Jumat Pagi, Sasya sudah berada di rumahnya Jakarta. Kebetulan minggu ini libur akhir pekan yang panjang, tanggal merah di hari Jumat, jadi Sasya pagi-pagi sekali sudah berangkat dari Bandung.
Sasya dan kedua orangtuanya sedang bercengkrama di meja makan sambil menikmati sarapan mereka.
"Abang sama Jen belum bangun, Mah?" Tanya Sasya.
"Abang sudah, tadi habis lari pagi, mungkin lagi mandi. Kalau Jeni tahu sendiri bangunnya jam berapa..." Jawab Mama Sasya.
"Hehehe." Sasya terkekeh.
Tak lama Juna datang dan ikut bergabung di meja makan. Juna mengusap kepala Sasya sebelum duduk di sebelahnya.
"Pagi sekali, Sya. Jam berapa dari Bandung?" Tanya Juna sembari duduk.
"Jam 06.00, Bang. Biar liburannya di Jakarta bisa lama." Jawab Sasya sambil tersenyum lebar.
Setelah sarapan selesai, tampak Jeni menuruni tangga dan langsung menuju ruang makan yang sedang terlihat ramai.
"Pagi semua...." Sapa Jeni dengan riang. Lalu mengahaampiri Sasya dan memeluknya. "Kangen." Kata Jeni mendekap Sasya dari belakang.
"Kak Sya juga kangen sama adek Kak Sya yang cantik ini." Sasya mengusap pipi Jeni. Jeni lalu duduk di sebelah Mama nya, mengambil roti dan mulai mengoles selai di atas rotinya.
"Mama senang deh kita bisa kumpul semua gini." Mama Sasya tampak berbinar.
"Oya, karena kita sudah kumpul, Abang mau ngomong." Kata Juna. Lalu semua menatap ke arah Juna. "Nanti malam Abang mau ajak Sasya sama Jeni nginap di villa, kita liburan di Puncak." Kata Juna.
"Beneran, Bang?" Tanya Sasya.
"Abang nggak lagi nge prank kan?" Tanya Jeni.
"Siapa yang nge prank. Ini beneran, kalian siap-siap, ya." Kata Juna.
"Tapi, Bang. Villa kita di Puncak kan lagi di renovasi." Kata Papa Juna.
"Bukan villa kita, Pa. Tapi villanya Riki. Kemarin Riki baru saja beli villa di Puncak, terus ngajak kita buat liburan menginap disana." Jelas Juna.
"Kak Riki?" Jeni memastikan.
Jantung Sasya mendadak berdegup kencang.
Jeni tersenyum lebar.
"Boleh ajak Irene nggak, Bang?" Tanya Jeni lagi.
Juna mengangguk.
"Asik, Jen telepon Jeni sekarang." Kata Jeni lalu lari kembali ke kamar.
"Baru saja Mama mau kangen-kangenan sama Sasya." Kata Mama Sasya yang langsung cemberut.
"Mah, Juna ngajakin mereka biar Sasya bisa refreshing, nggak sedih terus, begitu juga Irene, biar dia bisa melupakan sejenak masalah kemarin." Kata Juna.
"Iya, Mah. Biarin anak-anak pada liburan, mereka kan seminggu ini sudah lelah dengan pekerjaan dan sekolah mereka." Kata Papa Juna sambil mengelus pundak Istrinya.
Riki sampai di rumah Juna sore hari. Seperti biasa dia langsung masuk ke dalam.
"Rik, lo dah sampai?" Sapa Juna.
"Hm. Mau ngajakin lo belanja dulu buat persiapan di villa." Jawab Riki.
Sasya sedang berjalan menuju ruang keluarga dari kamarnya. Lalu matanya menangkap sosok seseorang yang tampak dia kenal. Setelah memastikan sosok itu adalah benar Ríki, Sasya langsung berbalik hendak kembali ke kamar. Tapi belum sempat berjalan, Juna memanggilnya.
"Sasya."
Dengan terpaksa Sasya berbalik.
"Ya, Bang." Jawab Sasya lalu berjalan ke arah mereka.
"Rik, lo belanja sama Sasya saja, gue sama Jeni mau jemput Irene dulu." Kata Juna.
"Belanja apa?" Tanya Sasya bingung.
"Temani Riki belanja buat persiapan di villa nanti." Kata Juna.
"Kenapa Sasya?"
"Sama Jeni saja, Kak Riki." Teriak Jeni dari arah dapur sambil lari mengahampiri mereka.
"Jen, kamu sama Abang jemput Irene, biar Ibunya Irene percaya kalau Irene memang pergi sama kita." Jelas Juna.
Jeni langsung memajukan bibirnya kecewa.
"Oke. Ayo." Jawab Riki santai. Lalu beranjak.
"Sasya ambil tas dulu." Jawab Sasya lalu berjalan naik ke kamarnya.
Sampai di supermarket. Sasya tidak tidak bicara sedikitpun, bahkan selama perjalanan dia hanya diam memandangi kaca jendela mobil. Riki memarkirkan mobilnya. Lalu mereka berdua turun dan memasuki supermarket. Riki mengambil satu troli, lalu mendorongnya. Sasya membuntuti Riki.
"Kamu cari bahan buat masakan ya, disana kita masak sendiri aja, karena belum ada orang yang bantu-bantu di villa nanti." Titah Riki. Sasya hanya mengangguk, lalu berjalan ke arah sayuran dan buah-buahan.
Sasya memasukkan beberapa sayur dan bumbu-bumbu untuk memasak. Gantian Riki yang berjalan di belakang Sasya sambil mendorong troli.
"Kamu kok diem saja?" Tanya Riki.
"Memang harus ngomong apa?" Jawab Sasya cuek. Lalu memasukkan dua ikat kangkung ke dalam troli.
"Kamu bisa masak?" Tanya Riki.
"Sedikit." Jawab Sasya lagi.
"Sayuran yang kamu masukkan ke troli, kamu bisa masaknya kan?" Tanya Riki lagi.
"Memang aku yang harus masak? Kalau aku nggak bisa kan yang lain bisa." Jawab Sasya lagi. Kali ini dia memasukkan wortel dan brokoli ke dalam troli.
"Ya kan ceweknya cuma kamu, Jeni sama Irene. Yang lainnya cowok."
"Bang Juna bisa masak kok." Jawab sasya lagi.
"Tapi aku mau cobain masakan kamu." Kata Riki.
Sasya berbalik ke arah Riki.
"Buat apa? Kamu nggak takut aku racunin?" Tanya Sasya yang kini sudah menatap Riki dengan tajam.
"Hahaha, Kalau kamu racunin masakannya semua kena dong."
"Bisa aku atur biar racunnya biar cuma kamu yang makan." Sasya tersenyum sinis. Lalu melanjutkan berjalan.
Riki terdiam. Dia terkejut mendengar perkataan Sasya. Sasya berjalan ke arah buah-buahan.
"Perlu beli buah nggak?" Tanya Sasya.
"Terserah." Jawab Riki. Dia masih tidak percaya Sasya bisa bicara seperti itu ke dia. Apa ini sisi lain dari Sasya yang dia belum tahu. Karena selama ini dia mengenal Sasya sebagai gadis yang baik dan lembut. Riki lalu menggelengkan kepalanya.
Sasya mengambil pisang dan jeruk, lalu memasukkan ke troli.
"Sudah. Apa lagi yang mau di beli?" Tanya Sasya.
"Cemilan mungkin." Jawab Riki.
"Oke." Sasya lalu berjalan ke arah makanan ringan. Kali ini Sasya tidak pikir lama untuk memilih cemilan, tidak seperti saat dia memilih sayuran tadi. Dia seperti hafal cemilan apa saja yang akan dia makan.
"Semangat banget milihnya." Kata Riki. Dia takjub melihat Sasya mengambil berbagai macam cemilan.
"Aku pilih semua yang aku suka, karena nggak tahu yang lain sukanya apa." Jawab Sasya.
Sasya berjalan kembali setelah puas memasukkan semua cemilan kesukaannya ke dalam troli.
Riki tersenyum. Saat itu dia melihat Sasya begitu menggemaskan.
Setelah Sasya berjalan, Riki memasukkan beberapa cemilan lagi yang tadi Sasya pilih ke troli.
"Perlu apa lagi?" Tanya Sasya.
Riki memandangi isi troli di depannya sambil berpikir.
"Kayaknya sudah deh." Jawab Riki.
"Ya sudah berarti sekarang ke kasir." Kata Sasya. Lalu berjalan ke arah kasir.
Sasya mengambil satu per satu barang dari troli dan menaruhnya di meja kasir. Setelah barang di troli habis, dia lalu berjalan menjauhi kasir. Lalu dilanjutkan Riki yang membayar semua yang mereka beli. Riki mengeluarkan dompet sari sakunya, lalu mengeluarkan satu buah kartu dan memberikannya pada kasir.
Tanpa sadar Sasya terus memandangi Riki. Pikirannya melayang entah kemana, karena saat itu dia melihat Riki sangat tampan dan cool saat membayar di kasir.
Setelah selesai Riki menghampiri Sasya dengan semua belanjaan di dalam troli.
"Lihatin terus, nanti naksir lho." Kata Riki sambil menaikkan kedua alisnya.
Sasya terkejut sampai melotot ke arah Riki.
"Idih, Ge er!" Kata Sasya, lalu berjalan meninggalkan Riki. Ríki tertawa, lalu berjalan di samping Sasya.
Saat hendak keluar dari Supermarket. Ada seorang gadis memanggil Sasya dari belakang.
"Kak Sasya!"
Sasya yang merasa dipanggil langsung menoleh ke belakang.