Tara segera menyimpan kembali surat cerai mereka ke dalam amplop yang tadi membungkusnya, lalu berdiri hendak meninggalkan Abimanyu. Akan tetapi, perkataan lelaki itu membuatnya mengurungkan niat dan berdiri terpaku di tempatnya. “Kita harus menjual rumah ini dan membagi hasilnya secara rata.” Tara menoleh dan tersenyum miring. “Kamu nggak bisa melakukan ini padaku, Mas. Rumah ini nggak akan dijual dan akan menjadi milikku sepenuhnya,” Tara menatap tajam pria di hadapannya, sedang Abimanyu tersenyum polos pada Tara, terlihat tak peduli dengan perkataan wanita itu. Abimanyu tak mau lagi bersikap baik pada Tara yang semakin kelewatan. “Tentu saja bisa, Tara. Bukankah sudah kubilang kalau kamu nggak akan mendapatkan apa yang kamu inginkan dengan mudah. Dibalik sikap polosmu, ternyata meman

