Kebohongan Janu

1028 Kata
"Hei, kenapa kalian meninggalkanku di sini?" seru Cyra, lalu melangkah menuju ke pintu yang telah tertutup rapat itu. "Buka pintunya! Buka! Tolong buka pintunya! Aku hanya ingin bertemu dengan adikku!" Cyra mulai, menangis. "Tuhan, apa yang harus ku lakukan untuk keluar dari sini?" lirihnya, sambil mengeluarkan air matanya. "Bagus juga sandiwara, Lo!" puji Felix kepada Janu. Saat ini mereka berada di markas milik Felix yang mirip dengan penjara, karena ada beberapa sel di sana. Kedua polisi tadi juga adalah anak buahnya, yang menyamar sebagai polisi. "Ini milik, Lo." seru Felix, lalu memberikan koper yang berisi rupiah yang banyak kepada Janu. "Lo akan diantar oleh anak buah gue sampai ke desa, Lo. Untuk memastikan jika Lo tidak akan kembali lagi ke sini dan mulai melakukan kekacauan, lagi." "Siap, Tuan. Saya pasti akan menepati janji." "Tapi, Tuan. Bolehkah saya berbicara kepada kakak saya sebentar, saja?" "Memangnya, Lo mau mengatakan, apa?" "Saya hanya mau berpamitan kepadanya, untuk kembali ke desa. Agar dia tidak khawatir, Tuan." Felix berpikir sejenak, "Ternyata jalan pikiran, manusia b******k ini, ada benarnya juga." "Baiklah, Lo bisa menghubunginya tapi jangan lama!" sahut Felix. Panggilan video antara Janu dan Cyra dimulai, Janu : "Halo, Kak." Cyra : "Janu, apakah kamu sudah benar-benar bebas?" Janu : "Sudah, Kak. Semuanya karena Tuan Felix. Aku sangat berhutang budi kepadanya." Cyra : "Syukurlah, Janu. Oh ya, kamu ngapain kok sampai ke Jakarta segala? Siapa teman ibu di kampung?" Janu : "Ibu sehat kok, Kak. Aku terpaksa menyusul kakak ke Jakarta, karena aku memiliki sedikit kendala tentang keuangan, Kak." Cyra : "Memangnya masalah apa lagi yang sedang kamu hadapi, Janu?" Janu : "Kakak tenang saja, semua masalah yang kuhadapi telah diselesaikan dengan bantuan Tuan Felix. Jadi, kakak tidak usah khawatir lagi. Aku menghubungi kakak karena aku hendak pamit untuk kembali pulang ke desa. Sudah dulu ya, Kak. Jaga diri kakak baik-baik mulai sekarang." Cyra : "Tapi, Janu ...." Belum sempat Cyra melanjutkan kalimatnya, sambungan video call itu pun terputus. Bersamaan dengan itu, ponsel Cyra kembali disita oleh Bik Upik. "Bik, bisa kah Aku meminjam ponselku sebentar? Aku ingin menghubungi ibuku di kampung dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi." lirih Cyra, sambil memelas. Namun, Bik Upik tidak seberani itu membantu Cyra, apa lagi di ruangan ini pasti ada cctv yang diletakkan oleh Felix secara tersembunyi. "Maaf Nona, saya tidak berani. Nanti Tuan Felix bisa memecat saya." Seru sang bibik, lalu berlalu cepat dari ruangan itu dan kembali mengunci pintunya dari luar. Cyra terduduk di sofa, dia bingung harus berkata apa, hidupnya saat ini bagaikan burung yang terkurung di dalam sangkar emas. Aroma masakan Bik Upik yang telah tersedia di atas meja, dan terlihat sangat lezat sebagai menu makan siangnya, sama sekali tidak menarik perhatiannya. Lagi-lagi yang mampu Cyra lakukan hanya menangis dan menangis. Kepulangan Janu ke kampung, langsung dikawal oleh anak buah Felix sehingga dia tidak dapat berbuat apa-apa. Sesampai di desa, Janu di turunkan di pintu masuk desa itu. "Ingat, Lo jangan pernah berani menunjukkan muka Lo di depan Bos Felix, kalau Lo masih sayang dengan nyawa Lo!" Peter mulai mewanti-wanti, Janu. "Siap, Tuan! Apakah saya boleh turun dari mobil?" tanyanya. "Silakan, kami juga hanya mengantar Anda sampai di sini saja." Janu yang Mendengarkan jika dia sudah bisa keluar dari mobil, segera melaksanakannya. Janu turun dari mobil dengan tergesa-gesa dan berjalan dengan cepat menjauhi mobil itu. Ransel yang berisi rupiah dari Felix, dia genggam dengan erat, dirinya seperti takut akan ada yang merebut ransel yang berisi banyak uang itu. Dengan tersenyum licik, Janu melangkah menuju rumahnya. "Janu, apakah itu kamu, Nak?" tanya Bu Nia, sambil meraba dinding rumahnya. Ternyata setahun belakangan ini penglihatan Bu Nia mulai menurun akibat penyakit katarak yang dideritanya. Dan Cyra tidak mengetahui jika ibunya sedang sakit. "Iya ini aku, Bu. Aku baru saja pulang." "Janu, apakah kamu sudah bertemu dengan kakakmu?" "Belum Bu, kami hanya berbicara melalui telepon. Tapi aku sudah bertemu dengan suami Kak Cyra." ucap Janu, mulai mengarang indah. "Su ... suami? Maksud Kamu Cyra sudah ...." "Iya, Bu. Kak Cyra sudah menikah dan suaminya sangat kaya raya." "Ta-pi, kok bisa?" Bu Nia mengenal anak gadisnya, dia tidak percaya dengan informasi dari Janu. "Janu, tolong antarkan Ibu kepada kakakmu. Ibu ingin berbicara banyak dengannya." ucap Bu Nia, penuh harap. "Ha-ha-ha, itu sesuatu yang mustahil akan terjadi, Bu. Aku saja tidak dia temui, apalagi ibu! Asal Ibu tahu, sekarang Kak Cyra sangat sombong dan angkuh. Tapi untung saja suaminya mau sedikit membantu." "Ibu tidak percaya dengan omonganmu, Janu. Tolong antarkan Ibu ke Jakarta. Ibu ingin memastikannya secara langsung." serunya lagi. Bu Nia sangat mengenal betul anak gadisnya, dia tidak percaya dengan informasi dari Janu. Apa lagi Bu Nia tahu bagaimana tabiat anak laki-lakinya itu. Suka bermain judi dan hidup boros. Mendengar ibunya yang ngotot ingin menemui Cyra, membuat Janu naik pitam. "Bu, saya sudah jelaskan semuanya! Jika Kak Cyra sekarang sudah menjadi istri orang kaya raya dan dia sangat sombong! Jadi untuk apa Ibu menemui anak durhaka itu?" hardiknya. "Janu! Jangan mengatai kakakmu seperti itu! Dia itu kakak kandungmu!" Bu Nia menjadi sedih mendengar perkataan anak laki-lakinya itu, yang mengatakan jika Cyra adalah anak durhaka. "Ya sudah, terserah Ibu kalau tidak percaya!" Bela saja dia terus!" serunya marah, lalu meninggalkan ibunya. Mulai masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu dengan keras. Bu Nia hanya bisa menitikkan air matanya. "Cyra, Ibu kangen." lirihnya sedih. "Ibu tidak percaya dengan semua yang dikatakan oleh adikmu. Apakah Ibu nekat saja untuk datang menemui di Jakarta?" gumam Bu Nia pelan. "Tapi, Ibu dapat duit dari mana? Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja Ibu sangat berkekurangan sekali." lirihnya lagi. Janu yang sangat boros, selalu meminta uang kepada Bu Nia bahkan tak segan-segan Janu mengambilnya secara paksa di tangan Ibunya. Bahkan, uang bulanan yang di kirim oleh Nia tidak pernah sampai di tangannya. Selalu dihabiskan duluan oleh Janu. Untung saja, Bu Nia tidak kehabisan akal, dia berjualan kue keliling dengan memakai tongkat. Banyak warga desa yang iba kepadanya, sehingga jika mereka membeli kue yang dijajakan Bu Nia, warga desa selalu membelinya dengan uang lebih. Bahkan banyak juga diantara mereka yang sekedar memberinya sedekah. "Aku harus mencari cara untuk bisa ke Jakarta dan menemui Cyra di sana!" *Penyakit katarak mata adalah buramnya lensa mata yang biasanya bening.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN