CHAPTER 3

1484 Kata
"Hei! Udah sadar belum sih?!" tanya Arvin kembali melambaikan tangannya di depan Qila. Qila yang tadi sempat terpaku dengan wajah Arvin kembali tersadar. "Ah iya kak? Kenapa?" tanya Qila gelagapan. Arvin yang itu terlihat menaikkan kedua alisnya bingung. Cowok itu terkekeh kecil kemudian melihat ekspresi lucu yang Qila tampilkan. "Kok ketawa kak, kenapa?" tanya Qila bingung sekaligus heran. Aneh saja, cowok yang Qila kira tak bisa tersenyum, kini terlihat terkekeh di depannya. "Lo yang kenapa? Hobi banget ngelamun?" Arvin balik bertanya. Cowok itu mendudukkan badannya di kursi yang berada di sebelah Qila. "Jangan kelamaan ngelamun, ntar lo kesambet," pesannya. Mata Qila mengerjap lucu kemudian gadis itu menganggukkan kepalanya menurut. "Oh iya," Arvin mengulurkan tangannya di depan Qila yang di balas dengan tatapan bingung dari gadis itu. Namun, setelah mendengarkan kata selanjutnya yang keluar dari mulut cowok yang duduk dihadapannya ini, Qila jadi paham maksud dari cowok itu. "Arvin," lanjutnya. "Qila," balas Qila seraya membalas uluran tangan Arvin. Setelah itu, mereka melepaskan jabatan tangan masing-masing. "Udah tau sih gue sebenernya," ujar Arvin dengan mata yang terus menatap Qila. "Hm?" dahi Qila berkerut tanda bingung. "Iya, udah tau nama lo dari Gladis. Cuma mau kenalan secara langsung aja," jelas Arvin. Entah kemana Arvin yang selalu memasang wajah datar dan berbicara seperlunya. Qila tak melihat itu sekarang. Pandangan Qila tentang Arvin sedikit berubah. Arvin tak seburuk yang Qila kira. Pantas saja Gladis mau dengan cowok ini. Selain ganteng, Arvin juga lumayan asik ternyata. "Gue sebenernya udah tau nama lo juga sih hehe," balas Qila cengengesan. Arvin tersenyum tipis melihat itu. "By the way, lo tadi kenapa pergi gitu aja dari lapangan? Gak nyaman ada gue?" tebak Arvin yang mungkin jika ditanya tadi jawabannya adalah tepat sekali. Tepat sasaran. Namun tidak untuk saat ini. "Eh enggak gitu," ujar Qila gelagapan. "Maaf banget nih. Habisnya lo tadi kaku banget kak. Gue jadi keki sendiri di sana. Canggung," jujurnya kemudian. Arvin terlihat menganggukkan kepalanya paham. "Maaf kalo gue tadi bikin lo gak nyaman nontonnya," ujarnya merasa tak enak. "Gak kok. Gue sebenernya juga gak suka nonton pertandingan kaya gitu," jujur Qila lagi, gadis itu kini juga menatap sang lawan bicara. "Kalo aja Fikri gak nonton, gue pasti juga ogah banget nonton pertandingan kaya tadi kak," ujarnya menggebu. "Kenapa emang kalo ada Fikri yang nonton?" tanya Arvin semakin penasaran. "Ya gak apa, cuma gue suka aja kalo ada Fikri. Makanya gue ngikut tadi," entah sadar atau tidak, Qila sekarang seperti sedang membuka rahasianya sendiri bahwa gadis itu menyukai Fikri, sahabatnya. "Lo suka sama dia?" tanya Arvin. Qila gelagapan. Bingung harus menjawab apa. "Jujur aja kali. Santai aja kalo sama gue," ujar Arvin berusaha membuat Qila nyaman. Entah sedang kerasukan apa Arvin sekarang, kenapa cowok itu bisa sedekat dan senyaman ini berada dan mengobrol bersama Qila yang notabenya adalah adik kelas yang merupakan sahabat dari Gladis. Arvin tak pernah sedekat ini dengan seorang gadis kecuali Gladis. Dan sekarang, Arvin bisa dekat dengan gadis lain selain Gladis. Dan gadis itu merupakan sahabat dari Gladis sendiri. "Tanya sama Gladis aja deh ya kak. Gue beneran gak sanggup kalo harus cerita sendiri," ujar Qila akhirnya. "Maaf banget nih ya. Abisnya, gue suka kikuk sendiri kalo ngomong sama lo kak. Gak tau deh kenapa, biasanya gue selalu santai sama orang lain. Gara-gara aura lo beda banget deh kayanya," Qila berbicara panjang lebar. Arvin terkekeh kecil mendengarkan perkataan panjang lebar dari Qila. "Lo gak capek ngomong panjang lebar kaya gitu?" tanyanya. Qila menggeleng lucu. "Enggak, udah biasa juga," ujarnya. "Kenapa emang? Lo pasti gak pernah ngomong panjang lebar. Iya kan?" tebak Qila yang diangguki Arvin dengan wajah polosnya. "Wah parah. Lo harus coba deh ngomong panjang lebar kaya gue," lanjut Qila. "Emang kenapa kalo ngomong panjang lebar?" tanya Arvin menatap Qila bingung. "Ya gak kenapa kenapa sih, kan gue cuma ngomong doang," balas Qila menampilkan deretan giginya. Arvin kembali menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja sahabatnya Gladis ini. "Lo random banget ya anaknya? Seru juga," ujar Arvin terkekeh kecil menatap Qila. "Oh jelas, kalo gak seru, si Gladis mana mau temenan sama gue sih kak," balas Qila penuh percaya diri. "Oh iya, by the way lo ngapain kesini kak. Gue lihat lo tadi fokus banget lihat pertandingan," lanjutnya ketika sadar kenapa bisa Arvin kesini. Padahal cowok itu tadi sedang fokus menonton pertandingan. "Gue haus, makanya ke kantin," ujar Arvin. "Terus gue lihat lo duduk sendiri. Mana pake ngelamun segala lagi. Yaudah gue samperin, daripada lo kesambet kan?" Qila menganggukkan kepalanya. "Iya bener. Daripada gue kesambet," ujarnya setuju. "Yaudah kalo gitu, gue mau balik ke lapangan. Lo mau ikut gak?" tanya Arvin. Qila menganggukkan kepalanya menyetujui. Daripada Qila sendirian kan? "Yaudah ayo," ajak Arvin kemudian mereka melenggang pergi menuju lapangan beriringan. Saat mereka berjalan di pinggir lapangan, mereka tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Bukan apa-apa, hanya saja, banyak siswa-siswi yang heran bagaimana bisa Arvin dan Qila berjalan beriringan berdua. Sedangkan mereka tau, Arvin adalah pacar dari Gladis. Sahabat Qila sendiri. Arvin yang banyak anak SMA Rajawali kira hanya mau berdekatan dengan Gladis, kini terlihat berdekatan dengan Qila. Hal itu membuat banyak siswa-siswi menjadi penasaran. Mereka memang tak menghujat Qila, karena banyak anak yang kenal baik dengan Qila. Gadis yang sangat ramah, baik dan suka membantu. Andai saja itu orang lain, pasti banyak diantara mereka yang menghujat. Tapi kalau orang itu Qila, mereka hanya mampu menyimpan semua pertanyaannya saja kemudian disaat nanti bertemu Qila, mereka pasti akan menanyakan itu. Dan tentu saja, mereka percaya pertanyaan mereka akan dijawab dengan apik oleh Qila. Tanpa ada bumbu bohong. "Lo jangan peduliin orang yang lihatin kita Qil," bisik Arvin takut Qila merasa tak nyaman. Qila yang mendengar bisikan Arvin itu menoleh menatap Arvin yang berjalan di sampingnya, masih menatap ke depan. "Gue santai aja kok. Gue kenal baik sama mereka-mereka," ujar Qila santai. Arvin hanya mengangguk menanggapi itu. Setelahnya, Arvin membawa Qila duduk di tempat yang tak begitu jauh dari tempat awal mereka tadi. "Disini aja," ujar Arvin seraya mendudukkan tubuhnya. Qila hanya menurut. Dia ikut mendudukkan tubuhnya di sebelah Arvin. Padahal jelas-jelas gadis itu melihat, Fikri ada di tempat yang tak jauh dari mereka. Entah ada apa dengan Qila, bagaimana bisa gadis itu menurut saja dengan Arvin. Padahal biasanya, kalau dia melihat keberadaan Fikri, dia pasti akan lebih memilih duduk bersama Fikri. Entahlah, Qila mungkin khilaf. *** Qila berjalan gontai keluar sekolah, hari ini Fikri tidak masuk sekolah. Alhasil, Qila harus rela berdiri di halte dan menunggu angkutan umum lewat bersama dengan siswa-siswi lainnya. Sebenarnya tidak masalah untuk Qila, lagipula gadis itu sangat senang bersosialisasi dengan murid SMA Rajawali yang lain. Namun, jika ada Fikri kan, Qila bisa mendapatkan dua kelebihan sekaligus. Pertama, tebengan gratis. Kedua, berboncengan dengan Fikri. Ah tidak apa lah, lagipula tidak mungkin kan Qila setiap hari atau bahkan setiap saat selalu bergantung kepada Fikri. Pasti akan ada saatnya dimana Qila harus melakukan semuanya sendiri. Tanpa Fikri. Ya, walaupun sebenarnya Qila ingin Fikri selalu berada disampingnya. Melakukan semuanya selalu bersama dengan dia. Menggenggam tangannya, merangkul pundaknya, merengkuh tubuhnya, menjadikan bahu milik cowok itu sebagai sandaran untuknya. Sudah-sudah, sepertinya halunya Qila sudah kelewatan. Mana mungkin itu semua terjadi. Kelak, Fikri pasti akan menemukan tambatan hatinya sendiri. Qila tahu kok, kalau sebenarnya Fikri itu sudah mengetahui tentang perasaannya. Hanya saja, Fikri memilih bungkam. Tak mau membahas. Qila saat ini sedang berdiri sambil memeluk tiang halte. Karena kursi halte sudah penuh. Wajah Qila tertekuk cemberut. Seharian ini Qila belum bertemu dengan Fikri karena kata cowok itu, dia sekarang sedang ada acara keluarga. Bahkan, tadi yang mengantar surat izin Fikri ke rumah Qila adalah sopir cowok itu. Memang jika Fikri tidak masuk sekolah cowok itu selalu menitipkan surat izin kepadanya. Padahal, rumah Qila dengan Fikri tak sedekat itu. Ya, tapi Fikri kan hanya punya satu teman tetap. Yaitu Qila. Ralat, bukan teman melainkan sahabat. Cowok itu selalu bergonta-ganti teman hingga Qila menyadari bahwa Fikri memanglah seorang yang tidak mudah mempercayai orang lain. Maka dari itu, Fikri tak pernah terlihat dekat dengan orang lain selain Qila. Mungkin dia memang punya teman, tapi itu hanya teman biasa. Teman yang akan terlihat ketika Fikri benar-benar sedang butuh bantuan. Beruntungnya Qila bisa diberi kepercayaan oleh Fikri hingga cowok itu selalu memprioritaskan nya atas semua hal. "Fikri, sepi banget gaada lo," lirih Qila cemberut. Batu saja Qila ingin menutup matanya lelah, sebuah motor terlihat berhenti tepat di depan Qila. Membuat mata Qila memperhatikan dua orang yang sedang menaiki motor itu. Itu adalah Gladis dan si kakak kelas robot. Arvin. "Qil!" panggil Gladis membuat Qila otomatis mendekat. "Apa Dis?" "Tumben ke halte. Mau naik angkutan umum? Emang sopir pribadi lo mana? Gak masuk?" Gladis turun dari motornya dan melangkah mendekati Qila. Qila memutar bola matanya malas. Gadis itu sebenarnya tau, Gladis dan Ghea, kedua sahabatnya itu tidak terlalu menyukai kedekatannya dengan Fikri. Entah apa alasannya. "Namanya Fikri Dis, dia juga bukan sopir gue." "Iya-iya, pokoknya itu. Dia gak masuk?" "Iya, dia gak masuk. Ada acara keluarga," Gladis ber-oh ria menjawabnya. "Mau bareng Arvin aja gak?" tawar Gladis membuat mata Qila membola.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN