Chapter 9 - Ternyata Amara

1352 Kata
Akhirnya amara dapat keluar dari kediaman lelaki itu dengan aman setelah sebelumnya valdo beranjak masuk ke dalam toilet untuk membersihkan dirinya. Berjalan menyusuri jalanan ibu kota di tengah malam sambil memikirkan perkataan yang keluar dari mulut lelaki introvert itu. Siapa lagi kalau bukan rivaldo vinza aditya. Seketika jantung amara terasa begitu menggebu. Amara meletakkan satu tangannya di d**a yang berdetak sangat cepat, menghembuskan nafasnya perlahan. 'ini nggak bagus untuk kesehatan jantung saya'. Batin amara karena terus teringat dengan wajah valdo. Apalagi setelah kejadian first kissnya dengan valdo. Tak bisa dipungkiri, sebenarnya amara jadi suka dengan momen tersebut. Eh, suka? *** Pagi ini amara sedang berjalan menuju sekolahnya. Seperti biasa, ia berangkat lebih pagi daripada siswa lain. Berjalan melewati rute berbeda dari biasanya. Hari ini rencananya sepulang sekolah, amara akan mencari rumah yang akan di sewa untuk tempat tinggal dengan 'ayah'nya. Ya, amara akan membuat alibi jika sewaktu waktu ada momen seperti sebelumnya yang mengharuskan teman temannya mengunjungi kediamannya tanpa dicurigai oleh siapapun. Dalam pemikiran itu, tiba tiba amara mendengar suara seorang gadis sedang memohon. Dan benar saja, tak jauh dari posisinya saat ini terlihat seorang gadis sendirian sedang di paksa memberikan uangnya untuk sejumlah preman. Ternyata setelah diperhatikan, gadis itu adalah maya, mantan teman satu kelasnya. "Ehm... Ehm..." Amara berdehem mengalihkan perhatian para preman dari maya ke arah amara. Anehnya setelah para preman itu melihat amara, wajah mereka berubah pucat pasi seperti mayat. "Masih pagi, Kalian jangan buat masalah disini". Silvie melanjutkan kalimatnya membuat para preman yang tadinya memegang lengan maya tiba tiba melepasnya. Kedua kaki bergetar bagai tak mampu menopang berat tubuh mereka. "Ka... Kamu". Kata salah satu preman dibalas hanya dengan senyuman tak berdosa oleh amara. Maya kebingungan kenapa tiba tiba para preman yang tadinya seperti beruang kutub berubah menjadi hello kitty di hadapan silvie sahabatnya. Padahal jika dilihat, tidak ada yang aneh dengan silvie. Nggak ada seram seramnya. Dengan paras manis, sahabatmya itu justru lebih pantas jika disebut pemain sinetron. Pandangan maya beralih dari para preman ke amara lalu ke para preman lagi. Melihat kelakuan para preman yang saling menatap satu sama lain lalu mengangguk, perlahan menjauhi maya dan pergi. Maya dapat bernapas lega sekarang karena ia sudah aman. Berjalan menuju amara dengan wajah terharu. "Lo kenal sama mereka silv? Kok mereka langsung pergi setelah melihat lo?". Maya bertanya, bingung karena para preman itu justru terlihat takut hanya dengan melihat gadis mungil seperti sahabatnya. "Nggak... Saya nggak kenal sama mereka". Amara tetap memperlihatkan wajah polosnya ke arah maya. "Tapi kok mereka kayak yang takut sama lo ya?". Amara tersenyum, menarik lengan sahabatnya dan melangkah kembali menuju sekolah. "Udah ah, mending kita ke sekolah. Nanti telat loh". *Flashback on Amara sedang berjalan sendirian sepulang sekolah. Tiba tiba dua orang preman berbadan besar mendekati amara. Meminta paksa agar amara menyerahkan harta benda yang ia miliki. "Serahin duit dan hape lo, kalau nggak kita abisin lo disini". Amara memutar bola matanya malas. "kalau saya tetap nggak mau serahin, gimana?". "Wah, nantangin ni bocah. Sebelumnya gua udah kasih peringatan ya. Jangan salahin kalo nanti lu pulang dengan kondisi nggak utuh lagi". Salah satu preman berusaha memukul amara, namun gagal. Melihat temannya tidak bisa menyentuh target, preman lain berinisiatif mengeluarkan pisau lipatnya untuk mengancam amara. Berusaha menusuk amara ke arah perut. Amara bisa menghindar dengan mudah. Dengan sekali gerakan, amara dapat membalikan keadaan sehingga sekarang pisau lipat tersebut justru ada di tangan amara. Amara tersenyum polos khas gadis sekolah. "Ups... bagaimana ini, sekarang senjata kalian ada di tangan saya". Para preman bingung, mereka ada dua orang tapi bisa dikelabuhi dengan mudah oleh seorang gadis. Mereka marah, berusaha untuk memukul amara bersamaan. Gerakan amara sangat lincah, sehingga tidak ada satupun pukulan mereka mengenai amara. "Jadi cuma ini yang kalian bisa? Saya jadi kecewa". Amara menatap remeh ke arah para preman itu. Sekali lagi para preman mencoba memukul, menendang, berusaha untuk melukai amara tapi tetap tidak bisa. "Baiklah kalau begitu kita akhiri saja. Saya juga sedang sibuk saat ini". Dengan cepat, amara dapat melumpuhkan para preman itu. Membuat satu tangan dan kaki preman itu terkilir, dan preman yang lain harus menahan napasnya karena saat ini pisau lipat yang dipegang amara telah berada di depan leher lelaki besar itu. "Berdoa saja semoga kalian tidak bertemu saya lagi. Karena jika itu terjadi, saya tidak bisa menjamin keselamatan kalian". Tatapan amara tiba tiba berubah tajam penuh amarah. Para preman itu mengangguk tanda paham, lalu bergegas pergi dari tempat itu. *Flashback off "May, saya boleh minta tolong nggak?". Amara membuka percakapan dengan maya setelah sampai di gerbang sekolah. "Minta tolong apa? Pasti gue bantuin. Lo kan penyelamat gue silv". Maya dengan mata berbinar melihat amara. "Jangan sampai kejadian tadi diketahui semua orang. Cukup kita berdua yang tahu". "Kenapa? Gue baru aja mau cerita ke semua orang kalau lo itu penyelamat gue". Raut wajah maya seketika berubah memelas, setelah mendengar kata kata amara. "Bukannya apa, saya nggak mau jadi pusat perhatian di sekolah. Sekarang aja saya merasa nggak nyaman karena gosip belakangan ini". Maya berpikir sejenak, lalu mengangguk sekali. "Ada benarnya juga sih, ruben kan lagi pedekate sama lo ya. Hehehe. Eh tapi valdo gimana? Gue denger dia juga berubah selama ada lo. Aaaaaa gimana rasanya direbutin sama dua cowok populer di sekolah silv?". Maya berbicara tiada henti membuat amara hanya bisa menarik nafasnya dalam dalam. Bisakah ia percaya dengan maya. Seperti biasa, di waktu senggang seperti sekarang dimanfaatkan amara untuk berjalan jalan di sekitar sekolah. Berharap ia mendapat suatu petunjuk lagi. Namun, saat ia berjalan, terdengar bisik bisik yang berasal dari siswa entah kelas mana. Amara tidak mengenalnnya. "Kayaknya itu deh cewek yang gosipnya direbutin sama kak ruben dan kak valdo". "Masa sih?". "Iya gue yakin...soalnya wajahnya masih asing. Dia kan siswi pindahan". "Kayaknya masih cantikan gue deh, kok kak ruben dan kak valdo bisa naksir dia ya?". "Hahahaha pede banget lo. Muka dempulan juga. Dilihat sekilas juga bagusan dia. Tuh liat". Amara yang mendengar perkataan para siswi itu hanya bisa menggeleng pelan dan berguman 'dasar abg labil'. *** Seorang lelaki sedang berbicara melalui sambungan telepon. "bagaimana? Pekerjaan kalian udah selesai?". Killian membuka percakapan dengan anak buahnya. "Sudah bos, seperti yang sudah anda perintahkan. Kami telah menculik salah satu polisi yang bertugas dalam penyergapan beberapa waktu lalu". Jawab bawahannya. Selama ini ia hanya berkomunikasi dengan 'bos'nya dengan sambungan telepon tanpa pernah bertatap muka langsung. Sehingga ia tidak tahu wajah pimpinannya tersebut. "Bagus. Buat dia bicara siapa mata mata yang di tugaskan di SMA Cahaya Hati. Jika tidak bicara juga, ancam dia. Kalau perlu gunakan keluarganya sebagai jaminan". Perintah lelaki dengan nada bicara yang terkesan dingin. "Baik". Tut...tut...tut... Sambungan telepon langsung dimatikan sepihak dari lelaki tersebut. 'tunggu sebentar lagi. Aku pasti akan menemukanmu'. Batin lelaki itu sambil tersenyum penuh kelicikan. Semetara di waktu yang sama, di kantor kepolisian. Para pelaku p*********n yang berhasil ditangkap sedang diinterogasi. "Benarkah kalian yang telah menyerang beberapa club malam akhir akhir ini?". Iptu wahyu yang bertugas menginterogasi mereka. "Benar". Jawab salah satu pelaku. "Katakan, siapa yang memerintahkan kalian?". "Kami tidak bisa memberitahukannya". Iptu wahyu memicingkan mata ke arah mereka dan menatap dengan tajam. "Kenapa? Kalian mau melindunginya karena di bayar mahal? Apa kalian tidak menyadari posisi kalian? Dia bebas berkeliaran di luar sana, sedangkan kalian mendekam di penjara". Para pelaku terlihat berpikir sejenak, lalu mulai berbicara kembali. "karena kami juga tidak tahu bagaimana rupa pimpinan kami yang sebenarnya. Yang kami tahu hanya namanya panggilannya saja". "Apa maksud kalian? Jadi selama ini kalian juga tidak mengenal pimpinan kalian sama sekali? Jadi bagaimana kalian bisa merencanakan p*********n ini?". Kedua alis iptu wahyu mengerut. "Benar. Kami hanya menjalankan semua rencana yang diperintahkan bos kami melalui telepon". "Kalian jangan bohong, di handphone yang kami sita tidak ada kontak yang menunjukan bahwa itu adalah pimpinan kalian". "Kami tidak berbohong. Tidak ada satupun dari kami yang pernah bertatap muka dengannya. Kalaupun kami berkomunikasi, selalu dia yang menelpon dengan nomor yg berbeda beda. Jadi bagaimana kami tahu identitasnya". Jawaban para pelaku membuat iptu wahyu mengepalkan kedua tangannya. Pintar dan licik, itulah kata kata yang dapat diungkapkan kepada pimpinan mereka. Jangankan keberadaannya, untuk mengetahui identitasnya saja sangat sulit. 'semoga amara dapat segera memecahkan misteri ini'. Batin iptu wahyu ditengah kegundahannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN