Kumenjelma menjadi sebuah keinginan. Merangkup dalam kurun yang sama, lalu terpendam dalam sakit yang berbeda. *** Clarissa masih menangis tersedu-sedu. Tidak percaya pada apa yang baru saja terjadi. Pertengkaran suami dan anaknya menjadi hal yang tidak dia harapkan. David jarang bertengkar dengan Altair, walaupun suaminya itu marah, itu hanya sesaat dan tidak pernah sekasar ini. Namun ini berbeda, semua perkataan yang tidak seharusnya terucap, malah tercetus karena emosi yang menyerang. "Sayang--sudahlah." David berusaha menenangkan. Meski dengan emosi yang masih mendidih di kepalanya. "Berhenti?! Kau mengusir anakku, David!!" teriak Clarissa frustasi. Dia menatap tajam suaminya tersebut. "Itu karena dia pantas mendapatkannya!" sahut David, masih geram atas perlakuan putranya i

