Chapter 8 - Ungkapan Cinta Yang Tersembunyi

1212 Kata
"Gue lagi nungguin lo". Ucapan valdo barusan membuat amara tersentak. Ada apa dengan orang ini? Apa ada yang salah? Setahu amara seorang rivaldo vinza aditya tidak pernah menunggu seseorang seperti sekarang. Ruben yang tidak lain adalah temannya saja tidak pernah diperhatikan. Sekarang seorang silvie, siswi baru justru telah menarik perhatian lelaki dingin itu. "Nu... Nungguin saya? Ada apa ya?". Amara penasaran menunggu jawaban valdo. "Bisa kita bicara berdua sebentar?". Amara berpikir sejenak, lalu menyangggupi permintaan orang itu. "Bisa saja sih...tapi kalau boleh saya tahu, apa ada hal penting yang mau kamu bicarakan sampai mengajak saya bicara berdua?". "Gue mau memastikan sesuatu. Ikut gue". Valdo melangkahkan kakinya menuju perpustakaan sambil amara mengekori. "Saya pikir kamu bakal ngajak ke taman". Melihat valdo memasuki ruang perpustakaan yang diketahui masih sepi karena jarang para siswa datang kesini sebelum jam masuk sekolah. "Disini lebih leluasa karena nggak akan ada siswa yang datang". Valdo menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap amara. "Memangnya kamu mau memastikan apa?". Amara melihat sekeliling, dan benar saja memang tidak ada siapa siapa di dalam ruangan itu. "Jawab pertanyaan gue dengan jujur". Raut muka valdo terlihat sangat serius, menatap amara dengan tatapan tajam. "Apa...?". Amara berusaha tenang. 'nggak mungkin kan dia tahu kalau saya adalah polisi'. Batin amara sesungguhnya sudah merasa tidak nyaman. "Siapa lo sebenarnya?". Seketika suasana hening ketika pertanyaan itu terlontarkan dari mulut valdo. Amara berpikir sejenak, mencermati pertanyaan itu dan juga ekspresi yang ditampilkan lelaki di depannya. Ia mengerutkan dahi lalu memiringkan kepalanya pura pura tidak mengerti maksud valdo. "Pertanyaan kamu aneh. Memang kamu maunya saya ini siapa?". Amara menggelengkan kepalanya dan meletakkan kedua tangannya di pinggang. "Saya pikir kamu mau bicara hal penting. Kalau gitu saya duluan ya, sebentar lagi pasti jam masuk sekolah". Amara melangkah keluar dari ruang perpustakaan. Namun, baru beberapa langkah menuju keluar, valdo melanjutkan kalimatnya. "Gue menemukan sesuatu di gang tempat lo di kejar para preman semalam". Amara sontak menghentikan langkahnya. 'apakah valdo yang menemukan senjata saya?'. Amara berbicara di dalam hati. Mempertahankan ekspresi wajahnya agar terlihat setenang mungkin lalu berbalik menghadap valdo. "Menemukan apa?". "Sesuatu yang sangat berbahaya". Valdo menekankan intonasinya pada kata berbahaya. 'ah sial...sepertinya memang benar jika valdo yang menemukan benda itu'. "Maksud kamu apa? Lagian dari tadi omongan kamu itu penuh dengan teka teki. Saya nggak mengerti apa yang kamu bicarakan. Kalau tidak ada hal yang penting, saya ke kelas duluan ya. Bye". Amara melanjutkan langkahnya keluar dari ruang perpustakaan menuju kelas. Melihat amara keluar dari ruang perpustakaan, valdo bergumam. "Gue akan terus mencari tahu siapa lo silv". Beberapa kalimat valdo gunakan untuk memancing reaksi silvie, tapi ternyata hal itu tidak berpengaruh sama sekali. Silvie terlihat sangat tenang saat menjawab pertanyaan yang valdo berikan. Tapi sorotan mata silvie yang terlihat oleh valdo masih sama yaitu keyakinan diri. Hal itu membuat valdo tidak tenang. Semakin berusaha dilupakan justru bayang bayang silvie terus terngiang di kepalanya. "Tumben lo nggak ada di taman do, malah tadi gue denger lo ada di kantin. Kirain kenapa pagi pagi tetiba sekolah jadi heboh. Gue pikir lo bakal jadi makhluk abadi taman sekolah". Serentetan kalimat keluar dari mulut ruben saat melihat temannya melangkah masuk ke dalam kelas. Valdo meletakkan tas punggungnya di kursi. "Terserah gue mau kemana, kenapa kalian yang pada heboh". "Ow...ow...ow... Gue jadi takut". Ruben meledek temannya. "Kalau sifat lo begini terus, gue yakin seumur hidup lo bakal jomblo do". "Lo aja masih jomblo sampai sekarang". Amara tersenyum mendengar kalimat valdo barusan. "Lo ketawain gue silv? Oh my god berikanlah hamba kesabaran". Ruben mengusap dadanya. *** Jam sekolah telah usai, valdo sedang berjalan menuju parkiran motor. Tak disangka, ruben berdiri menunggu dirinya sambil menyandarkan tubuhnya di motor milik valdo. "Hey do...ada sesuatu yang mau gue omongin. Lo ada waktu nggak?" Ajak ruben. "Mau ngomongin apa?". Tanya valdo datar. "To the point aja. Gue mau tanya, lo ada perasaan sama silvie. Karena jujur, gue sendiri punya feel ke dia". Tanpa menjawab, valdo segera mengambil helm dan menaiki motornya lalu berkata "Gue nggak peduli. Terserah lo mau punya perasaan ke siapapun termasuk cewek itu". Setelah itu valdo menyalahkan starter. "Gue akan berusaha rebut hatinya walau gue harus bersaing sama lo do". Valdo yang mendengar itu langsung menengok sebentar ke arah ruben lalu memutar gas meninggalkan ruben di parkiran sekolah. 'Gue akan berusaha keras do, nggak akan ada yang bisa menghalangi gue buat dapetin silvie'. Batin ruben melihat punggung valdo yang semakin menjauh. Sementara itu di tempat kos, amara sedang memikirkan perkataan yang dilontarkan oleh valdo mengenai 'benda berbahaya' yang ditemukannya. Benarkah valdo yang menemukan senjatanya, atau dia hanya ingin memancing reaksi amara saja. Bagaimana cara membuktikannya. Amara berpikir satu satunya cara untuk mengetahuinya dengan mencari langsung benda tersebut di tempat kos valdo. Untung saja itu bukan tempat kos biasa, melainkan seperti rumah yang disewa sendiri. Amara memutuskan untuk menyelidikinya malam ini. Semoga semua berjalan lancar. Malam pun datang, sekitar jam 12 malam. Amara bersiap siap menuju tempat kos valdo dengan mengenakan pakaian serba hitam. Sesampainya disana, amara mengamati kondisi tempat kos valdo dimana hanya bagian luar saja yang lampunya menyala. Sedangkan bagian dalamnya gelap gulita. 'apakah valdo sedang tidak di rumah'. Amara bertanya sendirian. Gadis itu terus mengamati keadaan sekitar rumah. Terlihat beberapa cctv terpasang di area depan. Setelah mengamati seluruh lokasi yang terpasang cctv, amara dengan mudah dapat mengetahui titik buta alat tersebut sehingga ia bisa masuk tanpa terlihat oleh siapapun. "Dasar amatiran. Percuma memasang cctv seperti ini jika masih banyak celah untuk masuk". Amara menggelengkan kepalanya. Ia pun masuk dengan mudah ke rumah yang besar itu. Terus mengamati keadaan sekitar. Selalu dalam kondisi siaga jika sewaktu waktu ada orang yang tiba tiba datang. Amara terus mencari 'barang berbahaya' yang sempat di katakan valdo tadi pagi. Seluruh ruangan telah ia periksa, namun tetap tidak mendapatkan apa apa. Yang tersisa kemungkinan adalah kamar tidur valdo. Amara membuka pintu kamar valdo secara perlahan. Ternyata ruangan itu juga kosong, tidak ada penghuninya. 'sepi sekali disini. Kira kira kemana penghuninya ya'. Amara berjalan masuk ke dalam kamar. Melanjutkan pencariannya mulai dari lemari pakaian, toilet pribadi yang berada di dalam kamar, bawah kasur, hanya tinggal nakas di samping tempat tidur yang belum diperiksa. Perlahan amara menarik gagang nakas. Namun, belum sempat membukanya, terdengar suara langkah kaki mendekati kamar tidur tersebut. Amara yang mendengarnya langsung menutup kembali nakas tersebut dan mencari tempat persembunyiannya. Amara memutuskan untuk bersembunyi di bawah kasur valdo. Benar saja setelah amara bersembunyi, dari bawah kasur ia melihat sepasang sepatu laki laki memasuki ruangan tersebut. Laki laki itu terlihat melepas mulai dari sepatu, jaket, t shirt sampai celana jeans hitam dan membuangnya asal. Ia merebahkan dirinya di kasur dengan setengah kaki masih menggantung di lantai. "Apa benar yang gue rasakan sekarang adalah jatuh cinta?" Terdengar suara laki laki tadi berbicara sendiri dan benar saja itu adalah suara valdo. Amara hanya bisa menunggu kesempatan keluar dari balik kasur sambil mendengarkan celotehan yang valdo utarakan. 'jatuh cinta?ternyata si introvert ini bisa jatuh cinta juga. Saya pikir hatinya dibuat dari batu'. Amara senyum sendiri mendengar perkataan valdo. Valdo pun melanjutkan kalimatnya, "aarrgghh...kenapa harus gadis cerewet dan suka mengganggu ketenangan orang sih. Sial...semakin dilupakan, bayangannya justru semakin hadir di pikiran gue. Ruben juga ternyata punya perasaan untuk gadis itu. Silvie sebenarnya siapa kamu sebenarnya". Amara mendengar semua perkataan valdo. Ia membulatkan matanya, menutup mulutnya dengan tangan agar tidak ada suara yang keluar dikarenakan terkejut setengah mati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN