Sebuah Rencana
Kumenemukan mu digaris yang sudah kutata rapi.
Mula yang tidak kusangka,
juga kebodohan yang sejak awal nekat ku lalui.
***
"Kau serius akan melakukan ini Lea?" seorang laki-laki berkacamata tebal bertanya lagi. Mengulang pertanyaan yang sama kepada wanita disebelahnya, entah sudah yang keberapa kalinya.
Wanita yang dimaksud langsung menatap tajam lelaki berkacamata itu. "Shut up! Jangan membuatku ragu Pietro! Aku tidak punya pilihan!" katanya berujar pasrah. Menghela nafasnya berat, namun itu harus dilakukan, ia tidak mempunyai pilihan lain, atas rencana gila itu. Yang terpenting, ia harus menemukan kebenarannya, meski menggunakan cara paling buruk seperti itu.
"Oke baik. Berhati-hatilah. Pilihanmu begitu bahaya!" Pietro kembali meyakinkan wanita disebelahnya. "Kalau saja kau bukan sahabat terbaikku, aku tidak sudi membantumu." ujarnya sarkas. "Yeah, kau tahu betapa bahaya lelaki bernama Altair itu!" sambungnya seraya menatap Lea lekat.
Lea menghela napas lagi, berulang kali meyakinkan dirinya sendiri. Sebetulnya ia tidak suka berada pada kebisingan ini.
Tapi tidak masalah, semua demi Serena dan Dryna. Sebab, Lea begitu menyayangi kedua orang itu. Jadi, tidak masalah semua ini harus ia lewati, meski hatinya ketar ketir bukan main.
Masih bersembunyi dibalik rumput tinggi dan semak-semak bersama Pietro, Lea menyaksikan balapan liar yang terjadi dihadapannya. Dengan perlengkapan ala kadarnya, juga kejar-kejaran tanpa peduli resiko yang dihadapi, Lea tahu itu balapan tanpa aturan.
"Sebentar lagi, setelah putaran ketiga, saat aku teriak, kau langsung berlari." jelasnya. Pietro menatap lekat wanita disebelahnya. "Kebetulan Altair berada diposisi pertama. Jadi, saat dia berjarak dua puluh meter darimu, setelah hitungan ketiga, kau langsung berlari ketengah sana. Oke? Jangan terlalu dekat, atau kau akan mati!" sambungnya lagi, berusaha menjelaskan dengan tenang, meski harus disibukkan pada dua objek dihadapannya.
Lea hanya mengangguk. Berusaha memahami seluruh penjelasan dari sahabatnya tersebut.
Dalam pekatnya malam, Lea berusaha meminimasirkan kekhawatirannya. Disana, dibalik rumput hijau tempatnya bersembunyi, Lea menyaksikan berpuluh-puluh motor yang sedang melaju dengan gila.
Menatap bingung dan juga linglung pemandangan gila didepannya kali ini.
Aneh, karena matanya tidak teralihkan pada laki-laki misterius yang sudah menjadi incarannya disana.
Lelaki yang memiliki gelar kejam dan songong bernama Altair Ataya Davendra Kennedy. Hell, satu Bima Sakti pasti mengetahui itu. Siapa yang tidak mengenal keluarga Kennedy?
Namun, lamunan Lea terhenti karena suara Pietro.
"Lea bersiaplah!" katanya kemudian.
Lea langsung membenarkan posisinya, mengangguk mengerti sambil mengatur nafasnya. Apalagi saat Pietro mulai menghitung.
"SATU-DUA-TIGA!!"
Lea memejamkan mata, kemudian berlari ketengah sirkuit balap tersebut. Tidak memikirkan apapun, selain rencana yang telah disusunnya harus berjalan lancar.
Altair yang melihat kehadiran seseorang secara mendadak, langsung menghentikan ninjanya kalut.
Sebuah dentuman keras dan dercitan ban memekak telinga Lea. Ia spontan berteriak, karena motor Altair menyenggol sedikit tubuhnya. Walaupun tidak kuat, tapi ninja itu berhasil membuat Lea tersungkur.
Dengan tatapan marah, Altair membuka helm fullfacenya, melempar kasar helm tersebut kesembarang arah. Dia benar-benar gusar.
Sementara yang lain, tidak ada yang mempedulikan kejadian itu, mereka hanya terus melajukan motornya, karena pertandingan kali ini memiliki nilai yang besar.
Altair menatap wanita itu marah, mata hazelnya terlihat membara. Dia menarik tangan Lea kasar, menyeretnya kepinggiran, karena jika tidak mereka berdua akan mati terlindas ditengah sana.
Bersyukurlah, wanita gila itu hanya tersenggol, karena jika tidak Altair tidak dapat membayangkan hal buruk yang terjadi setelah ini.
Sesampainya pada pinggiran sirkuit, Altair berusaha menyamakan posisinya agar sejajar dengan milik wanita itu. Tangannya mengepal kuat, Altair dibuat seolah-olah ingin menghancurkan apa saja yang mengusik pertandingannya.
"Kau sudah gila?!!" Altair berteriak marah. Yang membuatnya semakin gusar karena wanita itu tak kunjung membuka suara. Ia hanya menangis dengan mata terpejam. "Buka matamu! Kau buta? Atau kau Tuli?!" decaknya kemudian.
Perlahan Lea membuka matanya, menyentuh kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing dan penat.
Sesaat Lea melirik pada jemarinya, kemudian berpindah menatap mata hazel dihadapannya, tatapan lelaki itu seperti akan menerkamnya.
Lea meneguk salivanya susah payah, kembali melirik pada jemarinya yang kini sudah dipenuhi darah. Lea syok seketika.
"Apa yang kau lakukan. Kau ingin bunuh diri? Kau gila?!!" Altair berteriak lagi. "Kau merusak pertandinganku b***h!!" gusarnya lagi.
Shit, apa katanya? b***h? Bastard sialan!
Lea baru saja akan menjawab, ketika tiba-tiba penglihatannya mulai kabur. Kakinya terasa lesu dan pijakannya melemah. Hingga akhirnya, Lea jatuh dan mulai tidak sadarkan diri.
Altair mengacak-acak rambutnya frustasi. Bingung sendiri oleh cobaan mendadak yang dihadapinya saat ini. Ketika dari arah berlawanan keempat sahabatnya terlihat berlari menghampiri.
"Oh-uh, apa yang seorang Altair lakukan saat ini?" itu suara pertama dari Deo sahabatnya.
"Lakukan sesuatu bodoh! Kau membuatnya kehilangan banyak darah!" Kevin ikut bersuara, bergidik ngeri menatap wanita yang tergelatak diatas rumput itu.
"Wanita gila ini berlari ditengah sirkuit!" Altair menjawab pasrah. Masih memikirkan apa yang harus dilakukannya kepada wanita gila tersebut.
"Altair! Jadilah lelaki yang bertanggung jawab. Kau yang membuatnya seperti itu!" kini Rendra ikut menyuarakan protesnya.
"Tidak, bukan salahku! Dia yang berlari ketengah sana!" Altair masih bersikeras. Sudah cukup, dia tidak ingin berurusan dengan wanita lagi. Tidak sampai hatinya siap menerima semua pengkhianatan yang telah terjadi.
"Altair, cepatlah! Kau ingin gadis itu mati?" kini Lucas yang bersuara.
Akhirnya, setelah menghela nafas berat dan mengabaikan seruan teman-temannya, Altair mulai mengangkat tubuh wanita tersebut.
Membawanya menuju sedan yang terletak tidak jauh dari posisinya.
Secepat kilat Altair meletakkan wanita itu dibangku penumpang, memasangkan seatbelt milik wanita tersebut seraya melajukan sedannya, setelah memastikan semuanya aman.
Altair berlalu seorang diri, ninjanya yang terjatuh diaspal tadi akan diurus oleh para krunya.
Tidak ada lagi yang Altair pikirkan selain, kenapa wanita ini bisa ada disana?
Sementara Pietro, sejak tadi dia masih bersembunyi ditempatnya. Dia tidak memiliki kesempatan untuk menolong Lea karena jika sampai ketahuan, Pietro yakin dia akan terlibat dengan semua rencana gila Lea.
Akhirnya dia berlalu dan pergi dari tempatnya dan Lea bersembunyi tadi. Syukurlah, Lea hanya tersenggol sedikit oleh motor besar milik lelaki bernama Altair tersebut.
Tidak peduli Pietro dianggap pengecut, karena ini semua demi Lea--sahabatnya.
Jadi, memutuskan untuk pergi, nanti saja Pietro menemui sahabatnya itu. Tunggu hingga Lea sadar. Dan berharap bahwa Lea akan baik-baik saja.
Semua perawat di Instalasi Gawat Darurat langsung menyediakan tempat dan memindahkan Lea keatas kasur yang tersedia disana.
Setelah memasangkan infus dan beberapa peralatan lainnya, tidak lama seorang Dokter yang sedang bertugas langsung memasuki ruangan tempat Lea dibawa.
Mulanya Altair biasa saja. Namun semakin lama, perasaannya malah mendadak kacau. Dia sudah bersumpah tidak ingin berurusan dengan wanita sejak kejadian tiga bulan lalu. Namun, siapa sangka Tuhan malah memberinya cobaan yang membuat Altair melanggar sumpahnya sendiri.
Altair masih berdiri didepan pintu kaca yang tertutup itu. Pikirannya semakin kacau karena kini terlihat seorang Dokter datang lagi, tengah memasuki ruangan untuk membantu wanita bodoh tersebut.
's**t! Apakah separah itu??' rutuk Altair dalam hatinya.
Altair bisa saja menghubungi asisten Papanya untuk menyelesaikan masalah ini. Namun, hatinya malah berkata lain. Dia dibuat seolah-olah harus ikut andil dalam masalah ini. Dia juga harus meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa wanita itu akan baik-baik saja. Dan Altair harus mempertanggung jawabkan itu semua.
Satu jam telah berlaru, ketika akhirnya dokter dan perawat disana keluar dengan wajah yang tidak dapat Altair simpulkan.
Namun, salah satu dokter itu berjalan menghampiri Altair, mungkin bingung mendapati Altair yang sejak tadi berdiri didepan pintu ruangan itu. Terlihat bodoh karena semua orang tahu wajahnya malah begitu panik.
"Apakah anda wali dari nona disana?" Dokter itu bertanya sambil menunjuk Lea.
Altair bisa saja menjawab tidak dan kabur dari rumah sakit itu secepat mungkin. Namun sial-nya, hati dan pikiran-nya menunjukkan sesuatu yang tidak sinkron. Hal tersebut membuat-nya malah mendesah gusar.
"Yes Dok. Apakah wanita itu baik-baik saja?" Altair berusaha bertanya dengan tenang.
"Oke, silahkan ikut keruangan saya terlebih dahulu." Dokter itu berujar seraya melangkah pergi. Membuat Altair tidak punya pilihan lain selain mengikuti.
'Ish kenapa lagi ini!" rutuk-nya dalam hati.
Setelah sampai diruangan yang serba putih itu, Altair berusaha menahan muntah-nya. Jujur, sejak dulu dia sangat benci berada dirumah sakit. Kalau saja bukan karena wanita gila itu, semua hal buruk ini tidak akan Altair lewati.
Beruntung-nya dokter tersebut langsung membuka suara. "Begini, nona itu mengalami patah kaki. Sedikit beruntung, karena itu tidak terlalu parah. Setelah beberapa bulan melakukan perawatan dan terapi, mungkin semua-nya dapat kembali berjalan normal,"
Altair menghela nafas berat. Tidak percaya atas apa yang baru saja didengar-nya. Dia hanya yakin, sesuatu yang buruk akan menimpa-nya sehabis wanita bodoh itu sadar, pasti. Altair bahkan sudah dapat menebak-nya.
"Dia istrimu?" tanya dokter itu karena Altair tak kunjung membuka suara.
Mendengar itu, Altair langsung tersedak saat itu juga. Dia menatap tajam dokter dihadapan-nya, dilihat dari name tag diseragam-nya, beliau bernama dr. Molgen Harrier.
"No! Saya masih mahasiswa dok." Ucap Altair membela diri. Tanpa sadar Altair sedikit berteriak dihadapan dokter bergelar Sp.S ( Sarjana Spesialis Syaraf ) itu.
"Wo, tenanglah. Saya hanya bertanya." Kata Dokter itu terkekeh geli.
Altair sadar dia sudah berlebihan, tapi apa. Istri-nya? Siapa juga yang mau menikah dengan wanita tidak jelas itu, kata Altair dalam hati-nya.
"Boleh saya bertanya lagi?" kata dokter itu kembali. Membuat Altair menatap dokter itu dengan kening mengkerut. Menebak-nebak pertanyaan dari dokter dihadapan-nya ini.
"Kau sangat mirip dengan sahabat-ku. Maaf jika aku bertanya ini, tapi apakah kau anak David? David Kennedy?" kata-nya penasaran. Dokter itu terus menatap lekat wajah Altair.
Altair berlonjak sesaat, kemudian berusaha meminimalkan keterkejutan-nya. "Dokter mengenal Papa-ku?" tanya-nya tidak percaya. Sialan, akan runyam jika sampai dokter ini memberitahu kepada orang tua-nya.
"Benarkah? Pantas saja sejak awal aku merasa ada yang berbeda dengan mata-mu. Kau sangat mirip dengan-nya!" Dokter itu begitu antusias melihat Altair. Altair hanya terkekeh, sambil memikirkan bagaimana cara-nya berunding.
"Hm, begini. Bisakah Dokter merahasiakan ini dari Papa-ku?" kata-nya sedikit memohon.
Dokter itu memiringkan sedikit kepala-nya, berusaha mencerna perkataan anak muda dihadapan-nya ini. Sebelum akhir-nya kembali terkekeh. "Oke, kau tidak ingin Papa-mu tahu, bahwa kau menabrak seorang wanita?" kata-nya menggoda Altair.
Altair lantas membelalakkan mata tidak percaya, dokter dihadapan-nya itu begitu pintar memahami semua situasi. "Bu-bukan begitu dok. Aku hanya, tidak ingin Papa khawatir!" kata-nya ragu.
Sial, Altair malah terbata menjawab pertanyaan dokter tersebut.
Namun, respon dari dokter itu malah membuat Altair kesal.
Lihat, sekarang dokter itu malah tertawa disana. "Baik. Baiklah, ini kartu nama-ku. Datang-lah setiap dua minggu sekali untuk melakukan konsultasi." Kata-nya menjelaskan seraya menyerahkan sebuah kartu nama kepada Altair.
Altair menerima cepat kartu nama itu, mungkin dia memang sudah terjebak ditengah-tengah wanita aneh dan gila itu. Ketika sebuah ketukan dari ruangan dokter tersebut, membuat Altair menoleh.
Seorang perawat wanita masuk, tentu saja setelah dokter tersebut mengizinkan-nya. "Permisi Dok, pasien tadi sudah sadar." Kata-nya sopan.
Sial-nya, tanpa permisi Altair malah melangkah cepat keruangan wanita itu. Meninggalkan senyum yang sudah terpampang rapi dibibir dokter Molgen tersebut.
Lea membuka mata-nya perlahan, kepala-nya masih berdenyut kuat. Namun Lea tetap memaksakan mengingat hal gila yang sudah dilalui-nya. Lea menoleh, mendapati tangan-nya sudah di-infus.
Lea mengerang saat ingin menarik kaki-nya, denyutan lebih terasa kuat dari bawah sana. Akhirnya, dari balik selimut yang menutupi sebagian tubuh-nya Lea mengintip sesaat dan tercengang.
Disana, kaki sebelah kiri-nya terlihat sudah dipasang gips dan juga perban yang banyak. Hal tersebut, lantas membuat Lea panik sendiri. Ia spontan terduduk, merutuki kelakuan gila yang membahayakan nyawa-nya itu. Lea mendengus, berharap semoga saja kaki-nya tidak kenapa-kenapa.
Kepanikan Lea berlipat ganda, karena lelaki songong itu tampak tengah berjalan kearah-nya. Lea lantas berbaring kembali, berpura-pura memejamkan mata-nya lagi. Namun, suara mengintimidasi dari lelaki itu membuat Lea segera membuka mata-nya kembali.
"Jangan berpura-pura tidur. Bangun, sebelum aku menendang kaki sialan-mu itu!" kata-nya tajam. Dia masih menatap Lea gusar.
Lea langsung meringis saat itu juga. "Heh, apa katamu? Kaki sialan? Kau yang sialan karena telah menabrak-ku!" Lea gusar sambil meninggikan suara-nya. Lelaki itu benar-benar membuat emosi-nya naik turun. Benar kata Pietro, lelaki ini memang sialan!
"Kau yang berlari ketengah sirkuit, dan kini kau menyalahkan-ku?" Altair berujar tidak terima.
Lea terkekeh. Dia balas menatap tajam mata hazel dihadapan-nya itu, tidak peduli walaupun tatapan itu penuh intimidasi. Lea bukan wanita lemah yang langsung menyerah oleh tatapan tajam lelaki itu. "Siapa suruh kau tidak melihat kedatangan-ku. Buang saja helm fullface mu itu!"
Altair balas terkekeh. "Eh wanita gila! Kau benar-benar menyalahkan-ku disaat semua itu adalah ulahmu?" kata-nya tidak percaya. Dia menggeleng tidak habis pikir. "Mari kita luruskan ini. Sebenar-nya, apa yang kau lakukan disirkuit itu?" sambung-nya ingin tahu.
Altair memiringkan kepala-nya, berusaha mendengar jawaban dari wanita yang sampai kini maish tidak dia ketahui siapa nama-nya.
"Menangkap pokemon!" Lea berteriak sebal. Setelah memikirkan banyak alasan yang cocok. Sialnya, malah hal bodoh dan tidak masuk akal itu yang keluar dari mulut-nya.
Sontak saja jawaban Lea, membuat lelaki dihadapan-nya mengerutkan dahi, bingung. Sebelum akhir-nya tertawa nyaring. "A-ah, tidak salah sejak awal aku menyebut-mu wanita gila!" kata-nya mengejek. Membuat Lea malah menatap lelaki itu gusar.
"Baiklah, kalau begitu semua itu salah-mu. Jadi, biarkan aku pergi dan kita impas. Aku tidak ingin berurusan dengan wanita gila seperti-mu!" kata-nya seraya membalik badan dan hendak melangkah pergi.
Lea spontan berteriak, tidak ia tidak boleh menggagal-kan rencana yang telah disusun-nya sejak awal. Dia harus tetap menahan lelaki itu. Lea harus membuat Altair merasa bersalah, agar ia dengan mudah menemukan informasi yang mengganjal hingga hari ini. Jadi, dengan semua usaha-nya, meski tanpa tahu malu lagi Lea harus tetap menahan lelaki itu.
"Altair! Berhenti, dimana tanggung jawab-mu?" kata Lea, dia masih menahan diri. "Aku terluka, kaki-ku patah. Tidak bisakah, kau beri sedikit rasa kasihan-mu itu untuk-ku?" akhir-nya Lea berujar pasrah.
Altair membalikkan badan lagi. Menatap heran wanita gila dihadapan-nya itu, bukan-nya terlihat sakit, ia malah tampak baik-baik saja. "Rasa kasihanku? Aku tidak suka mengasihani orang yang tidak ku kenal!" kata-nya sarkas. "A-ah satu lagi, Altair? Kau bahkan mengetahui nama-ku." Tanya-nya heran.
Dia masih berdiri diambang pintu, malas mendatangi wanita gila disana. Kepalanya saja sudah mau pecah mengurusi wanita aneh itu.
"Satu Kampus juga mengenal-mu!" teriak Lea frustasi.
"Oh, kau satu kampus denganku?" kata-nya tidak percaya. "Sayang-nya, aku tidak peduli. Jadi, hubungi keluargamu. Aku tidak punya waktu meladeni wanita gila seperti-mu!" kata-nya seraya berbalik dan meraih gagang pintu ruangan itu.
Dan, dengan sangat terpaksa Lea harus mengeluarkan kartu emas-nya. Agar si-songong itu akan bertanggung jawab, sesuai yang telah Lea rencanakan.
"Pergilah. Tapi aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi orang-orang saat mengetahui seorang Altair yang banyak dipuja-puji ternyata seorang pemakai narkoba!" teriak Lea kuat. Ia sengaja menekankan kata-kata terakhir-nya.
Dan benar saja, perkataan Lea berhasil membuat Altair mengurungkan niat-nya. Altair menghempas kasar pintu ruangan itu lagi, berbalik badan dan melangkah mendekati Lea. Menatap wanita itu gusar. Ralat, menatap wanita menyebalkan itu marah.
Lea tersenyum kecut, mendapati lelaki songong itu kini tengah memandang-nya marah. Urat dileher-nya menegang, tangan-nya terlihat mengepal kuat. Namun, Lea terlanjur tidak peduli.
"Sialan kau!! Siapa kau sebenar-nya?" teriak-nya marah. Dia menarik dagu Lea kasar, membiarkan posisi mereka berhadapan, sehingga Lea dapat merasakan deru nafas lelaki dihadapan-nya itu.
Lea tercekat. Sial, jantung-nya tiba-tiba berdebar mendapati perlakuan spontan lelaki songong itu.
"Lepaskan aku!" teriak Lea seraya menggeleng. Namun usaha-nya gagal, karena Altair semakin kuat menahan wajah-nya. "Lepaskan aku bodoh! Tidak cukup kau membuat kaki-ku patah? Sekarang kau mau menghancurkan wajahku??" seru Lea lagi.
Hal tersebut membuat Altair menguraikan tangannya, menatap tajam wanita dihadapannya itu.
Baru kali ini, ada yang terang-terangan berani melawannya. "Apa mau mu?" decak Altair akhirnya.
"Bertanggung jawablah!" paksa Lea kemudian.
Altair terlihat mengimang permintaan wanita itu sesaat, sambil membuang napasnya kasar, dia berujar pasrah. "Oke dengan syarat, jangan pernah membahas masalah yang kau tahu itu didepan ku!"
Lea tersenyum senang. Rencananya berjalan lancar.
Lelaki songong itu, berhasil dikelabuhinya.