CHAPTER 2

1332 Kata
"Fikri!!! Jangan lari lo!!" teriak Qila nyaring. Gadis itu berlari menghampiri Fikri yang juga berlari jauh di depannya dengan tawa puas di wajah cowok itu. "Kejar gue kalo bisa," balas Fikri sedikit membalikkan badannya dengan lidah yang dijulurkan. Mengejek Qila. Dengan sekuat tenaga Qila berlari mengejar Fikri. Namun langkah kaki cowok itu jauh lebih panjang darinya. Qila berlari dengan napas tersengal. Sejenak, Qila menutup matanya dengan kakinya yang masih berlari. Tepat ketika Qila membuka matanya. Disaat itu pula Qila menabrak Arvin. Untuk kedua kalinya Qila jatuh tersungkur akibat menabrak pacar sahabatnya itu. Untuk kedua kalinya pula, tangan Arvin terulur membantu Qila berdiri dan Qila menerimanya. Sedangkan Fikri, cowok itu masih berlari, cowok itu baru menyadari jika Qila tak lagi mengejarnya ketika cowok itu tak lagi mendengar teriakan Qila. Fikri menoleh berniat mencari keberadaan Qila. Namun baru saja dia melihat kebelakangnya, cowok itu langsung mendapati Qila yang terjatuh dan dibantu berdiri oleh seorang kakak kelasnya. Arvin. Ya, Fikri tau cowok itu. Kakak kelasnya yang menjabat sebagai ketua ekstra karate. Ekstra yang Fikri ikuti. Fikri berlari menghampiri Qila dan Arvin. Banyak siswa-siswi yang berteriak histeris melihat sang idola mengulurkan tangannya untuk membantu Qila berdiri. "Qil, lo gapapa kan?" tanya Fikri khawatir. Qila memutar bola matanya malas. "Gara-gara lo nih Fik! Rese lo," kesal Qila kemudian beralih menatap Arvin. "Untuk kedua kalinya, makasih dan maaf ya kak," Arvin mengangguk singkat kemudian cowok itu melanjutkan langkahnya. Setelah Arvin beranjak dari tempatnya, Qila melirik Fikri sekilas. Saat itu juga gadis itu mendapati tatapan melas terpatri jelas di wajah sang sahabat. Qila melengos melihat itu. "Qil, maafin sahabat lo yang ganteng ini dong," Fikri berucap dengan nada seolah merengek. Qila memang tak pernah marah lama kepada Fikri. Tapi kalau saja gadis itu sekali marah, Fikri bisa tekor. Uang sakunya akan habis lenyap untuk membelikan Qila coklat dan es krim. Qila berdecih. "Cih. Gantengan juga Kak Arvin," ujarnya melirik Fikri kesal. "Tapi tenang aja, gue udah maafin lo kok," Qila kemudian beranjak meninggalkan Fikri. Fikri yang ditinggalkan pun hanya memandang Qila cengo. "Lah? Kok gue ditinggal sendirian?!" teriak Fikri tak terima. Baru kali ini Qila meninggalkannya. *** Qila, Gladis dan Ghea. Ketiga gadis ini sedang duduk di pinggir lapangan. Menonton pertandingan basket. Sebenarnya, mereka kurang tertarik untuk menonton pertandingan ini. Namun, melihat banyaknya kakak-kakak most wanted yang ikut serta dalam pertandingan, membuat Gladis dan Ghea ingin menontonnya. Berbeda dengan Qila. Sebenarnya gadis itu tetap acuh. Tapi, melihat Fikri juga ikut menonton pertandingan membuat Qila juga ingin menontonnya. Memang, hanya Fikri yang bisa membuat kemageran Qila hilang tanpa sisa. "Qila, duduk sama gue aja sini!" panggil Fikri dari arah kanan Qila. Qila menoleh kemudian mengangguk antusias. "Dis, Ghe. Gue sama Fikri aja boleh nggak?" pamitnya tak enak hati. Tatapannya harap-harap cemas kalau saja mereka tak mengijinkannya. Gladis dan Ghea saling memandang, kemudian akhirnya mengangguk pasrah. Qila yang melihat persetujuan dari teman-temannya itu langsung saja berlalu menghampiri Fikri. Lagi-lagi, Gladis dan Ghea menghembuskan napas pelan melihat sikap Qila kepada Fikri itu. "Sini, temenin gue aja," Fikri menepuk sebelahnya, mengisyaratkan Qila untuk duduk dan Qila menurutinya. Pertandingan basket sudah dimulai, namun fokus Qila tidak di pertandingannya, malah di wajah Fikri yang berada tepat di sebelahnya. Cowok itu fokus menatap depan dengan wajah yang terlihat antusias. Dan setiap pergerakannya selalu diawasi Qila. Sampai kedatangan seseorang yang lewat di depan Qila membuat fokus Qila teralihkan. Qila menoleh memperhatikan Arvin yang tengah berjalan sendiri. Heran, apa dia tidak punya teman ya? Kenapa selalu sendiri? Qila terus memperhatikan Arvin dan Arvin yang merasa diperhatikan pun menoleh, membuat Qila langsung mengalihkan pandangannya. Jantung Qila berdegup dua kali lebih cepat ketika Arvin berjalan menghampirinya dan duduk tepat di sebelahnya. Fikri yang melihat Arvin ikut bergabung dengannya dan Qila pun menoleh lalu menyambut Arvin dengan senyum senangnya. "Gabung juga kak?" ujar Fikri basa-basi dan hanya dibalas Arvin dengan deheman singkat. Qila melirik Arvin sekilas kemudian melirik kearah Gladis dan Ghea yang masih fokus menonton pertandingan dengan wajah mereka yang berbinar. Sudah pasti karena kakak-kakak mose wanted itu. Memang ya mereka, selalu saja begitu. Tak tahu apa Qila ini lagi butuh bantuan. Sial! Mereka malah terus fokus menonton pertandingan sedangkan Qila, gadis itu sekarang merasa keringat dingin sudah mulai mengucur di sekujur tubuhnya. Pasti efek dari Arvin nih. Heran. "Fik, gue gabung sama temen-teman gue lagi aja ya. Kan udah ada Kak Arvin," ujar Qila membuat Fikri dan Arvin menoleh menatapnya. "Jangan dong Qil, lo disini aja ya. Temenin gue," pinta Fikri membuat Qila mengangguk pasrah. Jika Fikri yang memintanya, sudah pasti Qila tidak bisa menolak. Tapi tidak untuk kali ini, Qila berpikir bagaimana cara agar dia bisa dengan segera keluar dari kawasan sekitar Arvin. Kalau Fikri saja mungkin Qila akan tetap enjoy. Tapi kalau ditambah Arvin seperti ini? Qila mendadak menjadi mati kutu. Efek dari Arvin memang bukan main. Situasi kembali hening setelahnya. Bukan, bukan hening. Karena disini sedang ada pertandingan, sudah dipastikan suara disekitar mereka riuh ramai. Berbeda dengan suara diantara ketiga orang yang duduk berdampingan ini. Hanya suara mereka lah yang mendadak hilang seketika. Fikri yang fokus menonton begitupula Arvin. Dan Qila, gadis itu menunduk canggung. Setelah berpikir cukup lama, Qila memutuskan untuk bermain ponsel dan menghilangkan rasa canggung sekaligus bosan di dalam dirinya. Dia membuka aplikasi line nya dan memilih salah satu kontak untuk dikirimkan pesan. Aquilla Queensa: Vio, lo lagi sibuk? Viona Permata: Kaga Qil, lagi jamkos gue Viona Permata: Kenapa? Aquilla Queensa: Temenin gue chattingan dong Aquilla Queensa: Lagi gabut nih Viona Permata: Lah? Viona Permata: Denger-denger di SMA lo lagi ada pertandingan sepakbola Aquilla Queensa: Iya Aquilla Queensa: Tapi lo tau kan, gue paling males nonton pertandingan kaya gini. Coba aja kalo Fikri gak ikutan nonton, udah pasti gue juga kaga bakalan nonton nih sekarang Viona Permata: Astaga Qila, masih jadi bucinnya Fikri lo sekarang? Viona Permata: Gue kira udah ada yang baru sejak masuk SMA Aquilla Queensa: Masih dong! Aquilla Queensa: Eh, udah dulu deh ya, gue mau ke kantin aja. Bosen juga gue lama lama disini. Viona Permata: Oke Qila Setelah membaca balasan dari teman SMP nya itu. Qila memasukkan ponselnya kedalam saku seragamnya kemudian menarik pelan lengan Fikri hal itu membuat Fikri menoleh. "Kenapa?" tanya Fikri sedikit terganggu karena terlalu asik menonton. "Mau ke kantin aja gue Fik, bosen disini." "Yaudah, ati-ati ya," Qila mengangguk sebagai jawaban. Sebelum Qila beranjak dari tempatnya, Qila sempat menoleh melihat Arvin yang masih tetap fokus kepada pertandingan. Awalnya, Qila berniat tersenyum kepada Arvin untuk sekedar berpamitan. Namun ternyata, Arvin tak menoleh sedikit pun kearahnya. Memang, pacar sahabatnya ini selain kulkas berjalan, kayanya juga robot. Kaku. Bahkan untuk tersenyum atau menoleh saja susah. Tak mau berlama-lama, Qila kemudian melenggang pergi. Sesampainya gadis itu di kantin, dia melihat sekitar. Sepi. Jelas saja, mereka semua sudah pasti sangat antusias melihat pertandingan yang menurut Qila membosankan itu. Qila memilih untuk segera memesan makanannya dan duduk. Setelah makanan yang dia pesan sampai, Qila menyantap makanannya hingga habis dan setelahnya, gadis itu memilih bersantai sejenak di sana. Daripada harus kembali kelapangan dan duduk diantara Fikri dan Arvin kan? Iya Arvin. Cowok yang meng-cosplay seperti robot. Menurut Qila. Ada-ada saja. Qila menggelengkan kepalanya heran. Kenapa juga Gladis menyukai cowok seperti Arvin? Ganteng sih ganteng. Tapi menurut Qila, Arvin itu terlalu kaku dan acuh dengan sekitar. Ah sudahlah, namanya juga cinta. Mau seperti apapun orangnya, kalau hati sudah memilih. Semua tidak bisa berbuat apa-apa kan? Ya, sama seperti Qila. Hatinya terlanjur memilih Fikri. Meskipun cowok itu tak pernah menganggapnya lebih dari seorang sahabat, buktinya Qila tetap bertahan. Itu yang dinamakan cinta. Ah, cinta atau obsesi ya? Mendadak menjadi ragu. Qila yang sedari tadi melamun perihal Gladis dan Arvin perlahan tersadar ketika ada tangan yang melambai di depan wajahnya. Tatapan Qila, Qila alihkan kepada orang yang menganggu sesi melamunnya. Begitu Qila berhasil melihat orang yang berhasil menyadarkannya dari lamunannya, mulut Qila terbuka sedikit. Mata gadis itu melotot kecil karena terkejut. Hell?! Ini Arvin, pacar sahabatnya sekaligus orang yang berada di lamunannya tadi. Bagaimana bisa? Wah, Qila hampir gila dibuatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN