Mobil Arvin berhenti di parkiran SMA Rajawali. Pagi ini, parkiran memang sudah nampak lumayan ramai dari biasanya. Hal itu dikarenakan Arvin, Qila dan juga Gladis yang memang datang di waktu yang lumayan siang. Tak terlalu pagi seperti biasanya.
Setelah Arvin memarkirkan mobilnya degan rapi di tempat yang semestinya, Arvin, Qila dan Gladis baru lah mereka keluar dari dalam mobil itu. Ketiganya, berkumpul di tepat sebelah kanan mobil Arvin yang terparkir itu.
Tak dapat dipungkiri, banyak sekali siswa-siswi SMA Rajawali yang menatap kearah Arvin, Qila dan Gladis secara terang-terangan. Mereka bahkan juga banyak yang berbisik-bisik mengenai Qila yang turut ikut serta di keluar dari dalam mobil itu. Apalagi, Qila nampak keluar dari pintu yang itu terletak di jok samping kemudi.
Namun jujur saja, yang membuat banyak anak-anak membicarakan mereka adalah karena Arvin merupakan mose wanted yang cukup terkenal memiliki vibes cool. Namun Arvin itu di kenal sudah sold out karena mereka menganggap Arvin dan Gladis pacaran. Pasalnya, Arvin memang sering bersama dengan adiknya itu. Memang tidak terlalu sering, namun daripada dengan gadis lain, Arvin paling sering terlihat saat bersama Gladis.
Padahal, tak ada satupun konfirmasi mengenai hubungan antara Arvin dan Gladis, namun anak-anak di SMA Rajawali itu memang asik langsung menyimpulkan saja. Qila tak mau munafik, dia sendiri pada awalnya juga begitu. Asal menyimpulkan sendiri. Lagipula, Gladis juga yang memancing Qila untuk berpikir seperti itu. Mana kepikiran kalau Gladis adalah adik dari Arvin. Lagi satu, mana ada adik yang memanggil kakaknya dengan langsung menyebut nama seperti yang dilakukan Gladis itu. Itu namanya adik gak ada akhlak. Dan saat itu Qila rasa, Gladis memang gak ada akhlak, namun tak sampai selevel itu.
Oh ya, alasan lain untuk hal itu karena di tengah-tengah Arvin dan Gladis saat ini ada Qila. Seorang gadis yang namanya sudah sangat tak asing lagi di telinga anak SMA Rajawali saking ramahnya dia. Kalau boleh di bilang, anak SM Rajawali yang gak kenal sama Qila itu pasti anak yang gak pernah gaul sama sekali. Masa gadis seramah Qila bisa tidak kenal.
"By the way Dis, berarti Ghea tau dong soal lo yang sodaraan sama Kak Arvin? Kan dia temenan sama lo udah dari SMP tuh," ujar Qila bertanya pada akhirnya. Setelah sekian lama hanya menyimpan rasa penasaran yang tinggi, gadis itu saat ini menyuarakan pertanyaannya.
"Iya lah, dia tahu," jawab Gladis pada Qila dengan santai. Sementara Arvin, cowok itu hanya diam di samping Qila, menyimak.
"Ah jahat banget lo berdua. Masa ngebiarin gue mikir Kak Arvin sama lo pacaran sih. Gak ada yang ada niatan buat ngasih tahu gue lagi," protes Qila kesal. Setelah sekian lama dia salah paham mengenai hubungan antara Gladis dan Arvin. Mirisnya nasib Qila yang setiap habis barengan dengan Arvin selalu kepikiran dengan Gladis dan merasa bersalah dengan gadis itu. Padahal kenyataannya? Qila hanya ditipu. Gladis tak ada hubungan apa-apa dengan Arvin.
Ah maksudnya, tak ada hubungan pacaran seperti itu.
Kan andai saja Qila tahu dari awal soal hubungan Gladis dan Arvin, Qila bisa jauh lebih ngegas lagi saat bersama Arvin... Eh?
Bahkan pernah satu waktu, Qila sampai mimpi soal pengakuannya kepada Gladis saking dia merasa bersalahnya. Hanya saja, respon Gladis yang ada di mimpinya itu cukup membuat Qila terkejut dan bingung. Namun Qila saat ini tahu, apa yang Gladis maksud di mimpinya itu ternyata juga sama seperti di dunia nyata. Kalau seperti ini sih, ternyata sedari awal Qila sudah mendapatkan spoiler dari mimpinya. Hanya saja, Qila nya aja yang gak peka dengan arti mimpi itu.
Lagipula, jaman sekarang percaya dengan mimpi itu terdengar cukup aneh menurut Qila. Ya, Qila sih tak mau menghakimi, hanya saja itulah yang gadis itu pikirkan. Memang menurut gadis itu, semua itu aneh untuk sekarang-sekarang ini. Namun kalau masih ada yang begitu, itu juga hak dia sih, karena siapa tahu juga mimpi emang bener-bener menjadi sebuah petunjuk. Sama seperti mimpi Qila saat itu.
Kira-kira, seperti inilah mimpi Qila.
"Dis Ghe, gue mau cerita sama lo," ujar Qila membuat Gladis dan Ghea langsung terfokus kearahnya. "Tapi sebelum gue cerita. Gue minta lo jangan marah sama gue ya Dis, gue cerita ini supaya gak ada lagi sesuatu yang gue sembunyiin dan lo."
"Dari Gladis doang nih, gue kaga?" ujar Ghea mengerucutkan bibirnya.
"Bukannya gitu Ghe, tapi ini menyangkut cowoknya Gladis," balas Qila serius. Gladis dan Ghea jadi merasa aneh. Tak biasanya Qila serius seperti ini. Sebenarnya ada apa?
"Cowok gue?" beo Gladis bingung, gadis itu menatap Qila aneh. "Lo kenapa sih Qil? Kok aneh banget. Tiba-tiba bawa cowok gue lagi," ujarnya.
Qila mengangguk mengiyakan."Gue gak mau ada salah paham nantinya antara lo, gue dan cowok lo Dis," balasnya tanpa menghiraukan pertanyaan Gladis dengan sikapnya yang terkesan aneh.
Gladis semakin mengernyit bingung. Sebenarnya, apa yang akan dibicarakan Qila? Gladis memilih diam menunggu Qila bercerita dengan sendirinya. Begitupula Ghea yang juga memilih diam menyimak saja. Ghea tahu saat ini Qila sedang tak ingin bercanda. Sepertinya topik yang Qila akan bicarakan sangat serius.
Qila menghirup oksigen pelan sebelum bercerita. "Entah kenapa, setiap gue ada di deket cowok lo, gue selalu ngerasa nyaman, aman dan senang. Sama persis seperti perasaan gue saat ada di deket Fikri," jujur Qila membuat Ghea dan Gladis semakin bingung. "Bahkan, ada suatu rasa yang gue dapetin saat di berada di deket cowok lo. Tapi gak gue dapetin saat di deket Fikri."
"Gue gak tau, entah rasa apa itu. Yang jelas, gue selalu ngerasa sesuatu hal yang baik menyelimuti gue disaat deket sama dia," sambungnya. "Maaf Dis, gue gak maksud buat suka apalagi cinta sama pacar lo. Tapi itu yang gue rasain."
Saat itu, sewaktu Qila terbangun dari mimpinya, Qila entah kenapa menjadi panik sendiri. Bisa-bisanya Qila mimpi seperti itu tentang Arvin. Padahal saat itu, Qila rasa, dia masih cukup dekat atau bahkan masih sangat dekat dengan Fikri. Tak seperti sekarang-sekarang ini. Tapi entahlah, dia sendiri juga tak tahu kenapa dia sampai bermimpi seperti itu.
Kebawa aja kali ya. Itu yang saat itu Qila pikirkan.
Mengingat kembali mimpinya, Qila jadi malu sendiri. Kesannya, gadis itu memang sudah sangat menyukai Arvin sedari awal. Sama seperti cowok itu. Namu sangat disayangkan, kemarin malam di depan gapura pasar malam, Qila tak menjawab pernyataan dari Arvin.
Bukan tak mau, justru Qila sebenarnya sangat mau. Hanya saja dia bingung harus menjawabnya seperti apa. Ini pengalaman yang pertama untuknya. Dan Qila juga tahu itu pengalaman yang pertama untuk Arvin juga. Jadi sebenarnya, kemarin itu mereka sama-sama sedang gugup. Namun bedanya, Arvin bisa mengatasi itu dengan sangat baik, cowok itu bisa mengatasi kegugupannya dengan pandai.
Berbeda dengan Qila yang bahkan untuk menjawab saja, kemarin dia keki sendiri. Saat mulutnya membuka hendak menjawab pernyataan Arvin, eh malah Arvin nya sendiri yang menghalangi yang menghindarinya.
Qila rasa, kemarin itu Arvin pasti juga sangat canggung dengannya. Dia pasti juga sangat gugup sekaligus takut mendengar jawabannya. Jadi dia melakukan hal itu semalam.
"Lagian salah lo sendiri Qil. Main asal nebak aja. Sok tau," cibir Gladis tak mau disalahkan. Padahal sih, Gladis sebenarnya memang sengaja juga. Tapi kan itu juga tak sepenuhnya salah Gladis. Dan tentu juga tak sepenuhnya salah Qila. "Gue gak ada tuh konfirmasi kalo Arvin ini pacar gue. Lo aja yang sinpulin sendiri," tambahnya lagi.
Qila semakin dibuat kesal di tempatnya. "Ya gue mana kepikiran kalo Kak Arvin ini kakak lo anjir. Mana ada adik di dunia ini yang manggil kakaknya langsung pake nama kaya lo gini Dis? Cuma lo doang," ujarnya dengan kesal. "Seenggaknya untuk lingkup pertemanan gue, gak ada yang kaya lo Gladis. Makanya gue gak kepikiran," tambahnya lagi.
Gladis terkekeh sendiri di tempatnya. Asik juga mengerjai Qila seperti ini. Sering-serung deh, Qila kalau ngamuk lucu soalnya. "Iya-iya, bukan salah lo," ujae Gladis dengan kekehannya. "Tapi tetep aja juga, ini bukan salah gue. Orang gue gak ngapa-ngapain kok," ujarnya lagi.
Qila memutar bola matanya jengah dengan kelakuan Gladis. Ini, kalau Qila tak ingat ada Kak Arvin, udah habis Gladis, Qila serva mati-matian. Kesel Qila tuh.
"Udah-udah," ujar Arvin mulai menengahi. "Lo juga jangan kaya gitu Dis. Gak baik ah. Gak usah iseng sama Qila," ujarnya lagi kemudian membuat Qila tersenyum senang sementara Gladis memberengut kesal. Bisa-bisanya kakaknya ini malah membela Qila.
Namun tak urung meskipun wajah Gladis nampak kesal, di dalam hatinya Gladis memekik kegirangan mengetahui kakaknya yang membela Qila.
"Lo mah belain Qila. Adek lo sebenernya siapa sih?!" tanya Gladis masih mempertahankan raut wajah sok marahnya.
Arvin jelas hafal betul dengan tabiat adiknya ini. Memang tukang jebak si Gladis ini. Untuk Arvin sudah hafal betul dengan semua tabiat Gladis yang suka ngadi-ngadi ini.
"Dih, jijik," cibir Arvin pada Gladis. Lalu cowok itu beralih menatap Qila. "Ayo Qil kita duluan aja, jangan ladeni dia. Dia gak sehat," tambah Arvin lagi membuat Gladis mencak-mencak sendiri di tempatnya.
Tak tinggal diam, Arvin langsung mengamit tangan Qila untuk di genggamnya, kemudian Arvin membawa gadis itu berjalan menjauh dari Gladis. Meninggalkan adiknya itu di parkiran sendirian. Rencananya, Arvin akan mengantar Qila sampai ke depan kelas gadis itu.
Banyak yamg menatap apa yang dilakukan Arvin dengan mata yang membola, melotot. Saking terkejutnya. Apa yang dilakukan Arvin ini nampak sangat langka, bahkan saat bersama Gladis saja Arvin tak pernah sampai menggandeng tangan dengan lembut seperti yang Arvin lakukan saat bersama dengan Qila ini.
Aneh sekali. Ada apa ini sebenarnya? SMA Rajawali benar-benar di buat heboh hanya karena masalah ini. Si mose wanted boy Arvin terduga pelaku yang banyak membuat kaum hawa di SMA Rajawali itu meleleh hanya karena ketampanannya sedang bergandengan tangan di koridor sekolah dengan si mose wanted girl Qila yang terkenal sebagai gadis yang sangat ramah.
Mereka saat ini benar-benar sedang ingin menghujat, namun mengingat itu adalah Qila, gadis ramah yang menjadi favorit siswa-siswi SMA Rajawali, mereka menjadi mengurungkan niatnya. Mereka hanya diam saja melihat, atau lebih tepatnya menikmati pemandangan yang ada di depannya? Entahlah, siapa yang tahu.
Sementara Gladis sendiri, gadis itu memang dibuat kesal karena Arvin membawa Qila meninggalkannya di parkiran sendirian. Namun setelah punggung kakak dan sahabatnya itu menghilang termakan jarak, mendadak senyum gemas terukir di bibir manis Gladis.
Gemas sekali melihat tingkah kakaknya yang mengamit tangan Qila untuk di genggamnya tadi. Gladis tahu dengan jelas kalau kakak semata wayangnya itu sangat menyukai Qila, sahabatnya. Bahkan disaat pertama kali Arvin dan Qila bertemu, Gladis tahu tatapan yang Arvin berikan pada Qila itu berbeda. Entah bagaimana cara mendeskripsikannya, yang Gladis tahu, binar mata Arvin selalu memancarkan aura ketertarikan yang sangat besar saat menatap Qila.
Bermula dari situlah, Gladis memiliki rencana untuk membuat Arvin dan Qila menjadi dekat. Apalagi Gladis itu sangat tak menyukai cowok bernama Fikri-Fikri itu, cowok yang menjadi sahabat Qila sekaligus cowok yang Qila katakan sebagai cowok yang gadis itu sukai. Demi apapun, sedari awal Gladis diperkenalkan dengan Fikri oleh Qila, gadis itu sudah sangat tak menyukai sosok Fikri. Menurut insting Gladis mengatakan, Fikri memang memiliki pengaruh yang tak baik untuk Qila dan memang harus segera di jauhkan.
Di tambah, Gladis ini sangat mendukung kapal Arvin Qila berlayar. Jadi ya gitu, ketidaksukaannya pada Fikri semakin menjadi-jadi. Menurut Gladis, Fikri itu hanya akan menjadi penghambat kapal Arvin Qila berlayar.
Dan benar juga kan apa yang Gladis katakan? Fikri bemar-benar hanya menjadi penghambat kapal Arvin Qila berlayar. Terbukti saat ini, saat dimana Fikri sudah memiliki calon tunangan, cowok itu tak lagi menjadi penghambat hubungan Arvin dan Qila. Lihat tadi, sedari Arvin dan Qila di rumah, di mobil, bahkan sampai saat ini di sekolah, banyak sekali kemajuan yang terjadi diantara keduanya.
Barusan saja seperti yang terlihat, Arvin dan Qil bergandengan tangan secara terang-terangan. Bagaimana yang kemarin malam saat Arvin dan Qila saat di pasar malam. Mungkin mereka malah sudah lebih jauh lagi. Maksudnya dalam artian, kedekatan mereka dan pembicaraan mereka. Bukan kelakuan mereka.
Gladis juga kemarin dengar-dengar, Arvin dan Qila pulang larut malam. Biasa, Papanya itu suka sekali menggosip, sama seperti Mamanya. Dan korbannya saat ini adalah Arvin dan Qila.
Ngomong-ngomong soal Papa dan Mamanya, Gladis tak bisa banyak berita soal mereka. Yang Gladis tahu, Papa dan Mamanya itu sangat mendukung hubungan antara Arvin dan Qila. Keduanya sangat menyukai keberadaan Qila. Kepribadian gadis itu dan segala hal tentang gadis itu.
Setelah mendengar sedikit cerita mengenai Qila dari mulut Gladis, orang tuanya juga bahkan sampai berniat untuk mengajak Qila tinggal di rumahnya. Gladis memang bercerita perihal Mama Qila yang jarang di rumah dan juga perihal Papa gadis itu. Hal itu yang membuat mereka semakin yakin untuk meminta Qila tinggal di rumah mereka untuk sementara waktu. Bahkan untuk jauh lebih lama pun tak apa, mereka akan dengan senang hati menerima Qila. Mereka malah akan sangat senang jika Qila mau tinggal bersama mereka untuk seterusnya.
Daripada Qila sendirian kan?
Namun Gladis tentu sangat tahu bagaimana watak sahabatnya yang satu itu yang selalu merasa tak enakan. Gladis tak bisa memaksa Qila, biarkan saja gadis itu sendiri yang memilihnya.
Disisi lain, Arvin dan Qila baru saja sampai di depan kelas gadis itu. Sekarang tugas Arvin untuk mengantar Qila sudah beres. Masa bodo dengan adiknya yang dia tinggal sendirian di parkiran tadi dengan keadaan yang mencak-mencak tak jelas. Tahu rasa kau Gladis!
"Mmm thanks ya Kak Ar, udah nganterin gue ke kelas. Padahal gak perlu repot-repot gini lo," ujar Qila pada Arvin yang berdiri di depannya. "Ngomong-ngomong, soal Gladis gimana? Kasihan loh dia kita tinggalin di parkiran sendirian, mana dia tadi lagi mencak-mencak gak jelas lagi," ujarnya lagi.
Arvin nampak tersenyum sangat tipis. "Udah gak apa-apa, dia ditinggalin di parkiran doang juga kan, gak dijalanan," ujar Arvin pada Qila dengan sangat santai. Kalau boleh Qila bilang, ini itu benar-benar Arvin seperti berbicara tanpa beban sedikitpun. "Dia juga gak bakalan nyasar kalo cuma jalan dari parkiran ke kelas sendirian," tambah Arvin lagi.
"Tapi kan gue gak enak Kak Ar sama Gladis. Masa gue udah numpang di rumahnya, di mobilnya juga, terus sekarang gue malah ninggalin dia sendiri gitu sih," ujar Qila mengeluarkan suaranya. Qila tak bohong soal dia benar-benar merasa tak enak dengan Gladis. Meskipun dia berteman baik dengan Gladis, namun Qila tetap saja merasa tak enak. Qila masih punya rasa itu.
Qila tak mau menjadi orang yang tak tahu malu dan tak sadar diri. Jadi, dia membatasi segala hal. Itu juga yang membuatnya gampang merasa tak enak kepada seseorang. Bahkan jika Qila berkata kepada seseorang lalu seseorang itu tak menyahutinya. Qila terkadang berpikir keras, apakah yang dia katakan ada yang salah? Apakah yang dia katakan menghancurkan hati seseorang?
Bahkan hanya karena Qila merasa terus di perhatikan oleh seseorang tanpa senyum sedikitpun, Qila sudah pasti langsung berpikiran yang macam-macam. Seperti, mungkinkah orang itu tak suka dengan Qila? Apa salah gadis itu?
Qila benar-benar gampang sekali tak enakan seperti itu. Levelnya sudah sangat parah. Makanya, terkadang dia lebih memilih untuk diam saja daripada berbicara, takut salah dan malah menyakiti hati orang lain.
Ingat, ini hanya terkadang karena Qila masih sering berbicara mengingat gadis itu memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi.
"Udah, lo santai aja. Lo jelas tahu kan Gladis kaya gimana orangnya? Dia santai aja kok. Apalagi kalo sama lo, dia jinak banget. Jadi gak usah ngerasa gak enak kaya gitu. Ya?" ujar Arvin menenangkan. Tak tahu saja Arvin kalau seperti itu malam membuat Qila semakin merasa tak nyaman.
"Justru karena itu Kak Ar, karena Gladis udah baik banget sama gue, gue jadi semakin ngerasa gak enak sama dia. Gue takut aja gitu, ntar besok-besok gue jadi makin ngelunjak sama dia, gue gak mau kalo itu sampai kejadian," ujar Qila menjelaskan tentang kegelisahannya.
Arvin nampaknya paham dengan itu. Qila tak salah jika dia berpikir seperti itu. Justru malah bagus sebenarnya, tapi yang Arvin tak mau adalah nanti, bisa saja Qila menjadi merasa tak enak dengannya dan keluarganya. Arvin hanya takut disaat Qila merasa tak enak, gadis itu akan memilih pergi seperti ini.
"Gue paham kok," ujar Arvin menjawab dengan singkat. Bingung harus mengatakan apa lagi. "Ya, itu sih terserah lo aja, gue gak tau lagi mau ngomong apa," ujarnya lagi. Saat pembicaraan ini, mereka masih berdiri di depan kelas Qila dan Gladis. Tak pindah posisi sedikitpun.
Sedari tadi, banyak sekali yang berlalu lalang lewat di sekitar Arvin dan Qila terang-terangan, sama saat mereka masih berjalan di koridor sekolah. Yang membuat mereka semakin bingung adalah ketika mereka tak hanya melihat Arvin dan Qila yang bersama. Namun mereka juga nampak berbicara berdua, sesekali tertawa dan bahkan Arvin sesekali menampakkan senyum tipisnya. Senyum yang sampai saat ini baru mereka lihat sekali. Setelah sekian lama mereka mengenal Arvin.
Mereka benar-benar bingung, sejak kapan Arvin dan Qila nampak sangat dekat dan akrab seperti itu? Bahkan kedekatan antara Arvin dan Qila yang terlihat hari ini itu begitu berbeda dengan kedekatan Arvin dan Gladis, gadis yang diduga merupakan pacar dari Arvin.
Mereka dapat melihat, Arvin terlihat begitu lebih lepas dan natural saat bersama dengan Qila daripada saat bersama dengan Gladis. Mereka terlihat seperti pasangan yang serasi. Itulah yang dilihat anak-anak SMA Rajawali.
"Heh, enak ya kalian berdua, ninggalin gue sendirian di parkiran, terus malah enak-enak ngobrols santai di sini lagi," ujar Gladis yang baru saja datang, gadis itu protes secara tiba-tiba.
"Maaf Dis, gue gak maksud ninggalin lo tadi," ujar Qila yang baru menjawab dan langsung meminta maaf kepada Gladis.
Gladis merasa tak enak kepada Qila. Reaksi yang temannya itu berikan tak sesuai perkiraannya. Gladis kira, Qila akan tersenyum mengejek kearahnya atau setidaknya menimpalinya dengan kalimat candaan lain, bukan malah meminta maaf seperti ini.
Gladis langsung beralih menatap Arvin dan bertanya pada kakaknya itu tanpa suara, hamya mulutnya saja yang membuat.
"Kenapa?" tanya Gladis pada Arvin yang hamya mendapat jawaban pelototan kecil dari Arvin, lalu cowok itu menggerakkan kepalanya seperti menunjuk Qila.
"Minta maaf balik," ujar Arvin juga tanpa suara. Gladis paham itu, walaupun tak sepenuhnya. Yamg terpenting adalah, dia harus benar-benar langsung meminta maaf balik kepada Qila.
"Maaf Qil, gue juga gak maksud ngomel kok tadi. Gue cuma bercanda doang, serius deh," ujar Gladis pada Qila seraya mengangkat tangan kanannya dengan jari yang membentuk peace.
Qila nampak mengangguk kecil. "Gak apa-apa, bukan salah lo. Gue aja yang hari ini baperan," ujar Qila tersenyum kecil.
Gladis menggeleng, tak setuju. Namun gadis itu memilih untuk tak membahas lebih lanjut lagi. "Ya udah kita masuk kelas yuk. Udah mepet jam banget ini," ajak Gladis pada Qila. Cowok itu beralih menatap Arvin kemudian. "Lo juga masuk ke kelas lo sendiri sono gih. Udah mau masuk, Qila aman sama gue," ujarnya lagi pada Arvin, seperti mengusir.
Arvin tak menampilkan banyak ekspresi. "Jagain. Gak usah ngomong aneh-aneh dan gak usah nyoba buat bercanda-bercandaan lagi," pesannya pada Gladis. "Bercandaan lo sama sekali gak lucu. Jangan buat orang kesinggung lagi," tambahnya kemudian.
Gladis mengerucutkan bibirnya kesal mendengar kata-kata dari kakaknya itu. Iyain aja dah.
"Ya udah, gue cabut," ujar Arvin kemudian. Cowok itu benar-benar berlalu pergi untuk ke kelasnya sendiri.
Sepeninggalan Arvin, Gladis mengajak Qila masuk.
"Ayo Qil, masuk," ujarnya.