Bab 22

1043 Kata
Zaki tertahan langkahnya saat menatap Agatha dan Hiskia yang ada di depan rumahnya. Dia terkejut melihat kedua temannya. Hiskia menatap Zaki dengan tatapan sendu, dia tau pasti Zaki sangat sedih mengetahui dia bukan anak kandungnya. Mereka berdua menggiring Zaki untuk ke taman rumah sakit, mereka duduk di bangku panjang berwarna putih. Hiskia menepuk punggung Zaki, memberinya kekuatan. Memang sulit mengahdapi kenyataan seperti ini, namun bagaimana lagi? Takdir kehidupan Zaki memang begini. “Gue mau pergi aja dari rumah,” ucap Zaki. Agatha menaikkan alisnya karena terkejut. Pergi dari rumah bukanlah pilihan tepat saat ini. Tante Ratna seharusnya mendapatkan perawatan, Agatha sedikit memahami perasaan tante Ratna saat kehilangan anak kandungnya. Agatha juga merasa sangat kehilangan ibunya. Dia menatap Zaki dengan tatapan serius. “Enggak, lo gaboleh pergi dari kehidupan tante Ratna. Ram, lo itu laki-laki. Gue tau lo emang bukan anak kandungnya, tapi lo dari kecil dirawat kan sama tante Ratna? Seenggaknya lo harus berbakti, lo harus bisa bantu tante Ratna buat sembuh dari rasa trauma kehilangan anaknya. Lo harus bisa kembali buat tante Ratna sehat mentalnya.” Agatha mengusap kepala Ramdan. Entah kenapa ada debaran halus yang menyergap perasaannya, dia merasakan bahwa Agatha gadis yang sangat perhatian kepadanya, Agatha satu-satunya gadis yang peduli tentangnya. Dia merasakan ada kasih sayang yang diberikan kepada Agatha. Bagaimanapun juga, Zaki seorang lelaki yang juga bisa mencintai wanita. “Iya, tapi buat sekarang gue kepingin sendiri dulu. Gue anak haram, gak seharusnya gue ada di sini. Gue kecewa sama diri gue sendiri.” Ramdan menunduk lemah, hatinya terasa campur aduk. Dia bingung bagaimana harus bersikap di depan ibunya, antara malu, marah, sedih dan kecewa. Kenapa ibunya tega tidak mengakuinya sebagai anak. Ramdan tidak pernah merasa bersalah atas perselingkuhan ayahnya, dia juga tidak memilih dilahirkan menjadi anak haram. Begitu perih rasanya, asing dan terasa dibuang oleh ibu sendiri. “Udah, lo kalau mau nangis, nangis aja.” Ramdan menggeleng, dia bukan lagi anak yang cengeng, dia laki-laki, seberat apapun masalahnya dia harus sekuat baja. Sebisa mungkin dia tidak menangis di hadapan temannya. “Enggak, santai aja, bukan masalah besar.” Ramdan mencoba tersenyum meski hatinya pedih. Dia menyuruh Agatha dan Hiskia pulang karena besok ada ujian. Ramdan mungkin akan izin mengikuti ujian susulan, dia ingin menjaga ibunya di rumah sakit. Kakinya kembali melangkah menuju lorong rumah sakit, tangannya menggenggam bingkisan plastik berisi makanan dari Agatha dan Hiskia. Dia duduk di depan kamar rawat inap ibunya. Nyalinya tidak begitu besar untuk menatap ibunya. Kini dia tinggal sendiri, air matanya meluruh begitu saja. Hatinya sakit terluka karena ibunya tak mengharapkannya. Perutnya terasa sakit kelaparan, namun nafsu makannya menghilang. Apa yang Ramdan pikirkan saat ini adalah menyiapkan diri jika ibunya tidak lagi mau menerima kehadirannya. Bagaimana jika ibunya benar-benar mengusir dari hidupnya. Ramdan mungkin akan memilih putus sekolah dan menghilang. Dia akan memilih untuk pergi sejauh mungkin dan tidak mengganggu kehidupan Ratna lagi. Panggilan adzan membuat dia bangkit menuju mushala, satu-satunya penolong bagi Ramdan adalah Allah. Ramdan meringkuk sembari meneteskan air matanya, dia menangis sepuasnya dalam sujud hingga bahunya bergetar, hatinya terasa sangat terluka, seolah tertusuk menyakitkan. Dia kecewa dengan keadaan, dia marah dengan ibunya kenapa harus mengatakan hal seperti itu dengannya. Begitu mengecewakan. Setelah Ramdan selesai salat, dia lalu duduk di depan mushala. Dia melihat seorang kakek tua yang duduk di depan rumah sakit dengan memegang perutnya. “Kek, kakek lapar?” tanya Ramdan. Kakek tua itu mengangguk lemah. Ramdan lalu tersenyum dan mengambil sekotak makanan dari bungkusan plastiknya, dia memberikan kepada kakek tua itu, dengan senang hati kakek itu menerimanya. “Kamu sangat baik Nak, terima kasih. Kamu kenapa bisa ada di rumah sakit ini? Siapa yang sakit?” tanya kakek tua itu sembari membuka makanan. Ramdan ikut membuka kotak makanan lainnya, menemani kakek itu makan malam. Sejenak Zaki merasakan kehangatan, alangkah bahagianya jika dia hidup jika memiliki orang tua yang sangat mencintainya apa adanya. “Enggak ada yang sakit kek, cuma Mama yang lagi capek aja,” ucap Zaki tersenyum. “Oh begitu, kamu rawat dengan baik ya nak ibu kamu. Laki-laki harus bisa menjadi pelindung bagi ibunya.” Deg. Sejenak kalimat itu membuat Zaki menyadari, dia harus melindungi ibunya dengan segenap jiwa raga. Dengan perasaan yang sangat meyakinkan, Zaki lalu kembali ke kamar ibunya. Dia mengintip dari celah jendela, ibunya masih terbaring sembari menatap televisi. Dengan langkah yakin dia masuk ke dalam kamar rawat inap ibunya. Ratna sedikit terkejut karena Zaki kembali, namun masih membisu. “Ma, aku tau aku bukan anak Mama. Aku juga bukan anak yang Mama sayangi. Tapi aku laki-laki Ma, aku diciptakan Allah untuk melindungi Mama. Kalau Mama benci aku enggak papa, tapi aku sayang banget sama Mama. Maaf Ma, kalau aku bukan anak yang Mama harapkan.” Ratna masih terdiam, enggan menatap Zaki. Setiap kali melihat wajah Zaki, Ratna selalu ingat wajah selingkuhan suaminya yang mirip dengan Zaki. Suami dan selingkuhannya meninggal kecelakaan bersama putrinya. Tapi Zaki masih hidup dan selamat dari kecelakaan itu. Ratna sangat membenci keadaan ini. Keadaan yang mengharuskan dia mencintai anak yang bukan dari rahimnya. Meski Ratna masih terdiam membisu, Zaki setia menunggu ibunya duduk di sofa, dia menyelimuti Ratna lalu tidur di sofa. Tanpa mengucapkan selamat malam, Zaki memejamkan matanya, dia menoleh ke arah jendela, memunggungi ibunya. Perlahan air mata menetes, dia sangat terluka, suasana menjadi canggung, namun Zaki berusaha keras untuk memejamkan mata. *** Hiskia mengayuh sepedanya dengan kencang, dia ingin segera menemui Zaki. Hari ini pertama kali dalam hidup Hiskia dia sekolah tanpa adanya Zaki. Biasanya sejak dulu SD Hiskia selalu bersama Zaki. Dia begitu semangat mengayuh sepeda tanpa menyadari menabrak dari samping seorang gadis yang berpakaian seragam sama dengannya. Mereka berdua terjatuh dan terluka. Gadis itu mengalami luka di bagian sikunya. “Duh kalau jalan pakai mata dong!” ucap Hiskia marah. Memang sebenarnya salah gadis itu, dia menyebrang asal tanpa melihat kanan kiri. “Lo tuh yang salah, naik sepeda gak liat jalur!” bentaknya. Mata Hiskia beralih pada name tag gadis itu, Sofia. Badge kelasnya, ternyata sama dengan Hiskia. “Ada yang luka?” tanya Hiskia ketika melihat darah mengalir ke lengan Sofia. Hiskia langsung mengambil air minumnya yang masih ada dan membersihkan luka lengan Sofia dengan hati-hati. Gadis itu meringis kesakitan, dia menahan rasa sakitnya. Hiskia lalu mengajak Sofia untuk ke rumah sakit agar diobat, namun gadis itu malah marah dan menolak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN