Bab 21

1091 Kata
Agatha benar-benar tidak tau jika hal ini akan terjadi pada Ratna, ternyata Ratna mengalami gangguan mental dan depresi, setiap kali ada yang mengatakan Zaki adalah laki-laki, dan dia ingat anak gadisnya meninggal, dia akan mengalami sesak nafas. Zaki sangat panik menunggu ibunya di depan ruangan, dokter sedang membantu memberi oksigen. Sedari tadi Agatha hanya diam termenung atas apa yang dia lakukan, dia merasa bersalah sekaligus bingung harus melakukan apa. Dia gelisah dan takut jika terjadi sesuatu dengan Ratna. “Ram, duduk di sini.” Agatha menepuk bangku di sampingnya, Zaki segera duduk. Tangannya masih menggigit ujung jarinya panik. “Tenang Ram, mama kamu pasti baik-baik aja.” Zaki menghela nafas kasar, dia menatap Agatha tajam, tatapannya seolah menghunus jantung Agatha. Sungguh dia membenci Agatha saat ini, kenapa gadis itu bisa membuat ibuny tergeletak seperti ini. “Sebenernya lo bilang apa sih sama nyokap gue? JAWAB!” bentak Ramdan. Matanya kini memerah karena menahan emosi yang bergejolak. Ramdan tidak tahan melihat Agatha yang hanya diam saja saat ditanya. Belum sempat Agatha menjawab, Hiskia datang dengan sedikit berlari menghampiri mereka. “Eh gimana tante Ratna?” tanya Hiskia panik sembari membawa bingkisan roti. Agatha meneguk air ludahnya, perutnya terasa lapar, kalau diingat lagi, dia belum makan siang, bahan tidak sempat makan di kantin. Dia merasa bingung dan kelaparan saat ini. Tetapi Agatha tahu diri, dia penyebab kekacauan ini, sebisa mungkin dia menahan rasa laparnya. “Masih diperiksa,” ucap Ramdan singkat. Dia menatap malas Agatha dan duduk menjauh. Hiskia duduk diantara mereka. “Kok tante Ratna bisa pingsan sih? Sebenarnya ada apa?” tanya Hiskia lagi. Namun tak ada yang menjawab pertanyaan Hiskia itu, keduanya membungkam saling menahan emosi masing-masing. “Kenapa sih Ram? Gatha? Tante Ratna kenapa? Sakit apa?” tanya Hiskia. “Ini semua gara-gara Agatha,” ucap Ramdan. Seketika Agatha menoleh dan tidak terima disalahkan, dia hanya ingin berniat baik, kenapa dia disalahkan seperti ini. “Gue cuma mau nyokap lo itu sadar, gue mau lo enggak menderita lagi. Gue nyadarin nyokap lo kalau lo itu laki-laki. Ini itu udah fatal Ram, udah salah didik.” Ramdan tersenyum miring dan menatap Agatha dengan sinis. “Lo itu siapa sih? Lo terlalu ikut campur sama urusan gue, sekarang mendingan lo pergi, pergi GATHA!” teriak Zaki dengan lantang. Namun Hiskia menenangkan Ramdan. “Udah-udah, gue gasuka kalian bertengkar. Gatha, lo seharusnya bilang dulu sama Ramdan kalau mau ngomong gitu ke nyokapnya. Tante Ratna itu punya gangguan mental, kalau shock gampang pingsan dan sesak nafas. Ram, lo jangan marah kaya gitu, Agatha kan engga tau kondisi nyokap lo, dia cuma mau yang terbaik buat lo. Dia berniat baik. Coba deh nanti bicarain baik-baik sama nyokap lo. Coba pelan-pelan ambil hati nyokap lo dan bilang kalau lo bukan Zakiya, tapi lo itu Ramdan. Lo anak laki-lakinya.” Ramdan memijat pelipisnya, dia sangat bingung harus bagaimana dalam bersikap. Tidak mudah meyakinkan ibunya tentang hal ini. Tapi Ramdan juga lelah terus menerus dibully dan disakiti. Dia kehilangan jati dirinya di sekolah. Ramdan sangat menderita dan dia tak tau harus melakukan apa agar ibunya membuka mata dan percaya bahwa dia bisa membanggakan ibunya. Ramdan sampai berpikir salah apa dia sebenarnya sampai ibunya tidak mencintai dia dan hanya mengharapkan kakak perempuannya kembali. “Ram, sorry. Maaf gue emang keterlaluan dan ikut campur urusan rumah lo, maaf ya. Gue enggak tau kalau nyokap lo bakalan sakit gini. Maaf Ram, gue enggak bermaksud buat bikin tante Ratna sakit.” Agatha mengulurkan tangannya meminta maaf kepada Ramdan. Dengan tersenyum Ramdan mengangguk dan menerima maaf Agatha. Seorang dokter keluar dan mengatakan tante Ratna sudah bisa dikunjungi, namun sepertinya masih shock dan sedikit tertekan. Mereka bertiga lalu masuk ke dalam ruang rawat inap. Ratna sama sekali tidak mau melihat Zaki, masih menatap televisi yang menyala. “Ma,” panggil Zaki pelan. Ratna masih tak bergeming. Zaki dan dua sahabatnya hanya menghela nafas. Mereka lalu pamit pulang agar ibunya Zaki bisa berbicara berdua dengannya. Hiskia dan Agatha pulang bersama, mereka berniat menuju cafe di dekat rumah sakit untuk mengisi perut mereka. “Gausah sedih gitu, gue dulu pernah ngelakuin ini. Tapi yah enggak mempan, kayanya tante Ratna lebih suka hidup di dunianya sendiri.” Hiskia lalu duduk dan memeriksa tabel menu makanan, dia membaca satu persatu, memilih makanan apa yang menggugah seleranya. Sebenarnya Agatha tidak tega jika harus meninggalka Zaki, dia berencana membungkuskan makanan untuk Zaki baru pulang ke rumahnya. “Tapi gue heran deh His, emangnya kenapa ya tante Ratna sebegitunya banget sampai enggak mau menerima Zaki sebagai anaknya?” tanya Agatha bingung. “Entahlah gue juga enggak tau. Udah lo pilih makanan aja dulu. Ntar kita bungkusin si Ramdan.” Agatha mengangguk lalu memesan makanan. Sedangkan di rumah sakit, Ramdan sangat gemas dengan ibunya sendiri yang masih terdiam tidak mau berbicara dengannya. “Ma, Agatha itu temen sekolah aku, dia sahabat aku. Apa yang dia omongin ke Mama itu benar Ma. Selama ini aku di sekolah selalu diolok waria, dianggap perempuan, aku sakit hati Ma.” Ratna lalu menoleh, menatap Ramdan. “Kamu itu memang anak mama yang cantik sayang, kenapa kamu merasa terluka sama omongan mereka?” Ramdan menarik nafasnya, dia tidak menyangka ibunya akan berbicara seperti ini. “MA! Aku itu cowok Ma, Mama kenapa sih? Mama kenapa masih mikirin kalau aku itu kakak? Ma, kakak itu udah meninggal Ma! Sadar dong Ma! Aku ini anak Mama, aku Ramdan!” bentak Zaki kepada ibunya. Dia tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya, namun lama kelamaan dia juga lelah harus terus mengikuti perkataan ibunya. Make up, bando, ikat rambut, Ramdan tidak membutuhkan itu semua, yang dia butuhkan kasih sayang yang tulus dari ibunya. Seusai Hiskia dan Agatha selesai makan, mereka berdua kembali ke rumah sakit untuk membawakan makanan, namun langkah mereka terhenti saat mendengar Ramdan bertengkar dengan ibunya. “Kamu bukan anak Mama!” bentak Ratna. Ramdan seketika terkejut dengan ucapan ibunya. Hatinya merasa teriris dan sakit. “Anak mama itu perempuan, bayi mama itu perempuan! Kamu bukan anak Mama! Kamu anak selingkuhan papa kamu! Kenapa kamu yang selamat? Kenapa kamu masih hidup!” teriak Ratna menggila. Ramdan mengerjapkan matanya, mencerna semua kalimat ibunya. “Apa aku meminta dilahirkan di dunia ini? Enggak Ma, aku sama sekali enggak meminta untuk ada di dunia ini, anak selingkuhan Papa? Aku anak haram? Kalau begitu aku enggak pantas kan jadi anak mama? Anak Ratna Wulansari Ningsih, CEO Ratu Skincare yang terkenal, aku enggak pantas kan jadi anak Mama? Oke Ma, aku pergi. Maaf selama ini sudah merepotkan Mama.” Ramdan lalu bangkit berdiri lalu pergi. Ratna hendak memanggil Zaki, namun kalimatnya tertahan di bibirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN