Jeni dan Irene baru saja sampai rumah. Mereka berhenti di ruang tamu karena dihadang oleh Juna.
"Darimana?" Tanya Juna.
Jeni dan Irene terdiam. Mereka sadar sudah melakukan kesalahan, karena dari Mall mereka tidak langsung pulang, melainkan nongkrong di Cafe bersama teman-teman mereka hingga lupa waktu. Alhasil, pukul 10 malam, mereka baru sampai rumah.
"Dari Mall, Bang." Jawan Jeni.
"Kalian bantuin satpam nutup Mall? Jam segini baru pulang?"
"Maaf, Bang. Tadi kita ketemu teman-teman dulu di Mall sebelum pulang, sampai lupa waktu." Jawab Jeni. Irene hanya menunduk karena ketakutan.
"Kenapa nggak minta ijin Abang dulu?" Tanya Juna dengan masih dengan nada tegas.
"Maaf, Bang. Kita..."
"Ini buat Abang." Irene memberikan tas kertas yang dia bawa ada Juna hingga Jeni menghentikan perkataannya, dan perhatian Juna sukses teralihkan.
"Apa ini?" Tanya Juna sambil mengintip isi dari tas kertas itu.
"Eh, buka dikamar aja ya, Bang." Kata Irene lagi. Juna mengerutkan keningnya. "Kita ke kamar dulu, selamat malam, Bang." Kata Irene lalu mendorong Jeni berjalan menjauhi Juna. Sampai di tangga mereka langsung berlari menaiki tangga menuju kamar Jeni.
Juna hanya terdiam melihat tingkah Jeni dan Irene. Dia tidak bisa berkata apa-apa setelah menerima pemberian dari Irene. Jeni dan Irene terengah-engah di kamar setelah menutup pintu kamar Jeni.
"Hebat kamu, Ren, rencana kamu berhasil membuat Bang Juna berhenti mengomel." Kata Jeni sambil tertawa.
"Jeni..." Irene menampakkan wajah sedih setelah dia teringat akan sesuatu.
"Kenapa, Ren? Kok kamu malah sedih?" Tanya Jeni bingung.
"Tadi yang aku kasih Bang Juna itu cangkir yang aku beli di Mall, huaaaaa..." Irene mendadak histeris.
"Memang kenapa? Cuma cangkir kan?"
"Memang cuma cangkir, tapi tulisannya... Huaaaaa..."
"Kamu kenapa sih, Ren? Coba ceritain pelan-pelan." Pinta Jeni karena semakin bingung dengan tingkah Irene.
Di dalam kamar, Juna mengambil cangkir dari dalam tas kertas pemberian Irene. Dia mengangkat cangkir itu hingga ke depan wajahnya, dan seketika itu pula dia tersenyum dengan wajah memerah setelah membaca tulisan di cangkir itu.
"Aku cuma pengen hidup berkecukupan. Cukup lihat senyum kamu setiap hari."
Begitulah tulisan di cangkir yang sedang dipegang Juna.
Sementara di dalam kamar Jeni, Jeni sedang terpingkal-pingkal setelah mendengar cerita dari Irene bahwa sebenarnya Irene membeli cangkir itu untuk dirinya sendiri, karena menganggap tulisan dicangkir itu lucu. Dia sangat malu kalau sampai dia Juna salah sangka dengan cangkir pemberiannya. Irene masih menyesali perbuatannya karena langsung memberikan cangkir itu begitu saja pada Juna. Dia takut kalau Juna mengira bahwa tulisan di cangkir itu adalah ungkapan hatinya untuk Juna. Padahal niatnya hanya untuk agar Juna tidak marah.
Dafa dan Sasya sampai di kos Sasya. Setelah makan malam di rumahnya tadi, Dafa mengantar Sasya pulang ke Bandung menggunakan mobil yang dia pinjam dari Bagas.
"Sudah sampai." Kata Dafa.
Sasya melepas sabuk pengamannya.
"Makasih ya sudah antar aku pulang." Kata Sasya.
"Sya, ada yang mau aku bicarakan sama kamu." Kata Rafa sebelum Sasya keluar dari mobil.
"Harus sekarang? Aku ngantuk." Jawab Sasya. Saat ini memang Sasya sedang tidak bersemangat untuk bicara pada Safa.
"Iya." Jawab Dafa.
Sasya lalu duduk kembali dan menghadap Dafa.
"Kalau kamu mau minta maaf lagi, lebih baik nggak usah. Aku masih belum bisa maafin kamu." Sasya memberi peringatan lebih dulu.
"Bukan soal itu. Kalau itu aku tahu kamu masih marah, dan kamu memang pantas benci sama aku." Jawab Dafa.
"Lalu ada soal apa lagi yang mau kamu bicarakan sama aku?"
"Begini. Dua minggu yang lalu aku bertemu dengan produser musik di Cafe saat aku manggung sama anak-anak. Dia menghampiri aku dan mengajak aku bicara."
Sasya memperhatikan Dafa dengan serius.
"Terus?"
"Dia mau ngajak aku rekaman. Dia mau membuatkan album untuk aku."
"Cuma kamu?"
"Iya, cuma aku. Tanpa band."
"Terus kamu jawab apa?"
"Aku belum jawab. Dua hari yang lalu aku baru cerita sama anak-anak. Ternyata di luar perkiraanku, mereka mendukung aku sepenuhnya. Mereka bilang ini adalah kesempatan yang tidak boleh dilepaskan begitu saja, karena masing-masing dari kita punya hak untuk mewujudkan mimpi kita."
Sasya menatap Dafa.
"Kamu sendiri siap?" Tanya Sasya.
"Aku bingung. Makanya aku tanya pendapat kamu."
"Kamu sudah tanya pendapat Bunda?"
"Belum. Bunda belum tahu. Aku mau tanya pendapat kamu dulu."
"Dafa, kamu tahu kan dari dulu aku selalu mendukung kamu. Aku mengikuti perjuangan kamu di dunia musik sejak kita masih sekolah. Aku mengikuti kamu kemanapun kamu manggung, dari mulai pentas seni sekolah, festival, sampai Cafe, aku selalu ada di samping kamu. Jadi kalau kamu tanya pendapat aku, jawaban aku sama seperti anak-anak, kamu nggak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini." Jawab Sasya.
Dafa tersenyum.
"Makasih, sayang." Dafa memegang tangan Sasya. "Aku harap kamu masih tetap sama seperti dulu, selalu disamping aku dan mendukungku." Dafa mencium punggung tangan Sasya.
"Apa ini ada campur tangan dari Mira?" Tanya Sasya.
Dafa terdiam sejenak.
"Jujur iya, produser musik itu adalah salah satu teman Kak Mira."
Sasya mengangguk pelan.
"Kamu memang harus banyak berterimakasih sama dia."
"Sya, untuk masalah Mira. Aku sudah bicara sama dia. Aku bilang kalau apa yang lakukan ke dia selama ini hanya karena aku menghormati dia sebagai menejer, tidak lebih. Dan aku juga bilang kalau aku punya pacar yang sangat aku sayangi." Jawab Dafa masih tetap memegang tangan Sasya.
"Terus dia bilang apa?" Tanya Sasya.
"Dia minta maaf karena sudah membuat aku tidak nyaman. Maka dari itu dia mengenalkan aku dengan produser musik itu sebagai permintaan maafnya." Jawab Dafa.
"Syukurlah. Semoga dia melakukan ini dengan ikhlas."
"Boleh nggak kamu jangan marah lagi sama aku?" Dafa mengangkat dagu Sasya hingga wajah Sasya tepat berada di depannya.
Sasya masih terdiam.
Dafa mengecup bibir Sasya dengan tiba-tiba. Sasya terkejut.
"Aku belum bilang kalau aku sudah maafin kamu ya." Protes Sasya.
Dafa mengecup bibir Sasya sekali lagi. Sasya melotot. Dafa tidak menghiraukannya. Dafa menarik dagu Sasya lalu menciumnya. Kali ini bukan hanya sekedar kecupan, tapi Dafa membawa Sasya terbang jauh dengan ciuman mesranya. Sasya tidak bisa membendung gengsinya. Akhirnya dia membalas ciuman Dafa yang memang selama ini sangat dia rindukan.
Hari-hari berlalu, hubungan Sasya dan Dafa pun kembali membaik seperti dulu. Minggu ini Dafa sudah mulai proses rekaman. Setelah mendapat restu dari Bundanya dia lalu medatangi produser musik itu bersama Mira. Dafa pergi bersama Mira juga dengan sepengetahuan Sasya. Dia selalu memberitahu Sasya terlebih dahulu sebelum pergi bersama Mira. Sasya pun dengan lapang hati membiarka mereka. Karena Dafa sudah berjanji antara dia dan Mira hanya sebatas hubungan kerja.