"Hai semuanya, nama saya Janu Benizal. Saya adalah saudara kandung dari Cyra Alesha yang diberitakan sebagai orang hilang. Saya memberitahukan kepada Anda semua. Jika Kakak saya, Cyra tidak sedang menghilang. Akan tetapi saat ini dia sedang berada di rumah salah keluarga kami yang berada di Jakarta. Demikian informasi dari saya." Lalu di layar terlihat Cyra yang sedang membaca beberapa buku di sebuah ruangan mewah.
Felix semakin tersenyum puas. Rencana awalnya berhasil dengan sempurna.
Janu barusan melakukan konferensi pers dan menginformasikan jika Cyra tidak menghilang dan baik-baik saja.
Lio yang sedang berada di rumahnya, juga ikut melihat berita konferensi pers itu. Walaupun dia sedikit lega jika Cyra baik-baik saja saat ini. Namun, sisi hatinya yang lain mengatakan jika ada sesuatu hal yang menimpa sahabatnya itu.
"Aku harus mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya." gumam Lio, dalam hati.
"Apakah ada hal lain yang ingin saya lakukan untuk Anda, Tuan?" Mata Janu seketika menjadi hijau melihat tumpukan rupiah yang dicampakkan Felix di depannya.
"Tentu saja, ada!" Felix lalu melemparkan beberapa lembar foto Cyra saat menabrak Mopi, anjing kesayangan Felix. Sebagai bukti kesalahan yang telah dilakukan oleh Cyra.
"Ini foto apa, Tuan?"
"Cih! Itu bukti kejahatan kakak Lo yang menabrak anjing kesayangan gue!" ketus Felix.
"Anjing gue saat ini sedang dalam perawatan intensif di sebuah praktek dokter hewan. Sudah banyak biaya yang gue keluarin." tutur Felix dan didengarkan dengan seksama oleh Janu.
"Jadi, gue akan melakukan tuntutan sebesar lima ratus juta rupiah kepada Kakak Lo, sebagai ganti rugi. Jadi karena Lo adalah saudaranya, jadi Lo berkewajiban penuh untuk ikut melunasinya!" ucap Felix lagi.
"Peter! Lakukan!" Felix memerintahkan Peter untuk merebut secara paksa segepok lembaran rupiah yang ada di genggaman tangan Janu.
"Apa? Tuan, apa yang Anda lakukan!" Janu berusaha menghalau Peter, namun kekuatannya kalah kuat dengan asisten pribadi Felix itu.
Secepat kilat tumpukan rupiah itu telah berpindah tangan kepada Felix.
"Tuan, teganya Anda kepada saya?" ujarnya sambil menangis. Saya sedang butuh banyak uang saat ini, Tuan. Saya ke Jakarta karena ingin menemui kakak saya untuk membantu saya membayar utang- utang saya di kampung." isaknya.
"Ha-ha-ha, menarik! Sungguh menarik!" Felix sangat senang melihat Janu yang sedang sedih itu.
"Tuan, saya mohon tolong selamatkan hidup saya. Saya berutang kepada beberapa renternir di kampung."
"Memangnya berapa hutangmu?" tanya Felix menusuk.
"Utang saya sangat banyak Tuan. Setara dengan biaya ganti rugi yang harus Kak Cyra bayar untuk Anda."
"Oh ya? Ha-ha-ha-ha." Felix kembali tertawa.
"Iya, Tuan. Saya mohon. Tolong bantu saya." Tangisan sandiwara Janu semakin membuat pintu rencana Felix seketika terbuka lebar.
Sebenarnya utang Janu tidak sampai lima ratus juta rupiah, namun dia sengaja menyebut nominal itu. Sebagai modalnya di atas meja perjudian.
"Baiklah, gue akan membantumu, gue akan menambah dua ratus juta lagi. Tapi ini tidak gratis! Lo harus melakukan sesuatu."
"Apa pun itu Tuan, saya akan melakukannya." cecar Janu bahagia dalam hatinya, karena Felix semakin menaikkan rupiah yang akan dia berikan kepadanya.
"Lo hanya perlu menandatangani beberapa dokumen ini. Utang-utang Lo semuanya lunas, akan tetapi, Kakak Lo akan menjadi milik gue selamanya! Bagaimana apakah Lo, setuju? Peter, silakan!" ujarnya kepada sang asisten.
Peter lalu membuka sebuah koper berisi uang tunai sebesar tujuh ratus juta rupiah.
"Uang di dalam koper ini nominalnya senilai rupiah yang baru saja dikatakan oleh Bos Felix." seru Peter lantang.
"Bagaimana? Apakah Lo tertarik?" tanya Felix, menusuk.
"Memangnya Kak Cyra akan menjadi apa nantinya, Tuan?"
"Ha-ha-ha-ha itu urusan gue! Yang terpenting kehidupan kakak Lo sudah menjadi milik gue!" ketusnya.
Pikiran Janu saat ini berkata, jika Felix menyukai Cyra dan sudah jatuh cinta kepada kakaknya. Padahal yang akan terjadi nantinya lebih buruk dari itu.
"Baiklah, berikan dokumen itu, biar saya menandatanganinya dengan segera." ujar Janu, semangat.
Sesuai perintah Felix, Peter mulai membuka lembaran demi lembaran dokumen keabsahan pernikahan antara Felix dan Cyra, yang akan ditandatangani oleh Janu.
Tanpa berpikir panjang dan tanpa membaca terlebih dahulu beberapa dokumen itu, Janu dengan sembrono mulai menandatanganinya.
Aroma rupiah dalam koper lebih menggiurkan baginya dibanding kehidupan sang kakak.
"Saya sudah menandatangani semuanya, Tuan." seru Janu.
"Peter!" panggil Felix.
Peter segera mengambil kembali dokumen tersebut, dan mulai memeriksanya.
"Semua sudah okay, Tuan Muda. Tinggal tanda tangan Nona Cyra." ujar Peter setengah Bisik berbisik.
"Selanjutnya, gue serahin ke Lo!" seru Felix.
"Siap, Tuan Muda. Saya permisi dulu." ujar Peter, lalu segera berangkat menuju ke kediaman Felix.
"Janu? Kamu kenapa? Kok bisa sampai di kantor polisi?" tanya Cyra kepada Janu adiknya, saat ini mereka sedang bervideo call ria. Di layar ponselnya, Cyra bisa melihat adiknya Janu tangannya sudah diborgol oleh kedua polisi yang berada di sisi kiri dan kanannya. Dan ada Felix di sana, duduk sambil tersenyum penuh misteri.
Janu pun menceritakan apa yang telah menimpanya.
"Janu, siapa yang mengajarimu mencuri seperti itu?" Cyra seketika, merasa sedih.
"Kak, kamu hanya perlu menandatangani beberapa lembar kertas. Setelah itu Tuan Felix akan membantu membebaskanku, Kak." isak Janu.
"Kak, tolong bantu aku kali ini, aku tidak mau di penjara, Kak." Janu terlihat, histeris.
"Tuan, apakah benar adik saya akan bebas setelah Anda mendapatkan tanda tangan saya?" tanyanya, kepada Peter.
"Tentu saja, Nona. Tuan Felix pasti akan memegang janjinya." jelas Peter.
Cyra terdiam dan terus menatap layar ponselnya. Wajah sendu Janu yang penuh dengan air mata, benar-benar membuat Cyra tak berdaya.
"Kak, tolong saya, kak!" isaknya lagi.
Setelah sejenak berpikir, akhirnya Cyra angkat bicara.
"Baiklah, saya akan menandatanganinya." ucap Cyra.
Dengan cepat Peter menyodorkan beberapa dokumen itu. Karena panik dengan janu yang mulai histeris.
Cyra menandatangani semua dokumen itu.
Di sudut ruangan itu, Bik Upik menatap iba kepada Cyra. Karena dia tahu betul hal buruk apa yang terjadi pada gadis itu nantinya.
"Terima kasih atas kerja samanya, Nona." seru Peter.
Peter memberi kode di layar ponsel jika Cyra sudah menandatangani surat-surat itu.
"Tu ... tuan, bagaimana saya tahu, jika adik saya akan dibebaskan?" tanyanya, ragu-ragu.
"Tolong fokus pada layar ponselnya, Nona." Cyra pun melihat jika Felix memerintahkan para polisi itu untuk membebaskan Janu.
"Apakah Anda sudah melihatnya, Nona?" tanya Peter.
"Iya, saya sudah melihatnya." jawab Cyra.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, Nona." ujarnya lalu mengambil kembali ponsel tersebut dari tangan Cyra. Dan segera keluar dari ruangan itu, diikuti oleh Bik Upik.