Aku Bukanlah Satu-satunya

1174 Kata

Tara membenamkan wajah di bantal, meredam isak tangis pilu yang tak mampu ia hentikan. Hatinya sakit bukan main. Semua impiannya musnah dalam sekejap. Apa yang ia bangun bersama Abimanyu harus ia relakan hancur, keretakkan yang ada tak mungkin lagi bisa ia perbaiki. Semua harus dilepaskan agar bisa kembali hidup, namun Tara pun tak yakin jika ia bisa kembali hidup dengan begitu banyak luka yang bersemayam dalam hati. Entah sudah berapa lama Tara menangis hingga kantuk menjemput dan memberikannya kedamaian dalam dunia mimpi, walau hanya sesaat, mampu membuatnya merasa tenang. Tara mengubah posisi tidurnya menjadi miring, menatap sendu bagian kosong di sampingnya yang dulu ditempati oleh Abimanyu. Ia tersenyum miris saat matanya menangkap amplop coklat di sana. Tara mengambil ponsel di naka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN