bc

Pilihan Hati Sasya

book_age18+
584
IKUTI
6.4K
BACA
family
mystery
like
intro-logo
Uraian

Sasya dihadapkan dengan lilitan hutang untuk membayar rumah sakit kekasihnya, Dafa. Disaat Sasya sedang berbicara dengan rentenir yang menagih hutangnya, secara tidak sengaja Riki mendengar pembicaraan mereka. Riki pun menawarkan akan melunasi hutang Sasya dengan satu syarat, yaitu tidur bersamanya satu malam.

Bagaimana Sasya harus menghadapi Riki? Dan bagaimana kisah cintanya dengan Dafa? Apakah hatinya akan berpindah ke Riki?

chap-preview
Pratinjau gratis
Home Sweet Home
Seorang wanita duduk di halte bus dengan wajah lelahnya. Masih dengan pakaian kerjanya yang sudah terlihat kusut di beberapa bagian. Rambutnya yang dicepol juga sudah tidak rapi lagi. Dia duduk dintara orang-orang yang juga merasakan lelah yang sama karena pekerjaan. Quanesya Maharani. Tulisan di kartu pengenal pegawai yang masih tergantung di pakaian kerjanya. Dia duduk termenung dengan pandangan kosong diantara kerumunan banyak orang yang sedang menunggu bus, sama sepertinya. Tangannya memeluk tas kerja yang ada di pangkuannya, dan kakinya diayunkan ke depan dan ke belakang. Diapun tersadar dari lamunannya, lalu melirik jam di tangannya. Tak terasa sudah 30 menit dia duduk disitu. Lalu dia maju ke depan karena takut mungkin saja dia tadi terlewat bus tujuannya karena sibuk melamun. Tiba-tiba ponselnya berdering. Dia mengambil ponsel dari saku jas nya, lalu menjawab telepon itu. Via telepon. "Halo." "Halo Kak Sya. Kak Sya jadi kan datang ke acara mama papa?" Terdengar suara seorang gadis dari seberang sana. "Iya, Jen. Ini Kak Sya sudah sampai Jakarta. "Kak Sya dimana? Biar dijemput Abang." "Masih di halte. Nggak usah, Jen. Ini bus nya sudah datang. Kak Sya tutup dulu ya, sampai ketemu di rumah." Sasya menutup teleponnya lalu memasukkan kembali ke saku jasnya. Ternyata benar, bus nya sudah datang. Dia pun langsung menaiki bus itu. Sasya sampai di kediaman keluarga Brawijaya. Rumah yang sudah dia tinggali selama 15 tahun. Rumah yang isinya penuh dengan kasih sayang, yang membuatnya selalu rindu untuk pulang ke rumah ini. Di rumah ini Sasya memiliki keluarga lengkap, ayah, ibu, kakak, dan juga adik. Tapi mereka bukan keluarga kandung Sasya. Mereka adalah keluarga dari adik ayahnya. Sasya adalah keponakan dari keluarga Brawijaya, adik kandung ayahnya. Orang tua Sasya sendiri telah meninggal 15 tahun yang lalu karena kecelakaan. Sejak saat itu Sasya mulai tinggal di keluarga Om nya, Danu Brawijaya, yang sudah menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri. Danu dan istrinya, Elina,tidak pernah membeda-bedakan sasya dengan kedua anak kandung mereka, Arjuna dan Jenia. Itulah yang membuat Sasya tidak pernah kekurangan kasih sayang di rumah ini. Sasya masuk ke dalam rumah bak istana dengan senyum merekah di wajahnya. Dia memandangi setiap sudut rumahnya yang sudah dipenuhi dengan hiasan pesta. Dia pulang hari ini untuk merayakan hari jadi pernikahan kedua orang tuanya. Berbagai hidangan sudah tersedia di setiap meja yang sudah tertata rapi di sudut ruangan. Bahkan ada juga panggung di tengah ruangan lengkap dengan piano di atasnya. "Kak Syaaa!" Terdengar suara teriakan Jeni, adik perempuannya dari arah tangga. Sasya menengok ke arah sumber suara. Jeni dengan gaun anggun berlari ke arahnya, lalu memeluk Sasya dengan manja. Sasya pun membalas pelukan Jeni. "Jen kangen..." Kata Jeni manja. "Kak Sya juga kangen." Balas Sasya. "Sasya. Astaga, sayang. Kenapa baru sampai? Mama khawatir." Elina, Mama Sasya langsung memeluk Sasya. Sasya pun membalas pelukan hangat mamanya. "Maaf, Ma. Tadi nunggu bus nya lama." Kata Sasya sambil mengusap punggung mamanya. "Tahu gitu kenapa kemarin nggak mau Abang jemput?" Tanya Arjuna, kakak laki-laki Sasya yang tiba-tiba sudah berada di belakang ketiga wanita itu. "Abang." Panggil Sasya. "Coba tadi Abang jemput, pasti kamu nggak akan kesorean." Kata Juna lagi. Arjuna adalah seorang kakak yang sangat posesif kepada kedua adik perempuannya. Sasya benar-benar sudah merasa di rumah sekarang. " Makanya Mama nggak pernah setuju kamu kerja jauh dari rumah, apalagi di luar kota seperti sekarang ini. Mama selalu khawatir." Kata mama Sasya lagi. " Sasya baik-baik saja, Ma. Mama nggak perlu khawatir." Jawab Sasya. "Sasya kan bukan anak kecil lagi, Ma." Kata Juna membela Sasya. "Sudah, nanti lagi kangen-kangenannya. Kak Sya kan harus siap-siap dulu." Kata Jeni menengahkan mereka. "Oh iya. Kamu siap-siap ya, sayang. Pakai gaun yang sudah Mama siapkan di kamar kamu." Kata Mama Sasya lagi. "Oke, Ma." Jawab Sasya. Jeni pun langsung menarik tangan Sasya menuju kamar mereka di lantai 2. "Jangan lama-lama." Tambah Juna. "Iya, Abang bawel." Jawab Jeni. Pesta dimulai. Suara alunan piano dari seorang pianis yang disewa untuk acara ini terdengar begitu romantis. Papa dan Mama Sasya menjadi raja dan ratu malam ini. Mereka terlihat sangat bahagia. Para tamu pun sangat menikmati pesta malam ini. Sasya menghampiri Juna dan Jeni yang berdiri di pintu masuk sembari menyambut tamu yang datang. "Jen, Irene nggak datang?" Tanya Juna pada Jeni. "Dia bilang sih datang, Bang." Jawab Jeni sambil menyeruput es jeruk dari gelas di tangannya. "Kayaknya ada yang nungguin seseorang nih." Goda Sasya yang sudah berada di samping Juna dan Jeni. Dan sontak membuat Juna terkejut. "Hm, siapa, kak?" Tanya Jeni polos. "Abang lah. Dia kayaknya cemas nunggu seseorang yang nggak datang-datang." Jawab Sasya sambil melirik Juna. Juna menyenggol lengan Sasya menyuruh Sasya diam. Sasya tertawa puas bisa menggoda Abangnya itu. "Memang Abang nungguin siapa sih?" Tanya Jeni lagi. "Nunggu mereka lah." Jawab Juna sambil menunjuk beberapa pria yang sedang berjalan ke arah mereka. Juna lalu menyambut teman-temannya itu dengan pelukan ala pria. "Hai, bro. Makasih ya sudah datang." Kata Juna sambil memeluk mereka satu per satu. "Sama-sama, bro." Jawab Riki. "Hai, Jen. Kamu cantik banget sih." Kata Brian menggoda Jeni. "Eh, ada Sasya. Apa kabar, Sya?" Sapa Gery. "Baik, Kak." Jawab Sasya. "Masuk yuk, kita ngobrol di dalam saja." Ajak Juna. Para pria itu pun masuk ke dalam rumah. Tak lama seorang gadis datang dengan rambut dokuncir tinggi ke atas, berlari ke arah Jeni. "Jeni, maaf ya Irene telat." Kata gadis bernama Irene. "Kamu kemana aja sih, Ren? Acara udah dimulai dari tadi." Tanya Jeni cemas. "Maaf Irene bantuin ibuk dulu, ada pesanan mendadak tadi sore." Jawab Irene. "Ya sudah nggak papa, yang penting kan Irene sudah disini. Ajak masuk, Jen. Langsung makan aja." Kata Sasya. Lalu menggiring kedua gadis itu masuk ke dalam rumah. Juna melirik ketiga gadis itu, lalu tersenyum. Sasya mengedipkan mata pada Juna, Juna lalu pura-pura tidak melihatnya. Membuat Sasya tertawa melihat abangnya yang salah tingkah. Sasya, Jeni dan Irene sedang makan sambil bercengkrama. Mereka saling bercerita tentang hari mereka masing-masing. Lalu tiba-tiba musik berhenti, dan Papa Sasya sudah berada di atas panggung sambil memegang mik bersiap untuk mengatakan sesuatu. "Selamat malam. Pertama saya mau mengucapkan terimakasih kepada para tamu sudah meluangkan waktunya untuk datang ke acara kami. Selamat menikmati acara dan hidangan yang sudah tersedia." Lalu terdengar suara gemuruh tepuk tangan dari para tamu undangan. "Selanjutnya saya mau menyanyikan sebuah lagu untuk istri saya tercinta yang sudah menemani saya selama 30 tahun ini. Semoga berkenan semuanya." Setelah berpidato sebentar, Papa Sasya lalu menyanyikan sebuah lagu dari jamannya yang dipersembahkan khusus untuk Mama Sasya. Saat sedang melihat penampilan Papanya di atas panggung, ponsel Sasya bergetar. Lalu dia mengambil ponsel dari sakunya. Dia terkejut dengan nama yang ada di layar ponselnya. Dia lalu berjalan cepat keluar ruangan. Via telepon. "Halo." Jawab Sasya pelan. "Halo Sasya,lama sekali angkat teleponnya." Kata seseorang di seberang sana. "Maaf, tadi lagi di ruang ramai." Jawab Sasya. "Saya kira kamu mau menghindar." "Maaf, kalau mau menagih hutang, saya benar-benar belum bisa membayarnya hari ini." Jawab Sasya masih dengan suara pelan. "Tapi sesuai kesepakatan kita kalau kamu harus melunasi hutang kamu hari ini." "Maaf, tapi bisa beri saya waktu 2 minggu lagi?" Sasya mulai panik. "Ya sudah kalau begitu, saya kasih kamu waktu 1 minggu." "Tapi..." "1 minggu atau saya akan datang ke kantor kamu." "Baik 1 minggu, tapi saya mohon jangan datang ke kantor." Kata sasya lalu dia mematikan teleponnya. "Kamu lagi dikejar hutang?" Tanya seseorang dari belakang Sasya hingga membuatnya terlonjak karena terkejut. Sasya menoleh ke belakang. "Kak Riki!"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.8K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.1K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.2K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.4K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.2K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook