Bab 19

1038 Kata
Semuanya heboh, Zaki merasa risih ternyata begini rasanya heboh karena hal baik ya? Dulunya dia heboh karena dirinya adalah banci? Kehidupan ternyata bisa berubah ya, pasti. "Lo udah bisa boncengin orang enggak?" tanya Agatha. "Entah, gue belum pernah coba. Kenapa emang? Pengen gue boncengin gitu?" tanya Zaki. "Bukan gue, tuh cewek-cewek di belakang. Gatel banget pengen diboncengin," ujar Agatha. "Akhirnya, fansnya banyak," celetuk Hiskia sambil memakan baksonya. "Eh btw." Aluna bersuara. "Kalian mau ikut camping?" tanya Aluna. "Iya, pastinya!" ujar mereka. "Kalau lo?" Aluna menunduk. "Aku enggak yakin bisa apa enggak, orang tua aku pasti enggak bakal ngijinin. Mereka marah pasti kalau aku pergi-pergi ke luar rumah," ujar Aluna. "Coba aja kasih tau, kalau emang lo butuh bantuan. Nanti kita bakal bantuin lo." **** Malam ini, mereka bertiga memutuskan untuk ke rumah Aluna dengan tekad yang tinggi, menghadapi yang entah apa yang akan terjadi saat mereka di sana. Agatha mulai melihat ke sana kemari, lalu masuk ke dalam pekarangan rumah Aluna bersama dengan Zaki dan Hiskia. "Heh!" "Kalian siapa?" Agatha, Zaki dan Hiskia seketika terdiam, perlahan mereka menoleh. Agatha langsung memasang cengiran khasnya, dia menggaruk tengkuknya dan langsung menyenggol lengan Zaki. "Em, itu mas, eh pak. Kami mau ketemu sama Aluna, Alunanya ada?" tanya Zaki. Satpam itu langsung terdiam. "Oh non Aluna, tumben ada yang datang. Biasanya mah, mereka pada takut sama orang tua Non Aluna," ujar Satpam itu. "Non Luna nya ada di dalam, tapi hati-hati ya orang tuanya juga ada di dalam." "Bapak boleh tolong panggilin Aluna?" tanya Hiskia. ** Mereka menunggu di teras rumah, Zaki mencoba untuk biasa saja. Tak lama Aluna keluar bersama dengan Papanya, dan juga Mamanya. Aluna mencoba tenang saat melihat teman-temannya ternyata mereka membuktikan apa yang mereka ucapkan. "Mau apa kalian ke sini?" tanya Papa Aluna dengan sigap. "Maaf Om, Tante. Kalau mengganggu waktunya malam ini kami hanya ingin memberikan surat perizinan camping kelas 10," ujar Zaki menyodorkan kertas itu. Papanya Luna langsung mengambil dan membacanya, sama halnya dengan Mamanya Aluna. "Enggak usah. Aluna enggak akan pergi." "Tapi Om, ini wajib sebagai penilaian keterampilan," ujar Hiskia menimpali. "Saya bilang enggak ya enggak, saya tidak mau menanggung kalau dia sampai kenapa-kenapa di sana bisa buat susah aja." Mereka bertiga saling menatap, bahkan Aluna menyarankan untuk menyuruh mereka untuk pergi dari sini dan mengurungkan niat mereka untuk mengajak Aluna ikut camping. Karena pada dasarnya, dia memang tak pernah bepergian ke sana kemari kalau ada pembelajaran di luar sekolah. "Kami akan menjaga Aluna, Om. Om dan tante enggak usah khawatir soal itu, dan untuk semuanya kami yang akan menanggung," ujar Agatha. "Yasudah, kalian aja yang tanda tangan. Jangan kami." "Ini butuh Om, sekali aja Om." Karena terus didesak oleh mereka akhirnya kertas itu ditandatangani oleh Om Dani–Papa dari Aluna. Mereka semua bersorak gembira. Aluna tak menyangka mereka bisa berhasil membujuk orang tuanya agar Aluna bisa ikut camping sekolah. Padahal mereka tidak satu kelas. Skip Malam itu Zaki menyiapkan semuanya, walau tidak semuanya karena sebagian ibunya yang sudah menyiapkannya. Seperti ibunya tidak banyak bicara setelah perdebatan mereka berdua. Zaki jadi takut terjadi apa-apa kepada Ibunya, Zaki tidak nyaman dihindari dan dicuekin seperti ini. Apakah harus dengan Zaki menjadi perempuan baru mereka bisa seperti dulu? Setelah selesai, Zaki memilih untuk tidur dan masuk ke dalam alam mimpinya. *** Pagi telah datang, Zaki masuk ke dalam kamar mandi dan langsung mandi. Setelah bersiap 20 menit, Zaki keluar kamarnya dengan tas bawaannya. Tas camping-nya yang cukup besar, lagian mereka hanya beberapa hari saja di sana. Zaki mencari-cari ibunya, tidak mungkin jika dirinya pergi tanpa pamitan dari ibunya. Ratna keluar kamar dengan wajah yang lebih segar dari biasanya, dia melihat anaknya yang sedang menatapnya. "Zakiya ...." Zaki tak tahan, dia berlari dan langsung memeluk ibunya, Ratna mengecup pelan kening anaknya. "Kamu hati-hati ya, jangan lupa makan dan terus berdoa kalau ada apa-apa. Dan jangan lupa kabarin Mama kalau ada apa-apa," ujar Ratna mengusap kepala anaknya. "Mama, Zaki minta maaf soal perdebatan kemarin-kemarin." Ratna mengangguk. "Kamu mau berangkat sekarang? Mama antar ya," ujar Ratna tanpa menunggu balasan dari sang anak dia langsung mengambil kunci mobil dan keluar, Zaki dengan senyumannya mengikuti ibunya. 15 menit perjalanan ke sekolah Zaki sampai, dia mengucapkan salam kepada ibunya dan turun. Sambutan dari beberapa temannya membuat Zaki terheran-heran, tumben sekali. Tapi bisa dia lihat dari sini, ibunya sedang senyum ke arah dirinya. "Eh lo kok lama banget ya datangnya?" tanya Agatha. "Lah katanya jam 8? Ini kan ...." Zaki melihat jam tangannya. "Astagfirullah, kurang 20 menit doang juga." "Untung enggak ditinggalin woy! Itu anak-anak pada minta tunggu di pengemudi bus nya. Mereka nungguin lo! Lo udah terkenal, kalau udah terkenal jangan lupa sama teman-teman lo ya," ujar Agatha. Zaki tertawa. "Ya enggak lah, berkat kalian juga kok." "Yaudah udah mereka udah nunggu ayo!" ujar Hiskia. Aluna menyeret kopernya, dan masuk ke dalam bus sesuai dengan kelas masing-masing kebetulan mereka berbeda kelas, terpaksa berpisah saat itu juga. Zaki memberikan jaket rajutnya kepada Aluna sebelum gadis itu masuk ke bus. "Lun, pakai aja ya. Di sana pasti dingin deh," ujar Zaki. Aluna mengambilnya dengan senang hati, padahal dia sebenarnya punya jaket, cuman tidak semuanya tebal. Jarang-jarang Aluna mendapatkan barang yang bagus dari kedua orang tuanya, kebanyakan barang yang ditinggalkan oleh sang kakak saja. *** Lama perjalanan menghampiri mereka, tapi tidak terasa mereka sudah sampai di lokasi tujuan. Zaki keluar bersama dengan Agatha dan Hiskia, menunggu Aluna keluar dari bus satunya. Melihat gadis itu turun Agatha langsung memanggilnya. "Aluna!!" teriak Agatha. Gadis itu menoleh dan tersenyum dia langsung berjalan menghampiri teman-temannya. "Anak-anak kalian harus waspada untuk masuk ke dalam ya, jangan lupa berdoa." Semua anak-anak diarahkan untuk masuk berjalan dengan perjalanan yang cukup jauh mungkin? Dilihat dari sini sepertinya tidak ada jalanan yang luas untuk mereka masuk bersama. Agatha memperhatikan beberapa objek di sekitar sini, dia menghela napasnya pelan. Karena camping ini sebenarnya membuang waktu Agatha, lebih baik dia kerja. Namun demi nilai, dia harus tetap ikut. Lagian ini juga karena bujukan Zaki dan Hiskia kepada dirinya. Dengan alasan tidak ada yang bisa menjaga mereka sebaik Agatha jadi terpaksa dengan alasan itu dirinya ikut bersama dengan mereka. Zaki sekarang banyak peminatnya, tidak ada ejekan sekarang dan Galang Reno jarang sekali meledek dirinya sekarang mereka lebih memilih untuk melewati Zaki begitu saja jika mereka bertemu Zaki. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN