Liburan 1

1068 Kata
Pagi hari di puncak. Sasya, Jeni dan Irene sudah bangun dan menikmati suasana pagi di teras belakang villa. Di depan mereka terbentang kolam renang berukuran besar, dengan air yang jernih. Mereka memandangi kolam renang dengan menikmati coklat panas. "Enak ya, bisa liburan." Kata Jeni. "He em. Irene baru ini ke Puncak?" Kata Irene. "Masak? Jadi ini pertama kalinya kamu ke Puncak?" Tanya Sasya tak percaya. "He em." Jawab Irene sambil mengangguk. "Tapi sayang, ada tamu tak diundang yang nempel terus sama Kak Riki." Kata Jeni lalu memajukan bibirnya. "Sudah nggak usah cemburu, kamu kan tahu Kak Riki memang banyak ceweknya, kamu bilang nggak masalah. Lagian kalau Irene lihat, Kak Riki nggak begitu suka sama cewek itu." Kata Irene. "Ya tapi kan tetap saja, Kak Riki nggak nolak waktu cewek itu minta ikut, apalagi dia juga diam saja waktu cewek itu pegang-pegang tangan dia." Kata Jeni lagi. "Hahaha. Ya itu resiko kamu suka sama Playboy." Kata Irene meledek Jeni. "Tunggu, Jeni suka sama Kak Riki?" Tanya Sasya. "Iya nih, Kak. Padahal Irene udah sering ngingetin. Masih banyak cowok yang lebih baik, di sekolah juga banyak yang suka sama Jeni, tapi semua dicuekin, karena hatinya sudah terkunci pada Kak Riki." Kata Irene. Sasya terdiam. Dia tidak percaya kalau adiknya ternyata menyukai orang yang sudah pernah tidur dengannya. Tiba-tiba saja Sasya takut kalau Jeni sampai tahu apa yang sudah dia lakukan dengan Riki, pujaan hati adeknya itu. "Ehem. Ngomong-ngomong kita mau sarapan apa ya?" Tanya Sasya mengalihkan pembicaraan. "Kita masak sendiri, Kak?" Tanya Jeni. "Iya , makanya kemarin Kak Sya belanja bahan masakan buat disini, karena kata Kak Riki disini belum ada orang yang bantu-bantu buat masak." "Jen nggak bisa masak." Kata Jeni. "Tapi motong-motong sama nyuci sayur bisa kan?" Tanya Sasya sambil mencolek dagu Jeni. Jeni mencibir. "Irene suka masak, tapi nggak tahu masakan Irene enak apa nggak?" Kata Irene. " Baiklah, kalau begitu kita serahkan pada suhunya." Kata Jeni sambil menundukkan badannya menghadap Irene. Irene dan Sasya lalu tertawa. "Pagi-pagi sudah ceria aja, nih. Seneng banget ya diajak liburan?" Tanya Juna yang tiba-tiba sudah ada di ambang pintu dekat dengan kursi yang sedang diduduki adik-adiknya. "Abang udah bangun?" Sasya tersenyum pada Abangnya. "Kalian lagi ngomongin apa?" Tanya Juna lalu bergabung dengan mereka. "Ini, Bang. Katanya Irene mau masakin buat kita." Kata Jeni. "Eh, Irene cuma bilang kalau Irene suka masak, bukan Irene yang mau masak." Kata Irene. "Hahaha, masakan kamu pasti enak, jadi nggak usah takut." Kata Jeni lagi. "Kita masak sama-sama nanti, Ren. Tenang saja." Kata Sasya. Juna mengambil gelas berisi coklat panas milik Jeni, lalu meminumnya. "Abang, itu punya Jen." Teriak Jeni. "Abang mau coklat panas? Irene buatin ya." Belum sempat Juna menjawab, Irene langsung beranjak dari kursi dan menuju dapur. Juna hanya bisa menatap Irene dari belakang. "Oya, Bang. Bahan-baban masakan masih di mobil ya? Biar Sasya ambil, biar kita bisa masak buat sarapan." Kata Sasya "Iya, masih. Tapi kunci mobil ada di kamar. Kamu ambil sendiri ya di kamar, Abang mau ke kamar mandi dulu." Kata Juna. "Kamar yang mana, Bang?" Tanya Sasya. "Kamar yang depan sebelah tangga." Jawab Juna sambil berjalan ke arah kamar mandi. Sasya lalu berjalan menaiki tangga menuju kamar yang disebutkan Juna. Dia melihat kamar di sebelah tangga, lalu masuk ke kamar itu. "Aaaaaaaa!! Teriak Sasya sambil menutup matanya dengan kedua tangannya. Di dalam kamar terlihat Riki yang sedang terkejut mendengar teriakan Sasya. "Ssssttt... Ngapain teriak-terak sih?" Tanya Riki. "Sudah belum?" Tanya Sasya. "Apanya?" "Pakai bajunya?" "Sudah." Jawab Riki. Sasya membuka matanya. "RIKI!" Teriak Sasya lagi, lalu menutup lagi kedua matanya dengan tangannya. "Hehehe... Maaf." Kata Riki yang ternyata masih belum memakai baju. "Udah." Katanya setelah selesai memakai baju. "Beneran sudah?" "Sudah. Liat aja sendiri kalau nggak percaya." Sasya membuka matanya lagi pelan-pelan. "Kamu lagian ngapain masuk kamar orang nggak ketuk pintu dulu?" Kata Riki lalu duduk di kasur. "Aku pikir nggak ada orang." "Masak? Bukannya kamu sengaja nyariin aku?" Goda Riki. "Idih, Ge er! Aku mau ambil kunci mobil Bang Juna." Kata Sasya lalu mengambil kunci di nakas sebelah kasur tempat Riki duduk. Saat Sasya berbalik tak sengaja bersamaan dengan Riki yang akan berdiri. Lalu Sasya menabrak tubuh Riki. Saat itu juga Riki jatuh diatas kasur, dan ditimpa oleh tubuh Sasya. Saat ini posisi Sasya berada di atas tubuh Riki. "Kamu mau mengulang adegan waktu itu di hotel?" Kata Riki menatap Sasya sambil menaikkan kedua alisnya. Sasya hendak berdiri, tapi tangan Riki menahan tubuh Sasya, hingga Sasya terjatuh lagi di atas tubuh Riki. "Riki!" Teriak Sasya kesal. "Apa?" Saat ini wajah Sasya tepat di atas wajah Riki. Mata mereka saling bertatapan selama beberpa detik. "Kalian ngapain?" Tanya seseorang dari ambang pintu. Sasya buru-buru berdiri, kali ini Riki tidak menahannya. Lalu Sasya berlari secepat kilat keluar dari kamar dengan wajah memerah. Sasya melewati Gery yang baru saja memergoki dia dan Riki sedang berduaan diatas kasur. Gery terus memandangi Sasya sampai Sasya menuruni tangga. "Gila lu, Rik. Dia adiknya Juna, masih lo embat juga. Itu si Sheila urusin dulu." Kata Gery. "Jangan salah paham, tadi dia kesandung di depan gue pas mau ambil kunci mobil Juna, jadi deh dia nubruk gue dan jatuh di kasur." Kata Riki membela diri. Dia tidak ingin Gery berpikiran macam-macam tentang dia dan Sasya. "Siapa yang nggak salah paham lihat posisi kalian kayak tadi?" Kata Gery lagi. "Posisi apa?" Tanya Brian yang tiba-tiba sudah berada di belakang Gery. "Bukan apa-apa. Udah nggak usah dibahas. Ayuk turun." Kata Riki lalau berjalan meninggalkan kedua sahabatnya yang saling menatap sambil bertanya dengan kode mata mereka. Sasya masuk ke dalam villa sambil membawanya semua barang belanjaan dari mobil. Lalu meletakkan nya di dapur. "Masih ada, Kak?" Tanya Jeni. "Masih banyak." Jawab Sasya sambil terengah-engah. "Biar Irene bantu." Kata Irene. Irene dan Jeni pun mengambil sisa barang belanjaan dari mobil, lalu membawanya ke dapur. Setelah itu Irene dan Sasya memilih bahan yang akan dimasak untuk sarapan. Lalu Jeni meyusun sisa bahan yang belum dipakai di kulkas. Mereka bekerja sama memasak untuk semua orang yang ada di villa. Riki menuruni tangga dan menuju ruang tamu dimana Juna sedang meminum coklat panasnya. Saat itu juga Sheila keluar dari kamarnya. Sheila yang melihat Riki lewat di depannya, langsung berlari ke arah Riki dan bergelayutan di lengan Riki. "Pagi sayang." Sapa Sheila dengan terenyum manis di hadapan Riki. "Drama dimulai." Kata Jeni yang sedang di dapur berdiri di dekat Sasya dan Irene. Mereka pun akhirnya memilih menyibukkan diri dengan memasak daripada menonton drama pagi yang menjemukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN