Tak Boleh Menangisimu

1248 Kata
Eve merasa khawatir menatap penampilan Tara, wanita itu tampak begitu hancur, menyayat bathin Eve. Tara seakan menulikan telinganya saat Eve menemukannya di pinggir jalan dan memanggilnya. Sahabatnya itu tengah menangis pilu dan tak menyadari kehadiran maupun panggilannya, dunianya senyap. Jantung Eve seakan diremas melihat pemandangan itu. Eve yang tadinya ingin memarahi Tara pun memilih mengurungkan niatnya. Rasa iba memenuhi setiap relung hatinya. Ia takut, salah ucap sedikit, maka Tara akan semakin hancur. Pada akhirnya, Eve hanya bisa menuntun sahabatnya itu ke dalam mobil dan membiarkannya menangis sepuasnya. Setelah ia rasa reda, maka Eve menanyakan tujuan wanita itu. Tara tak ingin dibawa ke rumahnya ataupun pulang ke rumahnya sendiri. Wanita itu malah meminta Tara untuk mengajaknya duduk bersantai pada sebuah kedai kopi di pusat perbelanjaan yang sering mereka kunjungi bersama. Ingin mencari udara segar, katanya pada Eve. Di sinilah mereka sekarang. Duduk manis berhadapan dan sibuk dengan pemikiran masing-masing. Hanya ada dua gelas kopi di antara mereka, punya Eve telah kandas, namun tidak dengan milik Tara yang belum tersentuh sedikit pun. Mata Tara tampak bengkak, wanita itu bahkan tak mau menutupi matanya dengan kaca mata hitam,Tara seakan tak peduli lagi akan tatapan orang-orang di sekelilingnya. Tara seakan tengah terjebak di dalam dunia yang tak bisa disingahi oleh Eve. Ingin rasanya Eve menghibur hati sahabatnya, namun tak tahu harus berbuat apa. Tara seakan membentengi dirinya, tak ingin diganggu. “Eve … apa menurutmu aku akan bertahan?” kini Tara mendongakkan wajah dan menatap Eve penuh tanya, sedang yang ditatap terperanjat sesaat, lalu senyum menenangkannya mengembang. Eve menggenggam tangan Tara, mencoba menyalurkan sedikit kekuatannya pada sahabatnya yang malang itu. “Tentu saja. Kamu kuat Tara dan Mas Abi nggak pantas ditangisi,” ucap Eve sungguh-sungguh, “dia nggak lagi bisa melihat betapa menariknya kamu, Ra.” Tara tersenyum miris. Menarik? Ia tak lagi merasa seperti itu karna perselingkuhan suaminya. Bahkan mengubah penampilan dan juga gayanya berbusana, tak mampu membuatnya merasa jauh lebih baik. Martabatnya telah dihancurkan dengan kejam, hingga tak ada lagi kepercayaan diri yang bisa membuatnya merasa lebih baik. Jika saja lelaki itu berselingkuh dengan wanita yang tidak lebih cantik darinya, mungkin ia akan merasa lebih baik. Tara menggeleng, mencoba mengenyahkan pemikiran bodoh itu. Tentu saja perngkhianatan tak ‘kan membuat hati tidak tersakiti, selalu ada luka dalam setiap hubungan yang dirusak. “Apa menurutmu aku menarik?” pertanyaan Tara penuh dengan keputusasaan. “Kau memang bodoh. Tentu saja menarik. Kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun dengan mudah jika kamu mau,” Eve tersenyum lebar, “coba saja berkeliling dan kupastikan dalam beberapa menit, kamu akan membawa gandengan untuk mentraktir kita minum kopi.” Perkataan penuh penghiburan itu tak mampu sedikit pun membuat hati Tara merasa lega. Ia justru merasa semua itu hanyalah kata-kata yang tak memiliki arti apa pun, hanya sekadar untuk menyenangkan hatinya yang terluka. Sungguh, kini Tara tak bisa mempercayai apa pun yang ada di dalam dirinya. Semua telah musnah. Tak ada lagi keinginan maupun mimpi. “Kamu mengatakan semua itu karna kamu adalah sahabatku, Eve.” Eve menggeleng cepat. “Tara … jangan biarkan Mas Abi turut menghancurkan dirimu. Cukup pernikahan kalian saja yang dia hancurkan. Kamu berharga dan kamu bisa membuatnya menyesal karna telah menyia-nyiakanmu begitu saja.” Wanita berambut ikal sepunggung itu mendengkus kesal kala mengingat apa yang pria itu telah lakukan pada sahabat baiknya. Tara tersenyum masam. Ia tahu, jika tak seharusnya ia merasa begitu rendah hanya karna lelaki itu telah menghancurkan dunianya. Ia tahu, jika tak harus ada air mata untuk lelaki jahat sepert Abimanyu yang mengatakan mencintai wanita lain dengan begitu santainya, seakan hati Tara terbuat dari batu hingga tak mungkin bisa merasakan sakit. Harusnya, ia pergi saja. “Dia nggak mau kami berpisah sekarang. Mama sedang sakit dan kondisinya lebih, hingga Mas Abi nggak mau memberikan berita yang akan membuat sakit jantungnya kambuh,” Tara menarik napas panjang dan menghelanya perlahan, “tapi, aku nggak tahu apakah mampu bertahan setelah hatiku dihatam bertubi-tubi seperti itu.” “Tara … harusnya itu menjadi urusan Mas Abi. Bukan kamu yang memikirkannya. Toh, dia yang menghancurkan semuanya. Bagaimana dia bisa bersikap seegois itu?” tatapan mata Eve penuh amarah. Abimanyu yang dulu dikenalnya tak segila ini. Lelaki itu telah menjadikan Tara pusat dunianya, mendahului semua kepentingan Tara, dan tak berani melukainya. Apa semua perubahan lelaki itu adalah akibat dari hasutan wanita ular yang begitu pintar berakting di hadapan semua orang? Ingin rasanya Eve mengamuk, menyeret keduanya, dan membenturkan kepala mereka agar keduanya sadar jika apa yang mereka lakukan telah menyakiti sahabatnya. Tak berpikirkah mereka akan hati Tara sebelum melakukan kesalahan? “Mama Mas Abi sudah seperti orangtuaku sendiri dan aku sendiri nggak tega menyakiti wanita itu,” bibir Tara bergetar, “tapi … aku nggak bisa terus-terusan membunuh hatiku sendiri. Apa yang harus kulakukan, Eve?” air mata Tara kembali tumpah. Eve segera berdiri, mengambil tempat di samping Tara dan memeluk tubuh sahabatnya. Eve mengusap-usap punggung Tara, mencoba menghentikan getaran pada punggung karibnya. “Tara … lepaskan,” bisik Eve lirih, “Kamu boleh memikirkan orang lain, tapi pikirkan juga dirimu sendiri. Sampai kapan kamu tahan bertemu dengannya dan ikut tersiksa saat di kantor? Nggak ada satu tempat pun yang bisa membuatmu lari dari kenyataan walau hanya untuk sebentar. Toh, lelaki itu nggak memikirkanmu sebelum berselingkuh.” Andai Tara bisa sekejam itu dan menjadi egois, maka semuanya akan jauh lebih baik. Tara tak mungkin bisa sejahat itu pada ibu Abimanyu yang begitu menyayanginya. Ia akan menyalahkan diri sendiri, jika karna dirinya, wanita tua itu mendapatkan celaka. Ia lebih memilih dirinya yang pergi dari dunia ini, daripada harus menanggung rasa bersalah untuk seumur hidupnya. Begitu banyak hal yang mengikat kaki Tara dan tak bisa beranjak pergi. “Andai aku bisa segila itu. Mungkin, aku nggak akan duduk di sini bersamamu dengan hati yang begitu kacau. Aku nggak mungkin melakukan semua itu karna nyama mama menjadi taruhannya. Eve … aku benar-benar tersesat karnanya.” Pedih menyiksa bathin Tara, membuat dadanya sesak bukan main. Dirinya berada di ambang keputusasaan. Ia tak mampu lagi menganalisa tentang keputusan yang benar. Pikirannya kacau karna semua pedih yang menyiksa. Eve menyerah. Ia mengerti betapa sulit Tara saat ini. Di satu sisi, wanita itu tak mampu menahan pedih di hati kala menatap wajah suami dan juga selingkuhannya yang terlihat polos. Namun di sisi lain, nyawa orang kesayangannya adalah petaruhannya. “Kalian memang nggak mungkin bercerai sekarang, tapi kamu harus keluar dari rumah itu, Tara. Cari kontrakan atau mungkin kostan kecil. Bicarakan dengan Mas mu dan mungkin dia akan menghajar Mas Abi dan membuatnya kembali sadar.” Tara cepat-cepat menggeleng. Memberitahukan perihal rumah tangga mereka pada satu-satunya kakak lelakinya akan memperparah keadaan. Derry—kakak lelakinya pasti akan menghajar Abimanyu habis-habisan dan meminta mereka segera bercerai. Ia akan menyakiti ibu lelaki itu jika semua berakhir seperti itu dan Tara tak menginginkannya. “Kamu tahu sendiri gimana Mas Derry menyayangiku. Dulu, dia sempet ragu melepaskanku pada Mas Abi padahal mereka sahabat karib dan kini aku tahu alasannya. Mas Abi, lelaki popular yang Mas Derry pikir nggak akan bisa setia pada satu wanita.” Eve mengangguk. Ia tahu benar siapa Abimanyu di masa muda mereka. Kapten tim basket itu adalah idola kampus dan juga karib Derry yang kerap melakukan kenakalan masa muda bersama. Derry tentu saja berat melepas satu-satunya adik perempuannya pada Abimanyu, namun kesungguhan dan juga cinta Abimanyu meluluhkan Derry yang terkenal berhati keras. “Jalan satu-satunya adalah keluar dari rumah itu dan kita akan memikirkan semuanya nanti. Kamu nggak boleh lagi menangisi Mas Abi. Kamu harus kuat dan hadapi mereka. Aku akan selalu ada untukmu, Tara.” Senyum Eve, mampu menenangkan sedikit kepiluan Tara. Tara mengangguk. Ya, mulai hari ini, ia tak boleh lagi menangisi lelaki yang tak sedikitpun memikirkan diri dan hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN