Setelah menghabiskan waktu berduaan dengan Eve sepanjang hari. Tara kembali ke rumahnya. Rencananya, Tara akan mengemasi semua barang-barangnya, lalu mencari kostan kecil untuk ditinggalinya untuk beberapa hari. Ia tak sanggup bila harus tersiksa di rumah dan juga kantor. Dirinya merasa lelah untuk terus-terusan tersenyum, saat hatinya dibunuh kejam.
Langkah Tara terhenti begitu mendengar tawa menggelegar dari ruang tamu. Suara yang begitu familiar dan sudah lama tak didengarnya. Hati Tara dipenuhi banyak rasa yang tak bisa diutarakan, ada sedih dan juga bahagia. Tawa lelaki itu membuat dirinya yang tadi ingin bersikap kuat, mendadak kembali lemah. Ingin rasanya ia berlari ke dalam pelukan lelaki itu dan mengadukan semua bencana dalam pernikahannya, sebagaimana dirinya dulu yang kerap berkeluh kesah pada lelaki itu, lalu lelaki itu akan membujuk dan menyenangkan hatinya. Andai saja, manusia tak perlu menjadi dewasa, maka seumur hidup ia akan bahagia.
“Tara … kenapa bengong di sana, Dek?”
Lelaki yang menyadari kehadiran Tara segera bangkit berdiri dan membentangkan kedua tangannya. Tara tersenyum, lelaki itu tak pernah berubah. Tak peduli jika waktu membuat mereka menua, lelaki itu kerap memperlakukannya bak anak kecil. Senyum Tara mengembang dan ia segera berhambur ke dalam pelukan lelaki itu, memeluknya erat bukan main. Ingin rasanya ia menangis, antara rindu dan pedih yang menjalar ke penjuru hati, rasa yang tak lagi sanggup ditanggungnya seorang diri. Bolehkah dirinya menangis?
Lelaki yang merasa kaosnya mulai basah, segera melepaskan pelukan mereka. “Hei … kenapa adik kecilku ini menangis? Sebegitu rindunya sama Mas mu yang ganteng ini?”
Tara ingin tertawa, namun tak bisa. Tangisnya malah mengalir semakin deras. Sungguh, semua ini bukanlah keinginannya. Ia ingin menyambut lelaki itu dengan kebahagiaan, namun apa daya, kelenjar air matanya seakan bocor dan terus tumpah. Lelaki itu mulai khawatir menatap Tara, lalu ia mengarahkan pandangan pada lelaki yang sedari tadi duduk di sofa mengamati keduanya, meminta penjelasan atas tangisan adik tercintanya. Lelaki itu tak menyukai pemandangan di hadapannya dan ia tak kan segan-segan jika memang adiknya dilukai.
Lelaki yang ditatap itu segera bangkit berdiri dan mendekati kedua kakak beradik itu. Ia mulai gugup, takut-takut Tara akan menumpahkan semuanya dan mengacaukan segala rencananya. Ia tak ingin semua orang tahu dengan cara seperti ini. Dirinya pun ingin segera terlepas dari hubungan yang tak lagi memiliki makna, akan tetapi bukan seperti ini.
Tara yang sadar jika dirinya membuat Abimanyu ketakutan pun segera menghapus kasar air matanya. “Kenapa malah menyalahkan orang karna tangisku?” ucap Tara terisak, “Apa Mas nggak sadar kalau sudah melakukan kesalahan besar yang mengharuskanku untuk sedih dan juga marah?” Tara menatap kakak lelakinya itu dengan sendu.
Oh …. Andai lelaki itu tahu apa yang tengah ia alami dan betapa Tara membutuhkan lelaki itu di sisinya. Andai saja bisa kembali menjadi anak kecil yang tak harus memikirkan sebab dan akibat dari perbuatannya, maka Tara ingin bersikap egois. Ingin sesekali ia memikirkan dirinya seorang dan hidup untuk dirinya sendiri. Bukan lagi untuk Abimanyu, keluarga mereka, dan juga cinta yang penuh kepalsuan. Perasaan sementara yang meninggalkan luka mendalam.
Abimanyu mulai bernapas lega. Ia tahu, Tara tak mungkin mengkhianati kesepakatan mereka untuk bertahan sedikit lagi demi keluarga mereka. Abimanyu tahu, jika dirinya terlalu jahat karna meminta Tara bertahan, akan tetapi Tara harus sadar, jika Abimanyu pun merasa tersiksa, sama dengan wanita itu. Ia ingin bersama dengan kekasihnya, tertawa dan mencintai.
Derry mengusap sisa-sisa air mata Tara. “Apa karna aku menghilang selama dua bulan ini?” lelaki itu kembali membawa Tara ke dalam pelukannya dan mengusap-usap lembut punggung wanita itu, “maafin, Mas ya, Dek,” lanjutnya setengah berbisik.
Tara tak ingin terlihat lemah. Ia telah berjanji untuk tetap kuat dan menunjukkan pada Abimanyu jika dirinya tak mudah dihancurkan begitu saja. Ia akan membalas dendam dan menunjukkan pada Abimanyu jika lelaki itu berurusan dengan orang yang salah. Wanita bisa melakukan apa pun saat hatinya terluka, termasuk menikam jantungnya sendiri.
Tara melepaskan pelukannya. “Aku merindukanmu, Mas. Mama dan papa juga sama. Harusnya kamu pulang dan nggak lagi menghilang karna pekerjaan. Sesibuk apa pun dirimu, jangan pernah pergi tanpa kabar. Kamu udah tiga puluh tiga tahun, Mas.”
“Adekku udah besar ya. Udah bisa menceramahi Masnya,” Derry tertawa lalu menoleh ke arah sahabatnya, “nampaknya semenjak menikah denganmu, Tara jadi lebih berani.”
Abimanyu tertawa tipis. Dirinya pun tak menyadari perubahan Tara sampai tadi siang. Bagaimana wanita itu dengan berani meninggalkannya, mengatakan hal-hal yang selama ini tak pernah terpikirkan olehnya, dan membuat Abimanyu merasa tertinggal. Bagaimana mereka bisa hidup serumah, akan tetapi Abimanyu merasa seakan tak lagi mengenali wanita itu?
Tara memeluk lengan kakak lelakinya. “Jangan lagi membicarakan tentangku. Apa Mas udah makan? Tadi pagi, aku masak ayam semur, ku panaskan sebentar dan kita semua makan ya, Mas?” Tara membalut lukanya dengan senyuman.
Mungkin Abimanyu telah menularinya kemampuan berakting, hingga Tara bisa melakukannya dengan baik. Dirinya memang bodoh selama setahun lamanya bisa ditipu dengan akting Abimanyu dan juga Dania. Saat dirinya berpikir hubungan mereka baik-baik saja, kenyataan malah menampar keras pipinya, membangunkannya dari mimpi indah.
Begitu tiba di ruang makan, Tara meminta Derry untuk duduk menunggu, sementara dirinya memanaskan masakan yang dimasaknya tadi pagi. Sebelum dirinya memutuskan untuk menemui Abimanyu dan menghancurkan semua kepura-puraan yang ia pikir akan berakhir saat itu juga. Namun siapa sangka, dirinya harus bertahan sedikit lebih lama lagi.
“Aku akan membantumu,” ucap Abimanyu begitu melihat Tara berjalan ke dapur. Ia mengikuti Tara sembari membawa mangkok-mangkok berisi masakan yang dimasak oleh Tara.
Tara tak mengatakan apa pun, tak juga menolaknya. Dirinya tengah belajar menjadi tak peduli, sebagaimana yang selama ini lelaki itu lakukan saat dirinya mati-matian berusaha memperbaiki hubungan mereka yang mulai retak.
“Jangan malah pacaran di dapur ya. Mas mu ini udah laper,” teriak Derry dibarengi dengan tawa begitu keduanya sudah berada di dapur. Lelaki itu mulai mengeluarkan ponsel untuk menghalau rasa bosan dari menunggu. Derry bahagia melihat kehidupan adiknya. Abimanyu yang tak segan turun tangan membantu, membuat Derry merasa keputusannya benar.
Tara mulai menyalakan kompor dan memanaskan makanan, sementara Abimanyu berdiri di sampingnya dan menatap Tara dalam diam, sedang yang ditatap tak mau sedikit pun menoleh ke arahnya. Tara melakukan pekerjaannya dengan sunyi, tak ingin memulai pembicaraan yang akan membuat hatinya merasa kacau.
“Makasih …” Abimanyu berusaha memecah keheningan di antara mereka.
Tara tak merespon. Ia memasukkan kembali masakan yang dipanaskan ke dalam mangkok bersih yang diambilnya dari rak piring. Abimanyu tersenyum miris, kebisuaan Tara adalah hal yang wajar. Apa yang ia harapkan dari wanita yang telah disakitinya? Keramahan yang sama? Sungguh, dirinya tak semunafik itu dan berpikir Tara masih akan memperlakukannya sama seperti dulu. Memberikan kehangatan dan keramahan seperti dulu lagi.
“Maafkan aku, Tara. Aku pastikan, semua ini akan segera berakhir,” ucap Abimanyu lagi. Menghentikan gerakan Tara, wanita itu tersenyum tipis, lalu menoleh pada Abimanyu.
“Cepat beri pengertian pada mama mu karna aku mau menjalani kehidupanku tanpa beban apa pun. Aku bukanlah penipu ulung sepertimu yang bisa terus-terusan bersandiwara dan berlagak polos di depan orang-orang yang kusayangi. Selesaikan semuanya atau aku akan bongkar dan mengakhiri kekacauan ini dengan caraku sendiri.”
Tatapan mata Tara begitu dingin, senyum miring, dan perkataan yang datar itu membuat Abimanyu membeku sesaat dan Tara menggunakan keterpakuan lelaki itu untuk segera berlari agar tak perlu lagi memperpanjang penderitaannya. Hanya Tuhan yang tahu, betapa pedih hatinya, dan betapa besar keinginannya untuk segera pergi dari penderitaan itu.