Pagi ini seakan babak baru untuk hidup Tara yang malang. Ia tak lagi terbangun dengan d**a sesak karena sakit yang mendera. Lukanya belum sepenuhnya sembuh, akan tetapi dirinya bisa kembali menemukan jalan untuk kembali pada dirinya sendiri. Setelah membersihkan diri, Tara segera ke lantai bawah untuk membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Tak ada lagi yang perlu ia dahulukan. Saat ini semua hanya tentangnya dan Tara ingin menjadi seegois itu. Tak memikirkan orang lain, tak membagi hati, dan juga pikirannya. Tara duduk di meja makan. Memeriksa ponsel dan memastikan truk pindahan yang dipesannya sampai tepat waktu sembari menyantap mie goreng yang dimasaknya untuk mengisi perut di pagi ini. Tara teringat akan Eve dan segera menghubungi sahabatnya itu. “Kamu udah siap, Eve?” Tanya Tara be

