-hal berbau romance. Namu tetap saja orang yang melihat interaksi keduanya itu dibuat gemas sendiri.
Bahkan Gladis saat ini sudah sangat berusaha menahan dirinya untuk tak teriak saking gemasnya dengan interaksi kakaknya dan juga sahabatnya itu. Gladis tak pernah tahu Arvin bisa seperti ini saat berbicara. Sangat kalem, dan penuh dengan kegembiraan. Biasanya yang Gladis tahu, Arvin itu selalu terluhat sangat serius dan datar dalam berbicara atau berekspresi.
Dengan orang tuanya sendiri pun begitu. Minim ekspresi. Tapi tidak saat sedang berbicara dengan Qila, ekspresi wajah Arvin lebih banyak dari yang biasanya Gladis lihat dan Arvin perlihatkan.
Namun Qila sendiri, Gladis tak terlalu terkejut dengan temannya itu. Pasalnya, biasanya Qila memang seperti itu. Gadis itu memang ramah kepada semua orang. Jadi jika dia ramah dengan Arvin yamg notabenya baru dia kenal, itu juga bukan hal yang baru lagi untuk Gladis lihat dari Qila. Yang benar-benar Gladis lihat dengan jelas itu perubahan pada Arvin.
Kepada semua orang yang sudah dari sekian lama dia kenal saja, Arvin tak cukup banyak mengeluarkan ekspresi. Namun dengan Qila yang notabenya baru dia kenal saja, cowok itu nampak lebih banyak berekspresi dan nampak lebih nyaman dengan gadis itu.
Lagi-lagi semuanya karena itu. Perkara ekspresi yang Arvin keluarkan. Benae-benae sangat langka. Atau mungkin..., memang tak pernah terjadi sebelumnya sepertinya.
Apa, semua ini karena pengaruh Qila yang banyak berinteraksi itu? Jadi, bawaannya Arvin juga ingin terus berinteraksi dengan Qila. Apa Qila memiliki suatu bakat untuk bisa dekat dengan seseorang dalam waktu yang singkat? Rasanya sangat tak mungkin saat ada orang yang seperti itu. Gladis bukan tipe orang yang terlalu percaya dengan hal-hal seperti itu. Lagipula, dia mana percaya kalau Qila melakukannya. Gladis kenal Qila dengan sangat baik.
"Udah-udah gak usah berantem," ujar Mama Arvin dan Gladis pada Qila dan Arvin pada akhirnya. Wanita paruh baya itu sedang menengahi mereka. "Ayo makan aja. Udah siang ini. Nanti kalian bertiga terlambat ke sekolah," ujarnya lagi.
Qila nampak tersenyum canggung mendengarnya. Gadis itu lalu menunduk menatap piring kosong yang ada di depannya itu.
Setelahnya, semuanya berjalan begitu saja. Mereka mulai makan masing-masing Hening. Tak ada yang berbicara sama sekali. Hanya ada suara dentingan piring dan sendok yang bertabrakan. Sekitar lima belas menit berlalu, mereka pada akhirnya selesai dengan kegiatan makan itu. Sarapan.
Setelah selesai, Qila, Gladis dan Arvin langsung berpamitan kepada tuan pemilik rumah itu. Mereka bergantian untuk salim kepada kedua orang tua itu. Dimulai dari Atvin, Gladis, kemudian Qila.
"Ma, Pa, Gladis berangkat dulu ya," ujar Gladis setelah Arvin selesai salim dengan kedua orang tuanya. Mama dan Papanya itu nampak mengangguk dan tersenyum dalam menjawab pamitan Gladis. Setelah itu, saat ini adalah giliran Qila yang bersalaman.
"Tente, Om. Qila pamit berangkat sekolah dulu ya," pamit Qila dengan sopan setelah selesai bersalaman dengan kedua orang tua Arvin dan Gladis.
"Iya Qila," ujar Mama Arvin dan Gladis itu menjawab dengan senyuman. "Nanti pulang sekolah kita kenalan lebih dekat lagi ya. Maaf kalo sekarang kita gak bisa kenalan lebih dekat lagi. Waktunya mepet soalnya," ujarnya lagi.
Qila nampak tersenyum kemudian mengangguk senang. Satu fakta yang baru Qila tahu. Qila, gadis itu diterima dengan baik disini. Dan fakta itulah yang membuat Qila nampak sangat senang.
"Iya Tante. Terima kasih," ujarnya.
Mama dari Gladis dan Arvin itu nampak menggeleng sejenak. "Enggak. Gak boleh panggil tante. Lain kali panggilnya harus Mama ya," ujar wanita patuh baya itu membuat Qila tersenyum penuh haru. "Dan panggil dia Papa," tambahnya lagi seraya menunjuk suami yang ada disebelahanya. Papa dari Arvin dan Qila.
Qila beralih menatap pria paruh baya itu dan pria paruh baya itu nampak mengangguk seakan menjawab semua pertanyaan Qila.
Baiklah. Qila sangat bahagia.
Setelah itu, Qila, Gladis dan Arvin benar-benar berpamitan dan beranjak oergi dari area rumahnya. Arvin langsung menaiki mobilnya dengan Qila yang duduk di samping jok kemudi atas paksaan dari Gladis tentu saja. Dan kuga dengan Gladia yang duduk di jok belakang.
Mobil melaju di jalan raya, Gladis menatap kedua orang yang ada di depannya dengan senyuman senang.
Akhirnya itu terjadi.