Dua Anak Broken Home

1700 Kata
Bel tanda istirahat baru saja berbunyi, anak-anak berhamburan keluar dari kelas dan menuju kantin. Termasuk Angga dan beberapa teman-temannya. Ada Edi, Dinda, dan Raka. Hingga saat tiba di kantin, Angga bertemu dengan Sam yang baru keluar dari kelas IPS. “Sekolah lu hari ini?” ejek Angga pada Sam yang sudah duduk di meja. “Iyalah. Emangnya lu yang suka bolos,” balas Sam yang disambut tawa teman-teman yang lain. Angga manggut-manggut sambil tertawa lebar. Niat hati ingin mengejek Sam, malah kena batunya. “Iya sih, Ga. Lu kemana waktu itu. Pada heboh tau nggak, nggak pernah-pernah lu bolos, tiba-tiba aja.” “Gue lagi bosan aja, sih.” Jawaban Angga langsung disambut gelengan kepala dari teman-temannya. Hanya Dinda dan Sam yang menatap serius padanya, dan merasa ada yang disembunyikan oleh Angga. Sam dan Dinda tetap diam tak bertanya lebih lanjut. Mereka merasa Angga punya masalah, dan ia sedang menyembunyikan itu. Wajar saja, itu ranah privasi Angga. Teman-temannya pun tak memaksa untuk bercerita. “Nggak mungkin seorang Angga bosan ke sekolah,” celutuk Raka. Angga memang tak terkenal sebagai siswa yang paling pintar di sekolah, tapi ia masih termasuk pintar dan berada di posisi sepuluh besar di kelasnya. Tak hanya itu, guru-guru banyak yang mengenali Angga karena ia anak yang baik, juga seorang kapten tim basket sekolahnya. Jika Angga adalah kapten tim basket, maka Sam adalah ketua tim bola volly di SMA itu. Hanya saja Sam sering tidak sekolah. Sam langganan mendapat surat panggilan orangtua. “Bisa lah,” jawab Angga singkat. “Jadi lu ke mana waktu itu, main ke mana? Biar bisa jadi referensi pas kita bosan dan pengen bolos sesekali.” Edi mendekatkan mie ayam miliknya yang baru saja dihidangkan oleh penjaga kantin. “Hush! Jangan berani-berani lu bolos ya. Kasian nyokap lu entar.” Angga tak setuju jika teman-teman mengikuti jejaknya. Sekolah Angga merupakan salah satu sekolah yang bagus di ibu kota. Kebanyakan yang sekolah di sana adalah anak-anak dari ekonomi menengah ke atas. “Gue cuma main game di rumah Sam waktu itu,” ucap Angga memberi jawaban untuk teman-temannya agar tak penasaran. Mereka mungkin percaya, tapi tidak dengan Sam dan Dinda yang langsung menghentikan suapan mie ayamnya dan menatap Angga. Angga membalas tatapan mereka sejenak, sebagai isyarat agar mereka tak bertanya lebih jauh lagi di depan Edi dab Raka. “Wah pasti seru nih!” sahut Raka kegirangan. “Lu nggak usah ke rumah gue. Gue aja bosan di rumah. Sepi kayak kuburan,” protes Sam masih dengan mie ayam yang dikunyahnya. “Kuburan kalau didatangi kita juga jadi rame,” celutuk Edi di sebelah Raka. “Yaudah, sana lu ke kuburan. Emang bangsa kunti lu kan!” ujar Sam. “Iya, sodaraan sama Mbah Cong!” “Pantes aja mirip,” ucap Angga. “Sialan lu! Gantengan gue kali!” balas Edi. Lima siswa itu tertawa dengan kekonyolan yang dibuatnya sendiri. Saat sedang menikmati mie ayam, ponsel Angga berbunyi. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan terlihat nama mamanya di layar itu. Nindita menelepon. Angga mengangkat di depan teman-temannya. “Assalamualaikum, Ma.” Angga lebih dulu memberi salam, agar tak diomeli Nindita di depan teman-temannya. Masalahnya, Angga biasanya langsung mengucapkan halo tanpa salam. Nindita selalu bilang bahwa tak ada salahnya saling mendoakan dengan mengucapkan salam. Sementara teman-teman yang lain saling menatap meledek Angga yang terlalu manis dengan mamanya. “Kamu di sekolah, kan?” tanya Nindita langsung setelah menjawab salam. “Iya, Ma. Ini Angga di sekolah,” jawab Angga. Sejak hari itu, Nindita selalu bertanya pada Angga, atau pada gurunya yang menjadi wali kelas Angga. “Iya, Tante. Kita lagi makan mie ayam di kantin nih,” ucap salah satu teman Angga. “Oh, yaudah. Selamat makan. Selamat belajar ya.” Nindita langsung mematikan sambungan telepon, ia tak ingin mengganggu Angga dan teman-temannya. Perempuan itu hanya ingin tahu Angga sampai ke sekolah atau tidak. Ia hanya ingin tahu kejujuran Angga. Angga ingin memasukkan ponselnya kembali ke saku celana. Namun, matanya memicing saat ia melihat sebuah pesan di w******p. Pesan yang dikirimkan oleh Ellia, sang resepsionis di gedung apartemen. Waktu itu, Angga sempat meminta nomor ponselnya, meminta gadis yang sering disapa El itu untuk memberitahunya jika Bima datang ke sana. Tepatnya menginformasikan kapan saja Bima datang ke apartemen Selly. [Pak Bima ke sini lagi.] Pesan itu hanya dibaca Angga. Seiring dengan itu, mendadak hatinya kembali panas. Pertemuan demi pertemuan, dan apa yang mereka lakukan di sana, terbayang jelas di benak Angga. Ia tahu semuanya. Ia merasakan sakit itu sendirian, karena lebih rela ia kesakitan sendiri daripada membiarkan Nindita tahu dan terluka lebih darinya. Tiba-tiba Angga menatap mie ayam yang masih tersisa separuh mangkuk, ia tak lagi berselera menyantapnya. “Gue tuh kalau mamanya Angga nanya, nggak tega gue boongin. Liat dia aja, beuh ... teduh banget. Nggak tega gue!” ucap Edi yang memang pembawaannya lucu. “Sama,” Raka setuju. “Tapi kalau emaknya lu yang nanya, gue bohongin nggak apa-apa. Nggak ngerasa berdosa gue!” ucap Edi. “Kenapa?” tanya Raka. “Abisnya mak lu kalau ngomong nggak bisa diam. Panjang kayak rel kereta api.” Edi yang akrab dan sering ke rumah Raka seolah sedang mereview ibunya Raka. “Sialan lu! Tapi iya juga sih,” ucap Raka. “Hush! Nggak boleh gitu sama orang tua,” ucap Dinda yang sedari tadi hanya diam. “Iya, ustadzah Dinda!” ledek Raka dan Edi bersamaan. “Bukan ustadzah, tapi guru konseling!” kata Sam yang membuat Dinda dan yang lainnya tertawa. Hanya Angga yang tak bersemangat untuk tertawa setelah mendapat pesan dari Ellia. . Pulang sekolah, Angga tak langsung pulang ke rumah. Ia meminta izin pada Nindita untuk pergi ke rumah Sam. Kali ini Angga tak berbohong pada mamanya. Seperti kata teman-temannya memang benar, wajah Nindita begitu lembut hingga tak tega dibohongi. Juga tak pantas mendapat perlakuan seperti yang dilakukan Bima. Angga hanya ingin mendinginkan kepala, karena di rumah ia pasti akan melihat Nindita, sang mama. Tentu itu akan membuat Angga semakin terluka. Terluka karena terus-menerus memelihara kebohongan, juga terluka melihat papanya yang sok lembut di rumah. “Lu belum cerita sama gue, ke mana lu waktu itu.” Sam bertanya masih penasaran pada Angga. Lelaki itu duduk di sofa sambil menaikkan kakinya. Ia menuang segelas orange jus yang diambil dari kulkas. Mbok Lasmi bahkan sudah menghidangkan makan siang di meja, tapi keduanya belum berselera makan. Angga sejenak diam. Dari kemarin, Dinda juga menanyakan tentang itu. Namun, ia belum bisa cerita. “Lu nggak aneh-aneh, kan, Ga?” tanya Dinda waktu itu. “Nggak lah. Terus, siapa Selly Anggraini itu? Kenapa minta gue buat niru suara dia?” Dinda terus bertanya. “Lu tenang aja pokoknya, ini bukan apa-apa, kok. Gue belum siap cerita aja. Aman pokoknya.” Dinda diam, tak lagi memaksa temannya itu untuk bercerita. Selama ia mengenal Angga, ia tak pernah melihat lelaki itu bertingkah aneh sebelumnya. Sam yang duduk di samping Angga menatapnya yang terlihat melamun jauh. “Lu akhir-akhir ini keliatan aneh, Ga!” ucap Sam. “Dinda bilang, lu nggak fokus pelajaran juga. Kenapa?” Sam masih bertanya. Angga hanya diam, sama sekali tak menanggapi pertanyaan Sam. Melihat temannya tak menjawab, Sam juga ikut diam. “Sam ...,” panggil Angga pada akhirnya. Sam yang dipanggil menoleh padanya. “Gimana rasanya?” tanya Angga. Ia tak menatap wajah temannya saat bertanya, bahkan tatapannya masih kosong dengan dua tangan diselipkan dibawah kepala yang bersandar di sofa. “Rasanya apa?” Sam tak mengerti. “Gimana rasanya punya dua rumah?” tanya Angga menatap sahabatnya yang tiba-tiba memasang wajah sendu. Sam tersenyum miris pada Angga. Ia baru mengerti arah pembicaraan temannya itu, dan akan menjawabnya. Menjawab berdasarkan apa yang ia rasakan selama menjadi anak broken home. “Ada dua kemungkinan yang terjadi setelah seorang anak mengalami broken home dan punya dua rumah. Satu, saling diperebutkan. Dua, saling mendapat penolakan. Sementara yang terjadi padaku adalah kemungkinan ke tiga, aku dibebaskan. Aku tak direbut, juga tak ditolak. Namun, saat aku pulang ke rumah papa, dia bilang. ‘Eh, kirain masih di rumah mama. Saat pulang ke rumah mama, dia bilang ‘eh kirain masih di rumah papa.’ Selalu seperti itu.” Sam menerawang ke atas sana, menahan air matanya agar tak keluar di depan Angga. Ah, bahkan ia sudah tak tahu cara menangis untuk itu. “Mereka sama. Aku tetap saja tak mendapat penyambutan seperti saat mereka masih utuh. Tak ada yang bertanya tentang perasaanku atau keinginanku. Menyedihkan, bukan? Tapi aku sudah terbiasa, hal-hal yang sudah terbiasa akan membuat kita kebal.” Sam tertawa mengejek nasibnya sendiri. “Mereka melihatku sebagai anak yang kuat. Nggak pernah nangis di depan mereka, mungkin sebab itu mereka nggak pernah nanya gimana perasaanku.” Sam menatap sendu pada Angga yang terlihat fokus mendengar ia bicara. “Namun, dibalik itu semua. Aku lebih nyaman di rumah papa, karena belum ada orang lain di sini. Rumah mama sudah ada orang lain, lelaki lain yang mengisi hatinya. Jika boleh memilih, aku ingin segera dewasa dan mencari jalan hidup sendiri.” Sam mengungkapkan isi hatinya. “Tidak dengan mama, juga tidak dengan papa. Tapi, aku nggak tau apa yang harus kulakukan, mulainya dari mana, aku bingung. Aku butuh pembimbing, tapi mereka tak ada.” Sam kembali meringis pedih. Keduanya diam. Pikirannya menerawang entah ke mana, yang pasti sedang memikirkan nasib masing-masing. “Bokap gue nikah lagi,” ucap Angga saat Sam diam. Sam yang mendengar antara jelas dan tidak. Ia menatap Angga dan bergeser agar lebih dekat dengannya. “Lu ngomong apa, gue nggak dengar.” “Bokap gue nikah lagi sama yang lebih muda. Kayaknya selebgram gitu.” Sam sejenak ternganga dengan ucapan temannya itu. Ia sungguh tak ingin percaya pada kata-kata Angga, tapi lelaki itu sama sekali tak menunjukkan kebohongan. “Hari itu gue samperin ke apartemennya sampe bolos sekolah, di situ gue tau kebenarannya. Sakit banget rasanya.” d**a Angga terasa panas mengingat kejadian itu. Sementara Sam yang baru mengetahui itu menggelengkan kepala, tak menyangka papa Angga yang semanis itu bisa berbuat curang dengan mamanya. Romantis dan manis memang tak bisa menjadi tolak ukur untuk menjadi setia karena terkadang, semakin curang seseorang maka semakin manis ia dengan pasangannya. Bukan untuk menunjukkan bahwa ia memang baik, tapi semata hanya untuk menutup kecurangan itu sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN