"Bagaimana dengan Si Jalang itu?" tanya Felix, kepada Bik Upik.
Saat ini dirinya sedang menikmati makan malamnya sendiri di meja makan.
Sejak dulu Felix selalu makan sendiri di meja makan dan hal itu sudah menjadi kebiasaannya, sejak kecil.
"Maaf, Tuan Muda. Dari tadi pagi, Nona Cyra tidak mau makan." lapor Bik Upik.
"Kurang ajar! Jadi dia berani melawanku?" kesal Felix.
Felix hendak meninggalkan meja makan namun Peter menahannya.
"Tuan Muda, jaga emosi Anda. Kita masih membutuhkan foto Nona Cyra." Peter sudah menduga, jika Felix akan melakukan sesuatu kepada Cyra. Untuk itu, dia menasihatinya lebih dulu.
"Tapi saat ini kami sudah sah menikah secara hukum, bukan?" tanya Peter.
"Semua sudah sah, Tuan. Hanya saja buku nikahnya masih belum keluar karena masih dalam pengurusan. Untuk itu, diperlukan foto Anda dan foto Nona Cyra untuk dicantumkan ke dalam buku nikah itu." ucap Peter panjang lebar.
Namun emosi Felix, mengalahkan akal sehatnya. Dia menghempas tangan Peter yang menahannya dan berjalan menuju ruang pribadinya di mana selama ini Cyra berada.
Pintu kamar dibuka dengan kasar dari luar.
Cyra yang sedang tertidur di sofa tiba-tiba terbangun dan langsung terduduk mendengar suara pintu yang dibuka dengan cara dibanting dengan keras.
Dia melihat ada Felix di depan pintu kamar, dan dibelakangnya ada Bik Upik.
Felix melangkah menuju ke arah di mana Cyra sedang berada, dia mulai mencengkeram mulut gadis itu.
"Kenapa Lo nggak makan hah? Apa Lo mau mati?" sergah Felix, marah.
Cyra yang diperlakukan seperti itu oleh Felix seakan kaget melihat perubahan sikapnya yang kembali kasar kepadanya. Padahal, sehari sebelumnya, Felix berlaku lembut kepadanya.
"Sa ... saya tidak lapar, Tuan." jawab Cyra, singkat. Air mata mulai menetes di pipinya.
"Apa Lo bilang? Lo tidak lapar? Dari tadi pagi Lo tidak makan sebutir nasi pun? Dan Lo mengatakan Lo tidak lapar?" Felix menatap tajam ke arah Cyra. Namun balasan tatapan mata Cyra yang sendu, mampu membuat pertahanan Felix goyah. Dia Dengan cepat melepas cengkraman tangannya dari mulut Cyra.
Felix lalu memerintahkan Bik Upik untuk mengambil makanan baru untuk Cyra.
"Bik, tolong ambilkan makanan baru untuknya, segera!" ujarnya, menutupi kegugupannya.
"s**t! Kenapa setiap aku menatap gadis itu, aku selalu kalah? Dari mana aku pernah melihat tatapan mata sendu itu?"
Wajah Cyra yang sendu itu, benar-benar menjadi satu kelemahan bagi Felix.
Makanan pun datang dan semua telah tersedia di atas meja.
"Makanlah, sekarang! Gue mengawasi Lo!" tegasnya.
Bik Upik menghampiri Cyra, dan berkata,
"Nona Muda, turuti saja perkataan Tuan Felix, nanti Tuan bisa mengamuk lagi dan Nona bisa menjadi sasarannya." ujar, Bik Upik.
Untung saja saat ini Felix sudah berpindah tempat di meja kerja yang ada di ruangan itu. Dia terlihat menuliskan sesuatu di selembar kertas.
"Bik, apakah Si Jalang itu, sudah mulai makan?" tanya Felix.
"Ayo, Nona segeralah makan." ucapnya kepada Cyra.
"I ... iya Tuan, Nona Cyra sedang makan saat ini." jawabnya kepada Felix.
Cyra mengikuti saja kemauan Bik Upik. Dia pun mulai makan sedikit demi sedikit. Perutnya memang sangat lapar saat ini, namun dia sama sekali tidak berselera untuk makan.
Tiba-tiba saja, Felix duduk di sampingnya.
"Sini, biar aku saja yang menyuapimu." ujarnya dingin, lalu mulai menyendokkan nasi dan lauk ke mulut Cyra.
Tanpa Felix sadari, dia juga ikut makan satu sendok dengannya. Makan malamnya, yang tadi terganggu serasa terganti saat dia menyuapi dirinya sendiri dan Cyra.
"Apakah makanannya enak?" Felix bertanya, dengan lembut.
"E ... enak, Tuan." jawabnya singkat.
"Baguslah kalau begitu. Minumlah," ujarnya lalu menyerahkan segelas air di tangan Cyra.
"Te ... terima kasih, Tuan." serunya, terbata. Cyra kembali dibuat bingung dengan perubahan sikap Felix kepadanya.
"Apakah pria ini memiliki gangguan kepribadian ganda?" Cyra yang nota bene adalah mahasiswa psikologi semester akhir, sedikit banyak tahu tentang penyimpangan kepribadian seseorang.
"Aku harus bisa mengenali saat-saat dimana dirinya berubah emosinya. Apakah dia seseorang yang terkena alter ego? Sepertinya pria ini sering merasa kesepian dan butuh teman untuk mendengarkan dirinya." Demikian penilaian Cyra, terhadap Felix.
"Aku harus bisa menaklukkannya, aku harus bisa mengendalikannya dan melepasnya dari sifatnya itu. Setidaknya jika aku baik kepadanya, dia pasti akan melepaskanku. Tapi, apakah aku mampu?" sedihnya dalam hati.
Mata Felix saat ini fokus kepada bibir ranum Cyra, saat dia melihat jika Bik Upik sudah keluar dari ruangan itu.
Dia langsung menahan tengkuk Cyra dan mencium dalam-dalam bibir gadis itu.
Cyra mulai berontak, namun tidak bisa. Kedua tangannya sudah di pegang erat oleh Felix. Lumatan demi lumatan bibir Felix membuat Cyra semakin terbuai. Bahkan Felix sengaja menggigit bibir Cyra agar dia lebih leluasa mencicipinya.
Cyra mulai menitikkan air matanya dengan perlakuan Felix.
Felix yang menyadari jika Cyra menangis langsung melepas lumatannya.
Felix mengusap bibir Cyra, yang lembab.
"Bibirmu sangat manis untuk kucicipi." ujarnya, sambil tersenyum. Lalu kemudian dia berkata,
"Dasar jalang!" kasarnya, lalu menjauh dari tubuh Cyra.
Cyra mulai menangis, air matanya mulai menetes kembali. Benar dugaannya jika Felix kemudian besar mengidap alter ego.
"Tuan, ke ... kenapa Anda mencuri ciuman pertamaku?" sedihnya.
"Ha-ha-ha-ha, menarik! Sungguh menarik!"
"Lo memang jalang gue! Lo hanya milik gue! b***k gue!" teriak Felix.
Lalu Felix, berjalan menuju meja kerjanya lalu berjalan kembali ke sofa d imana Cyra berada. Dia pun menyerahkan beberapa surat penting di tangan Cyra.
"Baca dan cermati!" hardik, Felix.
Peter dan Bik Upik kembali masuk ke dalam ruangan itu sesuai perintah Felix.
Cyra mulai membaca satu per satu surat-surat itu. Air matanya menetes lagi.
"Janu, kamu berhutang kepada siapa? Kenapa sampai sebesar ini?" lirihnya, dalam hati.
Cyra baru saja selesai membaca surat perjanjian pelunasan hutang Janu kepada Cyra.
"Semua telah ditebus oleh adik Lo! Jadi, Lo tidak usah khawatir, gue tidak akan menuntut Lo. Hanya saja, Lo akan menjadi b***k gue, selamanya! Ha-ha-ha-ha." Gelak tawa Felix mulai membahana di ruangan itu.
"Dan ada satu lagi yang perlu Lo ketahui. Peter, berikan kepadanya." perintah, Felix.
"Siap, Tuan Muda." sahut Peter.
Peter melangkah mendekati sofa dan menyerahkan dokumen keabsahan pernikahan Cyra dan Felix.
"Selamat atas pernikahan Anda dan Tuan Felix, Nona." ucap, Peter.
"Apa?" Kaget Cyra tak percaya dengan perkataan Peter.
Dia lalu membaca semua dokumen tersebut. Dalam dokumen itu, tercantum namanya dan nama Felix.
Cyra semakin kaget, saat melihat tanda tangan Janu adiknya juga ada di dokumen tersebut, sebagai saksi pernikahan mereka.
*Alter ego adalah kepribadian kedua yang dipercaya berbeda dari kepribadian yang sebenarnya.