Suasana lobi kantor sudah tampak sepi. Hanya beberapa orang yang masih berada di sana, sebagian menunggu jemputan, atau sekadar beristirahat. Suara sepatu yang beradu di lantai mendominasi indera pendengaran, namun tak mampu mengembalikan kesadaran Tara. Dirinya seakan terjebak dalam keheningan yang membuat pikirannya melayang. Tara masih betah menatap heran pria di hadapannya. Segala rasa berkecamuk di dalam hati. Ia mencari tahu arti dari pertanyaan pria itu. Mengapa tiba-tiba pria itu meminta hal konyol yang membuat sesak menyerang d**a Tara? Bukankah semua sudah sangat terlambat untuk mempertegas jika taka da lagi cinta di hatinya? Selama ini, ia sudah berusaha menunjukkan jika Tara telah membunuh cintanya, lalu mengapa hari ini Abimanyu mau ia mengakuinya secara langsung? Apa untungn

