Saat ini, Amara sedang berada di depan sebuah rumah yang tidak bisa dibilang besar tapi sangat asri karena memiliki halaman dengan beberapa pohon. Gadis itu tersenyum karena akhirnya menemukan rumah impiannya. Rumah impian? Ya, seperti inilah rumah yang selalu dibayangkan oleh gadis itu.
Rumah satu lantai dengan dekorasi ala pedesaan. Di halaman rumah tumbuh pohon mangga, rambutan dan beringin ukuran sedang. Membuat rumah itu terasa bukan seperti di wilayah ibukota.
Setelah sebelumnya amara telah sepakat dengan pemilik rumah untuk disewakan kepada dirinya. Gadis itu kini memasuki rumah itu, membawa beberapa barang barangnya. Mendekorasi sesuai keinginannya. Tak lupa memajang foto foto dengan 'ayah'nya. Amara teringat dengan perbincangan ia dengan atasannya. Meminta izin untuk menjadikannya sebagai ayah palsu demi alibi.
Saat ini sekitar jam 07.00 malam akhirnya amara selesai membereskan barang barangnya karena memang tidak terlalu banyak yang ia miliki. Amara memutuskan untuk ke toilet guna membersihkan diri. Setelah selesai dengan urusannya, amara merebahkan dirinya di kasur. Melihat handphone yang ternyata ada beberapa pesan w******p yang masuk.
“Hai Silv, lo ada acara nggak?” Rupanya pengirim pesan tersebut adalah Ruben.
“Kalo nggak ada, kita jalan yuk.”
“Nanti gue jemput di rumah.”
“Eh, tapi gue belom tau rumah lo ya.. hahahahaha.”
Amara tersenyum melihat pesan yang di kirim Ruben. 'Ni anak chatnya udah banyak aja'. Amara dengan segera membalas chat dari Ruben.
Tring…
Ruben mengambil handphonennya yang ternyata ada pesan masuk.
‘From Calon pacar’
“Nggak ada sih. Ya udah boleh deh. Nanti saya sharelock alamatnya ya.” Ruben menamai amara dengan kata 'calon pacar', karena memang pemuda itu sedang dalam tahap pendekatan.
"Yes..." Ruben bahagia membaca balasan dari amara kemudian dengan cepat membalasnya.
“Oke...kalo gitu gue rapi-rapi dulu.”
Tak lama terdengar suara pesan masuk kembali.
Tring…
"Silvie pasti udah share lokasinya. Kalo gitu gue harus gercep. Ketemu calon pacar bagusnya pake baju yang mana ya". Ruben membuka lemarinya.
Ia memilih memakai kaus biru navy, celana jeans, sneakers dan hoodie warna senada. Keluar dari rumahnya dengan membawa kunci motor ninja hitam miliknya.
Sementara itu, Amara yang baru saja membersihkan diri segera mengganti pakaiannya dengan memakai outfit setelan warna hitam dipadukan dengan jaket parka hijau. Duduk di meja rias, memoles wajahnya dengan bedak tipis dan lipgloss warna pink.
Sebenarnya ia masih capek karena baru saja pindah rumah. Tapi Amara merasa tak enak jika harus menolak ajakan Ruben untuk kedua kalinya. 'untung saya sudah pindah rumah'. Amara merasa beruntung mendapatkan momen yang pas.
Ting... Tong...
Bel rumah Amara berbunyi. Gadis itu segera keluar dari kamarnya, berjalan ke arah pintu. Membuka pintu dan melihat sudah ada laki laki yang tersenyum menunggunya.
Amara mempersilahkan ruben masuk. Lelaki itu melangkah masuk ke rumah, memperhatikan sekitar. "Ternyata rumah kamu asri banget Silv. Adem bawaanya".
"Makasih. Ngomong ngomong kamu mau minum apa?". Amara menawarkan Ruben untuk minum.
"Nggak usah repot repot silv. Yang ada aja keluarin".
"Ish, namanya ngerepotin kalo gitu".
"Hehehehe canda Silv".
Saat Amara hendak berjalan ke arah dapur, tangannya segera ditahan oleh Ruben. Ia menoleh ke belakang.
"Kenapa?". Amara melihat tangannya yang ditahan.
"Udah nggak usah. Lagian kan kita mau jalan". Ruben melepas tangannya. Amara kembali duduk di hadapan Ruben.
"Kamu mau ajak saya jalan kemana?".
"Mmm... Lo udh makan belum?".
"Belum sih".
"Oke... Kalo gitu kita ke caffe langganan gue ya".
"Boleh".
"Ngomong ngomong ayah lo mana. Gue mau izin buat bawa anak gadis orang".
Amara terekekeh mendengar kalimat Ruben.
"Ayah belum pulang, dapet lembur hari ini".
Tentu saja Amara berbohong. Karena sebenarnya ia hanya tinggal sendiri di rumah itu.
"Kalo gitu bisa kita jalan sekarang tuan putri?". Ruben membungkukan tubuhnya ala pangeran yang mengajak seorang putri untuk berdansa.
Amara menoleh, menahan tawanya melihat kelakuan ruben.
"Raja gombal".
Mereka berdua keluar dari kediaman Amara. Mengunci pintu lalu menaiki motor yang telah terparkir rapi di halaman rumah. Tak lama kemudian mereka berdua meninggalkan rumah tersebut menaiki motor.
"Tadi kamu nggak susah kan nyari alamat saya?". Amara membuka percakapan di tengah perjalanan.
"Nggak. Lancar banget malah. Ternyata jarak rumah kita juga nggak terlalu jauh. Kepleset sampe".
Amara menepuk bahu ruben. "Ish... Lebay kamu".
"Serius. Kalaupun rumah kita nyebrang laut tetep gue bilang deket. Nanti gue sewa banana boat buat ke rumah lo".
"Hahahahah... Mulai ngaco deh omongannya".
Beberapa menit berlalu, mereka berdua sampai di caffe yang terbilang instagramable banget. Caffe dengan suasana outdoor dihiasi lampu lampu.
Ditambah memang sekarang sudah malam menambah suasana caffe terlihat sangat cantik. Banyak anak muda yang nongkrong. Mulai dari yang benar benar makan sampai yang hanya numpang wifi gratis dengan dalih memesan minuman.
Ruben dan Amara memutuskan duduk di kursi yang berada di bawah pohon.
"Lo mau pesen apa silv?". Ruben sedang membuka daftar menu.
"Saya pesan steak aja. Lagi nggak pengen makan yang berat".
"Minumnya apa?".
"Jus alpukat boleh juga".
"Oke". Ruben mengangkat tangannya untuk memanggil waiters.
"Pesan steak dua, jus alpukat satu dan lemon ice satu".
Waiters tersebut mencatat pesanan mereka, menyebutkan kembali dan segera menyiapkan makannya.
Selagi menunggu, ruben memperhatikan wajah Amara yang sedang melihat sekeliling caffe. Ada rasa senang, namun dibalik wajah polos amara seperti ada hal yang disembunyikan.
"Kamu kenapa liatin saya terus? Ada yang aneh sama wajah saya?". Amara merasa sedang diperhatikan oleh Ruben.
"Nggak. Lo cantik malam ini".
"Jadi kemarin kemarin nggak cantik gitu?".
"Cantik. Tapi sekarang lebih cantik lagi. Apalagi akhirnya sekarang kita bisa kencan. Coba kalo di sekolah, mana bisa gue mandangin lo kayak gini".
Amara tersenyum, melihat ke samping. Menggelengkan kepalanya. 'dasar bocah'.
"Kamu itu ya, kalau jadi peserta playboy pasti juara. Dari tadi ngegombal terus".
"Hahahaha". Ruben tertawa mendengar celotehan gadis di depannya.
'aneh, padahal sifat ruben baik banget, perhatian pula. Tapi tetap aja saya nggak ngerasa apa apa. Beda kalau lagi sama valdo, jantung saya rasanya jadi nggak karuan ya?'. Amara menggeleng mengenyahkan bayangan Valdo yang selalu datang di pikirannya.
Menu yang mereka pesan telah datang. Ruben dan Amara memakan steak yang telah tersedia di meja.
"Ben,,saya boleh tanya sesuatu nggak?".
Ruben melihat ke depan. "Boleh. Lo mau tanya apa?".
"Kalo menurut kamu, punya perasaan dengan wanita lebih dewasa itu gimana?".
Ruben tersedak mendengar pertanyaan Amara.
"Gue kira lo mau tanya apa silv". Ruben mengelap bibirnya yang berantakan dengan saus. Meminum lemon ice untuk melegakan tenggorokannya.
"Kalo menurut gue sih, usia itu nggak ada pengaruhnya ya. Yang penting perasaan mereka sama. Selesai".
"Oh gitu ya".
"Hmm... Eh tapi kenapa tiba tiba lo tanya begitu? Jangan-jangan lo lagi suka sama berondong ya?".
Sekarang Amara yang gantian tersedak.
"Bukan,, bukan saya".
"Atau jangan-jangan kamu lagi disukai sama berondong? Bilang silv, siapa orangnya? Satu sekolah sama kita atau dari mana? Atau jangan jangan anak SMP?".
Amara menjatuhkan wajah di telapak tangannya.
"Saya bilang bukan. Saya cuma iseng iseng aja nanya itu".
"Serius...?beneran lo nggak bohong kan?".
"Ia serius, dua rius, tiga rius". Amara menjawab pertanyaan Ruben dengan candaan.
"Gue kira itu lo silv. Udah shok gue dengernya".
Selesai makan, Ruben dan amara keluar dari caffe setelah sebelumnya membayar pesanan mereka tentunya.
"Silv, muter-muter sebentar yuk".
"Hmm... Boleh juga".
Menikmati jalanan malam ibukota yang sudah mulai lengang.
"Silv. Lo kedinginan nggak?".
"Nggak. Saya udah pake jaket".
"Harusnya lo jawab dingin. Kan nanti gue bisa nyuruh lo buat peluk gue dari belakang".
Untuk kesekian kalinya, Amara hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Ruben.
Beberapa saat berlalu, mereka sampai di depan kediaman Amara. Amara turun dari motor mempersilahkan Ruben untuk mampir.
"Mau mampir dulu?".
"Nggak usah deh, kapan kapan aja. Udah malem soalnya. Takut di tangkep hansip entar dibawa ke KUA lagi".
"Hahahaha sekarang mana ada hansip. Yang ada tetangga tuh yang nangkep".
Amara tertawa terbahak bahak tak bisa menahan rasa geli. Namun di mata Ruben, pemandangan tersebut membuat jantungnya berdebar.
"Terus begini cuma di depan gue aja ya silv. Jangan ke laki laki lain terutama valdo".
Amara langsung menghentikan tawanya.
"Valdo? Kenapa sama dia?".
"Ah... Anak kecil nggak perlu tau".
'ish... Padahal yang anak kecil itu kamu ben'. Amara hanya bisa bicara di dalam hatinya.
"O ia, gue boleh pesen satu hal lagi nggak?".
"Apa?".
"Jangan kasih tau alamat lo ke valdo".