Bab 24

1068 Kata
Saat Ramdan mengemasi barangnya, dia baru menyadari handphonenya tertinggal di kamarnya. Dia hendak mengambilnya namun berpikir dua kali. Ramdan memilih mengajak Agatha untuk ke mall membeli handphone baru. "Hp lo kemana emangnya? Kok bisa ilang sih?" tanya Agatha sembari memakan kripik kentang di tangannya. Rasanya tidak pas bagi Agatha jika belum memakan camilan setelah makan berat. Hebatnya, badannya tetap langsing meski banyak makan. "Hp gue ada di rumah, tapi males ngambil ke rumah lagi. Mending beli baru aja deh."  Agatha hendak berkomentar, namun dia membungkam mulutnya, dia mencoba memahami perasaan Ramdan saat ini. Kalau kembali ke rumahnya yang dulu dia pasti merasakan kesedihan kembali. "Oh gitu, iyaudah ayo deh gue temenin beli baru. Ada keluaran baru setau gue, galaxy A52," ucap Agatha tersenyum. "Boleh, ayo deh. Lo cepetan ngemilnya." Ramdan bangkit mengambil dompet dan tas kecilnya. Agatha menggulung kemasan kripik kentangnya lalu mengaretinya. Mereka berdua menuju mall dengan berjalan, tidak butuh waktu lama, jarak apartemen dengan mall sangat dekat. Keduanya sibuk memilih, sampai Agatha lupa mengabari ayahnya untuk pulang terlambat, tentu saja ayahnya sangat panik mencari Agatha, hingga saat ini anaknya masih belum pulang juga. Berulang kali ayahnya menelponnya, namun tidak bisa menyambung. Dia gemas kepada Agatha yang mulai berani pulang malam. Ayahnya mencari Agatha ke sekeliling sekolah, namun anaknya tak ada di sekolah. Hanya ada beberapa anak basket yang masih latihan untuk pertandingan satu minggu lagi. “Maaf mas, apa tau anak saya Agatha?” tanya Hendra kepada sala seorang murid. “Agatha? Oh Agatha kelas dua ipa 3 pak?” tanya Rama salah satu anak basket yang membenarkan headbandnya. “Iya Mas, kenal mas dengan anak saya? Apa tau dia ada dimana ya?” tanya Hendra. Rama melihat sekitar, biasanya Agatha selalu pulang tepat waktu dan jarang ikut melihat latihan basket. “Aduh kayanya saya lihat tadi Agatha pulang duluan Om. Coba om telfon Hiskia atau Ramdan, dua orang itu temen Agatha.” Hendra lalu menyimpan nomor yang diberikan Rama. Dia mencoba menghubungi kedua orang itu namun masih sama tidak ada jawaban. Hendra lalu meminta alamat rumah Hiskia dan mengunjunginya. Entah kenapa dia sangat resah dengan Agatha. Tidak biasanya anaknya pulang malam begini. Panggilan telepon membuat dia menghentikan langkahnya, dia begitu senang saat melihat nama Agatha tertera di layar handphonenya. “Kamu dimana Tha?” tanya Hendra. Sebenarnya dia sudah agak emosi atas kepergian anaknya tanpa pamit. “Oh aku di mall Yah, dekat kok dari rumah. Lagi nemenin temen beli handphone baru, ayah dimana? Sudah selesai melatihnya?” tanya Agatha. “Mall mana? Ayah ke sana sekarang. Tunggu di foodcourt, ayah lapar.” Seketika Agatha tersenyum dan mengiyakan menunggu ayahnya di foodcourt dengan Ramdan. Mengetahui ayah Agatha akan datang, Ramdan terlihat panik karena bingung bagaimana harus bersikap, ini pertama kali baginya bertemu dengan ayah Agatha. “Ayah kamu marah enggak nanti aku ajak kamu main?” tanya Ramdan. Agatha tertawa, tentu saja jawaban Agatha tidak. Dia menyuruh Ramdan duduk dan memesan minuman. Ramdan melihat handphone barunya. Dia merindukan hp lamanya, terkadang Ramdan berpikir apakah ibunya akan datang menjemputnya atau sekedar mencarinya. Ramdan merasa terluka karena dia sama sekali tidak dicari oleh ibunya, seolah ibunya biasa saja mengetahui Ramdan yang menghilang. Tak lama, Agatha kembali dengan membawa tiga minuman, dia memesankan ayahnya hot chocolate. Untuk Ramdan dia tidak tau lelaki itu suka apa, tetapi dia membawakan vanilla latte dan macchiato untuknya sendiri. “Kamu suka Vanilla Latte?” tanya Agatha kepada Ramdan sembari meminum Macciatonya. Ramdan mengangguk, dia bukan tipe pemilih dalam makanan, semuanya dia suka asal halal. Ramdan menikmati Lattenya, beberapa menit kemudian ayah Agatha datang. “Lain kali, kalau kamu mau berpergian, pamit dulu. Ayah khawatir dengan kamu.” Ramdan menyalami ayah Agatha. “Maaf Om, saya tadi yang ajak Agatha untuk ke sini langsung, karena hp saya sedang ada masalah, maaf ya Om saya enggak pamit dulu.” Hendra melihat Ramdan dari atas hingga bawah, penampilannya rapi dan terlihat seperti anak baik-baik. “Iya, yasudah enggak papa. Kita makan dulu aja ya.” Mereka lalu memesan makanan dan saling bercerita tentang pekerjaan Hendra yang merupakan guru bela diri. Dulu saat masih muda, Hendra adalah atlet nasional karate, dia sangat menyukai olahrga. Kini Ramdan tau kenapa Agatha sangat tomboy dan lihai dalam bela diri. “Rumah kamu dimana? Orang tua kamu enggak mencari kamu?” tanya Hendra. Sebenarnya Ramdan malu menceritakan permasalahannya, namun dia ingin didengar dan curhat kepada Hendra. Saat melihat Hendra dia merasa seperti menemukan seorang ayah dalam hidupnya. Ramdan menceritakan semuanya, dari awal kecelakaan ayahnya meninggal sampai ibu tirinya yang menganggapnya anak perempuan. Dia juga menceritakan sekarang tinggal sendirian di apartemen. “Lalu bagaimana kamu kuliah nanti?” tanya Hendra. Ramdan menggeleng dan tidak tau harus bagaimana. Kuliah seperti mimpi yang sulit dia raih. Biaya dan semuanya, dia tak tau apakah sanggup. Kini dia hanya memfokuskan diri untuk bertahan hidup. Sepertinya Ratna sudah tidak peduli ataupun mencarinya lagi. “Kalau kamu membutuhkan dana ataupun wali, Om mungkin bisa membantu, kamu tenang saja. Usia kamu masih muda, masih banyak rintangan yang harus kamu hadapi. Kamu harus bisa bertahan hidup. Jangan sampai kamu mengecewakan diri kamu sendiri. Kamu harus kuliah, Agatha juga pasti senang kalian bisa kuliah bersama.” Ramdan tersenyum senang mendengar ucapan Hendra, dia seperti menemukan sosok baru dalam hidupnya yang menyelamatkannya dan keterpurukan. Ramdan menjadi yakin dia pasti bisa kuliah. “Iya Om, saya akan memulai lagi kehidupan baru. Saya mungkin akan kuliah ketika mendapatkan pekerjaan.” Hendra mengangguk senang mendengarkan Ramdan yang optimis melanjutkan sekolahnya dengan baik. Dia tau Ramdan murid yang cerdas dan tangkas. Dia yakin suatu saat Ramdan akan menjadi anak yang sukses dalam segala bidang. Melihat dia memutuskan hidup mandiri saja membuat Hendra kagum, dia yakin Ramdan pasti bisa melewati rintang demi rintangan dalam hidupnya. “Ini sudah jam malam, kalau begitu ayo kita pulang.” Mereka bertiga lalu masuk ke dalam mobil Hendra, dia mengatarkan Ramdan dan pulang bersama putrinya. Saat sampai di rumah, Hendra menatap putrinya sembari tersenyum. “Jadi itu laki-laki yang kamu sukai? Yah ... tampan. Kelihatannya dia juga baik,” ucap Hendra menggoda putrinya. “AYAH! Kenapa bilang begitu sih? Aku sama Ramdan cuma teman ayah!” ucap Agatha menggembungkan pipinya. “Justru kalau kamu marah begini, itu artinya kamu ada rasa dengan dia, iya kan? Enggak papa, kamu remaja sudah pasti melewati masa muda, cuma ayah berpesan, jaga diri kamu baik-baik Nak.” Hendra memeluk anaknya dan mengecup keningnya penuh kasih sayang. Satu-satunya harta berharga yang Hendra miliki hanya Agatha.              
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN