Andai Semua Adalah Mimpi

1152 Kata
Tara dan Abimanyu tampak kompak menyiapkan meja makan dan seisinya untuk tamu mereka. Sementara lelaki itu menatap keduanya secara bergantian, senyum menghiasi wajah tampan lelaki itu. Ia bernapas lega melihat kehidupan pernikahan adiknya yang masih sama hangatnya seperti dulu, walau mereka sudah lima tahun lamanya menikah. Dulu, Derry pikir, Abimanyu tak serius mengencani adiknya. Ia pun sempat melarang Abimanyu mendekati adiknya karna Derry tahu benar bagaimana popularnya Abimanyu, hingga rasanya mustahil lelaki itu jatuh hati pada adiknya yang terlalu sederhana. Tara, adalah wanita kesayangan di keluarga mereka, namun dengan berlimpahnya kasih sayang yang ia dapatkan tak membuat Tara menjadi seorang anak manja. Wanita itu tumbuh menjadi gadis sederhana dan dewasa. Saat gadis lain sibuk menghabiskan waktu di luar dan merias diri, Tara lebih suka mendekam di kamar, membaca buku atau menulis artikel yang bisa menghasilkan uang. “Aku senang melihat kalian masih sama seperti dulu,” ujar Derry begitu keduanya duduk di hadapanny, “padahal, ku pikir Si kadal ini akan menyelingkuhimu Tara. Melihat bagaimana popularnya dia, membuatku takut adik kesayanganku akan disakiti olehnya.” Perkataan Derry membuat Abimanyu menelan ludah dengan susah payah, sedang Tara tersenyum, sedetik kemudian senyumnya berubah menjadi tawa, lambat laun suara tawanya semakin kencang, membuat kedua orang lelaki itu menatapnya heran. Mungkin benar, Tara sudah mulai gila karna hatinya yang telah patah. Namun ia tak kuasa mencegah tawanya mendengarkan kata-kata konyol yang keluar dari mulut kakak lelakinya. Terlalu lucu, hingga hatinya begitu pedih, dan air mata jatuh di sudut mata karna tawanya yang sulit dihentikan. “Apa ada yang lucu, Ra? Kamu baik-baik aja, ‘kan?” Derry menatap adiknya khawatir, tak pernah sekalipun ia melihat Tara bertingkah aneh seperti sekarang. Tersenyum, lalu tiba-tiba tertawa pada hal yang sebenarnya tidak lucu sama sekali. Derry menatap adik semata wayangnya dengan tatapan meneliti. Menerka-nerka perkataan mana yang memancing tawa adiknya itu, ia mengingat kembali kalimat yang diucapkannya dan tak menemukan satu patah katapun yang terasa lucu. Jantung Abimanyu berhenti berdebar, lalu berdebar kencang, ketakutan menyelimuti hatinya melihat kegilaan Tara. Ingin rasanya ia membungkam mulut wanita itu dan memintanya tak berulah agar mereka bisa sama-sama diuntungkan, namun dirinya tak bisa melakukan semua itu di hadapan Derry. Abimanyu tahu, jika Tara pasti tengah mempermainkannya. Ia ingin memancing amarahnya dan membiarkan dirinya yang membuka aibnya sendiri. “Kamu beneran aneh deh, Ra. Jangan buat aku takut,” Derry tak suka melihat keadaan adiknya dan dirinya mulai penasaran apa yang membuat wanita itu bersikap tak biasa. Tara menghentikan tawanya dan mengusap air mata yang keluar karna tawanya itu. “Maaf, Mas. Hanya saja, aku mengingat masa lalu,” Tara menoleh pada Abimanyu yang duduk di sampingnya, “Mas Abi itu bagai mimpi yang jadi nyata. Bahkan aku sampai sekarang nggak percaya kalau kami adalah sepasang suami istri,” lanjut Tara memeluk lengan Abimanyu dan tersenyum pada kakak lelakinya yang kini menampakan kelegaan pada wajahnya. “Mas pikir, kamu kenapa-napa sampai ketawa begitu.” “Rasanya sedikit konyol aja sih, Mas. Hal yang nggak pernah kita duga malah terjadi pada kita. Memang, nggak ada seorang pun yang akan tahu apa yang terjadi besok,” Tara kembali menoleh pada Abimanyu dan tersenyum manis, “ya nggak, Sayang?” Abimanyu tersenyum kikuk, lalu mengangguk. Tara segera melepaskan pelukannya, dan meminta mereka semua mulai bersantap. Mereka bercerita dengan sangat seru. Sejujurnya, hanya Derry dan Tara yang asyik bercerita, sedang Abimanyu sesekali menanggapi. Dalam diam, Abimanyu mendadak kesal melihat tawa lepas Tara, apalagi wanita itu seakan-akan menganggapnya tidak ada dan bercerita tanpa henti dengan kakak lelakinya. Bukannya Abimanyu iri atau cemburu dengan kedekatan kakak beradik itu. Hanya saja, lelaki itu merasa ditinggalkan dan tak dianggap dengan cara yang tak pernah ia duga. “Jadi … kalian masih menunda untuk punya anak?” Tanya Derry begitu mereka semua sudah selesai makan dan duduk bersantai di ruang keluarga. Pertanyaan Derry, membuat Tara tersenyum tipis. “Mas Abi masih sangat sibuk, Mas.” “Aku butuh suara tawa anak kecil, tapi jangan merasa terbebani, karna ini adalah hidup kalian berdua,” Derry mencengkram lengan adiknya. Derry kakak yang selalu pengertian, laki-laki terbaik yang ada di muka bumi ini. Dulu, Tara pikir, Abimanyu adalah lelaki kedua terbaik setelah kakak lelakinya. Namun sayang, tak ada seseorang pun yang mampu melihat hati terdalam orang lain, hingga kerap salah menilai. Tara salah saat menyanga jika Abimanyu akan menjadikannya ratu dalam hatinya. Ia salah, saat mengira cinta adalah perasaan abadi yang tak mungkin berubah. Mungkin Abimanyu benar, pada akhirnya Tara memang selalu salah. “Lebih baik, kamu menikah Mas, agar nggak sibuk kerja mulu,” Tara mencoba mengalihkan pembicaraan yang kini tak mungkin bisa ia wujudkan. Di sudut hati Tara yang paling dalam, ia merasa beruntung karna mereka menunda memiliki keturunan. Bagaimana jika mereka sudah memiliki anak dan Abimanyu membuang mereka atau parahnya lagi anak mereka akan hidup dalam keluarga tanpa cinta yang memaksakan untuk tetap bersama karna beberapa alasan yang terdengar tak masuk akal. “Mas mu ini terlalu banyak penggemar, tapi belum menemukan yang klik di hati,” ucap Derry sombong, lelaki itu menoleh pada Abimanyu yang entah mengapa diperhatikannya lebih banyak diam semenjak kepulangan Tara ke rumah. Padahal, tadinya mereka saling bernostalgia dan bertukar kabar dengan semangatnya, namun kini Abimanyu tampak memelas. Derry menebak, mungkin dirinya dan Tara terlibat perkelahian kecil. Akan tetapi, wajah Tara tak menunjukkan keanehan apa pun, tak seperti orang yang tengah bertengkar dengan pasangannya. “Kenapa Si kadal ini sekarang jadi pendiam?” Derry melempar tisu ke arah Abimanyu yang langsung bisa dihindari oleh lelaki itu. Derry tertawa, namun Abimanyu tampak kesal. “Apa yang harus kubicarakan? Kalian berdua tampak begitu asyik, aku seakan nggak bisa mengikuti pembicaraan kalian.” Derry terdiam sesaat, lalu tawanya pecah. “Ternyata bukan adikku saja yang berubah semakin bahagia, ternyata karibku sekarang merasa nggak nyambung dengan pembicaraan kita.” “Mungkin karna aku terbuai dengan kebahagiaan kalian.” “Oh ayolah, Bi. Jangan bilang kamu cemburu dengan kakak iparmu sendiri?” Derry menaikan sebelah alis dan menatap Abimanyu penuh tanya, “Padahal dulu, kamu selalu masuk dengan apa pun yang kami omongin. Seperti pengantin baru yang mau diterkam, sok malu-malu.” Tawa Derry menggelegar. Hanya Tara dan Abimanyu yang tahu apa yang membuat lelaki itu mendadak bersikap layaknya seorang bodoh yang tertinggal. Tara tahu benar, jika rasa bersalah Abimanyu akan membuatnya mendadak menjadi seorang pendiam. Ia pasti, merasa bersalah karna telah menghancurkan mimpi-mimpi kakak beradik yang dulu begitu memujanya. Abimanyu tak pernah berpikir lebih sebelum merusak pernikahan mereka. Bukan hanya hubungan mereka yang akan ia putus, namun ikatan dengan karib yang selalu berada di sisi dan mendukungnya turut akan ia hancurkan juga. Perselingkuhan yang Abimanyu lakukan ternyata berdampak begitu besar pada hidupnya dan entah mengapa Abimanyu tak melihat semua akibat itu sebelumnya. Dirinya terbuai hasrat, hingga matanya menggelap. Kini rasa bersalah bercampur dengan ketakutan di dalam hatinya. Tiba-tiba saja Abimanyu merasa serba salah. Andai semua kebodohan yang dilakukannya hanyalah sekadar mimpi. Mungkin saja, dirinya tak merasa seperti ini. Mungkin saja, ia akan merasa nyaman dan bisa bergabung dengan pembicaraan apa pun. Akan tetapi, ia tak mampu mencegah perasaannya, dirinya telah jatuh hati pada Dania, dan ingin merajut mimpi baru bersama wanita pemilik hatinya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN