Liburan Selesai

1115 Kata
Riki berjalan keluar, dia sebenarnya khawatir pada Sasya yang sedang berjalan seorang diri. Dia pun menunggu Sasya di teras depan. Tak lama Sasya sampai di villa, dia lalu duduk di bangku bawah pohon yang ada di depan villa. Dia tidak melihat Riki yang sedang duduk di teras . Riki menghampiri Sasya. Sasya masih tidak sadar bahwa Riki sudah ada di belakangnya. Sasya menaikkan 1 kakinya ke kaki lainnya, lalu memijatnya. Riki langsung duduk di sebelah Sasya, membuat Sasya terkejut. "Kak Riki!" "Kamu kenapa? Pegal?" Tanya Riki. Lalu tanpa persetujuan Sasya, dia mengambil kaki Sasya, menariknya dan menaruhnya di pangkuannya. "Eh, eh. Kamu mau ngapain?" Tanya Sasya bingung. "Gini-gini aku bisa mijit." Kata Riki lalu memijat kaki Sasya satu per satu. "Ngga usah, nanti pacar kamu lihat bisa salah paham." Kata Sasya sambil menarik kakinya, tapi Riki menahannya. "Sudah diam!" Kata Riki. Lalu memijat lagi kaki Sasya. "Lagian disuruh bareng naik mobil nggak mau, malah milih jalan, jadi pegal kan." Riki mengomel. "Kalau nggak ikhlas nggak usah. Aku bisa mijit sendiri kok." Kata Sasya sambil cemberut. "Kenapa? Takut baper aku baikin?" Tanya Riki sambil masih memijat kaki Sasya. "Idih. Nggak lah." Jawab Sasya memalingkan wajah. Beberapa menit kemudian Riki selesai memijat kaki Sasya. "Gimana? Enak kan? Sudah nggak pegal kan?" Tanya Riki. "Ya, lumayan." Jawab Sasya menggerakan kakinya sambil duduk. "Ya sudah ayo masuk, kita mau barbekyuan." Ajak Riki. "Duluan, aku masih mau disini." "Yakin? Bentar lagi gelap lho." "He em." "Ya sudah. Oya, aku lupa bilang kalau villa sebelah kemarin habis ada yang bunuh diri, dan katanya arwahnya gentayangan kalau sudah gelap." Kata Riki lalu berjalan meninggalkan Sasya dengan tangan masuk ke saku kecelana. "RIKI!" Teriak Sasya lalu berlari ke arah Riki. Sasya berhenti tepat di belakang Riki, lalu menyembunyikan wajahnya di punggung Riki dengan tangan memegangi jaket yang dipakai Riki, Sasya sangat ketakutan. Riki tersenyum geli dengan tingkah Sasya. Ada perasaan senang juga karena Sasya menempelkan wajahnya ke punggungnya. "Kalian ngapain? Pelukan?" Tanya Sheila yang sudah berdiri di depan pintu. Sasya langsung melepaskan tangannya dari jaket Riki. Dia berjalan masuk ke villa. Sampai di depan Sheila, Sheila menahan tangan Sasya, hingga Sasya pun terpaksa menghentikan langkahnya. Sasya menghadap ke Sheila. "Kamu ngapain sama Riki?" Tanya Sheila sambil mencengkram tangan Sasya. "Nggak ngapa-ngaain kok, cuma ngobrol." Jawab Sasya. Dia berusaha melepaskan tangannya, tapi tangan Sheila lebih kuat menahan tangannya. "Ngobrol sambil pelukan?" Tanya Sheila lagi. Kali ini dia mencengkram lebih kuat. "Aduh, sakit!" Teriak Sasya. Riki menghampiri Sheila dan Sasya. Lalu dia mengambil tangan Sheila yang satunya dan mencengkramnya. "Lepaskan." Kata Riki dengan pelan. "Nggak! Cewek ini harus dikasih pelajaran biar nggak merebut pacar orang!" Kata Sheila dengan tegas. "Lepaskan aku bilang." Kata Riki lagi. Kali ini dengan wajah memerah menahan emosi. "Tapi, Rik..." "Lepaskan!" Teriak Riki. Sheila terkejut karena Riki meneriakinya tepat di depan wajahnya. Dengan cepat dia pun melepaskan tangan Sasya. Sasya juga ikut terkejut. Baru kali ini dia melihat Riki yang sedang marah. "Ada apa ini?" Tanya Juna yang menghampiri mereka karena mendengar teriakan Riki dari dalam. Sheila menghentakkan kakinya di lantai dengan keras, lalu dia berlari ke kamarnya sambil menangis. "Kenapa, Rik?" Tanya Juna lagi. "Kamu nggak papa?" Tanya Riki pada Sasya sambil memegang tangan Sasya yang tadi dicengkram Sheila tanpa menghiraukan pertanyaan Juna. "Nggak papa." Jawab Sasya lalu meninggalkan Riki dan Juna. Juna menatap bingung keduanya. "Sebenarnya ada apa sih?" Tanya Juna lagi. "Nggak papa, cuma salah paham." Jawab Riki lalu berjalan menyusul Sasya. Juna menghela nafas. Dia pun ikut menyusul Sasya dan Riki, lalu bergabung dengan yang lainnya barbekyuan. Malam semakin larut. Namun pesta barbekyu semakin ramai. Gery dan Brian sibuk membakar bermandikan asap, sedangkan Jeni, Irene dan Sasya sibuk menghabiskan hasil bakaran Gery dan Brian. Juna dan Riki hanya duduk melihat tingkah kedua temannya dan ketiga adiknya. Sesekali ikut bercanda dan tertawa bersama mereka. "Gantian kalik. Kalian enak-enakan makan. Kita cuma kebagian asapnya doang." Protes Brian. "Kirain Kak Brian nggak doyan daging." Kata Jeni menggoda Brian. "Jangan salah, Brian kan pemakan segala." Timpal Gery. "Iya, kalau dagingnya habis daging kalian yang gue makan." Jawab Brian kesal. "Hahaha." Sedangkan Sheila. Dia sudah terlelap dalam mimpinya. Pagi harinya, Sasya, Jeni dan Irene sedang berkemas barang bawaan mereka, karena rencananya siang hari mereka akan kembali ke Jakarta. Juna dan para cowok menyiapkan mobil dan memasukkan barang bawaan ke mobil. Sementara yang lain sibuk membereskan barang dan membersihkan villa, Sheila hanya duduk manis di ruang tamu sambil makan cemilan dan memainkan ponselnya. Pukul 4 sore mereka sudah sampai di Jakarta. Gery menurunkan Riki di rumah Juna, karena saat berangkat ke villa mobilnya ditinggal di rumah Juna. Sheila yang tertidur di mobil sengaja tidak dibangunkan oleh Riki, justru menyuruh Gery dan Brian langsung mengantarnya pulang. Riki duduk di teras rumah Juna sambil memainkan ponselnya. Juna dan yang lainnya sedang menaruh barang ke dalam rumah. Saat Juna masuk ke dalam kamarnya, Sasya berlari menghampiri Riki. "Kak, aku boleh minta tolong nggak?" Tanya Sasya sambil panik dan terus menoleh ke belakang. "Kalau ada butuhnya saja baru panggil Kak." Jawab Riki tanpa menoleh pada Sasya. "Kak Riki yang baik hati, bisa tolongin aku nggak? Sekali ini aja." Kata Sasya sambil menyatukan kedua tangan didepan wajahnya yang imut. "Riki mematikan layar ponselnya, lalu menatap Sasya. "Tolong apa?" Tanya Riki. "Tolong bilang sama Bang Juna, kalau Kak Riki ada kerjaan di Bandung, jadi sekalian mau antar aku pulang ke Bandung." Kata Sasya sambil terus menoleh ke belakang, takut kalau Abangnya mendengar percakapan mereka. "Tapi aku nggak mau ke Bandung." Jawab Riki. "Memang nggak, cuma alasan aja. Jadi nanti Kak Riki antar aku ke halte depan aja, terus Kak Riki bisa langsung pulang." "Kenapa harus bohong? Bukannya biasanya kamu juga pulang sendiri naik bus?" Tanya Riki bingung. "Aku nggak pulang naik bus." Jawab Sasya lirih sambil menatap ke bawah. "Ooh, kamu mau jadikan aku kambing hitam? Biar kamu bisa ketemu pacar kamu?" Kata Riki sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. "Pliiiiisss..." Sasya menyatukan kedua telapak tangannya lagi di depan wajahnya, sambil mengedipkan kedua matanya dan memasang wajah super imut. "Kalau aku tolongin, aku dapat apa?" Tanya Riki mencoba bernegosiasi. "Kamu boleh minta satu hal juga sama aku, apapun itu akan aku turutin." Jawab Sasya. "Cuma satu?" "Iyalah, satu-satu. Aku minta satu, kamu juga minta satu." "Apa saja?" "Apa aja. Eh tunggu, jangan macem-macem ya." Sasya mendekatkan bibirnya ke telinga Riki. "Apa aja kecuali tidur sama kamu lagi di hotel." Bisik Sasya. "Berarti kalau nggak di hotel boleh?" Tanya Riki gantian berbisik di telinga Sasya. "Riki!" Tanpa sadar Sasya berteriak, lalu menutup mulutnya sendiri dengan satu tangannya dan menoleh ke belakang. "Hahaha." Riki tertawa. "Jadi gimana? Mau nggak?" tanya Sasya. "Oke. Apa saja ya?" "Apa aja selain yang tadi aku sebutin." "Oke, deal." Jawab Riki lalu mengajak Sasya bersalaman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN