Mulai Membangkang

1634 Kata
Angga baru saja memarkirkan motornya di teras rumah saat Inaya berteriak dari dalam memanggil namanya. “Kak Angga!” teriak Inaya bersemangat. Angga berdiri di depan pintu menatap adik bungsunya yang ceria itu. “Kenapa?” tanya Angga pada adiknya. Bukan menjawab, Inaya malah masuk ke dalam dan membawa seorang bocah perempuan yang sebaya dengannya. Anak itu terlihat pemalu atau mungkin pendiam, Angga hanya melihat ia tak seceria adiknya, tapi tetap tersenyum lebar saat melihat Angga. “Kak, kenalin ini teman Inaya.” Inaya antusias mengenalkan temannya pada sang kakak. Angga sampai tersenyum dibuatnya. Apa sepenting itu adiknya mengenalkan temannya padanya. Lucu aja sih! Tapi, tak heran, tingkah Inaya memang menggemaskan seperti itu. “Hai, teman Inaya!” ucap Angga menunduk sambil membelai rambut bocah itu. “Kok memanggilnya teman Inaya sih, Kak?” protes Inaya seolah temannya tak memiliki nama. “Kan kamu nggak kasih tau namanya,” gurau Angga. “Enzy, Kak. Enzy namanya!” ucap Inaya sedikit berteriak. “Oh,” ucap Angga. “Hai, Enzy!” Angga mengulang sapaannya yang tadi sempat diprotes adiknya. “Gitu dong!” Inaya tersenyum puas. Enzy juga ikut tersenyum, begitu pun Angga. Anak-anak ini sedikit menghibur hatinya yang ditimpa kenyataan pahit. “Zi, kenalin ini kakakku yang pertama. Namanya Kak Angga. Kadang ngeselin sih, suka jailin aku, tapi sebenarnya Kak Angga tuh orangnya baik.” Panjang lebar Inaya mengenalkan Angga pada temannya, membuat Angga tertawa lepas. Enzy hanya tersenyum. “Udah ya, Kak. Kita balik dulu ngerjain PR matematika.” Inaya berlari bersama temannya kembali ke meja belajar di ruang tengah. Angga menggelengkan kepala mengingat tingkah adiknya yang lucu, ia tersenyum. Namun, senyum itu memudar begitu ia melihat papanya turun dari tangga. Langsung saja Angga menuju dapur, ingin mengambil minum. Entah mengapa melihat papanya selalu membuat Angga merasa gerah. Ia juga menghindari bertemu dengan lelaki bernama Bima itu. Angga hanya takut salah bersikap dan kalap atau kecoplosan di depan Nindita, dan malah membuat mamanya curiga. Bima menoleh ke belakang, memastikan Nindita tak ikut keluar dari kamar. Tadi Bima melihat istrinya baru akan memulai shalat dhuhur. Melihat Angga yang berjalan ke dapur, Bima juga ikut menuju dapur. Ia merasa harus bicara empat mata dengan anak sulungnya dalam kondisi kepala yang dingin. Bukan dengan amarah yang meluap-luap seperti waktu itu. “Ga!” panggil Bima. Angga yang tengah minum dan bersandar di dinding dekat dispenser, sedikit terkejut dengan kedatangan papanya. Lelaki itu menoleh, menatap lawan bicaranya. Secepatnya ia alihkan pandangannya dari wajah itu. Angga mengembuskan napas kasar, terlalu malas berhadapan dengan papanya. Ia meletakkan gelas di bawah wastafel dan melangkah menjauhi Bima. Angga ingin masuk ke kamar, itu lebih baik daripada amarahnya pecah karena kemarahan yang tertahan. “Papa mau ngomong!” tegas Bima menahan langkah anaknya. Angga menatap sinis papanya, ia merasa lelaki itu sudah tak berhak menahan langkahnya. “Papa punya hak untuk ngomong, dan aku punya hak untuk tidak mendengar.” Mata lelaki berseragam itu menatap tajam pada Bima. “Angga!” Bima merapatkan giginya. Anak lelakinya sudah keterlaluan sekali. Ia merasa Angga sudah tak ada hormat sama sekali dengan dirinya. Bima menahan diri untuk tak memarahi Angga, karena Nindita pasti akan bertanya apa sebabnya. Pun anak itu selama ini begitu penurut dan cinta orangtua. Bagi Bima, Angga yang bersikap berusaha menjaga rahasia pernikahan keduanya, ia sangat bersyukur untuk itu. Meskipun hubungan ayah dan anak itu terasa retak. “Jangan ganggu Selly, biarkan kami hidup bahagia.” Angga tertawa sinis mendengarnya. Semua yang keluar dari mulutnya papanya serupa dengung lebah yang berisik. “Papa tau, kamu belum bisa terima kenyataan. Tapi papa harap kamu nggak melampiaskan itu semua dengan bolos sekolah. Itu akan merusak masa depanmu.” Angga melongos mendengar itu semua. Ia menutup telinga dengan dua telunjuknya. Sama sekali tak tertarik untuk mendengar apa pun penjelasan papanya. Bagi Angga pengkhianatan tetaplah pengkhianatan, tak akan berubah nilainya. Tak bisa pudar rasa sakitnya, entah atas dasar apa pun alasannya. Angga berusaha menutup telinga, karena Bima mengatakan tentang bolos sekolah. Angga memang sudah berjanji pada diri sendiri, setelah kemarin, tak akan ada lagi bolos sekolah di hari lain. Ia menutup telinga karena Bima menasihatinya hal yang benar, tapi rasanya setiap kata yang keluar dari mulut Bima, Angga ingin melanggarnya. Untuk kalimat pertama, ia akan melakukan yang sebaliknya. Jangan sakiti, itu artinya boleh menyakiti bagi Angga. Jadi, Angga menutup telinga untuk kalimat Bima yang kedua, seolah ia tak pernah mendengar nasehat itu. Nasehat yang tak bisa ditolak, tapi ia hanya tak ingin kalimat itu keluar dari mulut orang yang menorehkan luka di hatinya. Angga merasa kehilangan figur seorang ayah. Ia merasa dilemparkan dari ketinggian hingga jatuh ke bawah, dan hancur berantakan. Itu semua dilakukan oleh papanya sendiri. Sering dalam tidur malamnya ia bertanya entah pada siapa. Tak bisakah laki-laki hidup dengan satu perempuan dan mencintai keluarganya? Mengapa ia rela membagi hati dan membuat keluarganya kecewa. Angga tak habis pikir. Satu hal yang ia tanamkan dalam hati, bahwa ia tak ingin menjadi seperti papanya. “Aku tau apa yang harus kulakukan. Tolong jangan merasa paling mengertiku. Jangan banyak bicara, karena aku selalu merasa ingin membantahnya.” Angga berlalu dari hadapan papanya. Ia naik tangga dan menuju kamarnya. Melihat Angga seperti itu, Bima mengepalkan kedua tangannya. Lama kelamaan ia tak sabar menghadapi sikap anak pertamanya. Ia menggelengkan kepala melihat perubahan Angga. Seingatnya ia tak pernah mengajarkan Angga menjadi seorang pembangkang seperti itu. . Jam menunjukkan pukul empat sore saat teman Inaya akan pulang ke rumahnya. Inaya dan Enzy sudah selesai mengerjakan tugasnya. Nindita melayani Enzy seperti ia melayani Inaya. Nindita bahkan menghidangkan buah-buahan untuk kesehatan mereka saat mereka belajar. Ia tak kehabisan akal, agar anak-anak itu menyukai buah-buahan, Nindita memotong dadu beberapa jenis buah dan menusuknya satu persatu di tusukan sate. Inaya tak suka buah, Enzy pun sama. Namun, melihat warna warni di tusukan sate membuat mereka penasaran ingin mencobanya. Begitu pun saat makan siang, Nindita juga mengajak Enzy untuk makan bersama. “Biar tante antar ya!” ucap Nindita saat Enzy ingin pulang. Nindita memang begitu lembut dengan anak-anak. Padahal itu pertama kali Enzy datang ke rumahnya. Meskipun sebelumnya Inaya sering bercerita tentang temannya itu. Mereka duduk di kelas yang sama, dan di meja yang sama. Nindita mengenali Enzy karena beberapa kali juga bertemu di sekolah. Enzy mengangguk. Gadis kecil itu tersenyum cantik. Tiba-tiba Bima datang menawarkan diri untuk mengantar Enzy. “Biar Papa aja, Ma.” Bima mengusuli. Nindita sejenak berpikir. Padahal ia ingin sekalian mampir di supermarket dan membelikan beberapa kebutuhan dapur. “Yaudah deh. Papa aja ya,” ucap Nindita di depan anak-anak itu. “Inaya ikut ya, Pa?” pinta Inaya yang ingin ikut mengantar Enzy. Bima tampak berpikir sebelum akhirnya mengangguk setuju. Angga yang saat itu sedang main game, mendengar obrolan itu. Seketika ia diam dan menghentikan permainannya. Ada yang terasa ganjal di hatinya. Sejak pagi tadi, Bima sibuk di kantor dan pasti kelelahan. Namun, mengapa lelaki itu terkesan memaksa ingin mengantar Enzy. Angga hanya berfirasat seperti sebelumnya. Ia merasa ada yang tidak beres. Bima, Inaya dan Enzy sudah keluar naik mobil. Beberapa saat setelah itu, Angga juga pamit pada Nindita. “Ma, keluar bentar ya,” ucap Angga setelah mengambil kunci motor di kamarnya. “Loh, ke mana?” tanya Nindita penasaran. “Balikin flashdisk temen, Ma.” Angga meringis dalam hatinya. Terpaksa bohong lagi. Ia merasa bersalah pada mamanya, sekaligus merasa benar. Entahlah, ia terus melangkah terburu-buru menuju pintu. Nindita pun tak bertanya lagi, ia merasa Angga memang harus pergi makanya pergi. Sejenak Angga menatap mamanya dari pintu yang terbuka. Wanita itu kini sedang naik ke tangga, mungkin menuju kamarnya. Dalam hati, berulangkali Angga mengucapkan maaf untuk wanita itu. Meskipun belum berani mengatakan secara langsung. Angga tak tahu harus berbuat apa. Jika bisa, ia ingin merusak hubungan papa dan istri barunya. Ia ingin Bima kembali pada keluarganya. Namun, Angga sama sekali tak tahu caranya. Angga segera menyalakan mesin motornya, takut jika mobil Bima sudah pergi terlalu jauh. Ia terus melintasi jalan raya, fokus melihat ke depan hingga akhirnya menemukan mobil Bima. Angga mengikuti dari belakang seperti detektif yang sedang mencari incarannya. Kecurigaan Angga semakin mendasar dan benar. Ia melihat mobil Bima melaju ke arah apartemen Selly dan benar-benar masuk ke gedung itu. Seperti biasa, Angga berhenti sebentar menunggu Bima masuk ke dalam sana, lalu ia kembali mengendarai motornya. Angga masuk ke dalam gedung itu dan kembali bertemu dengan resepsionis muda, Ellia. “Hai, Ga!” sapa gadis yang sempat menahannya waktu itu. “Hai, Mba!” balas Angga tersenyum hambar. Ellia tahu apa maksud senyuman itu, karena ia juga baru saja melihat Bima naik ke lantai apartemen Selly. Kali ini tak ada lagi penahanan dari Ellia, karena ia sudah tahu maksud kedatangan lelaki itu. Hanya saja Ellia berjaga-jaga jika yang berdiri di depan bukanlah satpam yang waktu itu. Ada beberapa shift satpam yang berjaga di sana. Nasib baik Angga, ia tak kembali dipertemukan dengan satpam itu. Mungkin jika yang berjaga adalah satpam yang sama, Angga tidak akan diizinkan masuk. Angga naik ke lantai empat. Ia melihat Inaya dan Enzy di depan pintu apartemen Selly. Tak hanya bocah kecil itu, tapi juga papanya. Tak lama kemudian, dari dalam muncullah Selly, istri baru Bima. Keduanya saling melempar senyum, sedikit canggung karena berada diantara anak-anak. “Zi, kamu pasti pengen tunjukin kamar baru ke Naya, kan?” ucap Selly pada anaknya. “Ah, iya. Yuk Naya liat kamar baruku!” seru Enzy dengan menarik tangan Inaya. Lalu keduanya berlari ke dalam, masuk ke kamar baru yang dimaksud Enzy. Sementara Bima dan Selly sejenak berpelukan melepas rindu. Lalu, Angga yang melihat itu menutup matanya saat dua bibir itu saling bertaut mesra. Semakin hancur hati Angga melihatnya. Ia tak tahu apa yang ada di pikiran papanya, hingga menikahi ibu dari teman anaknya sendiri. Tiba-tiba ada kebencian yang mulai hadir di hati Angga. Bukan untuk Selly dan Bima, tapi untuk Enzy yang mungkin tak tahu apa-apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN