Irene diculik

1122 Kata
Jakarta pukul 4 sore. Juna sedang mengendarai mobilnya púlang dari kantor. Jalanan sangat macet karena memang tepat jam pulang kantor. "Tahu gini tadi pulang molor saja, sama saja sampai rumah juga pasti sudah magrib." Gerutu Juna. Juna berhenti karena lampu merah menyala, tepat di depan sebuah gedung bimbingan belajar untuk para pelajar. Juna melihat ke arah gedung itu. "Ini kan tempat les Jeni. Dia les ga ya hari ini, coba deh gue telepon." Juna bergumam sendiri. Lalu mengambil ponselnya dan menelepon Jeni. Nada panggilan tersambung, tapi tidak diangkat oleh Jeni. Juna meletakkan ponselnya lagi. "Ya sudahlah, paling kalau les juga dia diantar supir." Saat Juna hendak menjalankan lagi mobilnya karena lampu hijau sudah menyala, dia melihat Irene sedang menaiki sebuah motor yang dikendarai oleh seorang laki-laki. Juna tidak sempat melihat jelas laki-laki itu, karena dia harus segera melajukan mobilnya. Sampai di rumah, Juna baru saja hendak masuk ke kamar, lalu dia melihat Jeni keluar dari dapur. "Lho, Jen. Kamu nggak les?" Tanya Juna yang terkejut melihat Jeni di rumah. "Nggak, Bang. Jeni kan les nya cuma hari Selasa sama Kamis, ini kan hari Rabu." Jawab Jeni. "Ooh, tapi tadi Abang lihat Irene di tempat les waktu Abang lewat depan tempat les kamu." "Iya, Irene Rabu juga les bahasa Inggris, karena nilai dia kurang di pelajaran itu." Jawab Irene. "Ooh." "Ngomong-ngomong, Abang lihat Irene jam berapa? Bukannya kalau Rabu dia les nya jam 6 sore." Tanya Jeni, lalu dia melihat jam di dinding. "Sekarang aja baru jam lima." Kata Jeni bingung. "Jam empat sore tadi, kenapa emang?" Tanya Juna ikut bingung. "Jam empat? Dia les jam lima, kenapa jam empat sudah sampai tempat les, rajin banget." Tanya Jeni. "Mana Abang tahu, tadi sih Abang lihat dia malah mau pergi sama laki-laki naik motor." Kata Juna. "Apa? Laki-laki? Motornya apa, Bang? Abang ingat nggak?" "Motor gede, motor laki-laki gitu." Jawab Juna. "Warna hitam? Helm merah?" Juna berusaha mengingat. "Iya, kalau nggak salah. Yang jelas Abang ingat motornya gede, motor laki-laki warna hitam." "Gawat!" Pekik Jeni. Lalu lari menaiki tangga menuju ke kamarnya. "Kenapa, Jen?" Juna ikut panik. Juna masuk kamar, meletakkan tas dan jasnya, lalu mengambil jaket dan memakainya, setelah itu dia keluar dari kamar berniat menanyakan soal Irene lagi. Baru saja Juna mau menaiki tangga, Jeni sudah berlarian menuruni tangga dengan wajah panik. "Bang, Irene, Bang." Teriak Jeni panik. "Irene kenapa?" "Ini." Jeni menyerahkan ponselnya pada Juna. Juna lalu membaca pesan yang dikirim Irene untuk Jeni. "Jeni, tolong aku." Live location "Ada apa sebenarnya, Jen?" "Kita cari Irene dulu, Bang, nanti Jeni jelaskan." Juna dan Jeni berlari menuju mobil Juna. Juna langsung tancap gas keluar dari gerbang rumah. Juna mengikuti petunjuk Jeni yang terus memantau dari ponselnya tentang keberadaan Irene. "Ada masalah apa sebenarnya, Jen? Irene kenapa?" Tanya Juna sambil tetap fokus mengendarai mobilnya. "Jeni belum bisa cerita, Bang. Sekarang kita fokus menemukan Irene dulu, Jeni takut banget, Bang kalau Irene kenapa-napa." Kata Jeni yang terlihat sangat panik. Melihat Jeni panik, perasaan Juna menjadi semakin khawatir tetang apa yang terjadi pada Irene. "Ini belok mana?" Tanya Juna. "Belok kiri, Bang." Juna langsung membelokkan mobilnya ke kiri. Dia mencoba menyalip semua mobil di depannya. Dengan terus mengikuti petunjuk dari Jeni, Juna melajukan mobilnya dengan kencang. Setelah beberapa saat, live location dari ponsel Irene berhenti. Jeni pun meminta Juna berhenti tepat di depan gedung lama yang sepertinya sudah kosong. "Kamu yakin disini, Jen?" Tanya Juna. Perasaannya semakin tidak enak karena melihat gedung di depannya yang kosong dan gelap. "Live nya berhenti disini, Bang." Jawab Jeni. Juna dan Jeni turun dari mobil, lalu mereka masuk perlahan dengan bantuan penerangan dari layar ponsel mereka. Di dalam gedung. Irene terduduk lemas di dalam sebuah ruangan kosong dengan cahaya remang. Di depannya berdiri seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan menggunakan jaket kulit. "Kamu mau apa?" Tanya Irene dengan suara bergetar. Laki-laki itu maju beberapa langkah mendekati Irene. "Lo tanya gue mau apa? Gue mau membuat perhitungan sama lo." Jawab laki-laki itu. "Ini memang salah kamu." Kata Irene masih dengan suara bergetar. Irene mencoba berdiri, tapi kakinya begitu lemas, hingga dia tidak sanggup berdiri. "Kalau saja lo nggak ikut campur, gue pasti akan ngelepasin lo." Kata laki-laki itu sambil terus melangkah mendekati Irene. Irene mencoba mundur masih dengan posisi duduk. "Kenapa? Biasanya lo nggak pernah takut?" Kata laki-laki itu lagi yang kini sudah berada tepat di depan Irene. "Digo, kamu hanya akan menambah masalah kalau kamu kayak gini." Irene mencoba menenangkan laki-laki yang dipanggilnya Digo itu. Digo berlutut agar wajahnya bisa berhadapan langsung dengan wajah Irene. "Gue nggak perduli, jangan harap lo bisa lolos dari gue." Kata Digo. Tangannya kini sudah menyentuh kepala Irene. Mengusap rambut Irene dari atas sampai ujung rambut. Lalu menyentuh pipi Irene, mengusap nya dengan pelan. Tak terasa air mata Irene jatuh membasahi pipi Irene. "Jangan nangis, sayang. Gue nggak akan nyakitin lo." Bisik Digo di telinga Irene. Irene seakan tidak punya tenaga lagi untuk bergerak, lutut dan kakinya lemas karena ketakutan. Dia berdoa dalam hati semoga Jeni membaca chatnya dan bisa segera menemukannya. Tangan Digo turun ke d**a Irene. Membuka satu per satu kancing sweater yang diapakai Irene. Dia tersenyum pada Irene, lalu membuka paksa sweate yang sudah terbuka semua kancingnya itu dan membuangnya. Hanya tersisa tanktop putih tipis yang menutupi tubuh atas Irene. Digo mendekatkan wajahnya ke wajah Irene. Irene hanya bisa menutup matanya dan terus menangis. Tiba-tiba. Irene terkejut. Saat dia membuka mata, Digo sudah tergeletak di sampingnya. Juna melepas jaketnya lalu menutupi tubuh Irene dengan jaketnya itu. Jeni datang dari belakang Juna, lalu memeluk Irene. Irene pun menangis dengan keras. "Aku disini, Ren." Bisik Jeni pada Irene. Juna mengangkat tubuh Digo, lalu memukul wajah Digo beberapa kali, hingga keluar darah segar dari bibir bawah Digo. Digo membalas 1 pukulan ke wajah Juna, tapi tidak membuat Juna jatuh. Hingga akhirnya Juna memukul perut Digo dan berhasil membuat Digo tersungkur. Juna mengangkat tubuh Digo lagi, dan hendak melayangkan pukulannya lagi ke wajah Digo yang sudah babak belur. "Abang, berhenti. Dia sudah babak belur." Teriak Jeni. Juna pun akhirnya tidak melanjutkan pukulannya, dan menjatuhkan Digo dengan kasar ke lantai. Juna menghampiri Irene dan Jeni. Saat Jeni hendak membantu Irene berdiri, Irene kembali terjatuh, dan hampir membuat Jeni menimpanya. Lalu dengan sigap Juna menggendong Irene ke dalam pelukannya. Irene melingkarkan tangannya ke leher Juna, dan menangis di pundak Juna. Juna membawa Irene keluar diikuti Jeni dari belakang. Saat mereka keluar dari gedung kosong itu, polisi datang. Jeni menghampiri para polisi dan menjelaskan kejadiannya, sedangkan Juna membawa Irene ke mobilnya. Lalu beberapa polisi masuk dan membawa Digo. Juna memberikan 1 botol air mineral pada Irene yang sedang duduk di dalam mobil. Irene meminumnya sampai habis dan memberikan lagi pada Juna botol yang sudah kosong. Irene kembali menangis. Juna yang berdiri di pintu lalu membawa Irene kembali ke pelukannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN