Bab 20

1043 Kata
Agatha sangat membenci keadaan seperti ini, dia benci melihat Ramdan yang selalu dihina oleh murid di kelas. Dia membenci semua orang yang mengatakan Zaki adalah banci. Mereka seharusnya tau jika membully seperti itu bisa saja membuat orang nekat bunuh diri. Empat tahun yang lalu saat Agatha melintasi jembatan layang, dia masih di sekolah dasar, dia berjalan pulang dan melihat seorang wanita hendak bunuh diri. Wanita itu sempat menceritakan dia tidak sanggup hidup di dunia yang kejam ini karena banyak orang yang mengatakan dia gemuk. Wanita itu seolah tidak ada ruang bahagia di dunia ini. Semenjak itu Agatha selalu benci jika ada yang membully. Sore ini sepulang sekolah, Agatha berniat ke rumah Ramdan, mencari akar permasalahan atas apa yang membuat Ramdan menjadi suka dibully. "Ram, ntar ikutan gue ya main PS," ajak Hiskia dengan semangat. "Okeh siap." Agatha juga dgiajak oleh Hiskia, namun dia menolaknya. Ini kesempatan bagi Agatha saat Ramdan tidak pulanc ke rumah, dia bisa berbincang dengan keluarga Ramdan. Dia memencet bel rumah Ramdan, beberapa menit kemudian seorang wanita cantik paruh baya keluar menatap Agatha. "Iya? Adek cari siapa?" Ibu Ramdan nampak cantik dan anggun. Meski di rumah, pakaiannya selalu rapi dan mewah, make up yang digunakan ibu Ramdan membuatnya nampak cantik dan lebih muda. Tak heran kalau Ramdan mewarisi wajah ibunya. Agatha sebenarnya bingung harus memulai darimana untuk menceritakan semuanya, dia hanya takut jika ibu Ramdan akan marah. “Kamu siapa ya?” tanya Ratna menatap Agatha dari atas sampai bawah, terasa tak asing karena pakaian seragamnya terasa tak asing dimatanya, sama seperti yang digunakan oleh anaknya. “Temannya Zakiya?” tanya Ratna lagi. Sejenak Agatha mengaduh dalam hatinya, ibunya Ramdan memang terkena gangguan mental, anaknya sendiri memang dianggap perempuan. Tapi joka begini terus bisa saja membuat ibunya semakin menjadi dan membuat Ramdan semakin stress karena bullyan anak-anak di sekolah. “Iya tante,” jawab Agatha sembari tersenyum manis. Seketika Ratna berbinar, dia tidak menyangka Zakiya memiliki teman perempuan. Sama cantiknya dengan Zakiya. “Oh ya, wah kalau gitu tunggu sebentar ya sayang.” Ratna masuk ke dalam dapur membuatkan teh dan camilan untuk Agatha. Entah kenapa saat Ratna melihat Agatha, dia begitu senang dan terasa sangat dekat. “Ini sayang buat kamu,” ucap Ratna. Dia memberikan minuman dan camilan kepada Agatha sembari tersenyum ramah, sejujurnya melihat sikap Ratna yang sangat baik seperti ini dia menjadi sungkan untuk mengatakan yang sebenarnya tentang Zaki. Dia menjadi ragu mengatakan bahwa anaknya selalu dibully dan diperlakukan kasar oleh beberapa orang. “Makasih tante,” ucap Agatha, dia meneguk teh hangat dan memakan lumpia semarang yang diberikan Ratna. Rasanya lezat dan renyah, Agatha jadi merindukan sosok ibunya sendiri. Kehangatan yang diberikan Ratna semakin membuat Agatha semakin bimbang, apakah kalimat yang dia ucapkan akan membuat Ratna menjadi terluka atau tidak. Agatha lalu bingung harus memulai berkata apa, dia merasa agak bersalah mencampuri segala urusan Zaki, tetapi dia juga teringat bagaimana raut wajah menderita Ramdan menghadapi ini semua, seolah dia memaksakan diri untuk terlihat sempurna dan bahagia di mata ibunya. Agatha sangat memahami bagaimana rasanya dipaksa seperti ini. Dia menarik nafas, mempersiapkan deretan kalimat yang akan dia ucapkan sehalus mungkin untuk tidak membuat ibu Zaki marah. “Sayang, tapi Zakiya belum pulang. Katanya dia mau main PS dulu sama Hiskia,” ucap Ratna. “Oh iya tante, saya ke sini mau berbincang sama tante, begini tante ...,” ucap Agatha terpotong, dia masih bimbang mengucapkan ini semua. “Begitu rupanya, ada apa nak mau berbicara sama tante? Panggil saja mama, biar lebih akrab sayang.” Ratna mengusap kepala Agatha dengan penuh kasih sayang. Ratna sangat senang melihat anak perempuan, dia selalu menyukai dan sejak dulu menginginkan anak perempuan. Itulah kenapa Zaki selalu dia perlakukan seperti perempuan. “Begini tante, sebenarnya ... Zaki sering tante dibully dan diolok banci. Dia selalu dianggap perempuan di sekolah. Maaf tante, saya enggak tau permasalahan keluarga tante, tapi saya mohon tante sadar tante, karena keegoisan tante, malah membuat Zaki menjadi menderita, dia kehilangan teman, jati diri sebagai laki-laki. Saya enggak tega melihat dia itu menderita tante, Zaki itu laki-laki tante. Kenapa tante memaksa dia memakai bando, memakai make up dan lain-lain? Kalau tante merasa kehilangan dan menginginkan anak perempuan, saya rela kok, saya mau mengorbankan diri untuk menjadi anak tante, saya dengan senang hati kalau tante mau menganggap saya anak tante. Tapi jangan membuat hidup Zaki menderita te, dia setiap hari diolok, dipukuli, bahkan sampai punggung dan tangannya memar. Tante sebagai ibu harusnya tau apa yang terbaik untuk anak tante.” Agatha mengucapkan dengan lantang dan tegas, dia tau telah mencampuri urusan keluarga orang lain. Tetapi Zaki adalah temannya sendiri. Zaki adalah lelaki yang paling menderita di mata Agatha, tetapi dia berusaha tegar demi ibunya, demi kebahagiaan dunia yang ibunya buat. “Be-benar seperti itu?” tanya Ratna dengan suara bergetar, anak yang dia sayangi ternyata selama ini menderita. “Enggak, enggak mungkin anak aku yang paling cantik dibully, dia sangat aku sayangi,” ucap Ratna. Agatha menyerngitkan dahinya ketika mendengar kata ‘cantik.’ “Astaga, tante. Zaki itu laki-laki tante, dia itu tampan, bukan cantik. Zaki akan menjadi calon imam, bukan menjadi wanita yang lemah lembut gemulai.” Sedetik kemudian entah apa yang terjadi, Agatha tidak tau, Ratna tiba-tiba menangis, dia bergetar tangannya, dia tidak tau jika Zaki sangat terluka seperti itu. Ratna merasa pusing, pandangannya buram dan seketika dia pingsan. Agatha segera maju, menahan Ratna agar tidak terjatuh di lantai dan membaringkan Ratna di sofa, Agatha menjadi panik melihat Ratna yang pingsan, dia lalu mencari ecalypthus untuk membuat Ratna kembali sadar, dia membuka pintu kamar yang—entah kamar siapa. Saat Agatha masuk, dia melihat sekeliling, kamar yang rapi dan catnya berwarna pink, ada foto Zaki diatas meja. Agatha tersenyum kecil, ternyata ini kamar Zaki, banyak peralatan make up di sini sampai membuat Agatha merasa kalah menjadi perempuan. Dia melihat ada minyak kayu putih dan mengambilnya, setelah itu dia mengoleskan kepada pelipis Ratna. “Mama!!” teriak Zaki, dia terkejut melihat ibunya yang pingsan, dia menelfon taksi dan membawa ibunya ke rumah sakit. “Kenapa kamu ada di rumah dan mama aku pingsan?” tanya Zaki menatap Agatha saat di perjalanan menuju rumah sakit. Agatha bingung harus menjawab apa, dia bingung bagaimana menjelaskan situasi ini. Di saat seperti ini Agatha tau dia pasti menjadi orang jahat yang bersalah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN