Merakit Bahagiaku Sendiri

1348 Kata

Mentari pagi menyambut Tara, seakan tersenyum riang padanya yang tak lagi memiliki hati. Tara keluar ke balkon kamar, menarik nafas dalam-dalam, dan mengisi paru-parunya dengan udara pagi yang menyegarkan walau berbalut polusi. Resiko yang harus diambil karena tinggal di kota besar yang kekurangan udara segar untuk dinikmati. Tara memperhatikan taman kecil rumah yang ia bangun berdua bersama Abimanyu. Semuanya seakan baru saja terjadi kemarin. Siapa sangka, kini apa yang ada di antara mereka telah berakhir. Masih begitu jelas dalam benak Tara tentang kebahagiaan yang pernah mereka bagi saat menceritakan tentang rencana masa depan di rumah ini. “Taman seperti apa yang akan kita bangun di tanah yang nggak begitu luas ini?” pertanyaan pria itu dibarengi dengan pelukan di pinggang Tara. Pria

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN