Sofia menolak ajakan Hiskia, dia memang terluka namun tidak merasa jika dia harus ke rumah sakit.
“Enggak usah enggak papa, gue pulang aja.”
Hiskia lalu menghela nafasnya, sudah tau terluka seperti itu masih saja menolak ajakannya untuk berobat. Darah segar dari lengan Sofia tak kunjung berhenti mengalir.
“Udah, ikut aja, rumah sakitnya kan gak jauh. Naik sepeda gue,” ucap Hiskia menepuk bangku boncengan belakangnya. Awalnya Sofia ragu, namun lama kelamaan rasanya tangannya terasa perih dan sakit. Dia lalu naik ke atas boncengan Hiskia.
“Pegangan, nanti jatuh.”
Sofia lalu meremas jaket samping Hiskia, dia sedikit takut karena Hiskia mengebut. Sesampainya mereka di rumah sakit, Hiskia langsung membawa Sofia ke UGD dan meminta dokter untuk menyembuhkan gadis itu. Saat Sofia diobati, Hiskia berlari menuju ruang rawat inap tante Ratna. Dia ingin menanyakan kabar Zaki. Langkahnya terhenti saat mendengar pertengkaran kecil lagi.
“Oke, kalau Mama masih enggak mau bicara sama aku, aku pergi Ma. Kalau Mama enggak mau menganggap aku anak, aku bakalan pergi dari hidup Mama.”
Zaki masih menunggu ibunya mengeluarkan kalimat dari bibirnya, namun hingga menit selanjutnya masih tidak ada jawaban. Zaki merasa dibuang dan terluka. Dia tersenyum miris.
“Ma, aku sayang sama Mama. Aku pergi kalau gitu, Mama baik-baik ya di rumah, jangan lupa minum obatnya Ma.”
Zaki lalu membuka pintu, saat itu juga air matanya menetes, dia sangat terluka, tidak menyangka ibunya akan tega seperti ini. Hiskia tertegun saat melihat Zaki menangis, dia memeluknya dan memberi semangat kepada Zaki.
“Lo boleh kok tinggal di rumah gue.”
Zaki menggeleng, dia tidak mau merepotkan Hiskia. Setidaknya dia masih ingat apartemen milik ibunya yang telah lama tidak dipakai. Dia mungkin bisa menggunakan apartemen itu untuk tinggal sementara. Daripada merepotkan Hiskia dan keluarganya, dia berniat hidup mandiri. Menyewa apartemen dan bekerja di restoran. Putus sekolah untuk bertahan hidup mungkin pilihan Zaki.
“Lo kenapa kesini lagi?” tanya Zaki.
“Ya gue khawatir lah sama lo. Oh ya ikut gue ke UGD bentar,” ucap Hiskia. Di sana lengan Sofia telah terbalut perban. Gadis itu merasa lega saat melihat Hiskia, dia pikir ditinggal pergi olehnya.
“Loh? Kamu Zakiya kan?” tanya Sofia. Hiskia menghela nafas dan langsung menyahuti.
“Bukan, nama dia Ramdan, awas aja lo ikut ngeledek dia itu ba.nci.”
Sofia tersenyum menggulung bibirnya dan mengangguk. Dia melihat ada sedikit bekas mata membengkak dan mata Zaki yang memerah. Mungkin karena menangis atau mengantuk karena bangun dari tidur. Sofia merasa sedikit bersalah karena pernah menggosipkan Zakiya juga pada teman-teman di kelasnya.
“Kenapa memangnya? Lengan lo kenapa?” tanya Zaki kepada Sofia.
“Gue enggak sengaja nabrak dia, lengannya sampe berdarah gitu.”
Zaki lalu duduk di kursi samping, dia memijat pelipisnya. Sesungguhnya dia enggan berpisah dengan Ratna.
“Kayanya gue mau pulang duluan deh His, mau kemasin barang sama pindah malam ini.”
“Iya, gue anter sekalian.”
“Gausah, lo mendingan anter Sofia pulang. Ntar biar gue telfon Gatha deh.”
Hiskia mengangguk, dia lalu mengajak Sofia untuk pulang bersamanya.
***
Berulang kali Ramdan memperhatikan kamarnya, dia tersenyum saat melihat foto dia dengan Ratna terpajang di meja belajarnya. Semua yang dia lakukan dan mematuhi semua keinginan Ratna hanya untuk membuat Ratna tersenyum. Sayangnya ternyata Ratna tidak mau lagi menganggapnya anak. Ramdan menguatkan hatinya, dia mengambil satu persatu pakaian yang tertata di lemari, dia mengambilnya lalu menyimpannya dalam koper besar. Untungnya dia masih memiliki uang simpanan untuk hidup setidaknya tiga bulan kedepan, uang dari hasil dia menjual akun gamenya. Mendengar Agatha yang mengetuk pintu, Ramdan membiarkan Agatha menemaninya berberes, sesekali Agatha membantunya melipat baju. Saat melihat Ramdan terluka begini, perasaan Agatha mulai gelisah, entah kenapa ada perasaan tidak tega melihat Ramdan sangat terluka begini. Dia lalu mencoba menghibur Ramdan dengan mengatakan dia tampan menggunakan kemeja hitam. Ramdan ikut tersenyum mendengar ucapan Agatha, tentu saja dia senang, tetapi Ramdan juga tau jika ini hanya membuat dia terhibur sejenak.
Mereka lalu ke apartemen dimana Ramdan akan tinggal. Agatha membantu Ramdan menyapu dan membersihkan debu dan kotoran yang menempel di ruangan. Setelah mereka selesai, mereka memesan makanan pesan antar dan saling bercerita tentang keluh kesah mereka. Saat Ramdan mengatakan akan berhenti sekolah, Agatha terkejut dan seolah lidahnya kelu, dia bingung harus merespon bagaimana. Meski Agatha menawarkan untuk menjadikan ayahnya wali Ramdan, namun Ramdan menolak. Hubungan dia dengan ibunya mungkin sudah putus di sini, dia harus bisa memulai hidup mandiri sejak sekarang. Waktu masa muda dia harus dia gunakan untuk bertahan hidup. Agatha sangat memahami keadaan Ramdan, namun dia berupaya untuk merayu Ramdan agar tetap sekolah. Setahun lagi mereka akan lulus dan bisa melanjutkan ke jenjang kuliah. Mendengar Agatha yang sangat antusias dan serius dengan ucapannya, Ramdan menjadi luluh. Sebisa mungkin pagi hingga sore dia akan sekolah, lalu pulangnya dia akan bekerja. Ramdan juga sangat senang saat Agatha mengatakan akan membantunya mengerjakan PR atau mengajari materi yang sulit. Semakin Agatha membantunya, Ramdan menjadi kagum dan sangat bahagia memiliki teman seperti Agatha. Tentu saja gadis di hadapannya ini sangat senang membantunya, tanpa dia sadari, dia memiliki perasaan kepada Ramdan yang tidak bisa dikatakan bahwa hubungan mereka hanya sebatas teman.
Entah sejak kapan pastinya, Agatha tidak tau, namun sejak dia melihat Ramdan, selalu ada debaran dalam hatinya yang tak menentu. Apalagi perubahan sikap Ramdan yang sekarang menjadi gentleman dan mandiri. Dia semakin kagum dan ingin terus ada di samping Ramdan. Sayangnya, dia masih ragu apakah Ramdan memiliki perasaan yang sama. Keduanya kini saling terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Agatha yang bingung dengan perasaannya dan Ramdan yang bingung khawatir dengan ibunya yang di rumah sakit. Kalau diingat lagi, Ramdan masih samar-samar mengingat saat dia masih berusia tiga tahun, ayah dan ibunya sering bertengkar. Sayangnya kalau dia anak selingkuhan ayahnya, dia tidak tau siapa ibu kandungnya, Ratna selama ini menutupinya karena tidak mau mengingat kejadian menyakitkan di masa lalu. Ramdan sangat memahami bagaimana perasaan Ratna. Dia tau jika tinggal bersama akan membuat mereka saling menyakiti. Ramdan berharap pilihan dia tidak salah. Dia berharap tidak ada yang merasa kesepian, baik dia ataupun ibunya.
Dia berharap keputusannya tinggal di sini bukanlah hal yang salah. Suatu hari jika dia memiliki uang cukup yang lebih, dia berniat menyewa kamar apartemen yang lainnya. Sebisa mungkin Ramdan menjauhi ibunya agar perasaan ibunya tidak lagi terluka.