Chapter 11 - Menyadari Perasaan Yang Disanggah

1117 Kata
Di perumahan kosong yang telah lama ditinggalkan, beberapa anak buah killian sedang menyiksa seorang polisi yang berhasil mereka culik. Seperti diketahui sebelumnya, polisi tersebut tergabung dalam operasi penyergapan beberapa waktu lalu. "Katakan, siapa mata-mata kalian yang ada di SMA Cahaya Hati?" Tanya lelaki bertato berperawakan tinggi besar. Kondisi polisi tersebut bisa dibilang sudah tidak baik. Wajah lebam, ujung bibir dan hidung sudah mengeluarkan darah segar. Ia diam mendengar pertanyaaan lelaki tersebut. "Buug..." Lelaki itu memukul perut polisi sampai kembali mengeluarkan darah segar. "Jawab..!! Gue nggak suka ngulang ngulang pertanyaan." Lelaki itu emosi karena polisi tersebut masih diam tidak menjawab. "Saya... Tidak... Tahu... Apa... Apa". Polisi itu menjawab dengan suara terbata-bata. Lelaki itu menarik kerah polisi tersebut "Bohong...! Ngomong yang bener!" "Benar... Saya... Tidak... Bohong. Saya.. hanya... Menjalankan... Tugas... Untuk menyergap kalian". Memeriksa apakah kalimat yang keluar dari polisi itu bohong atau tidak. Sayangnya memang lelaki itu menunjukkan kejujuran. Lelaki itu melepaskan genggamannya dari kerah baju polisi yang terkena noda darah, lalu menghembuskan nafasnya panjang untuk meredakan amarah yang tadi sempat meluap. Lelaki itu mendudukan diri berhadapan dengan polisi tersebut. Menunjukkan ekspresi bersahabat dan melanjutkan interogasinya. "Jadi, dari mana kalian tahu kalau akan ada p*********n di Imperial Club?". "Saya tidak tahu. Kami hanya menjalankan perintah atasan. Yang saya tahu ada tim rahasia khusus yang menyelidiki kasus itu". "Hmm... Tim khusus ya?". Menegakkan badan sampai menempel pada sandaran kursi lalu menyilangkan kedua tangannya di d**a. "Lo tau siapa saja yang tergabung di tim itu?". "Saya tidak tahu. Semua dirahasiakan. Termasuk identitas mereka". "g****k banget lu jadi polisi. Masa sampe nggak tau informasi apa apa". Lelaki itu berdiri lalu berjalan ke belakang polisi tersebut. Menundukan badannya, mendekatkan wajahnya tepat di telinga polisi yang telah babak belur. "Tapi kayaknya lo bisa lebih berguna deh". Polisi itu membuka matanya, menoleh ke arah lelaki itu dengan raut wajah heran. "Gue denger lo udah mau nikah ya. Sayang banget kan kalo lo sampe mati disini. Siapa nama cewek lo? Indah? Iya Indah. Boleh kan kalo gue 'mampir' sebentar ke tempatnya?". Polisi itu membulatkan mata, terkejut dengan pernyataan lelaki barusan. Ternyata sebelumnya lelaki licik itu telah mencari tahu informasi mengenai dirinya agar memiliki 'senjata' untuk bisa 'menjinakkan' targetnya. "Jangan macem macem kamu sama dia. Atau..." "Atau apa? Nyelametin diri sendiri aja nggak bisa". Lelaki itu dengan cepat memotong kalimat polisi itu. "Oke, karena gue baik, jadi gue nggak bakal ngusik cewek lo. Tapi dengan syarat". "Apa syaratnya?". "Lo harus jadi mata mata gue. Tugasnya gampang kok. Tinggal cari tau identitas tim khusus itu aja. Gampang kan". Polisi yang mendengar perkataan lelaki itu tampak memikirkan syarat yang diajukan. Bimbang antara keamanan informasi atau orang yang dicintainya dalam bahaya. "Mikirnya jangan lama lama. Lo nggak punya pilihan lagi. Gimana?". "Baiklah, saya akan bekerjasama dengan kalian. Tapi jangan coba coba untuk menyentuh indah". Lelaki itu mengeluarkan ekspresi kemenangan, puas mendengar kata kata korbannya. "Nah gitu dong. Kalo gitu mulai sekarang, laporin semua yang lo tau ke gue". Polisi itu hanya mengangguk pasrah. Tak lama terdengar suara dering handphone masuk milik lelaki tersebut. "Iya halo bos... Beres semua sesuai rencana. Sekarang kita punya mata mata di pihak kepolisian... Baik... Baik...". Tanpa disadari mulai saat ini, Amara sedang dalam bahaya. *** "Hatchi...". Amara mengusap hidungnya karena bersin saat sedang menulis materi pelajaran di kelasnya. "Lo kenapa Silv? Flu ya?". Ruben menghentikan kegiatan menulisnya melihat Amara mengusap hidungnya. "Gue bilang apa... Semalam itu dingin. Jadi flu kan lo". Tiba tiba dari arah belakang terlihat tangan Valdo telah memegang tissu dan memberikannya kepada amara membuat gadis itu terkejut. Mengambil tissu dari Valdo lalu menjawab perkataan Ruben. "Saya nggak flu kok, cuma bersin aja. Kayaknya ada yang lagi ngomongin deh. Ngomong ngomong makasih tissunya". Melihat ke arah Ruben lalu ke Valdo yang memberikan tissu. "Lo lahir tahun kapan sih? masih aja percaya sama takhayul?". Valdo melanjutkan acara menulisnya. "Ish,,kan saya bilang kayaknya". Amara pun melanjutkan menulis. Ruben yang melihat mereka berdua hanya bisa menggelengkan kepala. "Dasar Tom and Jerry". "Oh iya, abis ini kan ada ulangan fisika. Kalian udah pada belajar belom?". Ruben tiba tiba teringat. "Jangan minta contekan sama gue". Valdo menjawab cepat. "Yeee pede banget lo. Gue cuma nanya lo udah belajar belom. Bukan minta contekan. Tapi kalo lo mau ngasih nggak apa apa. Gue terima dengan tangan terbuka". Ruben tersenyum jahil menatap sahabatnya. "Saya nggak sempet belajar. Semalam ngantuk banget. Abis jalan sama kamu, saya langsung ketiduran". Valdo menghentikan kegiatannya sesaat setelah mendengar kata kata amara. 'dia jalan sama ruben?'. Valdo menggeleng untuk menghilangkan pikirannya. 'bodo amat. Bukan urusan gue. Sekarang fokus ke tujuan awal. Jangan sampai gara gara dia, gue lupa tujuan gue'. "Tenang Silv, kalo lo nggak tau nanti gue kasih jawabannya". "He...kayak lo jago fisika aja ben". Valdo menjawab datar. Ruben langsung menoleh ke arah Valdo. "Diem aja lo Do". Beberapa waktu berlalu. Sesuai jadwal, jam pelajaran selanjutnya yaitu Fisika mengadakan ulangan harian. Seluruh siswa kelas XII IPA 2 telah selesai mengerjakan ulangan. Rata-rata mereka memegang kepala karena kelelahan berpikir, itu terlihat dari raut wajah para siswa seperti habis ikut perang. "Karena masih banyak waktu, kita akan langsung membahas soal ulangan tadi sekalian memeriksa hasil kalian. Jadi untuk ketua kelas, tolong bagikan hasil kalian secara acak". Martin selaku ketua kelas bangun dari kursinya dan segera membagikan hasil ulangan teman temennya secara acak. Selesai membahas jawaban sekaligus memeriksa hasilnya, Pak Dahlan selaku guru Fisika melihat nilai mereka satu persatu. "Dari semua siswa disini hanya ada satu orang yang dapat nilai sempurna?". Mereka yang mendengar perkataan Pak Dahlan hanya bisa melongo. Siapa yang bisa menjawab dengan sempurna soal yang terbilang sulit itu. Mereka saling menatap sambil menggeleng. Pak Dahlan melanjutkan kalimatnya, "kalian harusnya belajar seperti Silvie, jangan bisanya cuma mabar dan pacaran". Sontak semua mata tertuju ke arah Amara termasuk Ruben dan Valdo. "Lo yakin kalo semalem nggak belajar?". Ruben membuka pertanyaan di tengah keheningan yang melanda kelas. "Serius, saya nggak belajar sama sekali. Kamu bisa liat nih mata saya masih kayak panda akibat kurang tidur semalam". "Terus, kok bisa bisanya lo dapet nilai sempurna?". Ruben terus mencecar Amara dengan pertanyaan. "Nggak tau. Saya cuma jawab pertanyaan, selesai". "Wah wah wah...bener bener jenius lo Silv. Waktu itu Matematika juga kan lo yang bisa jawab pertanyaan sulit. Sekarang fisika juga lo perfect. Astaga, emang pantes lo jadi calon pacar gue". Ruben bertepuk tangan pelan sambil menggelengkan kepalanya. Amara melotot horor ke arah ruben yang terus mengoceh. Mereka berdua berinteraksi sehingga tidak sadar dengan gelagat orang yang ada di belakang. Tatapan tajam Valdo melihat interaksi antara Ruben dan Amara. Apakah Valdo cemburu? Ya, Valdo sangat cemburu melihat Ruben dengan entengnya menyebut silvie sebagai calon pacar. Diam-diam di balik meja, Valdo mengepalkan kedua tangannya dan berbicara di dalam hati, 'baiklah, mulai sekarang gue bakal bikin lo suka sama gue silv'.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN