"Aku antar pulang ya." Kata Riki saat dirasa Sasya sudah tenang.
"Kamu tidur dimana?" Tanya Sasya.
"Di hotel lah, biasa." Jawab Riki sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Boleh nggak aku di tidur di tempat kamu?"
Riki terdiam mencoba mencerna pertanyaan Sasya. Lalu dia menghadap Sasya.
"Kamu mau tidur di hotel sama aku?" Riki mencoba mencari penjelasan.
Sasya mengangguk.
Riki membelalakkan matanya.
"Kayak waktu itu?" Tanya Riki lagi.
"Hish!" Sasya memukul lengan Riki. "Aku mau tidur di tempat kamu karena aku nggak mau mandi sauna di kos." Jawab Sasya.
Riki mengerutkan keningnya.
"Maksudnya?"
"Di kos lagi ada pemadaman listrik sampai besok, jadi kalau malam ini aku tidur di kos, aku nggak bisa nyalain AC." Terang Sasya.
"Ooh, aku pikir kamu mau tidur sama aku kayak waktu itu."
"Dasar mesum." Sindir Sasya.
Riki lalu melajukan mobilnya menuju hotel miliknya.
Sampai di hotel Riki lalu membawa Sasya ke kamarnya. Kamar dimana Sasya membayar hutangnya pada Riki waktu itu.
Riki membuka pintu kamar lalu mempersilahkan Sasya masuk. Riki mengikuti dari belakang. Sasya duduk di sofa. Riki mengambil handuk dari lemari dan air mineral dari kulkas lalu memberikannya pada Sasya.
"Ini minum dulu, habis itu mandi."
Sasya menerima air mineral. Tapi ragu untuk menerima handuk dari Riki.
"Kenapa? Kamu nggak mau mandi?" Tanya Riki.
"Bukan gitu, tapi aku nggak bawa baju ganti. Nggak mungkin kan aku tidur pakai baju sama rok kerja kayak gini?"
Riki memandangi pakaian yang sedang dikenakan Sasya. Dia lalu berjalan ke lemari lagi, mangambil satu kaos dan satu celana training, lalu memberikannya pada Sasya.
"Pakai ini."
Riki mengulurkan kaos berwarna putih dan celana training berwarna hitam.
Sasya masih ragu untuk menerimanya.
"Kenapa lagi? Aku nggak punya piyama." Kata Riki dengan nada sedikit meninggi.
"Bukan gitu, hmm... ada warna lain nggak? Warna putih pasti nerawang."
Riki mulai kesal. Dia kembali ke lemari mengambil satu kaos berwarna hitam, lalu dia berikan pada Sasya.
"Ini."
Sasya lalu beranjak dan berjalan ke kamar mandi.
"Huh, repot amat mau mandi saja. Dasar cewek." Gerutu Riki.
Riki duduk di sofa lalu memakai kacamatanya sebelum membuka laptop. Setelah itu dia mulai memeriksa pekerjaannya karena dia merasa masih belum bisa tidur.
Setelah hampir setengah jam di kamar mandi, Sasya keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian yang dipinjamkan Riki.
Riki terkekeh melihat Sasya.
"Kenapa? Kebesaran ya?" Tanya Sasya Sambil memegang kaos yang dipakainya.
"Nggak papa, lucu saja."
Sasya lalu berjalan ke tempat tidur.
"Kamu tidur disitu kan? Aku disini ya?" Kata Sasya sambil menaiki kasur, lalu menarik selimut dan menutupi tubuhnya.
"Aku tidur disitu juga lah." Jawab Riki.
Sasya langsung bangkit.
"Kita tidur bareng disini?"
"Iya, kenapa? Bukannya sudah pernah?"
"Yas udah, kamu disini, aku di sofa." Kata Sasya.
"Kenapa sih? Itu kasur kan besar, cukup kan buat kita berdua."
"Nggak, pokoknya aku nggak mau." Protes Sasya.
"Astaga kamu benar-benar repot ya, ya sudah aku di sofa, kamu di kasur, puas?"
Sasya tersenyum, dia lalu merebahkan dirinya lagi di kasur.
"Selamat malam." Sasya lalu mematikan lampu tidur.
Riki kembali berkutat dengan pekerjaannya. Beberapa menit kemudian, Sasya kembali menyalakan lampu tidur.
Riki melihat Sasya yang sudah duduk di kasur.
"Ada apa lagi tuan putri?" Tanya Riki.
"Kak?"
"Perasaan aku nggak enak nih kalau kamu sudah manggil aku kak."
Sasya meringis.
"Boleh nggak pesenin aku makanan? Aku baru ingat kalau aku belum makan malam." Kata Sasya dengan wajah memelas.
Riki lalu berdiri setelah mengambil nafas panjang. Dia menelepon restoran memesankan makanan untuk Sasya.
"Sama coklat panas ya, Kak." Kata Sasya sambil meringis lagi.
Riki pun memesan coklat panas sebelum memutus sambungan telepon.
"Sudah dipesan, Tuan putri. Ditunggu aja."
"Terimakasih, Kak." Kata Sasya sambil memasang wajah imutnya.
Melihat wajah imut Sasya Riki tidak bisa marah, rasanya saat ini dia ingin mencium bibir Sasya yang sedang merekah. Dia lalu menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir setan-setan yang terus membisikinya. Riki pun kembali ke sofa melanjutkan pekerjaannya.
Makanan pesanan Sasya akhirnya datang. Seorang pelayan restoran menyajikannya di meja. Sasya berlari menuju sofa.
"Makanan sudah lengkap ya, Pak. Ada lagi yang mau ditambahkan?" Tanya pelayan itu pada Riki.
"Tidak, sudah cukup. Terimakasih."
"Sama-sama, Pak. Selamat menikmati. Permisi."
"Makasih, Mas." Kata Sasya. Pelayan itu membalas dengan senyuman.
Sasya langsung melahap satu piring spageti yang ada dihadapannya. Dalam hitungan menit, spageti itu langsung habis tak bersisa.
"Wah, ternyata kamu beneran lapar ya." Kata Riki.
Sasya lalu mengambil gelas berisi coklat panas dan meminumnya.
"Hm, enak. Aku boleh pesan lagi nggak, Kak coklat panasnya untuk besok?" Tanya Sasya.
"Terserah kamu saja. Kalau sudah selesai matikan lampu ya, aku mau tidur." Jawab Riki lalu merebahkan dirinya di sofa dan memejamkan matanya tanpa melepas kacamatanya.
Sasya meminum coklat panas itu sedikit demi sedikit karena dia ingin menikmati minuman kesukaannya itu. Setelah habis satu gelas, dia lalu beranjak dari sofa. Sebelum mematikan lampu, Sasya melirik ke arah Riki yang sudah tertidur. Riki tidur dengan masih memakai kacamatanya.
Sasya lalu berjalan ke arah Riki. Dengan pelan dia melepas kacamata yang masih bertengger di hidung mancung Riki. Sasya tidak mau Riki terbangun.
Dalam hitungan detik kacamata Riki berhasil dilepas oleh Sasya, tapi saat itu juga Riki terbangun dan langsung memegang tangan Sasya hingga tubuh Sasya ikut tertarik, hampir saja menimpa tubuh Riki. Riki terbangun dan terkejut saat melihat wajah Sasya yang sudah berada tepat di depannya.
"Maaf, aku cuma mau melepas kacamata kamu." Kata Sasya yang juga terkejut.
Riki tidak bereaksi. Dia hanya tetap memandang wajah Sasya.
Sasya mengedipkan matanya beberapa kali. Seketika dia tidak bisa bernafas melihat wajah tampan Riki yang tepat berada di depannya. Beberapa detik kemudian Sasya menarik tangannya dan berdiri. Lalu dia mematikan lampu dan berlari ke tempat tidur.
Dia menarik selimut menutupi tubuhnya sampai leher, dan langsung memejamkan matanya.
Riki mengusap wajahnya dengan kasar. Lagi-lagi dia berhasil mengalahkan bisikan setan yang selalu menyuruhnya untuk mencium bibir Sasya. Entah sudah yang keberapa kalinya dia harus menahan keinginannya itu, karena sampai saat ini dia masih belum bisa melupakan rasa manis dari bibir Sasya yang dia rasakan waktu itu.
Riki melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Kantuknya mendadak hilang. Dia menyempatkan diri melirik ke arah Sasya dan melihat Sasya yang sudah tertutupi selimut. Riki pun tersenyum melihat pemandangan itu.